Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 8
Suara mesin mobil Vino melaju membelah jalanan pagi yang mulai padat. Sepanjang perjalanan, jemarinya mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan wajah Kiara yang pucat dengan selang infus serta tatapan matanya yang teramat kecewa semalam terus menari-nari di ingatan Vino, menusuk kesadarannya tanpa ampun.
Begitu sampai di kediaman keluarga Kiara, Vino menetralkan napasnya sejenak. Dia menggenggam erat tas berisi termos sup hangat pemberian ibunya sebelum melangkah menuju pintu depan.
Ibu Kiara membuka pintu setelah Vino mengetuk. Raut wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kelelahan, namun senyum tipis yang memancar penuh kesantunan tetap menyambut Vino.
"Eh, Vino... Ayo masuk, Nak," sapa Ibu Anisa lembut, meski guratan kekecewaan atas kejadian semalam tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
"Pagi, Tante. Maaf Vino datang sepagi ini," ujar Vino seraya mencium tangan Ibu Kiara penuh hormat.
"Vino bawa sup hangat dari Mama untuk Kiara. Gimana kondisi Kiara pagi ini, Tante?"
"Demamnya sudah mulai turun, tapi badannya masih sangat lemas. Dari subuh tadi belum mau makan apa-apa," jawab Ibu Kiara sembari menghela napas halus.
"Ayo langsung ke kamarnya saja, dia sedang duduk di tempat tidur."
Vino melangkah mengekor di belakang Ibu Anisa menuju kamar utama di lantai atas. Saat pintu kayu bernuansa krem itu terbuka, pandangan Vino langsung tertuju pada sosok wanita yang sangat dia cintai. Kiara bersandar di kepala ranjang dengan selimut melilit pinggangnya. Wajahnya polos tanpa riasan, tampak pucat, dan plaster bekas tancapan jarum infus masih menempel di punggung tangan kirinya. Pandangan Kiara bahkan terlihat kosong, membuat Vino merasa semakin bersalah.
"Ra, ini ada Vino datang dibawain sup dari Mamanya," ujar Ibu Kiara mengusap lembut bahu putrinya.
Kiara menoleh. Detik itu juga, tatapan matanya bertemu dengan mata Vino. Namun, tak ada lagi binar kehangatan atau senyum manja yang biasa menyambut kedatangan pria itu. Tatapan Kiara begitu datar, tenang, namun menyisakan jarak membentang yang sangat transparan.
"Pagi, Mas Vino," sapa Kiara dengan suara agak serak. Bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah senyum sopan yang formal, persis seperti senyuman yang biasa dia berikan pada tamu biasa.
"Tante tinggalkan kalian dulu ya, mau siapkan minum untuk Vino," pamit Ibu Anisa lalu melangkah keluar dan tanpa menutup pintu kamar anaknya, karena mereka belum menikah.
Ruangan itu seketika diselimuti keheningan yang mencekam.
"Ra..." suara Vino bergetar saat dia melangkah mendekati tempat tidur. Dia mencoba meraih jemari Kiara yang terpaut di atas pangkuan, namun sebelum kulit mereka bersentuhan, Kiara secara halus menarik tangannya kembali untuk merapikan selimut.
Penolakan halus itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan keras bagi Vino.
"Mas duduk saja di kursi itu," ucap Kiara lembut tanpa emosi, menunjuk sebuah kursi kayu di sudut kamar.
Vino menahan napasnya yang terasa sesak. Dia tak menuruti perintah itu, melainkan berlutut di samping ranjang Kiara, menyejajarkan posisinya agar bisa menatap mata wanita itu dari dekat.
"Ra, Mas mohon... dengarkan Mas dulu," panggil Vino lirik, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mas tahu Mas bodoh. Mas tahu Mas sudah kelewatan dan menyakiti kamu beberapa bulan ini, terutama semalam. Mas sudah menyelesaikan semuanya dengan Shela dan Tante Reni. Mas sadar Mas cuma dimanfaatkan dan..."
"Mas," potong Kiara tenang. Ia menatap Vino tanpa nada amarah, tapi justru ketenangan itulah yang membuat Vino makin bergidik ketakutan.
