Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Reuni Di Ruang VIP
"Darrel?" ulang Clara memancing, matanya menyipit penuh rasa penasaran.
Daffa mengangguk tipis, jemari tangannya mengelus lembut rambut panjang Clara. "Dia hanya beralasan menyukai novelmu, padahal dia butuh perempuan untuk dibawa ke pesta ulang tahun Kakek. Novelmu itu belum layak dijadikan film, Sayang."
Deg!
Entah mengapa, jantung Clara mendadak berdetak sangat kencang mendengar rentetan kata itu—seolah ada bagian tersembunyi di dalam jiwanya yang merespons ketakutan tersebut. Padahal, pikiran Clara sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Daffa bicarakan.
Film? Novel? Darrel? Apa maksud semua perkataan Daffa ini? Sejak kapan aku jadi penulis novel? batin Clara kebingungan.
Sementara itu, ruang tengah Mansion megah keluarga Gorge terasa begitu hening dan menekan. Mansion raksasa itu sangat eksklusif. Mendiang istri Robert Gorge-lah yang dahulu meminta mansion seluas itu dibangun.
Bahkan, area ruang tengahnya pernah digunakan untuk rapat satu divisi penuh beranggotakan ratusan pegawai, dan mereka mengaku sangat betah bekerja di sana karena kemewahannya.
Kini, di ruangan megah nan luas itu, Robert Gorge duduk berwibawa di kursi utama. Di sisi sofa lainnya, duduk Sofie dan Darrel.
Robert mengangkat cangkir porselennya, menyeruput kopi hitamnya dengan tenang dan lambat. Sedangkan Sofie dan Darrel hanya duduk diam dalam posisi tegak, menunggu sang kepala keluarga membuka suara.
Duk. Cangkir porselen itu mendarat pelan di atas meja marmer.
"Di mana Daffa?" tanya Robert, suaranya serak namun penuh intimidasi.
"Sedang ada rapat dengan manajemen, Kek," jawab Sofie penuh kesopanan. "Mungkin sepuluh menit lagi selesai."
Darrel menoleh, menatap Sofie datar. "Apa perlu kita menunggu Kak Daffa?"
Sofie hanya mengangkat kedua bahunya, tak berani memberikan kepastian.
"TELEPON SEKARANG!" gertak Robert tiba-tiba dengan suara meninggi, membuat Sofie dan Darrel terperanjat seketika.
Dengan tangan sedikit gemetar, Sofie langsung merogoh ponsel dari dalam tas kecilnya. Ia mencoba menghubungi nomor suaminya, namun tidak aktif. Ia mencoba lagi berkali-kali, tetapi hasilnya tetap sama: ponsel Daffa di luar jangkauan.
Melihat gelagat panik dan ketakutan dari kakak iparnya, Darrel langsung bangkit berdiri dari sofanya. "Biar aku yang jemput, Kek."
Robert tak menjawab sepatah kata pun. Pria tua itu hanya berdehem kaku sembari mengalihkan pandangan ke jendela, berusaha menutupi kekesalan pada cucu pertamanya.
Di kelab malam, suasana jauh dari kata tenang. Daffa meremas paha mulus milik Clara dengan kasar. Padahal, sudah beberapa kali Clara menepis dan mengalihkan tangan besar Daffa agar tidak menyentuhnya terlalu jauh. Lelaki itu sudah terlampau mabuk berat hingga tak sanggup mengontrol kesadarannya.
"Aku pesankan taksi, kamu segera pulang!" ujar Clara setengah berteriak menembus dentuman musik.
Daffa tak merespons sama sekali. Matanya terpejam rapat, napasnya memburu bau alkohol. Ia tampak tak berdaya dan nyaris pingsan.
"Shit! Sialan, lelaki ini selalu saja merepotkan!" omel Clara gusar. "Hari ini dia belum mentransfer uang satu rupiah pun, tapi malah sudah tak sadarkan diri!"
Dengan bersungut-sungut, Clara menopang lengan Daffa dan berusaha memapah tubuh tegap pria itu keluar dari ruangan. Baru saja langkah mereka sampai di depan pintu keluar ruang VIP, Clara dibuat terkejut oleh kemunculan seorang lelaki tinggi tegap yang wajahnya terasa sangat familiar.
Seketika itu juga, Clara melepaskan tumpuan tubuh Daffa hingga pria mabuk itu hampir tersungkur. Clara buru-buru merapikan mini dress merahnya dan mengibas rambutnya yang sedikit berantakan, berusaha tampil sempurna.
Namun, bukannya memperhatikan Clara, lelaki yang baru datang itu justru langsung meraih dan menarik lengan Daffa untuk menopangnya.
Clara mengerutkan alisnya, menatap tindakan pria itu dengan heran.
"Maaf, saya harus membawanya pu—" ucapan lelaki itu terhenti seketika saat matanya membentur wajah perempuan di depannya.
Lelaki itu membeku. Darrel.
Clara menyunggingkan senyum tipis tanpa beban, menatap pria tegap itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kita bertemu lagi," ujar Clara santai.
Di sisi lain, pikiran Darrel mendadak kacau balau. Di depannya adalah wanita yang sama yang ia temui di balkon pesta beberapa jam lalu, Aura Clarissa. Namun penampilan, riasan wajah yang tebal, gaun merah ketat yang terbuka, serta nada bicara yang terlewat santai dan menggoda ini sama sekali bukan sosok Aura yang ia kenal.
Darrel menatap Clara dengan kebingungan mendalam yang membakar kepalanya.