Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : Saat Takdir Memilihku
Devan dan ibu nya tak habis pikir dengan keluarga mereka sendiri, kenapa bisa melakukan itu kepada mereka, Devan tak banyak berpikir dia sekarang memiliki banyak hal, bahkan wanita cantik yang tak ada tandingan nya di desa maupun kota ini menurut Devan, Namun saat Devan sedang santai dia di kejutkan dengan kehadiran Tante nya yaitu Iriyana yang tiba-tiba saja mengomel kepada Devan.
"Wihh enak udah kaya, uang dari mana kamu? ngerampok yaa Halah gausah sombong kamu baru kaya segini juga" ucap Iriyana tiba-tiba.
Devan melongo mendengar itu tiba-tiba saja tante nya datang mengatakan itu "Lah urusan tante apa? Ngerampok? Sembarangan amat kalo ngomong, kalo mau nyari masalah udah sana pergi, gak ada urusan lagi kan kita sama tante? hutang juga udah ku lunasin, ngapain lagi tante kesini?" ucap Devan sedikit melepaskan unek-unek nya selama ini.
Iriyana yang mendengar itu tentu marah namun saat dia hendak menampar Devan tubuh nya membeku seakan tak bisa bergerak, Devan melihat Yunsi dan syafir memegangi tubuh Tante nya itu, Tentu mereka hanya bisa di lihat oleh Devan, dan Devan hanya menahan tawa melihat kelakuan para wanitanya itu.
"Kenapa tubuh ku!" guman Iriyana mulai berpikiran negative dan menatap Devan sengan mata nya, "Kau pake ilmu hitam ya Devan?!" ucap Iriyana
Namun Devan hanya berlalu pergi tanpa menghiraukan tante nya di halaman rumah nya itu, keadaan sedang sepi saat itu.sehingga tak ada yang mendengar ocehan dari Iriyana. Yunsi dan syafir menggerakan tubuh Iriyana untuk menjauh, mereka sambil tertawa terbahak-bahak karena menjahili manusia seperti Iriyana.
"Seru bukan! Hahahaha" ucap Syafir di iringi tawa begitupun Yunsi sama hal nya dengan Syafir.
Devan menuju ke lantai atas setelah menemui ibu nya di toko, dia ingin bersantai disana, Disana Devan sudah di sambut oleh Malea serta Ayumi, Devan menanggalkan pakaian nya setelah mengunci pintu, dia menghampiri kedua wanita itu lalu mencumbui mereka berdua, dengan penuh gairah serta hasrat yang membara, mereka bergelut dengan peluh yang bercucuran serta erangan kenikmatan dari mereka.
____________________________________
Singkat cerita Kini Yusa bekerja dengan Devan dia membantu belanja keperluan toko, memakai mobil yang sudah Devan beli untuk toko nya. "Yaudah hati-hati yus kalo ada apa-apa kabarin!" ucap Devan setelah memberikan catatan belanja serta uang keperluan lain nya,
Di tempat lain terlihat Hilma sedang berada di kamar nya meratapi kebodohan nya meninggalkan Devan "Sungguh bodoh aku! Mau-mau nya tergoda oleh orang lain!" gumam nya di iringi sebuah tangisan sesal
"Seandainya kau bisa memaafkan diriku yang kotor ini van" batin Hilma, Dia seharian mengurung diri di kamar nya di desa, puluhan panggilan dari selingkuhan nya dulu itu tak dia angkat, dia hanya mendiam kan nya saja.
Hilma hanya memikirkan cara bagaimana dia bisa kembali bersama Devan, sedangkan Devan sedang membantu mengecek beberapa barang yang baru saja datang yang di beli oleh Yusa.
"Oke sip! Udah semua" Ucap Devan seraya berdiri setelah selesai menghitung barang untuk jadi stok di toko nya itu.
"Yaudah aku bantu rapihin van!" ucap Yusa seraya mengangkat satu persatu barang kedalam toko bersama Devan serta karyawan lain nya.
