Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
.
Alena berdiri di depan meja rias dengan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat begitu indah dengan bagian bawah panjang menjuntai hingga menyapu lantai. Renda di bagian gaunnya bergerak lembut setiap kali ia sedikit menggeser posisi tubuh. Riasan tipis di wajahnya tidak mampu menyembunyikan semburat gugup yang sejak tadi menguasai hati. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Reno pria yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Namun, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Derrrtt… derrrtt… derrrtt…
Baru saja gadis itu mengambil nafas untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja rias berdering memecah kesunyian.
Alena menatap ke arah layar ponsel dan tampak olehnya nama Reno sebagai pemanggil. Seketika, jantung Alena berdetak dengan kencang, firasat buruk ia rasakan sejak tadi seakan menghantamnya semakin keras. Dengan tangan sedikit gemetar gadis itu mengambil ponselnya lalu menggeser ikon hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Ha…”
"Alena…?"
Belum sempat Alena menyapa, suara Reno yang terdengar cemas memenuhi telinganya.
“Maaf, aku tidak bisa datang. Selena tiba-tiba pingsan dalam perjalan ke hotel."
Seketika itu juga cengkeraman tangan Alena mengeras. Dadanya bergemuruh mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Reno. Tangan kirinya meremas bagian samping gaunnya hingga lecek.
"Kita tunda dulu acara pernikahan kita, ya? Kita akan menggelarnya nanti kalau Selena pulang dari rumah sakit.”
Rahang Alena mengeras, mata gadis itu berkilat merah. Ditunda? Pada saat seperti ini? Saat semua persiapan bahkan sudah sembilan puluh sembilan persen dan hanya tinggal menunggu kedatangannya? Apa Reno sudah gila?
Klik!
Alena memutuskan panggilan tanpa menjawab atau mendengar kelanjutan apa yang akan diucapkan oleh Reno. Mata gadis itu terlihat berkilat merah, dadanya tampak turun naik menahan amarah. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian menghirup nafas dalam-dalam. Belum sempat pikirannya merasa lebih tenang, tiba-tiba…
Brakk!
Pintu ruang rias terbuka dengan kasar dan tampak oleh Alena mama dan papanya masuk dengan wajah panik.
"Alena…?” panggil Nyonya Miranda, mamanya.
Namun, Alena sama sekali tidak menanggapinya. Dia sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh mamanya. Apalagi jika bukan meminta pemakluman atas apa yang terjadi? Tanpa sepatah kata pun gadis itu menyambar ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja, lalu melangkah dengan cepat keluar dari ruang rias. Suara teriakan panggilan dari mama dan papanya sama sekali tak ia dengarkan.
.
Begitu sampai di ballroom hotel tempat akan diadakannya ijab kabul, para tamu telah memenuhi ruangan. Beberapa kerabat jauh menatap ke arahnya sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk, suara bisik mereka terdengar seperti dengungan lebah. Namun, Alena sama sekali tak menghiraukannya.
"Sudah jam sepuluh lebih, kenapa pengantin pria belum datang?" bisik salah seorang tamu kepada tetangganya, sambil melihat ke arah jam dinding yang besar.
"Tidak tahu. Katanya ijab kabul jam sepuluh, kan? Tapi kok sudah lewat jamnya belum datang juga?"
“Mungkin jalanan macet," jawab temannya dengan suara pelan, namun ekspresinya juga mulai menunjukkan rasa cemas.
Alena berjalan ke arah panggung di mana penghulu sudah menunggu di sana.
"Ini sudah waktunya, kenapa pengantin pria belum datang?” tanya penghulu seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tanpa menjawab, Alena mengambil salah satu mikrofon yang ada di tangan seorang MC, lalu melangkah menuju tengah-tengah panggung.
"Selamat pagi, para tamu undangan yang saya hormati,” ucap Alena dengan suaranya yang tegas, matanya menyapu wajah-wajah yang memenuhi ruangan megah itu.
Tuan dan nyonya Bagaskara mendekat dengan wajah panik. “Alena, apa yang akan kamu lakukan? Jangan berbuat yang aneh-aneh!" seru Tuan Gunawan Bagaskara.
Alena menepis tangan papa dan mamanya, lalu kembali mendekatkan mikrofon ke mulutnya dan berkata…
“Saya, Alena Bagaskara, hari ini menyatakan bahwa pernikahan antara saya, dengan Tuan Muda Reno Sebastian, DIBATALKAN!" ucap Alena dengan lantang. "Sekali lagi saya katakan… Pernikahan kami DIBATALKAN!! Bukan DITUNDA.”
Setelah berkata demikian, Alena kembali menyerahkan mikrofon yang ada di tangannya kepada petugas MC. Lalu dengan dua tangan yang mengangkat bagian samping gaunnya agar tidak mengganggu gerakan kakinya, gadis itu bergegas turun dari panggung.
