NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Lama

“Aku enggak tahu,” jawab Arsen akhirnya, memilih untuk berkata jujur.

Keira tersenyum samar. Namun, kali ini bukan senyum mengejek ataupun sinis. Ada kekecewaan yang begitu jelas tersirat di balik ekspresinya.

“Bahkan kamu sendiri enggak tahu,” gumamnya lirih. Ia mengangguk pelan, seolah baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini membingungkannya.

“Ya sudah,” lanjut Keira. “Kalau begitu, itu sudah cukup menjadi jawaban buatku.”

Setelah mengatakan itu, Keira kembali membalikkan tubuhnya. Kali ini, gerakannya lebih tenang. Ia tidak lagi terburu-buru seperti sebelumnya, tetapi setiap langkah yang diambilnya menunjukkan bahwa ia benar-benar berniat pergi.

“Keira...” panggil Arsen.

Langkah gadis itu terhenti. Namun, ia tidak berbalik untuk menatap pria tersebut.

“Kalau... aku benar-benar serius?” tanya Arsen dengan suara rendah.

Keira terdiam sejenak. Angin malam berembus melewati tubuhnya, membawa keheningan yang terasa begitu panjang.

Lalu, tanpa menoleh sedikit pun, ia menjawab, “Kalau memang kamu serius, seharusnya kamu sudah melakukannya sejak dulu.”

Setelah itu, Keira kembali melangkah dan benar-benar meninggalkan tempat tersebut.

Arsen hanya bisa berdiri mematung di tepi sungai, memandangi punggung istrinya yang perlahan menjauh hingga menghilang dari pandangan.

Suara gemericik air kembali memenuhi kesunyian malam. Angin yang berembus terasa semakin menusuk kulit, tetapi dinginnya tidak sebanding dengan perasaan aneh yang kini mengusik hatinya.

......

Pagi menjelang dengan cahaya matahari yang menyusup lembut melalui celah-celah jendela. Namun, suasana pagi yang tenang itu tidak serta-merta membuat hati Keira ikut merasa damai.

Sejak membuka mata, pikirannya sudah dipenuhi berbagai hal yang sulit ia abaikan. Ucapan Arsen semalam terus terngiang-ngiang di kepalanya.

“Bagaimana kalau kita tidak jadi bercerai?”

Kalimat itu seolah enggan meninggalkan pikirannya, terus berputar tanpa henti hingga membuatnya kesulitan berkonsentrasi.

Dan yang paling menyebalkan, Keira sendiri tidak tahu harus memercayai ucapan pria itu atau menganggapnya sebagai kebingungan sesaat.

Kini, ia berada di dapur bersama, sibuk mencuci tumpukan piring kotor. Tangannya bergerak membilas peralatan makan satu per satu, tetapi pikirannya justru melayang entah ke mana.

“Kalau memang dia serius, kenapa enggak dari dulu saja?” gumamnya pelan.

Tanpa sadar, tangannya sedikit bergetar ketika mengambil piring berikutnya.

Bayangan kejadian semalam kembali memenuhi benaknya. Tatapan Arsen, pertanyaannya tentang perceraian, hingga ciuman mendadak yang membuat perasaannya semakin kacau.

Keira terlalu sibuk memikirkan semuanya hingga tidak menyadari bahwa piring yang dipegangnya mulai terlepas dari genggaman.

PRAANG!

Suara pecahan keramik seketika mengagetkannya.

“Aduh!” Keira meringis sambil menarik tangannya.

Salah satu jarinya terkena pecahan piring. Setetes darah mulai muncul dari luka kecil di kulitnya.

“Keira!” seru Rina yang langsung menoleh ke arahnya. “Kamu kenapa lagi, sih?”

Keira tidak segera menjawab. Ia hanya menatap jarinya yang terluka dengan wajah sedikit meringis.

Rina mengembuskan napas panjang sebelum menghampirinya. “Ya ampun, kamu ini. Baru sebentar ditinggal, sudah melukai diri sendiri lagi,” omelnya, meskipun kedua tangannya dengan sigap membantu Keira menjauh dari pecahan piring.

Rina kemudian mengambil kotak pertolongan pertama dan mulai membersihkan luka di jari Keira dengan hati-hati.

Setelah memastikan lukanya bersih, ia menempelkan plester untuk menutup bagian yang terluka.

“Nah, sudah selesai,” ujar Rina sambil merapikan kembali perlengkapan medis tersebut. “Sekarang kamu keluar saja. Nyapu di halaman depan kalau memang mau membantu. Untuk sementara, jangan pegang barang pecah belah dulu.”

Keira mengangguk kecil. “Iya, Rin.”

Ia kemudian meninggalkan dapur dan berjalan menuju halaman depan dengan langkah perlahan.

Rina masih memperhatikannya dari belakang. Dahinya berkerut melihat sikap Keira yang terlihat tidak bersemangat sejak pagi.

