Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
BOOOOMMMM!!!
Seluruh fondasi Menara Dewa Kuno kembali berguncang hebat. Pilar-pilar batu raksasa di aula Lantai Kedua mulai retak rontok, memuntahkan kepulan debu tebal dari langit-langit yang runtuh. Suara ledakan energi makro terus menggema beruntun dari arah dasar jurang, menggetarkan gendang telinga.
Shen Yu seketika memasang posisi siaga, jemarinya mencengkeram erat gagang pedang tua di pinggangnya. "Sial! Apa mereka sudah berhasil mendobrak masuk?!"
Roh Menara perlahan memejamkan sepasang kelopak matanya, menyebarkan persepsi spiritualnya untuk merasakan perubahan fluktuasi aura di luar menara. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata dengan gurat wajah yang jauh lebih serius dan kelam dari biasanya.
"Belum semuanya menembus masuk."
"Maksudmu?" Shen Yu mengernyitkan dahi.
"Hanya ada satu orang yang berhasil memecahkan segel luar dan menjejakkan kakinya di dasar jurang saat ini."
Shen Yu mengangkat sebelah alisnya. "Hanya satu orang? Kalau begitu, bukankah situasi kita saat ini justru jauh lebih aman?"
"Salah besar, Bocah Bodoh! Satu orang yang sanggup menembus segel luar sendirian tanpa bantuan pasukan... justru menandakan eksistensinya jauh lebih mematikan!"
Roh Menara mengibaskan lengan jubahnya ke udara. Wush! Sebuah layar proyeksi cahaya vertikal kembali memadat di hadapan mereka, menampilkan visualisasi nyata di dasar jurang.
Melalui layar tersebut, Shen Yu bisa melihat sesosok pria paruh baya berjubah ungu tua sedang berjalan dengan langkah santai di atas tanah berlumpur dasar jurang. Di sekeliling jalur yang dilewatinya, berserakan belasan mayat binatang roh liar pelindung jurang.
Mengerikannya, tidak ada satu pun dari jasad binatang buas itu yang berada dalam kondisi utuh. Semuanya hancur terpotong-potong.
Pria jubah ungu itu berjalan sambil memanggul sebilah tombak hitam pekat di bahu kanannya. Ujung bibirnya bersiul pelan dengan nada santai, seolah-olah ia tidak sedang berada di dalam jurang terlarang, melainkan sedang menikmati jalan-jalan pagi di taman bunganya sendiri.
"Apakah dia anjing pemburu dari Sekte Mata Surgawi?" tanya Shen Yu, matanya menyipit tajam.
"Bukan," sahut Roh Menara seraya menggelengkan kepala. "Dia berasal dari faksi luar dunia atas. Dia adalah seorang Pemburu Bayangan Profesional."
"Pemburu?"
"Benar. Monster-monster seperti dirinya sejak balita dibesarkan, dilatih, dan ditempa hanya untuk satu tujuan absolut di dunia ini: Membunuh mangsanya tanpa menyisakan jejak."
Tiba-tiba, pria jubah ungu di dalam layar proyeksi menghentikan langkah kakinya secara instan. Perlahan-lahan, ia memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke arah sudut kamera layar, seolah-olah sepasang mata elangnya sanggup merasakan tatapan mata Shen Yu dari balik dinding menara.
Detik berikutnya, pria itu menyunggingkan sebuah senyuman dingin—sebuah senyuman sadis yang sanggup membuat bulu kuduk manusia biasa meremang seketika.
"Akhirnya... kutemukan juga koordinat tempat persembunyianmu, Tikus Kecil," bisik pria itu, suaranya terdengar serak menembus layar.
Pria jubah ungu itu menurunkan tombak hitamnya dari bahu, lalu dengan satu gerakan santai, ia menghantamkan ujung bawah tombaknya kuat-kuat ke atas permukaan tanah berlumpur.
DUUUGGG!!!
Bumi di seluruh radius dasar jurang seketika bergetar luar biasa hebat. Puluhan retakan tanah yang menganga lebar menyebar dengan kecepatan kilat, merangsek maju hingga menghantam gerbang batu luar Menara Dewa Kuno.
Roh Menara mengepalkan kedua tangan spiritualnya dengan geram. "Bajingan itu! Dia sedang menggunakan metode resonansi getaran bumi untuk memaksa mendobrak pintu masuk menara secara paksa!"
Shen Yu menatap layar proyeksi tanpa berkedip satu kedipan pun. "Kakek Tua, apa tingkatan ranah kultivasi yang dimiliki oleh pemburu jubah ungu itu?"
"[Foundation Establishment] (Ranah Pembangunan Fondasi) Tahap Menengah."
