Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 — Laporan kepada Raja
Perjalanan kembali menuju Grandis dimulai tiga hari setelah keberhasilan menemukan Fragmen Api Murni, dengan rombongan yang kini semakin besar—selain anggota asli, Selene turut serta secara resmi mewakili Drakoria Empire dalam misi berkelanjutan mereka.
Pada malam ketiga perjalanan, ketika mereka berkemah di tepi sebuah danau tenang yang memantulkan cahaya bulan dengan sempurna, Kael menemukan dirinya duduk sendirian menjauh dari perkemahan utama, mencoba mencerna semua perkembangan yang telah terjadi dalam waktu singkat sejak dia meninggalkan Grandis.
Seraphina menemukannya di sana, duduk di sampingnya tanpa kata-kata untuk beberapa saat, hanya menikmati keheningan malam bersama.
"Kau memikirkan sesuatu yang berat," katanya akhirnya, memecah keheningan dengan lembut.
"Banyak hal," Kael mengakui. "Fragmen-fragmen ini, aliansi yang terus berkembang, Dravos yang entah bagaimana masih terasa satu langkah di depan kita meski kita terus mengumpulkan kekuatan."
"Kau tidak sendirian dalam menghadapi semua itu," Seraphina berkata, menggenggam tangannya seperti yang sering dia lakukan sebagai bentuk dukungan.
"Aku tahu," Kael menjawab, menatapnya dengan penghargaan yang mendalam. "Dan aku sangat bersyukur untuk itu. Untukmu, khususnya, Seraphina. Kau sudah ada di sisiku sejak hari pertama, melalui semua ini."
Seraphina menatap balik, matanya berkaca-kaca dengan emosi yang telah lama dia coba kendalikan. "Kael, ada sesuatu yang ingin kukatakan sejak lama, sesuatu yang terus tertunda karena satu dan lain hal."
"Aku mendengarkan," Kael berkata lembut, merasakan pentingnya momen ini.
"Sejak kau membangunkanku di dungeon itu," Seraphina memulai, suaranya bergetar namun tekadnya jelas, "aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sepanjang seribu tahun hidupku, bahkan sebelum pengkhianatan Dravos. Bukan hanya rasa syukur karena kau membebaskanku, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam."
Kael menahan napas, menyadari arah percakapan ini.
"Aku jatuh cinta padamu, Kael," Seraphina akhirnya mengucapkan kata-kata yang telah lama dia simpan, matanya tidak pernah lepas dari wajahnya meski ketakutan akan penolakan jelas terlihat di sana. "Bukan hanya sebagai teman atau sekutu, tapi sebagai seseorang yang telah menjadi pusat dari seluruh dunia baruku."
Keheningan menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat, hanya suara riak air danau dan angin malam yang mengisi kekosongan itu.
"Seraphina," Kael akhirnya berkata, suaranya penuh kehangatan yang tulus. "Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak awal, ada sesuatu tentang dirimu yang membuatku merasa... lengkap, entah bagaimana menjelaskannya. Kau bukan hanya sekutu atau teman bagiku. Kau adalah rumah yang aku temukan di dunia yang benar-benar asing bagiku."
Air mata mulai mengalir di wajah Seraphina, namun kali ini air mata kebahagiaan, bukan kesedihan atau ketakutan yang selama ini sering menyertainya. "Aku takut kau akan menganggapku terlalu aneh, terlalu berbeda, seorang vampir kuno yang telah hidup seribu tahun lebih lama darimu."
"Perbedaan kita tidak pernah menjadi masalah bagiku," Kael menjawab, mengusap air matanya dengan lembut. "Kau adalah Seraphina, dan itu sudah lebih dari cukup."
Mereka duduk berdekatan, kehangatan momen itu menciptakan koneksi yang telah lama terbentuk namun baru sepenuhnya diakui secara terbuka. Kael perlahan mendekatkan wajahnya, dan Seraphina, dengan mata yang penuh kepercayaan dan cinta yang tulus, menyambutnya di tengah jalan.
Ciuman pertama mereka terasa seperti momen yang telah lama tertunda, penuh dengan semua emosi yang telah terkumpul sejak pertemuan pertama mereka di dungeon gelap itu—rasa syukur, kekaguman, kepercayaan, dan kini, cinta yang akhirnya diakui secara terbuka oleh keduanya.
