"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pertemuan Tak Terduga di Kedai Kopi
Evelyn terus menunduk, matanya mencoba fokus menatap kopi americano hangatnya. Jemarinya mencengkeram keramik dingin itu kuat-kuat, berusaha meredakan gemuruh di dadanya.
Jangan liat. Jangan liat. Jangan lihat dia, batinnya berulang kali.
Namun, derap langkah sepatu yang berdecit pelan di atas ubin kayu justru makin mendekat. Bukan menuju kasir, melainkan mengarah tepat ke meja sudut tempat Evelyn duduk.
Napas Evelyn tertahan seketika.
Sebuah bayangan tinggi menjulang menutupi sebagian sinar matahari pagi yang masuk dari jendela. Aroma kayu hangat yang samar namun elegan, wangi tubuh Matthew sang Duke yang dingin, tercium lembut di hidung Evelyn. Jantung Evelyn rasanya mau copot. Aduh kenapa dia kesini, batinnya.
"Evelyn."
Suaranya berat, dalam, dan serak. Hanya memanggil namanya, tapi sanggup membuat seluruh tubuh Evelyn membeku. Sialan! Batin Evelyn.
Evelyn mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat biasa saja, lalu perlahan mendongak ke atas menatap sang Duke.
Matthew berdiri di samping mejanya. Pria itu menatapnya lurus. Wajahnya datar seperti biasa, dingin khas anak kedokteran dari keluarga bangsawan yang susah disentuh. Tapi di antara kedua alisnya, ada kerutan halus—seakan pria itu sedang bingung dengan pikirannya sendiri.
"Iya?" sahut Evelyn pelan. "Ada apa ya, Kak?"
Evelyn sengaja memakai panggil 'Kak' biar terkesan formal. Toh, di masa lalu mereka memang sebatas saling tahu nama, tidak pernah mengobrol. Makanya, entah habis ini akan ada hujan badai atau hujan petir kali ya, karena si kulkas tiba-tiba mengajaknya bicara.
Matthew tidak langsung menjawab. Mata keemasannya bergerak pelan menyusuri wajah Evelyn, lalu turun dan berhenti cukup lama di pundak kiri Evelyn—tepat di titik di mana peluru menembus tubuhnya di masa depan. Tatapan itu intens banget, sampai-sampai Evelyn merasa pria ini seolah tahu apa yang ada di balik kemeja putihnya.
Deg!
Jangan - jangan bukan cuma aku saja yang kembali, tapi dia juga. Batin Evelyn bingung campur aduk.
"Kamu... enggak apa-apa?" tanya Matthew akhirnya.
Pertanyaannya pendek dan datar, tapi terasa aneh. Gimana gak aneh, sang kulkas mengajaknya bicara. Bertahun-tahun mereka kenal, satu kampus, pernah satu kelas. Tapi dia dingin, pendiam, dan lebih suka menjauh. Terutama menjauhi Evelyn. Iya benar, menjauhi Evelyn. Jadi wajar Evelyn juga kaget dengan pertanyaan aneh ini.
"Maksudnya? Nggak apa-apa gimana, Kak?" kata Evelyn mencoba bersikap wajar sambil berusaha mempertahankan raut muka datarnya. Tapi namanya juga baru pertama kali diajak ngomong ya, jadi Evelyn juga agak salah tingkah.
Matthew terdiam.
"Muka kamu pucat, Eve" kata Matthew santai, membuang muka sebentar ke luar jendela sebelum menatap Evelyn lagi. "Kaya orang abis liat hantu. Apa aku kayak hantu? Kok kamu kayak gitu ya lihat aku? Padahal nih banyak ngidolain aku loh, Eve. Berarti aku cukup tampan lah." canda Matthew mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka.
Evelyn tertawa tipis. "Dih pede amat Kak. Iya nih lihat hantu, abisnya sang kulkas ngajak ngomong tiba-tiba pula. Kan takut ya dikira nanti ternyata ada hutang apa gitu. Ha ha ha.. Eits becanda kak. Aku cuma kurang tidur aja kok, Kak. Pusing mikirin revisi." ucap Evelyn ikutan bercanda agar suasananya santai.
Matthew menatapnya beberapa detik tanpa bersuara. Suasana di meja itu mendadak hening banget, cuma terdengar suara mesin kopi dari kasir.
"Hmm.. Kulkas? Baru kali ini mahluk seganteng aku dibilang kulkas. Sial bener." kata Matthew sambil terkekeh. Evelyn pun tertawa sambil meminta maaf lada Matthew. Mereka pun tertawa bersama.
Tapi habis ngomong gitu, dia langsung balik badan dan jalan gitu aja ke kasir buat pesan minumannya sendiri. Evelyn menyenderkan punggungnya ke kursi, lalu menghela napas panjang yang dari tadi ditahannya. Tangan yang memegang cangkir terasa dingin dan gemetar.
Dia ngeliat ke arah pundakku... dia juga bilang aku kaya habis liat hantu... batin Evelyn sambil ngeliatin punggung Matthew dari belakang. Ini cuma kebetulan, atau jangan-jangan dia emang ngerasain sesuatu?