“Aneh banget. Biasanya juga cerewet, kok sekarang malah murung begini?” gumamnya penuh curiga.

Sementara itu, Keira terus berjalan keluar rumah.

Udara pagi terasa sejuk, dengan embusan angin yang sesekali menyentuh wajahnya. Sayangnya, kesegaran itu belum cukup untuk menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi kebingungan.

Namun, baru beberapa langkah meninggalkan rumah, Keira mendadak menghentikan langkahnya.

Tatapannya tertuju ke arah seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.

Di kejauhan—

Ia melihat Arsen.

Arsen sedang berdiri di halaman, berbincang dengan seseorang. Seorang wanita.

Parasnya cantik, penampilannya rapi dengan pakaian dinas yang membuatnya terlihat profesional. Ada kesan dewasa dan elegan yang terpancar dari setiap gerak-geriknya.

Namun, bukan penampilan wanita itu yang membuat Keira terpaku di tempatnya. Melainkan Arsen.

Pria yang biasanya memasang wajah dingin dan jarang menunjukkan ekspresi ramah itu kini justru tersenyum lebar.

Bukan sekadar senyum tipis yang biasa ia berikan kepada orang lain, melainkan senyum hangat yang jarang sekali Keira lihat.

Arsen tampak begitu santai, seolah menikmati percakapan mereka. Keira terdiam di tempatnya. Entah mengapa, dadanya mendadak terasa tidak nyaman.

“Siapa perempuan itu?” gumamnya lirih. Ia mencoba memperhatikan mereka lebih saksama.

Cara Arsen berbicara dengan sopan, bagaimana pria itu sedikit menundukkan kepala ketika mendengarkan lawan bicaranya, hingga tawa kecil yang sesekali terdengar dari wanita tersebut.

Mereka terlihat begitu akrab. Terlalu akrab, menurut Keira.

“Ck!” Keira mendecakkan lidahnya pelan, lalu memalingkan wajah dengan ekspresi mencibir.

“Baru ketemu perempuan yang sesuai dengan tipenya, langsung lupa kalau masih punya istri sendiri,” gerutunya kesal.

Ada sensasi panas yang perlahan menjalar di dadanya. Ia sendiri tidak tahu pasti apa yang sedang dirasakannya.

Marah? Kesal? Atau justru cemburu, meskipun ia mati-matian menolak mengakuinya? Keira menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan perasaan aneh yang mulai menguasai dirinya.

“Percuma saja aku enggak bisa tidur semalaman gara-gara memikirkan perkataannya,” batinnya dengan getir. “Aku sampai memikirkan apakah dia benar-benar serius atau cuma asal bicara. Ternyata, dia memang enggak pernah serius sejak awal.”

Tatapannya kembali tertuju kepada Arsen untuk sesaat. Pria itu masih asyik berbincang dengan wanita tersebut. Tidak terlihat sedikit pun kegelisahan di wajahnya, seolah percakapan berat yang terjadi di tepi sungai semalam sama sekali tidak pernah ada.

Keira tersenyum miring. Senyum yang menyimpan kekecewaan.

“Memang aku bukan perempuan yang sesuai dengan keinginannya,” bisiknya pelan.

Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti memperhatikan mereka.

Tanpa berniat menyapa ataupun menunjukkan keberadaannya, Keira segera berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah.

Langkahnya kali ini lebih cepat daripada sebelumnya. Ia tidak ingin melihat pemandangan itu lebih lama lagi, apalagi jika hanya akan membuat perasaannya semakin kacau.

Sementara itu, Arsen masih berdiri di tempat yang sama, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya, istrinya telah melihat interaksinya dengan wanita tersebut.

“Terima kasih banyak atas bantuannya, Bu Asti,” ujar Arsen dengan sopan.

Wanita yang dipanggil Asti itu tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala.

“Pak Arsen, kenapa kita jadi formal sekali, sih?” tanyanya dengan nada ringan. “Padahal, dulu waktu masih di kampus, kita cukup dekat, bukan?”

Arsen membalas senyumnya sekilas. “Iya,” jawabnya singkat.

Asti mengangkat alis, lalu tertawa kecil mendengar jawaban sesingkat itu.

“Masih saja memanggil saya Ibu,” godanya. “Memangnya kita sudah sejauh itu sampai harus bersikap formal?”

Arsen hanya terkekeh pelan. Ada sedikit kecanggungan yang terlihat dari ekspresinya.

“Panggil Asti saja, seperti dulu,” lanjut wanita itu.

Arsen mengangguk kecil. “Baiklah, Asti.”

Mendengar namanya disebut tanpa embel-embel formal, Asti tersenyum puas.

Percakapan mereka pun berlanjut dengan lebih santai. Maklum, setelah sekian lama tidak bertemu, ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan, mulai dari kabar masing-masing hingga kenangan semasa kuliah.

Arsen sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuan sederhana itu mungkin saja menimbulkan kesalahpahaman.

...

Like

Komen

Vote

Love you all

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!