Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Restu di Rumah Terakhir
Keesokan paginya, Alvin menepati janjinya.
Mobil yang dikendarainya meninggalkan kawasan rumah minimalis Cynara ketika matahari baru saja naik.
Cynara duduk di sampingnya dalam diam.
Sejak berangkat, perempuan itu lebih banyak memandang keluar jendela. Ada sesuatu yang membuatnya gugup. Bukan karena Alvin yang menyetir di sampingnya.
Bukan pula karena ia akan memberikan jawaban mengenai pernikahan.
Hari ini, ia akan menemui seseorang yang sudah tidak mungkin menjawabnya.
Kania.
Di kursi belakang, Keanu dan Naren duduk berdampingan.
Keduanya sesekali berbicara dengan suara kecil.
“Lihat, Naren.” Keanu menunjukkan sesuatu melalui jendela.
Naren ikut melihat. “Wah…”
“Bagus, kan?”
“Iya.”
Cynara menoleh sebentar ke belakang. Melihat kedua anak itu begitu akrab, hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Namun, tatapannya kembali mengarah ke depan.
Alvin yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, “Kamu gugup?”
Cynara hanya mengangguk.
“Kenapa?”
Cynara tersenyum tipis. “Aku belum pernah datang ke makam seseorang yang begitu berarti bagi orang lain.”
Alvin tidak langsung menjawab. Tangannya tetap berada di kemudi. “Kalau kamu tidak siap, kita bisa kembali.”
Cynara segera menggeleng. “Tidak.”
Ia menarik napas. “Aku ingin ke sana.”
Alvin meliriknya sekilas. “Kenapa?”
Cynara menunduk. “Karena mungkin setelah ini, aku akan membuat keputusan besar.”
Alvin hanya diam fokus pada jalan.
“Dan aku tidak ingin membuat keputusan itu tanpa menghormati orang yang mungkin paling berhak untuk dihormati.”
Jemari Alvin pada kemudi mengencang sedikit. Ia memahami siapa yang dimaksud Cynara.
.
.
Sekitar satu jam kemudian, mobil berhenti di sebuah pemakaman. Alvin turun lebih dahulu.
Cynara pun menyusul.
Begitu pintu belakang dibuka, Keanu langsung turun bersama Naren.
Namun, Alvin menahan bahu putranya. “Keanu, tunggu di sini sebentar.”
Keanu mengerutkan kening. “Papa mau ke tempat Mama?”
Alvin mengangguk.
Keanu memandang ke arah pemakaman. “Keanu mau ikut.”
Alvin menatap putranya beberapa detik. Kemudian menghela napas. “Baik.”
Cynara menggenggam tangan Naren. Mereka berjalan bersama.
Udara pagi terasa sejuk.
Suara burung terdengar dari pepohonan di sekitar pemakaman. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada hiruk-pikuk kota.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin pelan langkah Cynara. Hingga akhirnya Alvin berhenti. Di hadapan mereka sebuah makam cantik.
Nama yang terukir di atas batu nisan membuat langkah Cynara ikut terhenti.
Kania Sentosa.
Cynara menatap nama itu lama. Kilatan masa lalu itu kembali datang bertubi-tubi, membuat dadanya sesak.
Ia hanya tahu Kania adalah wanita baik. Cynara perlahan mendekati makam dan berjongkok.
Matanya langsung melihat rumput kecil dan daun kering yang berserakan di sekitarnya. Cynara langsung menyingsingkan sedikit bagian lengannya yang panjang.
Tangannya mulai mencabut rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitar makam.
Satu demi satu. Alvin ikut melakukan yang sama. Cynara mengambil daun kering yang menempel di tanah. Kemudian membersihkan permukaan makan dengan kain yang telah dibawanya.
Tangannya berhenti ketika menyentuh nama itu.
Kania Sentosa.
“Namanya cantik.”
Alvin menatapnya. “Ya.”
Cynara tersenyum kecil. “Orangnya juga cantik.”
Cynara kembali menunduk. Setelah makam itu bersih, ia menuangkan air yang sudah disiapkan.
Kemudian duduk bersimpuh. Tangannya terangkat. Ia mulai berdoa. Alvin dan kedua anak itu melakukan hal yang sama. Beberapa saat kemudian, semua selesai berdoa.
Namun, ia tidak segera bangkit. Cynara tetap duduk di hadapan makam itu. Tatapannya terpaku pada nama Kania.
