Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bunyi besi borgol yang mengunci pergelangan tangannya terdengar begitu memilukan di telingaku. Dunia seolah runtuh saat petugas menggiring pria berwibawa itu keluar dari kamarnya sendiri. Dikta sempat menoleh sekali lagi ke arahku, tatapannya tajam dan sarat akan perintah tersirat, 'jangan panik, dan tetaplah aman'. Namun, pertahananku runtuh. Lututku seketika lemas, dan aku terduduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar serta air mata yang terus mengalir.
Beberapa jam kemudian, di dalam ruang interogasi yang bercat abu-abu, suasana begitu mencekam. Dikta duduk tenang di kursi besi, didampingi oleh pengacara utamanya, Baskara. Di hadapan mereka, sang penyidik meletakkan sebuah laptop yang memutar potongan video viral berdurasi 45 detik.
"Klien Anda terekam jelas melakukan penganiayaan berat terhadap Saudara Bagas Prasetya," ujar penyidik membuka berita acara pemeriksaan. "Ditambah hasil visum cedera bahu dan memar di kepala pelapor akibat benturan meja rias."
Baskara langsung mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari dalam tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja. "Pak Penyidik, video itu sudah dipotong demi menggiring opini publik. Di dalam flashdisk ini terdapat rekaman CCTV utuh dari koridor hingga dalam ruangan. Anda akan melihat bahwa pelapor sengaja memprovokasi dan menyakiti saksi Arini terlebih dahulu."
Penyidik itu mengambil flashdisk tersebut, menghubungkannya ke laptop, dan menekan tombol play.
Dikta menyandarkan punggungnya ke kursi besi, bersiap melihat kemenangan pertamanya di atas kertas catur ini. Namun, saat video berputar, dahi Baskara mengerut. Wajah pengacara senior itu langsung memucat, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Di layar monitor, rekaman CCTV itu memang memperlihatkan kejadian malam itu. Namun, tidak ada suara apa pun yang keluar. Sistem audio koridor dan kamar ternyata kosong. Dan yang paling fatal, bagian rekaman yang memperlihatkan Bagas mencengkeram bahu Arini dengan kasar serta bisikan pada jurnalis justru hilang secara misterius.
Video di dalam flashdisk itu langsung melompat pada detik di mana Dikta mendobrak pintu, lalu dengan brutal melayangkan pukulan keras ke bahu Bagas hingga pria itu terhempas ke meja rias. Rekaman itu justru memperkuat bukti bahwa Dikta melakukan tindakan kekerasan secara sepihak tanpa ada dialog atau ancaman fisik sebelumnya dari Bagas.
Baskara dengan panik merebut laptop tersebut, jemarinya bergerak cepat memeriksa data. "Ini... ini tidak mungkin! File aslinya tidak seperti ini! Ada yang meretas server cadangan kami dan memanipulasi datanya!"
Penyidik itu menarik kembali laptopnya dan menggelengkan kepala dengan tegas. "Kami hanya merujuk pada bukti yang sah saat ini, Pak Baskara."
Dikta mematung di kursinya. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangan di wajah konglomerat itu retak sempurna. Rahangnya mengeras, matanya yang setajam elang melebar menatap layar kosong di hadapannya. Dia menyadari satu kenyataan pahit yang menghantam harga dirinya. Bagas telah bergerak beberapa langkah di depannya, bekerja sama dengan orang dalam yang berhasil menyabotase sistem keamanannya sendiri. Dikta benar-benar kecolongan dan tidak bisa melawan.
Penyidik berdiri, lalu mengeluarkan selembar surat baru dari mapnya.
"Berdasarkan bukti-bukti yang ada, mulai hari ini status Pak Dikta Dirgantara resmi dinaikkan menjadi Tersangka," tegas penyidik. "Dan demi kepentingan penyidikan serta mengantisipasi tersangka menggunakan kekuasaan atau kekayaannya untuk memanipulasi sisa barang bukti, kami memutuskan untuk melakukan penahanan resmi selama 20 hari ke depan di rutan ini."
"Pak, kami mengajukan penangguhan penahanan! Klien kami sangat kooperatif dan memiliki kredibilitas tinggi!" seru Baskara dengan suara yang mulai meninggi, mencoba menyelamatkan situasi yang ada.
