Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai dilibatkan : 09
Tatiana meradang, dia sampai berdiri. Memandang sengit dengan air mata tergenang di pelupuk.
“Sus, tolong bantu Ardan gosok gigi dan basuh tangan serta kakinya,” Yarash menghindarkan si kecil dari perdebatan sudah pasti akan panas.
Suci bergerak gesit, mengangkat Ardan yang duduk diatas kursi menggunakan tambahan busa agar lebih tinggi.
Kedua bibi mengambil cepat peralatan makan, dan menu masih tersisa.
“Tetap di tempatmu!” ujar Yarash tegas dengan nada titah mutlak.
Tatiana tidak jadi keluar dari kursi, dia pun duduk. Raut wajah masih ditekuk.
Di meja makan hanya ada Saniya dan dua anggota keluarga barunya. Dia menyandarkan punggung pada sandaran kursi, duduk dengan gaya santai. Menjadi pengamat, mengukur seberapa tinggi tingkat emosi gadis di umur sedang gencar mencari jati diri.
“Mengapa harus menginap di hunian Rista? Apa bedanya dengan disini?” Yarash memulai sesi interogasinya.
Tatiana enggan menjawab, melirik kesal si ibu tiri teramat santai.
“Apa perlu Papi ulangi pertanyaan tadi, Tatiana Wilman?”
Jika Yarash sudah menyebut nama lengkap anak-anaknya, pertanda dia sangat serius.
“Suruh dia pergi dulu!” tanpa menoleh ke samping, Tatiana mengusir Saniya.
“Yang kamu sebut dia itu bukan orang lain, tetapi istri Papi. Mami Saniya wajib kamu hormati!” ditekankan setiap penyebutan.
“Harusnya yang Papi nikahi mommy Jena, bukan dia! Aku gak mau punya ibu tiri!” emosi Tatiana tersulut, duduknya tegak.
“Mau ataupun tidak, suka maupun enggak, mami Saniya sudah menjadi ibu sambung kamu dan Ardan. Posisinya setara dengan Papi,” Yarash mempertahankan pendiriannya.
“Tapi aku maunya mommy Jena —”
Pria berbaju kemeja licin pakaian tidur warna navi memotong kalimat putrinya. “Tapi dia yang tidak mau membersamai kamu! Dia sibuk dengan dunianya sendiri diluar sana! Enggan direpotkan mengasuh bayi, balita, anak-anak, bahkan menemani masa remaja mu. Sudah berapa kali Papi beri kamu pemahaman, kalau kami gak bisa bersama. Beda pendapat, beda cara mendidik, beda prinsip hidup.”
Saniya menahan napas, baru pertama kali ini dia mengetahui alasan di balik perpisahan sampai berulang.
Tatiana menunduk, air matanya terjatuh. Dia masih menolak menerima fakta pahit itu. Sering kali bertindak menipu diri sendiri, mempercayai jika suatu hari nanti kedua orang tuanya bisa rujuk lagi.
“Sekarang Papi tanya, kenapa harus dirumah Rista belajar kelompoknya?” Jemarinya tertaut di atas meja, dia tidak mengalihkan perhatian dari memandang pucuk kepala anak gadisnya.
Tatiana pun memberikan alasan. “Disana lebih tenang, gak dirusuhi Ardan.”
“Bukan karena disana gak ada siapa-siapa selain pembantu rumah tangga, sebab orang tua Rista sedang di luar negeri?” reaksi menegang sang putri sudah menjawab pertanyaannya barusan.
“Kalau niat kalian sekadar belajar kelompok, lakukan disini! Jika enggan, jangan sekali-kali kamu mencoba melanggar aturan Papi. Tidak ada menginap dirumah teman, terlebih tanpa pengawasan orang tua. Nak, dunia diluar sana acap kali mengerikan, menjadi liar apabila kamu tidak penuh kehati-hatian,” suaranya melunak, dia ingin melindungi putrinya.
“Papi jahat!” Tatiana berdiri sambil mendorong kuat kursi kebelakang, lalu dia berlari keluar dari area ruang makan.
