Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucian Sakit
Rasa panas yang sejak tadi memanggang tubuh Lucian perlahan terasa sedikit mereda ketika sebuah sensasi dingin dan basah menyentuh permukaan keningnya. Sensasi itu nyaman, kontras dengan hawa tubuhnya yang seolah sedang direbus hidup-hidup. Namun, kenyamanan itu harus terganggu oleh sebuah suara yang terus berdengung di telinganya.
“Hiks… hiks… sialan banget sih nasib anak ini… hiks… maafin aku, Lucian…”
Lucian mengerutkan keningnya dengan susah payah. Kepalanya yang sudah berdenyut hebat terasa semakin mau pecah mendengar suara isakan yang tertahan itu. Perlahan, dengan kelopak mata yang terasa seberat timah, Lucian membuka matanya.
Pandangannya yang semula buram perlahan mulai fokus. Di samping ranjangnya, duduk seorang wanita dengan rambut yang sedikit berantakan. Mata cokelat wanita itu memerah, air matanya terus menetes membasahi pipi, sementara tangannya dengan hati-hati menempelkan handuk kompres di kening Lucian. Itu Jeslyn. Wanita yang beberapa saat lalu ia usir dari kamarnya, kini kembali lagi, bahkan menangis sesenggukan di samping kasurnya.
"Berisik..." suara Lucian keluar dengan sangat serak, nyaris seperti bisikan parau. Tenggorokannya kering kerontang.
"Bisa diam tidak?"
Jeslyn terkesiap. Matanya membulat terkejut melihat Lucian sudah membuka mata. Tanpa membuang waktu, Jeslyn langsung menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulutnya sendiri rapat-rapat, menghentikan suara isakannya secara instan. Matanya yang sembab menatap Lucian dengan tatapan bersalah, kepalanya mengangguk cepat bak anak kecil yang baru saja dimarahi.
Lucian menghela napas panjang, menutup matanya sejenak sebelum menatap Jeslyn lagi.
"Kenapa kembali?"
Jeslyn melepaskan bekapan tangannya perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang masih bergetar.
"Karena… karena aku nggak bisa ninggalin kamu gitu aja."
Sejujurnya, saat Lucian mengusirnya tadi, hati Jeslyn benar-benar sakit. Penolakan itu terasa begitu dingin dan menusuk. Jeslyn bahkan sudah berjalan menyusuri lorong dengan perasaan marah dan kecewa. Namun, saat ia melangkah menjauh, pikirannya kembali pada alur novel yang membawanya ke dunia ini.
Jeslyn ingat betul deskripsi penulis novel itu. Lucian, anak laki-laki yang sejak kecil diabaikan, ditinggalkan oleh ibu kandungnya yang sibuk berselingkuh, dan tidak pernah dilirik oleh ayahnya yang gila kerja. Anak itu tumbuh menjadi sosok yang membuang egonya sendiri, tidak pernah meminta apa-apa karena tahu tidak akan ada yang memberikannya.
Dan yang paling membuat dada Jeslyn sesak hingga ia nekat memutar balik langkahnya adalah akhir dari cerita Lucian. Lucian mati ditusuk oleh sahabatnya sendiri. Terbengkalai di gang sempit yang gelap dan sangat dingin. Jasadnya bahkan tidak dicari oleh ayahnya, hingga akhirnya membusuk dan ditemukan hanya tersisa kerangka.
Membayangkan tubuh jangkung yang kini terbaring sakit di depannya ini kelak akan menjadi kerangka di gang yang dingin, membuat hati nurani Jeslyn menjerit. Tidak. Jeslyn tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia masuk ke dalam tubuh ini, ke dalam cerita ini, pasti untuk menyelamatkan Lucian dari takdir sialan itu.
"Aku nggak peduli kamu mau ngusir aku seribu kali," ucap Jeslyn akhirnya, suaranya sudah tidak bergetar lagi, berganti dengan nada keras kepala khas dirinya.
"Kamu lagi sakit. Orang sakit itu nggak boleh ditinggalin sendirian."
Lucian menatap wanita di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya yang biru dan tajam tampak sayu karena demam, namun kilat kebingungan sangat jelas terpancar di sana.
"Aku tidak butuh dikasihani," desis Lucian pelan, mencoba mempertahankan sisa-sisa benteng pertahanannya.
"Ini bukan kasihan, bodoh! Ini namanya tanggung jawab!" balas Jeslyn cepat, kembali ke mode sedikit bar-bar-nya, meski matanya masih basah oleh air mata.
"Sekarang, berhenti banyak bicara. Tenaga kamu udah habis. Bangun, pelan-pelan. Kamu harus makan dulu, perutmu kosong dari pagi, kan?"
Jeslyn berdiri, menyelipkan bantal ekstra di sandaran ranjang. Ia kemudian membungkuk, menyelipkan tangannya ke belakang punggung Lucian dan punggung pemuda itu.
"Ayo, aku bantu duduk," kata Jeslyn lembut.
Lucian, yang biasanya akan menepis sentuhan siapa pun dengan kasar, kali ini hanya terdiam. Entah karena tubuhnya benar-benar sudah kehabisan tenaga, atau karena ada sebagian dari dirinya yang diam-diam merindukan kehangatan ini, Lucian menurut begitu saja. Ia membiarkan Jeslyn menuntunnya untuk duduk bersandar. Saat itu, Lucian benar-benar terlihat seperti seekor kucing liar yang sedang sakit; pasrah, rapuh, dan secara tidak sadar sangat membutuhkan belaian kasih sayang.
