Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — NAMA ASLI DI BALIK KERUDUNG
Malam setelah Rara Sekar Arum Larasati menyelesaikan masa pengasingan meditasinya dan mencapai terobosan besar dalam Dao Pedangnya, ia tidur lelap namun terjebak dalam mimpi yang terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Di dalam mimpi itu, ia sedang berdiri di halaman luas yang dipenuhi kabut tipis. Di hadapannya bukan Farel yang ia kenal — sosok itu terlihat jauh lebih dewasa, matanya dalam namun kosong, seolah cahaya di dalamnya telah lama padam. Namun yang membuat dadanya terasa diremas sakit adalah tatapan di balik kelelahan itu: kemarahan yang membara, kebencian yang pekat, dan di bawah semuanya — penderitaan yang tak berujung.
Ia sedang membimbing sosok itu, memperbaiki gerakannya, menegur kesalahannya. Semakin sosok itu tampak hancur, semakin keras ia mendorongnya, seolah dengan mendidiknya lebih baik ia bisa menyembuhkan luka yang tak terlihat itu.
Saat fajar menyingsing, Rara terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin membasahi dahi. Sebagian besar detail mimpi itu lenyap seperti butiran pasir yang terlepas dari genggaman. Namun perasaan itu tetap tertinggal — sesak, dingin, dan kesedihan yang entah mengapa terasa begitu akrab.
Hari keberangkatan tiba. Farel memberikan hadiah yang layak kepada Pak Sugeng dan para pelayan yang telah melayani mereka dengan tulus selama ini. Mereka menerima pemberian itu dengan takjub dan rasa terima kasih yang tulus, melambaikan tangan hingga rombongan itu hilang di tikungan jalan setapak menuju lereng Gunung Panderman.
Perjalanan berlanjut. Setiap pagi, Rara dan Farel berlatih tanding bersama. Semakin hari, gerakan pedang Rara semakin halus, semakin mengalir, semakin memancarkan aura pendekar sejati. Namun di balik setiap gerakan itu, bayangan mimpi semalam terus menghantui pikirannya. Hingga suatu pagi, saat mereka beristirahat di sela latihan, Rara tidak lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Farel... bolehkah aku bertanya sesuatu? Dari mana sebenarnya kau belajar pedangmu? Bukan sekadar teknik — tapi jiwa di dalamnya. Seolah kau sudah hidup dengannya selama ribuan tahun."
Farel menatap awan yang melayang di kejauhan, lalu duduk di atas batu datar.
"Awalnya, aku belajar sendiri. Sama seperti yang kau lakukan sekarang — berdiri di depan cermin keheningan, berbicara dengan bayangan pedangmu sendiri. Sebagian besar perjalanan seorang pendekar memang sepi seperti itu. Tapi di saat-saat yang menentukan, ada tiga orang yang pernah membimbingku. Dua di antaranya telah lama tiada. Yang ketiga... adalah teman yang sering kusebutkan padamu. Dialah yang terakhir mengajariku, dan pemahamannya tentang pedang adalah yang terdalam dari semuanya."
Rara terdiam. Ada kelembutan sekaligus kesedihan dalam suaranya yang membuat hatinya bergetar. Ia tahu Farel menyembunyikan masa lalunya yang jauh, jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan siapa pun. Namun ia juga tahu — kepercayaan harus tumbuh dua arah.
"Farel..." Rara menarik napas panjang, menatapnya dengan tekad yang bulat. "Karena kita semakin dekat dengan tujuan kita, ada hal yang harus aku sampaikan terlebih dahulu, sebelum kau mendengarnya dari orang lain. Para tetua berencana membawa murid-murid untuk mendapatkan pengalaman di Kota Kediri Besar. Namun aku dan Putri Kinanthi akan berpisah dari rombongan utama. Aku ingin kau ikut bersamaku — jika kau bersedia."