"Alena!” Suara teriakan Tuan Gunawan Bagaskara terdengar menggelegar. Namun, Alena sama sekali tidak menghentikan langkahnya.
Tuan Gunawan Bagaskara dan nyonya Miranda istrinya, bergegas turun dari panggung lalu mengejar Alena.
"Hentikan dia!” perintah Tuan Gunawan pada para pengawal yang segera menghadang langkah Alena.
Para tamu undangan yang berada dalam ruangan itu seketika berdiri dari tempat duduknya. Semuanya saling pandang dan saling bertanya dengan orang-orang yang ada di sebelah mereka. Ada apa? Apa yang terjadi? Itulah pertanyaan yang menyerbu benak mereka.
“Apa yang baru saja kamu lakukan?!” Teriak Tuan Gunawan tepat di hadapan wajah Alena yang kedua tangannya sedang dicekal oleh dua orang pengawal. "Kamu membatalkan pernikahan secara sepihak, apa kamu sudah gila?!"
Alena menatap tajam ke arah Papanya. "Lalu menurut papa aku harus apa?" Tanya Alena tanpa mata berkedip. “Apa aku harus tetap berdiri di sini menunggu tanpa kepastian? Papa lihat sendiri, di sana!"
Alena mengarahkan telunjuk tangannya ke arah penghulu yang masih menunggu. “Penghulu sudah datang, semuanya sudah siap, tamu-tamu sudah menunggu, semua persiapan sudah sembilan puluh sembilan persen dan hanya tinggal menunggu kedatangan mempelai laki-laki. Tapi apa yang dilakukan oleh calon menantu papa? Dia menunda pernikahan untuk waktu yang tidak ditentukan. Lalu apa aku harus tetap menunggu di sini?"
“Tapi Tuan Muda Reno juga tidak sengaja menunda pernikahan ini,” hardik Tuan Gunawan membela calon menantunya. Dia tidak ingin pernikahan dua keluarga yang sudah lama direncanakan kandas begitu saja. Karena jika itu terjadi, maka ia akan kehilangan klien besar seperti Richard Sebastian. "Selena pingsan, dia masuk rumah sakit. Dia itu kakakmu, apa kamu tidak punya empati sedikitpun? Kenapa malah marah-marah hanya untuk hal sepele seperti ini?"
Jantung Alena seakan berdetak semakin kencang. Nafasnya memburu, matanya menatap ke arah ayahnya dengan kemarahanmu yang tak lagi bisa disembunyikan. Sepele katanya? Ini adalah pernikahannya, hari yang begitu sakral. Dan Papanya menganggap itu hanya sesuatu yang sepele?
“Selena, Selena, Selena!" Teriak gadis itu. "Kenapa dia selalu pingsan di saat krusial?”
"Alena!” teriak Nyonya Miranda lantang. "Jaga sopan santunmu, dia itu kakakmu!"
Alena menatap ke arah mamanya dengan senyum miring dan tatapan mengejek. “Kakak?" ulangnya. “Kalau benar dia kakakku dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku dipermalukan. Aku jadi ragu apakah Selena benar-benar sakit atau hanya pura-pura? Kenapa pingsannya selalu bertepatan di saat aku…”
"Hentikan omong kosong mu!" teriak Nyonya Miranda sebelum Alena melanjutkan ucapannya.
"Terserah Mama. Yang jelas, aku membatalkan pernikahan ini. Selena mau mengambil Reno dariku, kan? Katakan padanya untuk tak usah bermain intrik. Aku memberikannya dengan ikhlas. Anggap saja ini sedekah dariku."
"ALENA...!!!"
Alena tidak peduli pada teriakan kedua orang tuanya. Beberapa pengawal menghadang langkahnya tapi secepat kilat ia mengambil tiara yang ada di atas kepalanya, lalu mengarahkan bagian runcing dari tiara tersebut ke lehernya sendiri.
"jika kalian berani menghentikan langkahku, kalian akan melihat aku bersimbah darah di sini!"
Para pengawal bergerak mundur dengan mengangkat kedua tangan mereka, tak ada yang berani mendekat ke arah Alena yang kemudian melenggang dengan tenang keluar dari ballroom hotel tersebut.
"Jika kamu berani selangkah saja keluar dari hotel ini, kami tidak akan pernah menganggap kamu sebagai putri dari keluarga Bagaskara lagi!"
Suara teriakan bernada ancaman keluar dari mulut Tuan Gunawan Bagaskara. Namun itu sama sekali tidak menyurutkan langkah Alena. Gadis itu tetap melenggang pergi dengan melambaikan sebelah tangannya.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