Devan tak lantas diam saja saat dia memiliki banyak uang, dia tetap Devan yang dulu tak ada yang berubah, itulah yang membuat toko nya semakin ramai, bahkan membuat toko sembako di desa sebelah menjadi sepi karena semua orang sudah mengetahui bahwa di toko Devan lebih murah dan lengkap.
"Siapa dia berani nya ngambil pelanggan ku!" gumam seorang pria paruh baya pemilik toko sembako itu.
"Dia si Devan juragan! Anak kampung sebelah itu yang dulu nya kurir paket" timpal seorang pegawai
"Kau ga salah info jo!" tanya pria paruh baya itu
"Tidak juragan Anom saya sudah pastikan itu, itu beneran si Devan yang dulu kurir paket itu" Pria paruh baya bernama Anom itu menghela napas, bagaimana seorang kurir bisa kaya mendadak kalo bukan pake cara instan pikir nya saat itu. "tapi ini ada yang aneh!" batin juragan Anom
Devan kini sedang istirahat bersama Yusa ditemani kopi serta sebatang roko, "Yus! Ngomong-ngomong gimana kabar temen-temen di gudang sebelum kamu mutusin berhenti dari sana?" tanya Devan
"Baik mereka Van, tapi si Vivi nanyain kamu terus hahaha" jawab yusa
"Syukurlah kalo baik, ya gak apa-apa kalo nanyain terus biar aja" jawab Devan santai
"Gak sikat aja van, mumpung dia jomblo kamu juga kan baru beres sama si Hilma yaa kan hahaha" timpal Yusa.
Namun Devan hanya mengelak saat mendengar candaan sahabat nya itu "Seandainya memang semudah itu yus ngelupain sakit hatiku" batin Devan
Waktu berlalu begitu cepat kini malam pun tiba, Devan terduduk di sofa kamar baru nya bersama lima perempuan yang selalu menemani nya itu.
"Tuan apakah butuh pijatan?" tanya Yunsi pada Devan yang sedang menyenderkan kepala nya di kuris sofa.
"Ya boleh pijat lah kepala ku penat" jawab Devan tanpa membuka matanya
Namun Malea membisikan sesuatu sehingga Devan hanya tersenyum mengiyakan nya. "Tuan aku akan berikan pijatan spesial, agar rasa penat mu cepat hilang!", bisik Malea di telinga Devan
Devan hanya diam saja menikmati pelayanan para selir nya itu. Malea mengulum senjata Devan dan menaik turunkan kepala nya dengan ritme yang teratur, sehingga Devan hanya menikmati itu.
Pagi harinya Devan sudah bersiap karena hari ini dia akan pergi berlibur untuk merefresh pikirannya. Dia mengajak serta ibu nya sudah lama rasanya dia tak berlibur, sejak terakhir bersama sang ayah dulu.
"Sudah lama bu kita tak berlibur bukan?" ucap Devan seraya menyetir mobil nya
Mariana tersenyum mendengar ucapan anak nya, dia mengingat masa-masa indah bersama sang suami dulu saat Marvin masih kecil. "Yaa sudah lama sekali rasanya sejak terakhir bersama ayah mu saat kita kepantai dulu" jawab Mariana mengenang masa lalu bersama sang suami dan Devan anak nya.
Lalu Devan kembali fokus menyetir, Devan tak khawatir karena toko dia titipkan kepada Yusa, Yusa sudah Devan ajak namun dia enggan lebih baik buka di toko saja untuk bekerja.
Singkat cerita Devan sampai di sebuah hotel bersama sang ibu,
hotel di pinggir pantai sengaja Devan pilih, dia memesan dua kamar berbeda dengan sang ibu, Devan berbaring di kamar hotel itu, tentu pada wanita nya ikut karena mereka berada di dalam gelang giok yang di gunakan Devan
Namun saat Devan hendak keluar kamar hotel dia melihat seseorang yang begitu dia kenal saat bekerja sebagai kurir, sungguh kebetulan pikirnya..