Shen Yu seketika menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyum pahit yang dipaksakan. "Hebat sekali takdirku. Jadi musuh pertama yang harus kuhadapi secara langsung adalah seseorang yang tingkatannya berada satu alam penuh di atas level fana ku?"
"Bahkan jurang pemisahnya jauh lebih mengerikan dari itu, Shen Yu! Perbedaan status kekuatan antara alam Body Tempering dan Foundation Establishment... bagaikan jarak antara genangan lumpur di tanah dan awan tinggi di atas langit!"
Shen Yu menarik napas dalam-dalam, membiarkan pasokan udara mengisi paru-parunya, lalu membuangnya perlahan. Tatapan matanya kembali berubah menjadi sedingin es.
"Kalau begitu... konklusinya sangat sederhana. Aku hanya perlu memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk menjadi jauh lebih kuat sebelum bajingan itu berhasil menjebol pintu menara ini!"
Roh Menara menatap keteguhan jiwa Shen Yu, lalu mengangguk setuju. "Tepat sekali! Pintu akses menuju Lantai Ketiga menara telah terbuka untukmu. Tapi ingat satu peringatan penting dariku..."
"Sesosok Penjaga Jiwa yang menunggumu di Lantai Ketiga... watak dan metodenya jauh lebih kejam dan brutal dibandingkan dengan zirah Qin Luo maupun irama Lin Yue."
Belum sempat Shen Yu mengayunkan langkah kakinya menuju tangga berikutnya, gelombang suara berat dari pria jubah ungu di luar menara mendadak bergema kuat menembus dinding-dinding aula:
"Wahai Pewaris baru Menara Dewa Kuno... aku adalah orang yang tahu tata krama. Aku dengan murah hati akan memberikan waktu selama tiga hari bagimu untuk mempersiapkan diri. Setelah tiga hari itu habis... aku sendiri yang akan melangkah masuk untuk memenggal kepala botakmu dan membawanya ke hadapan Tuanku!!!"
Shen Yu sama sekali tidak sudi memberikan jawaban verbal atas provokasi tersebut. Ia hanya menatap tajam ke arah pintu masuk aula bawah untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah mantap menuju undakan tangga spiral berikutnya.
"Tiga hari ya? Kalau begitu... aku akan memastikan tiga hari itu akan menjadi neraka persiapan terbaik dalam hidupku!"
Pada saat yang sama, jauh di dalam ruang hampa udara di balik gerbang Lantai Ketiga Menara Dewa Kuno...
Sesosok figur misterius yang sedang duduk bermeditasi di dalam kegelapan mendadak bergerak. Sepasang kelopak matanya perlahan terbuka, memancarkan sepasang manik mata berwarna emas murni yang berkilat tajam di tengah kegelapan.
Sebuah suara berat, dalam, dan berwibawa seketika bergema memenuhi seluruh sudut ruangan:
"Puluhan ribu tahun penantian... Akhirnya, sepotong darah pewaris baru akan segera menapakkan kakinya di domainku..."
Lanskap tangga batu yang menuju ke Lantai Ketiga ini memiliki karakteristik yang jauh berbeda dibandingkan dengan dua lantai sebelumnya. Di tempat ini, tidak ada lagi ukiran relief makhluk mitologi yang indah, tidak ada pula pendaran cahaya rune kebiruan yang menerangi jalan.
Sepanjang mata memandang, hanya ada hamparan anak tangga batu berwarna hitam legam yang diselimuti oleh kabut pekat yang berbau amis karat besi.
Deg!
Setiap kali telapak kaki Shen Yu memijak satu anak tangga baru, ia merasakan bobot tubuh fisiknya mendadak seperti memikul beban berat seberat ribuan jin. Gravitasi spiritual di tempat ini benar-benar gila.
"Tekanan gravitasi di lantai ini... terasa berkali-kali lipat lebih menindas," gumam Shen Yu, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Roh Menara yang berjalan mengekor di belakangnya menyahut dengan nada formal. "Itu sangat wajar. Mulai dari tingkat Lantai Ketiga dan seterusnya, setiap entitas Penjaga Jiwa yang tersisa di sini adalah mantan Maha Tetua Inti dari Sekte Dewa Kuno di masa kejayaannya. Mereka bukan hanya memiliki basis kekuatan makro yang mengerikan, melainkan juga memiliki tumpukan pengalaman bertempur hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya."
Shen Yu menyunggingkan senyum tipis di sela-sela napas beratnya. "Kalau begitu, bukankah artinya aku bisa mencuri dan mempelajari lebih banyak ilmu bertarung praktis dari mereka?"
