Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Malam Jumat Kliwon
Mpu Kalandara tidak tidur selama dua malam setelah jam 03:10 muncul di layar ponsel Raka.
Ia mengurung diri di pondok, menyebar gulungan lontar di lantai, dan menggumamkan angka-angka dengan jari-jari yang bergerak cepat menghitung hari dan pasaran. Gandra diam-diam melapor pada Raka bahwa gurunya bahkan lupa makan, dan itu hal yang sangat aneh karena Mpu Kalandara selalu makan tepat waktu seperti orang yang menghargai ritual.
Pada pagi ketiga, ia keluar dari pondok dengan mata merah dan senyum yang aneh.
"Aku menemukannya," katanya.
"Menemukan apa?" tanya Raka, yang sedang menyapu halaman.
"Polanya." Mpu Kalandara mengangkat selembar lontar dan mengibaskannya. "Kau ingat hari apa kau melewati gapura itu?"
"Kamis malam. Atau lebih tepatnya, dini hari Jumat."
"Jumat apa?"
Raka mengerutkan dahi. Dalam kalender Masehi ia selalu tahu hari dan tanggal, tapi kalender Jawa, dengan pasarannya, bukan keahliannya. "Saya tidak tahu. Biasanya saya lihat kalender di dinding."
"Aku juga dulu begitu." Mpu Kalandara tertawa kecil. "Tapi sebagai orang yang tumbuh di Surakarta, ibuku selalu menandai hari dengan pasaran. Dan malam aku masuk gerbang pada tahun sembilan puluh satu, aku ingat betul karena ibuku memasang sesajen di depan rumah. Itu Jumat Kliwon."
Raka berhenti menyapu. "Jumat Kliwon."
"Aku menghitung mundur dari tanggal yang kau berikan. Dengan memakai penanggalan Jawa, malam kau melewati gerbang juga jatuh pada Jumat Kliwon." Ia menatap Raka tajam. "Dua orang, tiga puluh lima tahun terpisah, jam yang sama, hari yang sama dalam siklus tiga puluh lima hari."
"Malam Jumat Kliwon," gumam Raka. "Itu malam yang dianggap angker oleh orang Jawa."
"Dan mungkin bukan tanpa alasan. Leluhur kita mungkin tahu sesuatu yang kita lupakan." Mpu Kalandara melipat lontarnya. "Itu berarti gerbang bukan terbuka secara acak. Ada waktunya. Dan kalau kita bisa memahami siklusnya, kita bisa memprediksi kapan gerbang itu terbuka lagi."
"Kapan?"
"Itu yang belum kuketahui. Aku butuh lebih banyak data, lebih banyak catatan. Tetapi ini awal yang baik." Ia menepuk bahu Raka. "Kau memberiku harapan, Nak. Dan aku mulai tahu bagaimana rasanya memercayai harapan itu lagi."
Hari itu, ketika matahari sudah condong ke barat, Raka sedang berlatih menulis aksara Jawa Kuna di atas lembaran lontar ketika Gandra berlari menghampirinya.
"Ada tamu!" serunya terengah-engah. "Dua orang. Satu seorang prajurit, satu lagi seorang perempuan. Mereka naik ke bukit!"
Raka menaruh stylusnya dan berdiri. Ia sudah mengira Wirabhaya datang lagi, tapi kata "perempuan" membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
Ketika ia keluar pondok, ia melihat dua sosok mendaki jalan setapak. Yang satu, berbadan tegap dengan ikat kepala hitam, jelas Wirabhaya. Yang satu lagi lebih kecil, mengenakan kain cokelat dan membawa keranjang di punggung.
"Sekar?" Raka melangkah maju, suaranya tak sengaja terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan.
Gadis itu mengangkat wajahnya. Tidak ada senyum, tapi matanya menyala sedikit.
"Kau masih hidup," katanya datar.
"Saya masih hidup."
"Aku sempat bertaruh dengan Bekel Tarub bahwa kau akan dipenggal di hari ketiga."
"Dan siapa yang menang?"
"Tarub kehilangan lima keping uang," kata Sekar, dan untuk pertama kalinya, sudut bibirnya naik sedikit. "Aku senang."
Wirabhaya berdeham pelan di belakang mereka. "Aku akan memeriksa Mpu. Kalian berdua... bicaralah." Ia berjalan melewati mereka dengan langkah yang terlalu santai untuk tidak disengaja.