"Penangguhan penahanan ditolak," jawab penyidik dingin tanpa kompromi.
Malam itu juga, jagat maya dan seluruh stasiun televisi nasional meledak oleh satu berita utama. Foto Dikta Dirgantara yang mengenakan baju tahanan berwarna orange dengan tangan terborgol terpampang di halaman depan media cetak dan digital.
Di luar gedung penahanan, Bagas tampil di depan puluhan kamera dengan leher yang dibalut penyangga medis, dan tangan yang digendong kain. Dengan air mata buaya yang mengalir di pipinya, ia berseru kepada media, "Keadilan akhirnya tegak! Uang dan kekuasaan tidak bisa membeli hukum di negara ini! Saya hanya seorang suami miskin yang ingin menyelamatkan istri saya dari sekapan monster kaya itu!"
Opini publik benar-benar berbalik seratus persen mengutuk Dikta. Sang konglomerat kini terkunci di balik jeruji besi. Sementara saham Dirgantara Group terjun bebas di zona merah akibat kepanikan para investor.
Di dalam penthouse, aku terduduk lemas di lantai kamar bayi, menatap layar televisi dengan air mata yang terus mengalir. Di sampingku, Marco berdiri dengan wajah yang frustrasi. Ponselnya tak henti-hentinya bergetar, namun ia menghiraukannya.
"Bagaimana bisa ini terjadi, Marco? Bukankah Pak Dikta memegang kendali atas semua ini?" tanyaku tak percaya.
Marco mengepalkan tinjunya hingga persendian jarinya memutih dan gemetar. "Kita dikhianati dari dalam, Bu Arini. Bagas disokong oleh musuh bisnis Pak Dikta yang jauh lebih besar. Semua bukti cadangan kita sudah dihancurkan sebelum persidangan dimulai. Untuk saat ini... Pak Dikta benar-benar kalah."
Tepat saat kata-kata Marco berakhir, ponselku di atas karpet bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil. Dengan tangan gemetar, aku menggeser layar dan mendekatkannya ke telinga.
"Halo, Arini sayang..." suara Bagas terdengar di seberang sana, dipenuhi nada kemenangan yang memuakkan dan membuat bulu kudukku meremang. "Sekarang pelindung kayamu sudah membusuk di penjara. Besok pagi, aku akan datang menjemputmu. Jangan coba-coba lari, atau aku akan memastikan Dikta tidak akan pernah melihat matahari lagi seumur hidupnya."
Sambungan diputus. Aku menatap Arkan yang tertidur pulas di dalam boks bayinya. Rasa penyesalanku muncul begitu saja. Pria yang kurindukan setiap harinya, ternyata racun yang mematikan. Bahkan bisa menghancurkan reputasi Dikta dalam sekejap.
Tubuh Arkan bergerak, lalu perlahan matanya terbuka lebar. Aku Memandanginya cukup lama, dengan mata yang sembap. "Cup, cup.. anak Ibu sudah bangun."
Bi Ina membawakan aku sarapan, lalu melirikku yang hanya terdiam saat menyusui Arkan. "Neng, dimakan dulu!"
"Aku tidak lapar, Bi." Aku menatapnya dengan hati yang hancur. Pikiranku terjatuh pada bayi yang ku gendong ini. Besok pagi sekali Bagas sudah menjemput ku. Sudah pasti hari ini menjadi hari terakhir aku bersamanya.
"Makanlah Neng, tidak baik menyusui dalam keadaan perut kosong. Ingat Arkan, dia masih membutuhkan Neng," lirih Bi Ina mengusap punggungku dari samping.
"Jika besok aku pergi, Bibi tolong jaga Den Arkan dengan baik ya," lirihku, menyerahkan Arkan padanya dengan mata yang berkaca.
Bi Ina tertegun. "Maksud Neng apa? Neng mau ninggalin Den Arkan?" Bi Ina menggeleng pelan, berharap aku bisa berpikir lagi. Matanya memancarkan penolakan keras atas perkataanku barusan.
"Ini semua demi Den Arkan, Bi. Jika saya menolak, pasti Mas Bagas melakukan sesuatu yang nantinya bisa memperburuk keadaan. Saya ingin Arkan hidup aman," lirihku, menatap lekat wajah Bi Ina agar bisa memahami keadaanku saat ini.