"Terima kasih ya, sudah repot-repot datang dan dibawakan sup dari Tante Indah. Nanti biarlah Kiara habiskan," ujar Kiara mengalihkan pembicaraan, memotong seluruh penjelasan Vino begitu saja seolah hal itu tak lagi relevan.
"Ra, tolong jangan seperti ini..." bisik Vino seraya memberanikan diri menggenggam ujung pakaian Kiara.
"Marahi Mas, Ra. Pukul Mas kalau itu bisa bikin kamu lega. Tapi tolong jangan bentangkan jarak kayak gini..."
Kiara menatap tangan Vino yang gemetar di dekatnya. Dia tidak menghentak atau mengusirnya secara kasar. Kematangan dan ketulusan sikap Kiara justru membuat benteng jarak di antara mereka kian tak tertembus.
"Aku gak marah, Mas," sahut Kiara pelan namun tegas.
"Aku cuma butuh waktu. Badanku masih lemas, dan kepalaku masih terlalu penuh. Sebaiknya Mas Vino fokus saja dulu dengan urusan pekerjaan atau keluarga Mas."
Kata 'keluarga Mas' diucapkan Kiara dengan penekanan yang sangat halus, mengingatkan Vino betapa seringnya dia menomorduakan Kiara demi alasan 'sepupu' yang kini terbukti palsu. Apa dia bisa mengembalikan hati dan juga kepercayaan Kiara seperti dulu?
Sebelum Vino sempat mengutarakan permohonan maafnya lebih jauh, pintu kamar kembali terketuk. Ayah Kiara melangkah masuk dengan senyum hangat khas seorang kepala keluarga.
"Eh, ada Vino," sapa Ayah Haidar menepuk bahu Vino hangat.
Seketika itu juga, ekspresi Kiara berubah. Di depan ayahnya, Kiara menampilkan senyum manis dan raut wajah seorang putri yang penurut, seolah tidak terjadi keretakan apa pun di antara dirinya dan Vino. Dia bahkan merespons obrolan ayahnya dan Vino dengan sangat kooperatif dan ramah.
Namun, di balik sandiwara manis Kiara di hadapan sang Ayah, Vino dapat merasakan dengan sangat jelas, Kiara sedang menguncinya di luar kehidupannya.
Gadis yang dulu selalu menyambutnya dengan pelukan dan cerita tanpa henti, kini berdiri jauh di seberang jurang pemisah yang diciptakan oleh kebodohan Vino sendiri. Dan Vino tahu, butuh waktu, perjuangan mati-matian, serta pembuktian nyata untuk bisa meruntuhkan tembok dingin yang kini membentengi hati calon istrinya itu.
"Vino, bisa Om bicara denganmu di depan?" ujar Om Haidar.
"Baik, Om!" Jawab Vino.
"Ayah pinjam Vinonya sebentar ya, Kiara!" Pak Haidar mengusap kepala anaknya yang masih demam.
"Iya Ayah..." Kiara tersenyum manis ke arah ayahnya.
"Kiara, aku pergi dulu, nanti aku kesini lagi..." Kiara hanya mengangguk dan tersenyum tipis kepada Vino.
Vino hanya bisa menghela napas dengan respon dari Kiara, padahal dua minggu lagi mereka akan mulai fitting kebaya pengantin dan juga mengurus yang lainnya untuk rencana pernikahan mereka. Jangan sampai rencana pernikahan mereka batal, hanya karena kesalahannya kemarin. Dia tak sanggup kalau harus kehilangan Kiara. Dia sangat mencintai Kiara, bukan hanya dia. Melainkan juga kelaurganya sudah memberikan restunya. Apalagi adik dan ibunya sangat menyukai Kiara dan juga sangat dekat selama ini.
Semua yang dia cari ada di Kiara, hanya dia belum bisa tegas dan masih mengabaikan perasaan Kiara dengan semua kelakuannya di balik kata sepupu. Bahkan bukan sepupu kandung, melainkan orang lain yang hanya terikat status pernikahan kakeknya. Dan sekarang apakah ayahnya Kiara juga akan memarahinya? Apakah Ayah haidar bahkan akan memutuskan rencana pernikahan mereka?
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,