Mereka duduk di bawah pohon kamboja, di antara kelopak-kelopak putih yang berguguran. Sekar menurunkan keranjangnya dan mengeluarkan beberapa bungkusan.
"Dari Ibu," katanya, menyodorkan satu. "Dia sudah bisa duduk dan bahkan menggerutu. Itu pertanda sembuh."
"Syukurlah." Raka menarik napas lega. "Dan demamnya?"
"Sudah hilang sejak hari keenam. Tabib desa mengunjunginya dan bertanya apa yang kuberikan. Aku bilang air rebus dan tablet kecil dari orang asing." Sekar mengangkat bahu. "Dia menganggapku gila. Tapi dua hari kemudian, tiga tetangga juga jatuh sakit karena air sumur. Dan aku menyuruh mereka merebus air. Mereka juga sembuh."
"Jadi Ki Buyut..."
"Ki Buyut sekarang mewajibkan seluruh desa merebus air minum." Sekar menatapnya dengan sorot yang sulit dibaca. "Kau tahu apa yang mereka sebut caramu? Ilmu Raka."
"Oh tidak."
"Oh ya. Anak-anak bahkan bermain 'Raka dan air rebus' sekarang."
Raka menutup wajah dengan tangan, dan Sekar akhirnya tertawa, tawa kecil yang jernih, yang membuat sesuatu di dadanya berdesir hangat. Ia sadar, dengan sedikit panik, bahwa ia mulai terbiasa dengan suara tawa itu.
"Aku datang bukan hanya untuk mengantar makanan," kata Sekar setelah tawanya mereda. Suaranya berubah lebih serius. "Aku ingin tahu apa yang akan terjadi padamu."
"Saya akan belajar di sini. Beberapa bulan. Setelah itu mungkin ke Trowulan."
"Trowulan." Sekar mengulang kata itu pelan. "Kota raja."
"Ya."
"Kalau begitu..." Ia ragu, menggigit bibir bawahnya. "Kalau begitu, aku ingin ikut."
Raka mengerjap. "Apa?"
"Aku tahu jalan di sana. Aku punya kerabat jauh di Trowulan. Dan kau tak tahu apa pun tentang istana. Aku bisa membantumu." Ia menegakkan tubuh. "Dan, ibuku sudah sehat. Sekarang aku tak ingin hanya duduk di desa menunggu hidup lewat begitu saja."
"Tapi itu berbahaya."
"Aku tidak takut."
"Aku takut," kata Raka jujur.
Sekar menatapnya, lalu melunak. "Itu yang membuatmu lebih baik dari kebanyakan orang."
Hening sejenak. Angin membawa harum bunga kamboja dan suara samar tawa Gandra dari kejauhan.
"Boleh saya... mempertimbangkannya?" tanya Raka akhirnya.
"Tentu." Sekar tersenyum samar. "Tapi jangan terlalu lama. Aku tak sabaran."
Beberapa saat kemudian, Mpu Kalandara muncul bersama Wirabhaya dan menyapa Sekar dengan hangat. Ia mengamati gadis itu dengan pandangan tajam dan penuh perhatian, seperti seorang kakek yang sedang menilai cucu orang lain.
"Kau yang menolong anak ini pertama kali," katanya. "Terima kasih, Nak."
"Saya hanya melakukan yang seharusnya, Mpu."
"Tidak banyak orang yang mau melakukan itu." Mpu Kalandara tersenyum, tetapi tiba-tiba senyumnya membeku.
Pandangannya turun pada tangan Sekar.
Gadis itu, tanpa sadar, sedang memutar sebuah cincin tipis yang melingkari jari manis kirinya. Cincin itu terbuat dari emas redup, polos dan sederhana, tetapi di bagian atasnya terukir sesuatu yang kecil dan halus: matahari dengan delapan sinar.
"Cincin yang bagus," kata Mpu Kalandara pelan. Suaranya terdengar terlalu datar. "Dari mana kau mendapatkannya?"
"Peninggalan Ayah, Mpu." Sekar menyembunyikan tangannya di balik kain. "Dia selalu bilang itu cuma perhiasan murah dari pasar."
"Begitu." Pertapa itu mengangguk perlahan. "Tentu saja."
Tetapi Raka, yang berdiri paling dekat dengannya, melihat jemari Mpu Kalandara sedikit bergetar. Dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah Raka lihat selama hampir tiga minggu mengenalnya.
Ketakutan.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