Ketika mereka akhirnya berpisah, dahi mereka masih saling bersentuhan, Seraphina tersenyum dengan kebahagiaan yang jarang dia tunjukkan sepanjang kehidupannya yang panjang. "Aku sudah menunggu momen ini lebih lama dari yang bisa kau bayangkan."
"Maaf membuatmu menunggu begitu lama," Kael berkata dengan senyum penuh kasih sayang.
"Kau sepadan dengan penantian itu," Seraphina menjawab, bersandar pada bahunya sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam yang cerah.
Mereka duduk bersama dalam keheningan yang nyaman untuk waktu yang lama, menikmati momen kebahagiaan sederhana di tengah perjuangan besar yang masih menanti mereka. Ketika akhirnya mereka kembali ke perkemahan utama, tidak ada yang berkomentar secara terbuka tentang perubahan dinamika di antara mereka berdua, meski senyum kecil dari Aria dan pandangan penuh pengertian dari Lyra menunjukkan bahwa semua orang telah menyadari apa yang baru saja terjadi.
Malam itu, sebelum tidur, Kael menuliskan sesuatu dalam jurnal kecil yang telah dia mulai sejak Kingdom Tournament, mencatat perkembangan penting dalam perjalanannya—bukan hanya tentang kultivasi atau fragmen yang dia kumpulkan, tetapi juga tentang momen-momen yang benar-benar membuat semua perjuangan ini terasa berarti.
*Hari ini, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari kekuatan atau fragmen primordial manapun,* tulisnya. *Aku menemukan seseorang yang membuat dunia asing ini terasa seperti rumah.*
Perjalanan menuju Grandis dilanjutkan keesokan harinya, namun kali ini, setiap langkah terasa sedikit lebih ringan, setiap tantangan yang menanti terasa sedikit lebih mudah dihadapi, karena Kael tahu dia tidak hanya berjuang untuk menyelamatkan dunia, tetapi juga untuk melindungi kebahagiaan yang baru saja dia temukan dengan seseorang yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Kedatangan rombongan kembali ke Grandis disambut dengan antusiasme yang jauh lebih besar dari sebelumnya, mengingat kabar tentang keberhasilan membentuk aliansi dengan Sylvariel, Fenrir, dan kini Drakoria Empire telah menyebar luas bahkan sebelum mereka tiba.
Raja Valtherion sendiri mengadakan audiensi khusus untuk mendengar laporan lengkap tentang perkembangan misi mereka, dengan Sect Master Aldric dan beberapa penasihat kerajaan senior turut hadir dalam pertemuan penting itu.
"Empat kerajaan besar kini bersatu melawan ancaman yang sama," Raja Valtherion berkata dengan nada penuh kepuasan setelah mendengarkan laporan lengkap dari Kael dan Seraphina. "Ini adalah pencapaian diplomatik yang luar biasa, terlepas dari keadaan mendesak yang mendorongnya."
"Kami juga berhasil menemukan dan mengintegrasikan dua fragmen Darah Primordial," Kael menambahkan, menjelaskan lebih detail tentang Fragmen Naluri Primal dan Fragmen Api Murni yang kini menjadi bagian dari dirinya.
"Berapa banyak lagi fragmen yang mungkin tersisa?" salah satu penasihat kerajaan bertanya, jelas mencoba memahami skala penuh dari tantangan yang mereka hadapi.
"Kami tidak tahu pasti," Seraphina menjawab jujur. "Tapi berdasarkan legenda yang telah kami pelajari, kemungkinan ada fragmen yang berhubungan dengan setiap ras utama di Elyndra—mungkin termasuk manusia sendiri."
Pernyataan itu memicu diskusi baru di antara para penasihat, mempertimbangkan kemungkinan bahwa fragmen berikutnya mungkin tersembunyi di dalam wilayah Valtherion sendiri, terkait dengan sejarah kuno kerajaan manusia.
"Ada legenda kuno tentang Raja Pertama Valtherion," salah satu penasihat tertua akhirnya berkata, mengingat catatan sejarah yang jarang dibicarakan secara terbuka. "Konon dia menerima berkah dari kekuatan yang melampaui pemahaman normal, memungkinkannya menyatukan berbagai suku manusia yang terpecah menjadi kerajaan yang kita kenal sekarang."