Terdengar langkah menghentak lantai anak tangga lalu suara bantingan pintu.
“Maaf, belum ada 24 jam kamu disini, sudah mendengar kegaduhan tanpa henti.” Yarash mengusap wajahnya hingga jemari menyisir rambut.
Saniya tersenyum memaklumi. Tidak mengatakan sesuatu tetapi enggan pergi dari sana.
“Tatiana sangat dekat dengan keluarga ibunya. Rista itu sepupunya. Belakangan ini dia sibuk merayu saya untuk pindah rumah agar dekat dengan kota serta hunian keluarga Jena Rustam,” ia mulai bercerita tentang sosok masa lalunya.
“Wilayah ini termasuk jauh dari pusat kota, dan tak begitu jauh dengan pesisir pantai, tempat usaha saya berdiri di sana. Saya seorang pengusaha budidaya seafood ekspor ke luar negeri. Sengaja tinggal di pinggiran kota, menghindarkan anak-anak dari pengaruh pergaulan bebas, terlebih Tatiana telah memasuki masa remaja. Egonya cukup tinggi, dan dia keras kepala, serta labil,” lanjutnya pelan.
“Saya akui sebagai orang tua tunggal banyak kurangnya, jauh dari kata sempurna. Sering meninggalkan mereka karena harus mengurus bisnis yang dimulai dari nol sejak 10 tahun lalu. Saniya … apa kamu menyesal menyetujui perjodohan kita?” Yarash memandang tepat ke netra selalu terlihat tenang seperti permukaan air telaga hijau.
“Terlalu dini untuk merasa, menilai, menyesal atau tidak, Mas. Lagian dari awal kamu sudah jujur ke aku tentang status, dan memiliki dua orang anak. Jadi, dengan diriku menyatakan setuju, berarti telah memikirkan akan konsekuensinya,” ia menghilangkan penyebutan formal, membalas sorot sendu dengan tatapan memahami.
“Terima kasih,” entah untuk apa kalimat itu tepatnya, tetapi terasa benar ketika disuarakannya.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam kamar, malam semakin beranjak. Bukankah telah memasuki jam tidurnya, Ardan?” ia ingat balita cerdas itu terlelap di pukul 9 malam.
Yarash mengangguk, lalu mendorong pelan kursinya ke belakang.
Saniya juga melakukan hal sama, diraihnya Kruk lalu diapit dibawah ketiak.
“Apa kaki palsumu tidak nyaman dikenakan?” tiba-tiba saja Yarash bertanya.
Saniya tetap berjalan pelan, lalu menjawab seperti membahas hal biasa. “Kendatipun sudah terbiasa, tetapi terkadang ada kalanya masih terasa sedikit nyeri. Terlebih apabila aku banyak berjalan, biasanya kulit tertutup kaki palsu sering mengalami lecet karena gesekan, tekanan berlebih.”
Pria tersebut berhenti melangkah, dan si wanita juga tidak jadi mengayunkan kakinya.
“Apa tidak sebaiknya memakai kursi roda elektrik?”
“Tidak perlu, Mas. Aku sudah terbiasa, takutnya malah jadi manja, malas berolahraga.” Saniya menekan palang kruk, menekan ujungnya sebagai tumpuan kaki kanan melangkah.
Mereka sama-sama masuk ke dalam kamar yang lampunya sudah temaram, penerangan utama dimatikan.
Pada bagian pinggir kasur berdempetan dengan sebelahnya, tertidur pulas anak laki-laki berwajah damai, sangat berbeda dengan waktu terjaga yang tidak bisa diam.
Suci pamit keluar dari kamar, tadi dia duduk di karpet lantai menemani Ardan hingga terlelap.
“Aku gosok gigi dan cuci muka duluan,” Saniya menjawab ketika ditanya perihal siapa yang mau masuk ke kamar mandi lebih dulu.
Sementara di lantai atas, pada sebuah kamar bernuansa merah muda kombinasi putih, gadis remaja berbaring miring memeluk guling. Wajahnya bermandikan air mata, sementara lubang telinga kiri disumpal headset.
“Mommy janji kan mau buruan balik ke Indonesia?”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...