"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Palsu sang CEO
Deru halus ombak yang memecah kesunyian malam di dermaga jet pribadi Marina Ancol menjadi latar belakang pertemuan mereka malam itu. Angin laut bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut panjang Bellatrix Wijaya yang dibiarkan terurai bebas. Gadis itu merapatkan kardigan rajut putihnya, mencoba menghalau rasa dingin yang mulai menembus kulit. Akan tetapi, sepasang matanya tidak beralih sedikit pun dari siluet pria yang berdiri dua langkah di depannya.
Liam Jeren. Malam ini pria itu menanggalkan setelan jas tiga potongnya, menggantinya dengan kemeja linen hitam kasual dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan kronograf platinum yang berkilau redup di bawah pendar lampu dermaga.
"Dingin?" tanya Liam. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu lembut, berpadu dengan desau angin laut.
Sebelum Bellatrix sempat menjawab, Liam sudah melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat teratur dan ksatria, ia melepas jaket blazer abu-abu yang tersampir di pundaknya, lalu menyampitkannya ke atas bahu Bellatrix. Aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal yang maskulin seketika mengepung indra penciuman Bellatrix, mengirimkan gelombang hangat yang membuat dadanya berdesir hebat.
"T-terima kasih, Tuan Liam," bisik Bellatrix, ia menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah yang instan menghiasi pipinya. Jantungnya bertalu begitu keras hingga ia takut pria di depannya bisa mendengarnya.
Liam tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang ia ukir dengan presisi murni di depan cermin bunker. "Kita sudah jalan bersama tiga kali minggu ini, Bella. Kurasa sebutan 'Tuan' sudah tidak lagi diperlukan."
Bellatrix mendongak, menatap sepasang mata elang di balik kacamata bening Liam. "Lalu... aku harus memanggilmu apa?"
"Liam. Panggil Liam saja," jawabnya, melemparkan pandangan kembali ke arah laut lepas yang gelap gulita.
Di balik ketenangan wajah pualamnya, sebuah klik kecil berbunyi di dalam liang telinga Liam. Audio interkom tak kasatmata miliknya terhubung langsung ke ruang bawah tanah pelabuhan utara.
"Cih. Sandiwara yang menjijikkan, Liam," suara Belladona mendengus tajam dari balik earphone mikro. Nada suaranya bertekstur kesal, bercampur dengan bunyi kunyahan keripik yang renyah. "Gua hampir muntah denger nada suara lu yang sok lembut itu. Tapi omong-omong, sensor termal di gawai gua nunjukkin detak jantung lu naik sepuluh digit pas lu makein jaket tadi. Lu gak lagi beneran baper sama anak haram jadah itu, kan?"
Liam tidak menyahut. Di siang hari dan di depan publik, ia adalah Liam Jeren, sang CEO arogan yang sedang gencar mendekati putri mahkota Wijaya Group. Dalam satu minggu terakhir, ia sengaja meluangkan waktu berharga korporatnya untuk menjemput Bellatrix di galeri seni, membawanya makan siang di restoran privat berputar di puncak gedung pencakar langit, dan malam ini, membawanya melihat gemerlap lampu Jakarta dari dermaga eksklusif.
Semua itu adalah kalkulasi bisnis spionase yang matang. Setiap tempat yang mereka kunjungi telah dipindai terlebih dahulu oleh Belladona untuk memastikan tidak ada ekor dari anak buah Gaizka yang mengintai. Bellatrix adalah kunci perak yang akan membuka pintu brankas rahasia Gaizka Wijaya tanpa memicu alarm.
Akan tetapi, mengabaikan fakta bahwa gadis di depannya memiliki darah yang sama dengan pembantai keluarganya adalah ujian yang menguras kewarasan. Setiap kali Bellatrix tersenyum polos, Liam melihat wajah pamannya yang tertawa saat menembak dadanya. Setiap kali Bellatrix memegang lengannya dengan manja, Liam teringat jasad adiknya yang bersimpuh darah di lantai.