"Di mana catatan tentang legenda itu bisa ditemukan?" Kael bertanya penuh minat, menyadari kemungkinan hubungan dengan fragmen yang mereka cari.
"Arsip Kerajaan Kuno, tersembunyi di bawah istana ini sendiri," penasihat itu menjawab. "Tempat itu sudah lama tidak dibuka karena dianggap terlalu berbahaya, dijaga oleh mekanisme kuno yang bahkan kami sendiri tidak sepenuhnya pahami."
Raja Valtherion mempertimbangkan informasi itu dengan serius. "Jika ada kemungkinan fragmen berikutnya tersembunyi di sana, aku akan memberikan izin khusus untuk membuka Arsip Kerajaan Kuno, meski dengan pengawalan ekstra mengingat bahaya yang mungkin masih ada di dalamnya."
Setelah pertemuan resmi berakhir, Ren dari Shadow Sect muncul kembali malam itu, membawa kabar terbaru tentang pergerakan Dravos yang semakin mengkhawatirkan.
"Berdasarkan informasi terbaru," Ren melaporkan dalam pertemuan pribadi dengan Kael dan Seraphina, "Dravos telah berhasil mengumpulkan pengikut dalam jumlah signifikan di Netherys, termasuk beberapa Demon berpengaruh yang tertarik dengan janji kekuatan yang dia tawarkan."
"Apakah dia sudah mulai bergerak secara terbuka?" Kael bertanya, khawatir dengan eskalasi yang mungkin terjadi.
"Belum sepenuhnya," Ren menjawab. "Tapi kami mendeteksi peningkatan aktivitas militer di sekitar perbatasan Netherys, seolah dia mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar mengumpulkan pengikut biasa."
"Apa yang Shadow Sect sarankan?" Seraphina bertanya.
"Terus percepat pengumpulan fragmen dan penguatan aliansi kalian," Ren menjawab tegas. "Kami akan terus mengawasi pergerakannya dan memberikan peringatan sesegera mungkin jika ada indikasi serangan langsung."
Setelah Ren pergi, Kael dan Seraphina menghabiskan waktu membahas langkah selanjutnya, memutuskan bahwa mencari fragmen yang mungkin tersembunyi di Arsip Kerajaan Kuno harus menjadi prioritas berikutnya, mengingat lokasinya yang jauh lebih dekat dan aman dibanding ekspedisi-ekspedisi sebelumnya.
Keesokan harinya, persiapan dimulai untuk memasuki Arsip Kerajaan Kuno, dengan tim yang kini terdiri dari kombinasi sekutu dari berbagai kerajaan—Kael, Seraphina, Lyra yang telah kembali bergabung setelah singgah sebentar untuk urusan diplomatik Sylvariel, Selene yang penasaran dengan sejarah kuno manusia, dan tentu saja Aria yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk petualangan baru.
"Arsip ini sudah tertutup selama lebih dari dua ratus tahun," penasihat kerajaan yang memandu mereka menjelaskan saat mereka menuruni tangga batu tua yang membawa mereka semakin dalam di bawah istana. "Mekanisme pertahanannya, jika masih berfungsi, mungkin akan menganggap kita sebagai penyusup."
"Kita akan berhati-hati," Kael menjawab, mempersiapkan diri untuk kemungkinan bahaya yang menanti di kedalaman arsip kuno itu.
Ketika mereka akhirnya mencapai pintu besar berukir yang menandai pintu masuk Arsip Kerajaan Kuno, tulisan-tulisan aksara kuno yang menghiasi permukaannya mulai bersinar samar begitu Kael mendekat, seolah merespons kehadiran fragmen-fragmen primordial yang sudah tersimpan dalam dirinya.
"Sepertinya pintu ini mengenali sesuatu dalam dirimu," Lyra berkata dengan nada penuh minat, mengamati fenomena yang tidak terduga itu.
Kael mendekat lebih jauh, dan ketika tangannya menyentuh permukaan pintu itu, cahaya terang meledak dari ukiran-ukirannya, dan dengan suara gemuruh berat, pintu kuno itu mulai terbuka perlahan, mengungkapkan kegelapan misterius yang telah tersembunyi selama dua abad, menunggu untuk dijelajahi.