Farel menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Aku bukan hanya murid biasa di sekte," lanjutnya pelan namun tegas. "Nama yang kau kenal — Rara Sekar Arum Larasati — itu bukan nama lengkapku. Itu nama yang diberikan guruku agar aku bisa hidup dengan tenang, tanpa beban nama besar yang menyertainya. Aku berasal dari salah satu dari Empat Keluarga Besar Kediri. Nama asliku adalah Rara Sekar Arum Dewanti."
Seketika itu juga, napas Farel tertahan. Matanya melebar — sebuah ekspresi yang belum pernah Rara lihat sebelumnya. Ketenangannya yang tak tergoyahkan retak sejenak.
"Rara Sekar... Dewanti?" suaranya sedikit bergetar.
Rara terkejut namun mengangguk pelan. "Kau... kau pernah mendengar namaku?"
Farel menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Ribuan bayangan dari masa lalu yang jauh berkelebat di benaknya — sebuah nama yang telah terukir di dalam hatinya sejak ribuan tahun silam, seseorang yang ia kira telah lenyap bersama dunia yang hancur itu.
"Ternyata memang kau..." gumamnya pelan, tak terdengar oleh Rara.
Ia tersenyum getir, namun matanya berbinar dengan cahaya yang tak bisa disembunyikan. "Penampilanmu... kau sengaja mengubahnya, bukan? Bukan dengan ramuan atau teknik penyamaran biasa, kan?"
Rara terbelalak. "Bagaimana kau bisa tahu? Bahkan orang-orang terdekatku pun tidak menyadarinya."
"Itu karena mataku melihat sesuatu yang lain," jawab Farel lembut. "Penampilanmu diubah oleh sebuah artefak, bukan? Sebuah jimat yang menyatu dengan dirimu, mengubah garis wajah dan auramu tanpa menyembunyikan jiwamu yang sebenarnya."
Rara tersipu, sedikit bangga bahwa ia akhirnya melihat Farel terkejut. "Benar. Itu adalah jimat peninggalan leluhurku. Tak ada yang bisa menembus penyamarannya — kecuali kau, ternyata."
Farel tersenyum dalam hati. Artefak pengubah rupa yang begitu sempurna... persis seperti yang kugunakan dulu. Dan nama itu... jiwamu yang bersinar terang di balik penyamaran itu... kau benar-benar kembali.
Namun ia menelan kembali kata-kata yang hampir terucap. Ia belum boleh terburu-buru. Luka masa lalu belum kering sepenuhnya, dan bahaya masih mengintai di mana-mana. Jika ia salah bicara, ia bisa membahayakannya lagi — dan kali ini ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Terima kasih telah mempercayai rahasia terbesarmu kepadaku, Rara Sekar Dewanti," ucapnya lembut, menatapnya dengan mata yang memancarkan ribuan emosi sekaligus — rindu, syukur, perlindungan, dan ketakutan yang dalam. "Sungguh... senang sekali akhirnya aku mengenal dirimu yang sebenarnya."
Rara merasa dadanya hangat. Tidak ada kemarahan, tidak ada kecurigaan — hanya penerimaan yang tulus. Ia tersenyum malu-malu. "Terima kasih sudah tidak bertanya lebih jauh. Dan... kau bersedia ikut bersamaku?"
"Tentu saja. Aku akan menemanimu ke mana pun kau pergi."
"Bagus. Tapi bersiaplah. Keluargaku bukan sekadar keluarga bangsawan biasa. Ayahku akan menyerahkan kepemimpinan keluarga kepada pamanku dalam upacara besar minggu depan. Semua kerabat dari jauh akan hadir. Mereka orang-orang yang keras dan penuh kecurigaan. Jangan heran jika mereka bersikap dingin kepadamu."
"Aku akan berhati-hati. Terima kasih sudah memperingatkanku," jawab Farel dengan senyum tenang.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan irama yang baru. Farel dan Rara tetap berlatih setiap pagi, namun kini ada ikatan yang lebih dalam di antara mereka — kepercayaan yang tak diucapkan namun terasa nyata dalam setiap pertukaran pandangan. Gerakan pedang mereka semakin selaras, seolah dua jiwa yang bernapas dalam irama yang sama. Rara juga semakin percaya diri dalam membimbing Putri Kinanthi yang perlahan mulai memasuki alam baru dalam jalur kultivasinya — teknik tinju spiritual yang memanggil energi murni ke luar tubuh tanpa senjata.