“Mbak…” Suaranya sangat pelan.
Cynara menarik napas panjang. “Entah Mbak bisa mendengar atau tidak.”
Bibirnya bergetar. “Tapi aku tetap ingin mengatakannya.”
Air mata mulai menggenang. “Terima kasih.” Satu tetes jatuh. “Lima tahun lalu, saat aku tidak punya siapa-siapa…”
Cynara tersenyum getir mengusap pipinya. “Mbak bahkan tidak mengenalku.”
Cynara teringat wajah Kania hari itu. “Di saat aku sedang hancur.”
Suaranya semakin bergetar. “Aku baru saja bercerai, aku sendiri tak tahu apa yang terjadi pada hidupku.”
Cynara menundukkan kepala. “Tapi Mbak datang menolongku.”
“Bahkan aku ini hanya orang asing.”
Di belakangnya, Alvin menundukkan wajah. Kenangan itu ikut muncul dalam pikirannya.
Cynara menghela napas. “Aku baru tahu…”
Ia menatap batu nisan itu. “Kalau ternyata Mbak pergi ketika Keanu lahir.”
Cynara menoleh kepada bocah kecil yang berdiri di samping Alvin. Keanu sedang memandang makam ibunya.
“Anak yang sangat Mbak cintai.” Air mata Cynara kembali jatuh.
“Maaf.” Ia menundukkan kepala.
“Kalau suatu hari nanti aku menjadi seseorang dalam hidup Keanu.”
Alvin mengangkat wajah.
Cynara melanjutkan, “Aku tidak akan pernah mencoba menggantikan Mbak.”
Tangannya mengepal kecil. “Tidak akan pernah.”
Ia menggeleng. “Keanu sudah memiliki ibu.”
Cynara tersenyum di tengah air mata. “Dan itu adalah Mbak.”
Keanu yang mendengar suaranya perlahan mendekat.
“Mama …”
Alvin hendak memanggil putranya, tetapi Cynara mengangkat tangan.
“Tidak apa-apa.”
Keanu berdiri di sampingnya. Cynara mengusap rambut bocah itu. Kemudian kembali menatap makam Kania.
“Kalau aku diberi kesempatan…” Suaranya bergetar. “Aku hanya ingin menjadi orang yang menjaga Keanu ketika dia membutuhkan seseorang.”
“Aku ingin memeluknya ketika dia sakit.”
“Aku ingin mendengarkan ceritanya ketika dia pulang.”
“Aku ingin menemaninya tumbuh bersama Naren.”
Cynara menatap Keanu. Bocah itu kini menggenggam jarinya.
“Aku ingin memastikan dia tidak merasa sendirian hanya karena kehilangan ibunya.”
Air mata mengalir semakin deras. “Tapi aku tidak akan pernah membuatnya melupakan Mbak.”
Keanu tiba-tiba bertanya polos, “Kenapa Mama menangis?”
Cynara langsung mengusap wajahnya. “Tidak apa-apa.”
Keanu memeluk lengannya. “Mama sedih?”
Cynara tersenyum. “Sedikit.”
Keanu mengusap pipinya dengan tangan kecil. “Jangan sedih.”
Cynara memejamkan mata. Pelukan kecil itu justru membuat air matanya semakin sulit dibendung. Ia memeluk Keanu.
“Terima kasih, Sayang.”
Tidak ada apa pun selain angin yang melewati pepohonan. Cynara menundukkan kepala.
“Semoga aku mampu.”
Alvin sejak tadi tidak mengatakan apa-apa. Namun, saat Cynara berdiri, ia melihat sesuatu yang berbeda pada wajah pria itu.
Alvin menatap makam Kania. Kemudian menatap Cynara. “Apa kamu sudah selesai?”
Cynara mengangguk.
Ia masih menatap makam itu. “Sekali lagi, terima kasih, Mbak.”
Kali ini suaranya jauh lebih tenang. “Aku pamit.”
Cynara menggenggam tangan Naren dan Keanu, bergerak meninggalkan makan. Alvin mengikuti di belakang.
Namun, setelah beberapa langkah, Alvin berhenti. Ia menoleh sekali lagi kepada makam istrinya.
“Kania…”
Angin berembus pelan.
Alvin tersenyum tipis. “Sekarang aku mengerti, alasan kamu menolongnya.”
*bersambung*