NovelToon NovelToon
Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Cahaya matahari pagi menyusup dari sela-sela tirai jendela apartemen, menyinari wajah Amir yang sedang tertidur pulas.

Burung-burung liar terdengar berkicau dari balkon lantai lima belasnya yang menghadap langsung ke arah kota.

Amir membuka matanya perlahan dan meregangkan seluruh otot tubuhnya dengan sangat nyaman.

Kretek kretek.

Bunyi persendian tulangnya terdengar nyaring, namun anehnya tidak ada rasa pegal sama sekali.

Tubuhnya terasa sangat ringan, bugar, dan penuh tenaga seperti seorang atlet yang siap bertanding.

"Efek dari Seni Bela Diri Pertarungan Jalanan ini benar-benar luar biasa, ototku terasa sangat padat sekarang."

Amir bergumam sambil menyentuh perutnya yang kini mulai memperlihatkan otot perut yang kotak-kotak sempurna.

Ia bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju balkon untuk menghirup udara pagi kota yang segar.

Dari atas sini, ia bisa melihat pemandangan gedung-gedung tinggi dan jalanan raya yang mulai dipenuhi kendaraan.

"Pemandangan orang kaya memang berbeda, tidak ada lagi bau selokan busuk seperti di rumah lama."

"Tinggal di sini membuat pikiranku jauh lebih jernih untuk merencanakan masa depan."

Amir tersenyum puas lalu berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Air hangat dari shower membasuh tubuhnya, memberikan sensasi relaksasi yang tak pernah ia rasakan selama tiga tahun terakhir.

Selesai mandi, Amir mengenakan kemeja kargo birunya yang semalam sudah ia cuci dan setrika sebentar.

Ia keluar dari apartemennya dan turun ke lobi untuk mencari sarapan di restoran terdekat.

Setelah menghabiskan seporsi bubur ayam porsi besar dan teh hangat, Amir kembali memeriksa saldo rekening di ponselnya.

Sisa uang tunainya saat ini adalah 110 juta rupiah lebih.

"Uang sebanyak ini sudah cukup untuk membeli perlengkapan memancing yang sangat pantas."

"Aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan joran bambu rongsokan itu jika ingin memancing di laut lepas."

Amir menyetop taksi yang lewat dan meminta diantar ke salah satu toko pancing terbesar dan terlengkap di pusat kota.

Toko itu bernama "Samudra Tackle" yang terkenal menjual alat-alat pancing kelas turnamen impor.

Ting.

Pintu kaca toko terbuka otomatis saat Amir melangkah masuk.

Aroma karet pelampung dan senar nilon baru langsung tercium memenuhi udara ruangan yang luas tersebut.

Deretan joran mahal yang terbuat dari karbon fiber berjejer rapi di dinding kaca.

Reel pancing dari berbagai merk terkenal dunia tersusun di etalase kaca dengan harga puluhan juta rupiah.

Seorang pramuniaga pria menghampiri Amir dengan senyum yang sedikit merendahkan.

Ia melihat penampilan Amir yang hanya memakai kemeja kargo dan sepatu kets biasa, jauh dari kesan pemancing kaya raya.

"Selamat pagi Mas, ada yang bisa saya bantu cari di sini?"

"Toko kami hanya menjual perlengkapan pancing kelas menengah ke atas, tidak ada alat pancing murah di sini."

Pramuniaga itu berkata dengan nada yang sangat menyebalkan dan penuh prasangka.

Amir melirik sekilas ke arah pramuniaga itu dengan tatapan datar dan dingin.

"Aku mencari set joran dan reel yang kuat untuk memancing di perairan laut lepas."

"Berikan padaku yang bahannya terkuat, aku tidak peduli harganya berapa."

Amir menjawab dengan nada suara berat yang berwibawa, membuat pramuniaga itu sedikit tersentak kaget.

Pramuniaga itu langsung mengubah sikapnya menjadi lebih sopan menyadari karisma Amir yang tidak biasa.

"Ba... baik Mas, mari silakan ikut saya ke bagian alat pancing laut dalam."

Pramuniaga itu memandu Amir menuju sudut ruangan yang memajang joran-joran tebal dan reel berukuran raksasa.

"Ini adalah joran merek Poseidon Pro, terbuat dari campuran karbon dan kevlar yang sangat alot."

"Joran ini sanggup menahan tarikan ikan Tuna atau Marlin berbobot hingga seratus kilogram tanpa patah."

Pramuniaga itu menunjukkan sebuah joran berwarna biru metalik yang sangat kokoh dan elegan.

Amir mengambil joran itu dan mengayunkannya perlahan untuk merasakan kelenturannya.

"Cukup bagus, lalu untuk reelnya kau merekomendasikan yang mana?"

Amir bertanya sambil meletakkan joran Poseidon Pro itu kembali ke tempatnya.

"Untuk reelnya, kami punya SeaMaster 9000 dengan rasio gir baja anti karat dan kapasitas senar tebal yang panjang."

"Reel ini dirancang khusus untuk melawan ikan monster di kedalaman laut tanpa takut aus atau macet."