Sementara itu, Farel tidak pernah melupakan tujuannya. Setiap waktu luang ia gunakan untuk berkultivasi. Pencapaiannya di level ke-8 Alam Transformasi Tubuh bukanlah akhir, melainkan awal dari fondasi yang jauh lebih kokoh.
Dua bulan telah berlalu sejak ia terbangun kembali di dunia ini. Dalam waktu yang singkat, ia telah menempuh perjalanan yang dulu memakan waktu bertahun-tahun. Namun ia tidak berpuas diri. Dalam satu bulan ke depan, ia harus menembus batas menuju Alam Pengumpulan Qi — atau yang dikenal di dunia ini sebagai Alam Kondensasi Qi.
Ia tahu jalannya akan berat. Dulu, di kehidupan pertamanya, ia memulainya dari bawah tanpa bakat istimewa, menghabiskan ratusan tahun untuk membangun pondasi yang rapuh sebelum akhirnya menemukan jalan yang benar. Kali ini berbeda. Ia memiliki pengetahuan yang utuh, pengalaman ribuan tahun, dan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip penciptaan alam semesta itu sendiri.
Di dalam dirinya, dua teknik agung kini berjalan selaras sebagai fondasi utamanya:
- Seni Penyatuan Tak Terbatas Dua Ekstrem — teknik kultivasi ganda yang memadukan energi Yin dan Yang menjadi satu kesatuan yang melampaui keduanya. Ini adalah inti jalurnya, sebuah teknik yang begitu dalam hingga menyentuh rahasia penciptaan alam semesta itu sendiri.
- Seni Penyempurnaan Tubuh dari Kekacauan Awal — teknik yang menyerap segala jenis energi, menyaringnya, dan menempa tubuh menjadi wadah yang kuat dan murni. Segala energi yang masuk ke dalam dirinya terlebih dahulu dimurnikan oleh teknik ini sebelum disalurkan ke dalam pusaran Yin-Yang-nya.
Sementara ia masih memanfaatkan Metode Konversi Yin-Yang untuk menyeimbangkan energinya di masa transisi ini, ia sudah menyiapkan teknik tubuh utamanya yang akan ia mulai jalani segera setelah mencapai Alam Kondensasi Qi:
Tubuh Naga Yang Emas — sebuah teknik yang tidak ada duanya di dunia ini, ciptaannya sendiri dari ribuan tahun silam. Ia menempa tubuh dan energi Yang dengan prinsip ketangguhan dan keabadian naga kuno, menghasilkan energi Yang yang begitu murni dan kuat sehingga dapat membakar kegelapan sekaligus menyeimbangkan energi Yin dengan sempurna. Namun untuk memulainya, ia membutuhkan fondasi yang kuat dan cadangan energi yang stabil — sesuatu yang hanya bisa dicapai setelah menembus Alam Kondensasi Qi.
Teknik ini bukan sekadar kekuatan tempur. Ia adalah pondasi bagi kultivasi gandanya — stamina yang tak terbatas, ketahanan yang luar biasa, dan energi yang murni serta stabil. Tanpa itu, semakin tinggi ia naik, semakin berat beban yang akan dipikul oleh pasangannya. Ia harus siap sepenuhnya — bukan untuk dirinya, tapi untuk mereka yang akan berjalan bersamanya kelak.
Mata Farel terbuka, cahaya tekad yang tajam namun tenang terpancar dari sana.
Satu bulan lagi. Hanya satu bulan. Aku akan sampai di sana. Kali ini... tidak akan ada pengkhianatan. Kali ini, aku akan melindungi semua yang berharga bagiku.
BERSAMBUNG...