"Liam?" panggilan Bellatrix memecah lamunannya. Gadis itu melangkah selangkah lebih dekat, membiarkan ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. "Kenapa kamu selalu terlihat seperti... sedang memikirkan tempat yang sangat jauh? Kadang, meskipun kamu ada di sampingku, aku merasa kamu seperti hantu yang tidak bisa kusentuh."
Liam membalikkan tubuhnya, menatap Bellatrix lurus-lurus. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan lampu dermaga di dalam kornea mata gadis itu. Bellatrix menatapnya dengan ketulusan mutlak, sebuah tatapan mata dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hatinya kepada pria yang baru dikenalnya. Bellatrix telah jatuh cinta setengah mati pada sang pahlawan palsu.
"Aku hanya sedang memikirkan masa depan, Bella," Liam berbohong dengan intonasi yang begitu meyakinkan, tangannya bergerak lambat, menyelipkan sehelai rambut Bellatrix yang berantakan ditiup angin ke belakang telinganya. Sentuhan kulit jarinya yang dingin membuat Bellatrix menahan napas. "Masa depan di mana jalanku dan jalanmu tidak lagi terpisahkan."
Mata Bellatrix berbinar penuh haru. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan luapan kebahagiaan yang membuncah di dadanya.
Di dalam telinga Liam, suara Belladona kembali memotong dengan nada yang jauh lebih serius dan dingin, menanggalkan segala candaannya. "Liam. Stop. Ini udah di luar skenario. Lu tahu betul siapa bapaknya, kan. Jangan biarin wajah polos cewek itu bikin lu lupa sama abu yang terkubur di bawah rumah Gaizka. Kalau lu beneran jatuh cinta sama dia, gua bersumpah bakal matiin sistem ini dan ninggalin lu sendirian di Jakarta."
Rahang Liam mengeras samar di balik kegelapan malam. Jatuh cinta? batinnya tertawa getir, sebuah tawa yang begitu sunyi dan berdarah di dalam jiwanya. Bagaimana mungkin sebuah cangkang kosong yang digerakkan oleh dendam bisa merasakan cinta? Cinta Elikai Wijaya telah mati bersama gaun ulang tahun merah muda yang terbakar. Yang tersisa di dalam tubuh Liam Jeren saat ini hanyalah mekanisme berburu dari seekor predator yang sedang mengelus mangsanya sebelum merobeknya hingga hancur.
"Sudah semakin larut," Liam menarik tangannya kembali dengan anggun, memutus kontak fisik di antara mereka secara taktis sebelum Belladona benar-benar meledak di interkom. "Ayo, aku antarkan kamu pulang. Papamu pasti akan mencarimu jika kita terlambat sepuluh menit lagi."
Bellatrix mengangguk patuh, tangannya meraba permukaan kain jaket blazer Liam yang masih membungkus tubuhnya, enggan untuk melepaskannya. "Liam... besok malam, Papa mengundangmu lagi ke rumah untuk membicarakan draf awal investasi Jeren Corp. Kamu... akan datang, kan?"
"Tentu saja," Liam membukakan pintu mobil untuk Bellatrix, memberikan senyuman menawannya yang paling manipulatif. "Aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk makan malam bersama keluargamu."
Saat pintu mobil tertutup dan Bellatrix sudah berada di dalam, Liam berjalan memutari kap mobil. Di bawah siraman cahaya lampu malam Ancol, sepasang mata elang Liam seketika menggelap, memancarkan aura haus darah yang begitu pekat.
Langkah kedua telah selesai. Jaring emosional telah mengikat Bellatrix sepenuhnya. Besok malam, di balik meja makan Gaizka, Liam tidak hanya akan membawa dokumen investasi tiruan, ia akan membawa seluruh peralatan spionasenya untuk memasang perangkap pertama di jantung pertahanan musuh.