NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Jet pribadi Arland Group mendarat di Bandara Changi Singapura tepat pukul sebelas malam. Udara tropis yang lembap langsung menyergap Reyna begitu pintu kabin terbuka, membawa aroma hujan dan aspal basah yang khas kota pulau itu.

"Hotel sudah dipesan, Nona," lapor Maya dari kursi depan mobil SUV yang sudah menunggu di landasan VIP. "Marina Bay Sands, lantai eksekutif. Saya juga sudah menghubungi kontak lokal kita untuk memverifikasi alamat Gavin Sterling."

Reyna mengangguk, matanya menatap garis cakrawala Singapura yang berkelap-kelip di kejauhan. Gedung-gedung pencakar langit itu berdiri tegak seperti gigi-gigi raksasa yang siap mengunyah siapa saja yang lengah.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Reyna.

Maya ragu sejenak. "Alamat yang tercatat di database imigrasi Singapura atas nama Gavin Sterling sudah tidak aktif sejak dua tahun lalu. Apartemennya di Orchard Road kosong, dan rekening banknya di DBS sudah ditutup. Pria itu seolah menghilang dari muka bumi."

Reyna menyipitkan matanya. Menghilang. Tentu saja. Jika ibunya benar-benar dibunuh, maka siapa pun yang memegang kunci brankas nomor 77 pasti sudah menjadi target berikutnya. Gavin Sterling bukan sekadar pengacara atau pengelola aset. Dia adalah saksi hidup dari kejahatan yang dilakukan terhadap Elena Arland.

"Cari melalui jalur tidak resmi," perintah Reyna. "Hubungi kontak Nadia di Interpol cabang Asia Tenggara. Gavin Sterling adalah warga negara Inggris kelahiran London. Pasti ada jejak paspor atau rekam medis yang tidak bisa ia hapus. Dan periksa semua klinik swasta di distrik Bukit Timah. Jika dia bersembunyi, dia pasti butuh perawatan medis rutin untuk kondisi jantungnya."

Maya mencatat perintah itu di tabletnya. "Siap. Tapi Nona, ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui."

"Apa?"

"Tim keamanan kita di Jakarta melaporkan bahwa Julian terlihat di Bandara Soekarno-Hatta dua jam setelah kita berangkat. Dia menggunakan paspor palsu atas nama Marco Wijaya dan menaiki penerbangan komersial menuju Singapura."

Reyna tidak terkejut. Ia justru tersenyum tipis. "Julian tidak mungkin punya uang untuk membeli paspor palsu dan tiket pesawat sendiri. Seseorang membiayainya. Seseorang yang ingin menggunakan Julian sebagai umpan."

"Apakah kita harus mencegahnya di imigrasi Changi?" tanya Maya, tangannya sudah bergerak menuju ponselnya.

"Tidak," tolak Reyna. "Biarkan dia masuk. Ular yang masuk ke dalam kandang kita jauh lebih mudah diinjak daripada ular yang bersembunyi di semak-semak. Lagipula, aku ingin tahu siapa dalang di balik semua ini. Julian hanyalah pion. Tangan yang menggerakkannya adalah yang harus kita potong."

***

Keesokan paginya, matahari Singapura bersinar terik di atas distrik keuangan Raffles Place. Reyna berdiri di lobi UOB Plaza, menatap deretan brankas pribadi yang tersembunyi di balik pintu baja setebal dua puluh sentimeter di lantai bawah tanah.

"Maaf, Nona Arland," ucap manajer bank, seorang pria Tionghoa paruh baya bernama Mr. Tan, dengan nada sopan namun tegas. "Brankas nomor 77 memang terdaftar atas nama Yayasan Elena Arland. Namun, untuk membukanya, kami memerlukan dua kunci fisik dan satu kode biometrik. Satu kunci seharusnya ada pada Anda sebagai ahli waris. Kunci kedua dipegang oleh kuasa hukum yang ditunjuk, yaitu Tuan Gavin Sterling. Dan kode biometrik..."

Mr. Tan menelan ludah, menatap layar komputernya. "Kode biometrik hanya bisa diaktifkan oleh sidik jari Tuan Gavin Sterling secara langsung. Tanpa kehadiran fisik beliau, brankas ini tidak bisa dibuka. Itu adalah instruksi khusus dari mendiang Nyonya Elena."

Reyna mengepalkan tangannya. Ibunya memang selalu selangkah lebih maju. Elena tidak mempercayai siapa pun sepenuhnya, bahkan putrinya sendiri. Ia memastikan bahwa brankas itu hanya bisa dibuka jika Reyna dan Gavin bekerja sama, sebuah mekanisme keamanan yang sekarang justru menjadi hambatan terbesar.

"Apakah ada catatan terakhir kapan Tuan Sterling mengakses brankas ini?" tanya Reyna.

Mr. Tan memeriksa log digital. "Terakhir kali... tiga hari setelah kematian Nyonya Elena, lima tahun lalu. Setelah itu, tidak ada aktivitas sama sekali."

Tiga hari setelah kematian ibunya. Gavin pasti datang untuk mengamankan isi brankas sebelum Richard atau orang lain bisa mengaksesnya. Lalu dia menghilang.

Reyna berbalik, melangkah keluar dari ruang brankas dengan pikiran yang berputar kencang. Ia butuh menemukan Gavin sebelum Julian dan dalangnya menemukannya lebih dulu. Jika Gavin mati, brankas itu akan terkunci selamanya, dan bukti pembunuhan ibunya akan terkubur bersama tulang-tulang pria itu.

Ponsel Reyna bergetar. Pesan dari Nadia di Jakarta.

Nona, Interpol menemukan jejak. Gavin Sterling terdaftar sebagai pasien di sebuah klinik kardiologi swasta di Bukit Timah bernama 'Evergreen Heart Clinic'. Kunjungan terakhirnya tercatat dua minggu lalu. Tapi ada yang aneh. Klinik itu dimiliki oleh sebuah perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Cayman. Perusahaan yang sama yang dulu menerima aliran dana dari Richard Arland.

Darah Reyna seolah membeku.

Klinik yang dimiliki oleh perusahaan cangkang yang terhubung dengan Richard. Itu berarti Gavin tidak bersembunyi dari Richard. Gavin bersembunyi di bawah pengawasan Richard. Atau lebih tepatnya, di bawah pengawasan seseorang yang mengendalikan Richard dari balik layar.

"Maya," ucap Reyna, suaranya turun menjadi bisikan yang berbahaya. "Hubungi tim keamanan lokal. Kita ke Bukit Timah sekarang. Dan pastikan tidak ada yang mengikuti kita."

Namun, saat Reyna melangkah keluar dari UOB Plaza, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti.

Di seberang jalan, di antara kerumunan pejalan kaki yang sibuk, berdiri seorang wanita berambut hitam sebahu dengan mantel merah darah. Wanita itu menatap Reyna langsung, lalu tersenyum tipis sebelum menghilang di balik pintu sebuah taksi hitam.

Valerie.

Reyna tidak tahu nama wanita itu, tapi instingnya yang diasah oleh lima tahun penderitaan di kehidupan sebelumnya berteriak keras. Wanita itu bukan kebetulan. Dia sedang mengawasinya.

"Permainan sudah berubah," gumam Reyna, matanya menyipit menatap taksi yang melaju menjauh. "Ini bukan lagi tentang Arland Group. Ini tentang siapa yang benar-benar membunuh ibuku."

Dan jawabannya, Reyna tahu, tersembunyi di dalam brankas nomor 77 yang masih terkunci rapat di bawah kakinya.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!