Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Kau pria yang di bukit hijau waktu itu," seru Seraphina.
"Ya, kau benar. Ini memang aku," timpal Noah. "Berkat dirimu lima tahun lalu, aku masih hidup di dunia ini lima tahun kemudian."
Seraphina tampak tersenyum kecil. Ada perasaan senang saat tahu bahwa pria yang dulu terlihat sangat putus asa kini bisa tersenyum cerah seolah tanpa beban.
"Aku senang kau masih hidup," ucap Seraphina sambil tersenyum penuh arti.
"Semua berkat dirimu," sahut Noah. "Jadi, apa kau setuju menikah denganku?"
Seraphina kembali berpikir sebentar. Dia menatap Noah dalam-dalam.
"Baiklah. Aku setuju."
napas Noah seolah tercekat. Jantungnya nyaris melompat keluar dari tempatnya. Entah kenapa, jawaban Seraphina hampir membuat dirinya melompat tinggi-tinggi saking senangnya.
"Kau serius?" tanya Noah.
Dan, Seraphina hanya mengangguk.
"Bagaimana dengan perjanjian nikah kontrak kita? Apa perlu dibuat sebelum menikah?"
"Aku tidak suka membuat kontrak secara tertulis. Terlalu beresiko. Kalau sampai ada musuh yang menemukannya, itu bisa jadi masalah besar."
"Jadi?"
"Tidak perlu ada perjanjian apapun secara tertulis. Kita cukup membuat perjanjian secara lisan saja."
Sejenak, Seraphina merasa ragu. Perjanjian secara lisan? Bukankah itu terlalu lemah? Seraphina takut akan dirugikan.
"Sekarang, sebutkan apa persyaratan mu!" titah Noah.
Seraphina menarik napas. "Aku ingin pernikahan kontrak ini berjalan setidaknya dua tahun."
Uhuk!
Noah tersedak makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Dua tahun?" Ia membeo.
"Sialan! Itu terlalu singkat," gumamnya dalam hati.
Mengingat Seraphina sudah terluka dua kali karena laki-laki, mungkin hati perempuan itu sudah setengah membeku. Sulit untuk membuatnya cair kembali. Jadi, waktu dua tahun mungkin tidak akan cukup untuk Noah.
"Kenapa? Apa itu terlalu lama? Kalau begitu, bagaimana kalau satu tahun saja?"
"Lah, malah makin dipersingkat."
Noah menelan makanannya dengan susah payah.
"Dua tahun," sambar Noah. "Dua tahun saja."
Dan, Seraphina kembali mengangguk. "Baiklah."
"Apa masih ada syarat lain?" tanya Noah lagi.
Dan, Seraphina menggeleng.
"Baiklah. Sekarang giliran ku."
"Silakan!" Seraphina mempersilakan.
"Aku ingin kita menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Aku menjalankan kewajiban ku dengan baik sebagai seorang suami dan kau juga menjalankan kewajiban mu dengan baik sebagai seorang istri."
Entah kenapa, persyaratan Noah membuat Seraphina merasa gugup.
"Maksudnya, kewajiban yang seperti apa?"
"Semuanya. Seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Termasuk, dalam hubungan ranjang."
Ting.
Sendok Seraphina berdenting nyaring saat dia tak sengaja menjatuhkannya dari tangannya.
Jantungnya berdegup kencang.
Wajahnya mendadak memerah.
Malu.
Apa Noah harus mengatakannya sefrontal ini?
"So-soal hubungan ranjang... sepertinya aku tidak bisa," kata Seraphina terbata.
"Aku harus bisa. Apa kau tega melihat suamimu tersiksa? Jujur saja, menikah dengan perempuan secantik kamu pasti membuat aku tidak akan kuat."
Blush.
Pipi Seraphina semakin memerah.
"Tapi, bagaimana kalau aku sampai hamil?"
"Berarti, kita tidak perlu bercerai. Selesai," sahut Noah dengan santainya.
Seraphina tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sudah terlanjur maju dan mustahil untuk mundur kembali.
"Apa kau akan meminta uang dariku?" tanya Seraphina setelah hening selama beberapa saat.
"Untuk apa?" Noah balik bertanya. Dia tampak tersenyum geli. "Seraphina, apa kau pikir, aku ini pria yang sangat miskin sampai-sampai harus meminta uang darimu?"
Perempuan itu tersenyum canggung. Wajar jika dia waspada, kan? Jangan sampai, Noah ingin memiliki anak dengannya karena ingin menumpang hidup selamanya pada Seraphina.
"Kemarin penampilan mu terlihat seperti seorang penipu. Itu sebabnya aku..." Dia tak melanjutkan kata-katanya lagi dan hanya menunduk canggung.
"Ishhh!! Si Marco itu benar-benar..." Noah menggerutu kesal. Semua gara-gara outfit pilihan Marco kemarin.
"Siapa Marco?" tanya Seraphina.
Noah kembali tertawa. Tapi, kali ini dibalut dengan sedikit kekesalan.
"Orang yang memilihkan outfit kemarin sampai-sampai kau berpikiran jika aku penipu."
Kemudian, Noah mengeluarkan kartu namanya. Dia meletakkannya diatas meja lalu menggesernya menggunakan jari telunjuk ke dekat piring Seraphina.
"Mari berkenalan kembali! Namaku, Noah Elian Alexander. Pewaris satu-satunya SB Group."
Mulut Seraphina reflek menganga. Dia buru-buru mengambil kartu nama itu dan membacanya dengan seksama.
Kartu nama ini asli.
Kemudian, dia pun mengambil ponselnya. Dia mengetik nama Noah di kolom pencarian dan menemukan fakta yang benar-benar mencengangkan.
Pria itu benar-benar pewaris SB Group.
"Ka-kau..."
"Sudah percaya?" tanya Noah.
Sementara, Seraphina masih berusaha mencerna semuanya. Kenapa seseorang seperti Noah tiba-tiba datang menemuinya?
Kenapa harus dia yang terpilih diantara banyaknya wanita yang mengejar Noah?
"Tuan Noah... Sepertinya rencana pernikahan ini dibatalkan saja. Kita tidak cocok."
Seraphina lekas berdiri dari kursinya. Dia ingin segera melarikan diri. Pantas saja, Noah mampu menghentikan pria lain untuk kencan buta dengannya. Pria itu memang punya kemampuan untuk melakukan hal tersebut.
Ia terlalu kecil untuk orang seperti Noah.
Dunia mereka terlalu berbeda.
Seraphina memahami itu.
"Tunggu!"
Noah mengejar Seraphina lalu mencengkram pergelangan tangannya. Ia menyentak gadis itu hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Seraphina Allena Maherza! Kau tidak bisa mencampakkan ku begitu saja."
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