Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sosok Rio melesat keluar dari dalam mobil layaknya bayangan hitam yang sangat cepat dan mematikan.
Brak!
Rio menendang tulang rusuk penyusup kurus itu dengan kekuatan penuh tepat sebelum belatinya mengenai Santi.
"Aaaargh!" penyusup itu menjerit kesakitan saat tubuhnya terpental sejauh lima meter dan menabrak pohon cemara.
Terdengar suara tulang rusuk yang patah berderak mengerikan akibat tendangan keras tersebut.
Rio berdiri tegap membelakangi ibunya menjadi tameng hidup yang tak akan pernah bisa ditembus oleh siapapun.
Nafasnya memburu dan matanya menyala penuh oleh amarah yang membara.
"Rio! Kamu pulang nak!" tangis Santi langsung memeluk pinggang Rio dari belakang.
Merasakan pelukan ibunya yang gemetar ketakutan membuat seluruh sisi iblis di dalam diri Rio terbangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa Ibu, Rio sudah ada di sini, Ibu tutup mata Ibu sekarang juga ya," perintah Rio dengan suara lembut yang sangat kontras dengan tatapan membunuhnya.
Santi menuruti perintah anaknya dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Rio.
Melihat target utama mereka dilindungi oleh sang direktur utama, sisa pembunuh bayaran itu langsung memfokuskan serangan pada Rio.
"Itu Rio Dirgantara! Bos Hendrik bilang kita dapat bonus ganda kalau bisa membunuhnya sekalian!" teriak salah satu pembunuh bayaran.
Lima orang penyusup berlari serentak mengepung Rio dengan belati terhunus di tangan mereka bersiap menyergap.
Rio tidak mundur selangkah pun dan malah tersenyum sinis melihat mereka mendekat.
"Kalian berani mengganggu waktu minum teh ibuku di rumahku sendiri?" desis Rio merenggangkan otot lehernya.
Wush.
Rio menghindar dari tusukan pertama dengan gerakan yang sangat minim namun akurat.
Bugh!
Tangan kanan Rio langsung meninju jakun penyusup itu hingga napasnya putus seketika.
Penyusup itu jatuh ke tanah sambil memegangi lehernya yang hancur dan menggelepar meregang nyawa.
Trang.
Rio menangkis belati kedua menggunakan lengan kemejanya yang ternyata dilapisi pelindung kevlar tipis di baliknya.
Dia memelintir tangan penyusup itu hingga belatinya terlepas lalu menendang lututnya sampai patah ke belakang.
"Kalian pikir Hendrik bisa membunuhku dengan mengirim sampah rendahan seperti kalian?" ejek Rio merampas belati yang jatuh.
Srat.
Belati di tangan Rio bergerak secepat kilat menyayat urat nadi tangan dua penyusup lainnya dalam satu tebasan presisi.
Darah segar muncrat membasahi rumput hijau di taman belakang yang indah itu.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi Rio untuk melumpuhkan lima pembunuh bayaran terlatih itu sendirian.
Sisa penyusup yang masih bertarung dengan pengawal langsung merasa ngeri melihat kebrutalan bos muda tersebut.
"Mundur! Target terlalu kuat! Kita mundur sekarang!" teriak komandan penyusup menyadari rencana mereka gagal total.
"Kamu pikir kalian bisa datang dan pergi sesuka hati dari rumahku?" tawa Rio terdengar sangat menakutkan menggema di taman.
"Habisi mereka semua, jangan biarkan satupun lolos dari gerbang rumah ini hidup-hidup!" perintah Rio dengan suara mutlak pada para pengawalnya.
Dor dor dor.
Tembakan dari arah atap kembali terdengar riuh membantai sisa penyusup yang mencoba melarikan diri memanjat tembok.
Keadaan kembali hening beberapa saat kemudian setelah semua penyusup berhasil dilumpuhkan tanpa sisa.
Bau anyir darah mulai menyengat mengalahkan wangi bunga krisan di taman tersebut.
Rio menjatuhkan belati berlumuran darah dari tangannya dan berbalik menghampiri ibunya yang masih menutup mata.
Dia berlutut dan memeluk erat tubuh Santi yang masih menangis ketakutan.
"Semuanya sudah aman Ibu, Rio minta maaf karena membiarkan orang jahat masuk ke rumah kita," ucap Rio penuh penyesalan mengelus punggung ibunya.
Santi membuka matanya dan membelai wajah Rio dengan tangan yang masih gemetar.
"Rio tidak terluka kan nak? Mereka tidak melukai Rio kan?" tangis Santi malah sibuk memastikan keselamatan tubuh anaknya.
Rio menggelengkan kepalanya dan tersenyum sangat hangat untuk menenangkan kekhawatiran wanita tua itu.
"Rio baik-baik saja Bu, tidak ada yang bisa melukai Rio selama Ibu berdoa untuk Rio."
Nadia dan puluhan pengawal segera datang dan berbaris rapi di depan Rio sambil menundukkan kepala.
"Lapor Tuan Rio, semua penyusup berhasil dilumpuhkan, sebagian tewas dan sisanya luka berat tidak bisa melarikan diri," lapor Nadia profesional.
"Bagus, bawa ibuku masuk ke kamar dan panggilkan dokter keluarga untuk memeriksa keadaan trauma psikologisnya," perintah Rio berdiri kembali.
Santi dituntun masuk ke dalam rumah oleh pelayan dan beberapa pengawal khusus wanita.
Setelah ibunya benar-benar menghilang di balik pintu, raut wajah Rio kembali menjadi sangat kejam dan tanpa belas kasihan.
"Bawa komandan penyusup itu ke hadapanku sekarang," titah Rio menunjuk salah satu pria bertopeng yang kakinya tertembak.
Dua pengawal menyeret pria itu dan memaksanya berlutut di depan sepatu kulit Rio.
Rio membuka topeng ski pria itu dengan kasar menampakkan wajah preman bayaran yang sedang meringis kesakitan.
"Katakan pada Hendrik Sentosa, trik murahan seperti ini tidak akan pernah bisa menyentuh sehelai rambut pun dari kepala ibuku," ancam Rio menginjak luka tembak di kaki pria itu tanpa ampun.
"Aaaargh! Ampun Tuan! Saya cuma disuruh menyerang taman ini!" jerit pria itu menangis kesakitan.
"Aku akan mengirimkan mayat teman-temanmu ini sebagai kado penyambutannya kembali ke Jakarta," bisik Rio tepat di telinga pria tersebut.
"Dan katakan padanya, target selanjutku adalah kepala botaknya itu."
Bugh.
Rio menendang wajah pria itu hingga pingsan lalu menoleh ke arah asistennya.
"Nadia, bersihkan taman ini sampai tidak ada sisa darah sedikitpun sebelum ibuku bangun besok pagi," perintah Rio membersihkan sisa kekacauan.
"Baik Tuan Rio, kami akan mengurus semuanya tanpa jejak malam ini juga," angguk Nadia patuh.
Rio menatap langit senja yang mulai menggelap dengan tatapan penuh dendam kesumat yang membara.
Hendrik telah berani melewati batas dengan menyerang langsung ke jantung pertahanan dan kelemahan terbesarnya.
Perang ini bukan lagi tentang memperebutkan tahta kekuasaan atau saham perusahaan Sentosa.
Tapi ini adalah pertarungan hidup dan mati berdarah untuk melindungi satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidup Rio.
"Aku akan memburumu sampai ke lubang neraka sekalipun Hendrik," janji Rio dengan suara bariton yang menggema di keheningan senja.