Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Yang Merindukan
Empat hari berlalu tanpa meninggalkan sedikit pun Alea di ruangan itu. Adrian benar-benar memindahkan seluruh aktivitas dan urusan pekerjaannya ke kamar perawatan VIP tersebut. Kursi di samping ranjang Alea seolah telah menjadi tempat peristirahatan permanen baginya.
Setiap malam, ia hanya memejamkan mata sejenak sambil terus menggenggam jemari dingin wanita itu, takut jika ia berpaling sedikit saja, peristiwa buruk akan terulang kembali.
"Sayang, ayoo bangun... Kali ini aku janji tidak akan meninggalkanmu sedetik pun," bisik Adrian dengan suara serak dan sarat akan kerinduan yang mendalam.
Sementara Azka masih di sekolah diantar oleh Rian. Adrian ingin memastikan kehidupan dan pendidikan putra kecilnya tetap berjalan normal, meski Azka selalu merengek ingin segera kembali ke rumah sakit setiap kali jam sekolah usai.
Ruang perawatan itu begitu hening, hanya diisi oleh suara deru halus mesin pemantau detak jantung dan embusan angin sore dari luar jendela.
Adrian menggenggam tangan Alea hingga jari-jari Alea akhirnya bergerak halus.
Gerakan kecil di telapak tangannya itu seketika membuat Adrian menegang. Sepasang mata elangnya yang melelahkan mendadak membelalak lebar. Ia menengadah, menatap fokus pada kelopak mata Alea yang perlahan-lahan mulai terbuka, menyesuaikan diri dengan bias cahaya ruangan.
"Alea...?" panggil Adrian dengan nada bergetar penuh harapan.
Bibir kering Alea tersingkap sedikit, menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya sepasang mata beningnya terbuka sempurna. Tatapan wanita itu sempat linglung dan linglung menyapu sekeliling ruangan, hingga akhirnya berlabuh pada wajah tegap Adrian yang tampak lebih tirus dengan sedikit cambang tipis di dagunya.
"Ad... rian...?" bisik Alea amat pelan, suaranya hampir tak terdengar akibat tenggorokannya yang kering.
Air mata yang ditahan Adrian selama empat hari lamanya akhirnya menetes juga. Pria itu menyatukan keningnya dengan kening Alea, mengecup lembut puncak hidung dan bibir wanita itu dengan kehangatan luar biasa.
"Aku di sini, Sayang... Aku di sini. Kamu sudah aman," tutur Adrian tulus, mempererat genggaman tangannya di jemari Alea. "Terima kasih sudah bertahan untukku dan Azka... Terima kasih..."
Alea mengulas senyum tipis yang sangat lemah. Ingatannya perlahan berputar pada detik-detik mencekam di gedung tua. "Az... ka... bagaimana... Azka...?"
"Azka selamat, tidak luka sedikit pun. Dia sedang di sekolah diantar Rian dan sebentar lagi sampai ke sini," potong Adrian cepat agar Alea tidak panik. "Anak kita sangat merindukan ibunya."
Alea bernapas lega, memejamkan matanya sejenak merasakan kehangatan telapak tangan Adrian yang membungkus jemarinya. Di saat yang sama, bunyi pintu kamar perawatan berderit halus.
"Ibuuuu!" seruan mungil Azka yang baru saja kembali dari sekolah terdengar melengking di ambang pintu.
Bocah kecil itu berlari menyeberangi ruangan tanpa memedulikan tas sekolahnya lagi. Adrian dengan sigap membantunya menaiki tepi ranjang agar tidak menyenggol selang infus maupun bekas luka operasi di tubuh Alea.
"Ibu kenapa tidurnya lama? Azka rinduuuu!" ucap Azka polos sambil menyembunyikan wajah cabinya di samping lengan Alea, memeluk sang ibu dengan kehati-hatian luar biasa seolah takut menyakiti ibunya.
Air mata haru menetes perlahan di sudut mata Alea. Meskipun tubuhnya masih terasa sangat lemah dan punggungnya masih nyeri, rasa sakit itu seolah sirna berganti dengan kehangatan luar biasa saat merasakan dekapan putra kecilnya.
Alea mengusap lembut rambut halus Azka dengan jemarinya yang masih agak gemetar. "Maafkan Ibu ya, Sayang... Ibu cuma ketiduran sebentar karena kecapekan. Sekarang Ibu sudah bangun dan tidak akan tidur lama-lama lagi..."
"Beneran ya, Bu? Janji?" tanya Azka dengan mata bulatnya yang berbinar-binar penuh harapan.
"Janji, Sayang," bisik Alea tulus, mencium pipi bulat Azka yang sangat dirindukannya.
Adrian yang berdiri di samping ranjang menatap pemandangan indah di hadapannya dengan senyum hangat yang tak lepas dari bibirnya. Ia merangkulkan lengan tegapnya mengelilingi Alea dan Azka, menyatukan keluarga kecil itu dalam satu pelukan erat yang penuh perlindungan.
"Terima kasih sudah kembali pada kami, Alea," bisik Adrian di telinga wanita itu, mengecup pelipisnya dengan penuh kelembutan. "Mulai hari ini dan seterusnya, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita bertiga."
Alea menoleh, menatap sepasang mata elang Adrian yang kini memancarkan ketenangan dan janji kesetiaan yang tak tergoyahkan. Di balik trauma dan cobaan besar yang baru saja mereka lewati, Alea tahu bahwa kini ia telah menemukan rumah dan benteng perlindungan sejati untuk dirinya dan Azka.
Di dekat pintu, Rian mengulas senyum tipis menyaksikan kebahagiaan tuannya, sebelum akhirnya mengundur diri secara perlahan untuk memberi ruang bagi keluarga kecil itu menikmati momen reuni mereka.