Pramuniaga itu mengeluarkan reel berwarna perak mengkilap yang ukurannya sebesar kepala orang dewasa.

Amir mengangguk puas melihat spesifikasi alat pancing tersebut.

"Berapa harga satu set joran dan reel ini beserta senar PE terkuat yang kalian miliki?"

"Totalnya tiga puluh juta rupiah Mas, sudah termasuk pemasangan senar dan garansi toko satu tahun penuh."

Pramuniaga itu menyebutkan harga dengan sedikit gugup, takut Amir akan membatalkan pesanannya.

"Baiklah, aku ambil satu set yang itu, dan tolong bungkus juga beberapa kail laut dan timah pemberat."

Amir mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu debitnya dengan gerakan santai tanpa menawar sedikit pun.

Mata pramuniaga itu terbelalak lebar melihat kartu debit hitam di tangan Amir, tanda bahwa ia adalah nasabah prioritas.

"Ba... baik Mas, segera saya siapkan semuanya dalam waktu sepuluh menit!"

Pramuniaga itu berlari terbirit-birit menuju meja kasir untuk memproses transaksi tersebut.

Setelah selesai membayar, Amir membawa tas joran barunya keluar dari toko dengan langkah percaya diri.

Kini ia sudah memiliki perlengkapan pancing yang sangat layak untuk menaklukkan perairan laut.

Ia tidak akan pernah dihina atau diremehkan lagi seperti kejadian di kolam galatama kemarin.

Amir kembali memesan taksi, tapi kali ini tujuannya adalah dermaga pelabuhan kecil di pinggiran kota.

Pelabuhan itu adalah tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan lokal dan perahu sewaan untuk memancing di laut.

Sesampainya di dermaga, angin laut yang kencang dan asin langsung menyapa wajah Amir.

Suara deburan ombak dan teriakkan burung camar memenuhi udara di sekitar pelabuhan.

Amir berjalan menyusuri deretan perahu dan mencari nelayan yang bersedia menyewakan perahunya hari ini.

"Permisi Pak, apakah perahu kecil ini bisa disewa untuk memancing ke laut agak menengah?"

Amir bertanya pada seorang nelayan tua yang sedang menambal jaring di atas perahu kayunya.

Nelayan itu menoleh dan melihat penampilan Amir beserta tas joran mahalnya.

"Bisa saja Mas, tapi laut sedang agak berombak hari ini, harganya lima ratus ribu untuk setengah hari sewa termasuk bahan bakar."

Nelayan itu menyebutkan harga sewa yang cukup standar di daerah tersebut.

"Ini uangnya Pak, saya ingin menyewa perahu Anda sendirian saja hari ini."

Amir menyerahkan uang lima ratus ribu dan segera melompat naik ke atas perahu kayu yang bergoyang pelan.

Nelayan tua itu dengan senang hati menyerahkan kunci mesin tempelnya dan memberikan beberapa instruksi arah angin.

Brmmm!

Amir menghidupkan mesin perahu dan mulai mengarahkannya menjauhi dermaga menuju laut lepas.

Ia terus menjalankan perahunya selama hampir empat puluh menit hingga daratan hanya terlihat sebagai garis kecil.

Warna air laut di sekitarnya sudah berubah menjadi biru tua pekat yang menandakan kedalaman yang luar biasa.

"Tempat ini sepertinya sangat pas untuk memulai panen besarku hari ini."

Amir mematikan mesin perahu dan membiarkan kapalnya terombang-ambing pelan mengikuti arus ombak.

1
💫Penjelajah Novel💫
Thor. kolo bisa jangan 1× mancing 1× dapet langsung balik. kolo bisa banyakin mancingnya
kiyoe: terimakasih atas masukan nya kak
total 1 replies
Author Melda
Gilaak bab 1 nya langsung nyesek kak 😭 Amir yatim piatu jadi menantu gak dianggap, eh dibuang ke danau pula. Tapi pas bangkit sama sistem mancingnya itu keren banget plot twistnya! Semangat terus kak kiyoe, mancing mania mantap! 🎣
kiyoe: heheh terimakasih kak author Selpi atas dukungan nya
total 1 replies
Wega Luna
mir ,mancing ditempat ku ada danau ajaibnya,danau pasir putih yg keluar dari tanah seperti lumpur Lapindo,, dikelilingi bukit ular dan perumahan Citraland Surabaya, pemandangan keren,
kiyoe: wuih keren
total 3 replies
Wega Luna
banyakin saldo mancing nya terus ditukar dengan uang beli Bugatti ,,,direalita Buggati lebih mahal dari Lamborghini🤣🤣🤣🤣kalo perlu beli Ferrari yg konon belinya ribet banget tapi berkelas karena belum tentu setiap pengusaha bisa beli Ferrari,,,🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
💪💪💪 semangat para mancing mania,🏃🏃🏃tau GK Thor aku baca novel mu ini sambil mancing di kolam pemancingan😄
kiyoe: nanti kalau udah Mateng kabarin othor yak kak 🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!