Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menerpa wajah pucat pria yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Setelah tiga tahun tertidur dalam kegelapan yang panjang, kelopak mata Bagas perlahan bergerak-gerak gelisah. Dering halus mesin medis mengiringi embusan nafasnya yang masih dibantu alat pernapasan.
Maya, yang sedang mengusap telapak kaki Bagas dengan minyak hangat, seketika menghentikan gerakannya. Ia menegakkan tubuh, menatap wajah suaminya tanpa berkedip.
"Mas... Mas Bagas?" bisik Maya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Perlahan tapi pasti, mata Bagas terbuka sepenuhnya. Manik matanya yang membias samar bergerak ke kanan dan ke kiri,
mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menyapa indra penglihatannya. Pandangannya kosong dan linglung, memantulkan bayangan ruangan asing berselimut warna putih.
"Ma-Maya..." suara Bagas keluar sangat lirih, hampir tak terdengar, terhalang selang yang menyumpal tenggorokannya.
Air mata Maya langsung meluncur deras membasahi pipinya. Ia berhamburan mendekat, meraih tangan kanan Bagas dan memeluknya erat di dada.
"Iya, Mas! Ini Maya! Mas Bagas bisa dengar suara Maya, kan?!" seru Maya dengan tangis haru yang pecah.
Bagas mengangguk sangat pelan. Ia mencoba menggerakkan bibirnya yang kering dan pecah-pecah untuk berbicara lebih banyak, namun tenggorokannya terasa sangat sakit dan terbakar.
"Jangan-jangan... banyak bicara dulu, Mas," pangkas Maya cepat seraya mengusap lembut dahi suaminya. "Nanti tenggorokan Mas makin sakit. Sebentar, Maya panggilkan dokter dulu ya."
Maya menekan tombol pemanggil perawat. Tak butuh waktu lama, Dokter Frans masuk ke dalam ruangan bersama Suster Ratna. Wajah dokter senior itu dipenuhi binar takjub saat melihat pasien komanya telah benar-benar membuka mata.
"Luar biasa... Selamat pagi, Pak Bagas," sapa Dokter Frans hangat sembari memeriksa refleks mata dan denyut nadi Bagas. "Dengar suara saya, Pak? Coba kedipkan mata dua kali kalau Dengar."
Bagas mengedipkan matanya dua kali secara perlahan.
"Bagus sekali," puji Dokter Frans tersenyum puas. "Respon otaknya sudah kembali dengan sangat baik. Suster, tolong bantu lepaskan selang pernapasan utamanya perlahan-lahan."
Setelah proses pelepasan selang medis yang cukup menyiksa itu selesai, Bagas terbatuk pelan beberapa kali.
Maya dengan setia menyodorkan sendok berisi sedikit air putih ke bibir suaminya.
"Di mana... aku, May?" tanya Bagas serak usai meminum air. Matanya menatap sekeliling dengan bingung. "Kenapa... aku ada di sini? Tubuhku... terasa aneh banget."
"Mas ada di rumah sakit," jawab Maya lembut sembari menggenggam jemari Bagas. "Mas sempat kecelakaan waktu kerja..."
"Kecelakaan?" dahi Bagas berkerut, berusaha mengingat memori masa lalunya yang buram. "Berapa hari... aku tertidur, May?"
Maya menelan ludah, menatap wajah suaminya yang penuh tanya. Ada rasa berat saat harus menyampaikan kenyataan pahit ini.
"Bukan berapa hari, Mas..." bisik Maya pelan. "Mas Bagas koma... sudah tiga tahun."
Mata Bagas membelalak lebar. "Tiga... tiga tahun?!" pekiknya menahan sakit di dada. "Nggak mungkin... May, kamu bercanda, kan?!"
"Nggak, Mas. Maya nggak bercanda," tutur Maya menahan getaran di suaranya.
Panik mulai menguasai pikiran Bagas. Ia mencoba menegakkan punggungnya untuk duduk, namun tubuh bagian bawahnya terasa seperti batu yang tertanam di dalam tanah.
Tak ada sedikit pun sensasi rasa atau respons dari pinggang hingga ke ujung kakinya.
"May! Kaki aku... kenapa kaki aku nggak bisa digerakkan?!" teriak Bagas histeris.
Ia mencoba memukul paha kirinya sendiri dengan tangan yang gemetar, namun ia tidak merasakan apa-apa.
"Kenapa kaki aku mati rasa, May?! Dok, ada apa dengan kaki saya?!"
Dokter Frans menghela napas berat, menatap Bagas dengan pandangan prihatin. "Pak Bagas, harap tenang dulu.
Akibat kecelakaan hebat tiga tahun lalu, saraf tulang belakang Anda mengalami kerusakan parah. Kerusakan ini menyebabkan kelumpuhan pada kedua kaki Anda."
"Lumpuh?!" Bagas menggelengkan kepala bertubi-tubi, air mata frustrasi mulai menetes di wajahnya yang kusam. "Nggak mungkin! Saya nggak bisa lumpuh! Saya harus kerja, Dok! Saya ini kepala keluarga!"
Bagas kembali memukul paha kakinya yang kaku seraya mengerang frustrasi. "Kenapa aku jadi cacat begini?! Buat apa aku bangun kalau cuma jadi beban?!"
Maya langsung memeluk dada Bagas rapat-rapat, menghentikan tangan suaminya yang terus memukul tubuhnya sendiri.
"Mas Bagas, stop! Jangan bicara begitu!" jerit Maya memeluk erat leher Bagas. "Mas nggak cacat, Mas nggak pernah jadi beban buat Maya!"
"Tapi aku nggak bisa jalan lagi, May! Aku lumpuh!" isak Bagas di bahu istrinya. "Gimana aku bisa bahagiain kamu kalau kakiku mati?!"
Maya menegakkan kepala Bagas, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya yang penuh keputusasaan.
"Mas Bagas dengar Maya," tegas Maya dengan mata memerah namun penuh keyakinan. "Selama tiga tahun Mas tidur, Maya yang jadi kaki dan tangan Mas.
Maya bisa bertahan sampai hari ini cuma buat nunggu Mas bangun. Kalau Mas butuh waktu buat jalan lagi, Maya yang bakal papah Mas setiap hari. Kita berjuang bareng-bareng ya, Mas?"
Bagas menatap wajah istrinya yang tampak jauh lebih kurus dan lelah dibanding ingatan terakhirnya.
Di mata polos itu, tak ada sedikit pun keraguan atau rasa penyesalan, hanya ada kasih sayang tulus yang tak terhingga untuk dirinya yang kini tak berdaya.