Jeslyn mengambil mangkuk bubur yang tadi ia bawa dan letakkan di atas nakas. Kepulan asap tipis masih terlihat dari bubur itu.
"Buka mulutmu," perintah Jeslyn sambil menyodorkan sendok berisi bubur hangat ke depan bibir Lucian.
Lucian menatap sendok itu, lalu menatap wajah Jeslyn. Mata biru Lucian menatap tajam ke arah Jeslyn, seolah sedang berperang dengan isi pikirannya sendiri. Otaknya kembali memutar ucapan konyol Daniel di kantin.
"Mungkin dia jatuh cinta sama lo."
Namun, melihat raut wajah Jeslyn sekarang... wajah yang dipenuhi kekhawatiran murni, mata yang sembab karena menangisinya, dan ketelatenannya menyuapkan makanan, Lucian tahu Daniel salah besar. Ini bukan tatapan seorang wanita yang sedang merayu laki-laki. Ini adalah tatapan yang selama bertahun-tahun tidak pernah Lucian dapatkan dari Vivian, ibu kandungnya. Ini adalah tatapan seorang ibu.
Menyadari hal itu, pertahanan Lucian runtuh. Ia membuka mulutnya perlahan, menerima suapan dari Jeslyn tanpa perlawanan.
"Nah, gitu dong. Pintar," puji Jeslyn dengan senyum lega yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih cerah.
"Buburnya enak, kan? Aku minta koki mansion yang buat. Kalau aku yang masak sekarang, takutnya keasinan gara-gara air mataku tadi netes terus pas di dapur."
Lucian mengunyah buburnya dalam diam, namun sudut matanya terus memperhatikan gerak-gerik Jeslyn. Celotehan wanita itu, yang dulu selalu membuatnya muak, entah kenapa kini terasa seperti melodi yang menghidupkan kamarnya yang selalu sepi dan dingin.
"Kamu tahu, Keith itu benar-benar menyebalkan," gerutu Jeslyn tiba-tiba sambil kembali menyuapkan bubur.
"Anaknya sakit begini, dia malah berangkat kerja. Nggak ada inisiatif buat nanya keadaanmu. Harusnya aku siram jas mahalnya tadi pagi pakai kopi biar dia nggak bisa ke kantor."
Lucian nyaris tersedak mendengar keberanian Jeslyn mengumpati ayahnya.
"Jangan macam-macam."
"Aku serius!" sungut Jeslyn, mengelap ujung bibir Lucian dengan tisu.
"Tapi ya sudahlah. Biar saja pria tua kaku itu mengurus dokumennya. Kamu fokus sembuh saja. Jangan pikirkan apa-apa."
Setelah beberapa suapan, Lucian menggeleng pelan, memberi isyarat bahwa perutnya sudah tidak bisa menerima makanan lagi. Mual di perutnya masih terasa, namun setidaknya rasa perih karena perut kosong sudah hilang.
"Udah? Yakin nggak mau nambah?" tanya Jeslyn memastikan. Lucian hanya membalas dengan anggukan pelan.
"Oke, sekarang waktunya minum obat." Jeslyn menaruh mangkuk di nakas dan menggantinya dengan pil penurun panas dan segelas air putih.
"Nih, telan langsung. Jangan diemut, pahit."
Lagi-lagi, Lucian menurut tanpa banyak protes. Ia menelan obat itu dan meminum air putih yang disodorkan Jeslyn hingga tandas.
"Selesai," Jeslyn tersenyum puas. Ia mengambil handuk kompres yang tadi jatuh, mencelupkannya lagi ke air dingin, dan memerasnya.
"Sekarang kamu tidur lagi. Obatnya bakal bikin kamu ngantuk sebentar lagi. Besok pagi demamnya pasti udah turun."
Jeslyn membantu Lucian kembali berbaring, merapikan selimut pemuda itu hingga menutupi dada. Setelah memastikan posisi Lucian nyaman, ia menempelkan kembali kompres dingin itu ke kening Lucian. Tangan Jeslyn sempat terdiam sejenak di sana, mengusap pelan rambut cokelat Lucian yang sedikit basah karena keringat. Sentuhan itu begitu lembut, begitu nyata.
Lucian terus menatap Jeslyn dalam diam. Ada ribuan kata yang tertahan di tenggorokannya. Ia ingin bertanya mengapa wanita ini repot-repot menangisi nasibnya? Mengapa wanita ini bersikap seolah nyawanya begitu berharga? Namun, obat yang ia minum mulai bekerja, menarik kesadarannya perlahan-lahan ke dalam rasa kantuk yang berat.
"Tidur yang nyenyak," bisik Jeslyn pelan. Ia membereskan mangkuk dan gelas di atas nakas, mengangkat nampan tersebut ke dalam pelukannya.
Jeslyn menatap Lucian untuk terakhir kalinya, memberikan satu senyuman hangat yang belum pernah Lucian lihat seumur hidupnya, sebelum akhirnya wanita itu memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu.
Suara langkah kaki Jeslyn terdengar semakin menjauh. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang sangat pelan, menandakan bahwa Jeslyn telah benar-benar pergi, meninggalkan Lucian yang perlahan memejamkan matanya, membawa serta sedikit rasa hangat yang aneh di dalam dadanya.
Bersambung....
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.