Roh Menara melirik pemuda itu dari samping dengan dahi berkerut. "Bocah gila. Dalam situasi terkepung musuh luar seperti ini, kau masih sempat-sempatnya melontarkan lelucon?"
"Tentu saja, Kakek. Jika dalam hidup yang singkat ini aku terlalu sering memasang wajah serius dan tegang, aku khawatir garis kerutan di wajahku akan bertambah dan merusak ketampanan alamakku," sahut Shen Yu asal-asalan.
Roh Menara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya terkekeh geli mendengar cara berpikir unik sang pewaris. "Dasar bocah bermulut lancang. Umurmu bahkan baru menginjak enam belas tahun, dari mana kau belajar tingkat narsistik setinggi itu?"
"Itu adalah bakat alami bawaan lahir, Kakek."
Beberapa ratus anak tangga kemudian, langkah kaki mereka akhirnya terhenti di depan sebuah struktur gerbang perunggu raksasa yang tingginya mencapai puluhan meter. Di bagian tengah daun gerbang tersebut, terukir dengan sangat jelas empat huruf beraksara kuno yang memancarkan tekanan fisik mutlak:
[AULA UJIAN KEKUATAN]
GROOOOMMM...
Saat telapak tangan Shen Yu mendorong permukaan logam dingin tersebut, gerbang perunggu kuno itu perlahan-lahan bergeser terbuka ke dua sisi, memunculkan suara decitan berat yang memecah keheningan.
Di balik gerbang, terbentang sebuah arena pertempuran batu berbentuk persegi raksasa yang sangat luas. Berbeda total dengan estetika Lantai Kedua yang bersih, permukaan lantai arena di lantai ketiga ini justru tampak hancur berantakan—dipenuhi oleh bekas tebasan senjata yang dalam, lubang-lubang besar akibat hantaman energi, serta noda-noda darah purba yang telah mengering dan menghitam di atas batu. Tempat ini memancarkan atmosfer medan perang nyata yang teramat pekat.
Dan tepat di titik tengah arena persegi tersebut, berdiri kokoh seorang pria paruh baya bertubuh luar biasa kekar dan tinggi. Rambutnya dipotong pendek berwarna perak berkilau, memancarkan kesan gagah.
Menariknya, pria bertubuh raksasa itu sama sekali tidak membawa sebilah senjata apa pun di tubuhnya. Kedua lengan tangannya yang dipenuhi otot-otot kekar melingkar, disilangkan dengan angkuh di depan dada.
Begitu mendengarkan langkah kaki Shen Yu masuk, pria berambut perak itu perlahan membuka sepasang matanya. Sorot mata emas murninya seketika mengunci lurus pada Shen Yu—sebuah tatapan yang teramat tajam dan menekan, menyerupai sorot mata seekor raja harimau yang sedang mengintai mangsa baru.
"Kau... adalah wujud dari anak manusia yang berhasil terpilih menjadi pewaris baru menara ini?" tanya pria itu, suaranya berat, dalam, dan menggelegar bagai guntur di siang bolong.
"Benar, Paman Kekar. Aku adalah Shen Yu," sahut Shen Yu, tetap mempertahankan ketenangannya di bawah tekanan aura.
Pria berambut perak itu tidak langsung merespons. Ia mengamati postur fisik Shen Yu dari ujung rambut hingga ujung kaki secara mendetail. Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas panjang penuh kekecewaan.
"Terlalu kurus. Postur tubuh fisikmu terlalu kerempeng dan rapuh untuk ukuran seorang kultivator penempa tubuh," kritik pria itu lempang.
Shen Yu melirik ke arah tumpukan otot dada pria raksasa di hadapannya, lalu menggaruk pipinya dengan santai. "Yah... jika memiliki tumpukan otot sebesar dan sepadat milik Paman bisa menjamin wajahku tetap terlihat tampan dan karismatik, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk meniru postur tubuhmu nanti."
Mendengar kalimat balasan yang teramat santai dan cenderung mengarah pada gurauan fisik dari Shen Yu, pria berambut perak itu sempat tertegun membisu selama dua detik.
Detik berikutnya...
"Hahaha! Hahahahaha!"
Sebuah gelombang tawa lepas yang teramat keras dan menggelegar meletus dari mulutnya, menggema kuat hingga merontokkan beberapa serpihan batu di dinding arena.
"Bocah yang sangat menarik! Lidahmu ternyata jauh lebih tajam daripada pedang berkarat di pinggangmu itu!" puji pria itu penuh minat.
Roh Menara di belakang Shen Yu hanya bisa menghela napas panjang seraya memijat pelipisnya. "Tie Shan, kuharap kau tidak terpengaruh oleh kelancangan mulut bocah pemburu ini. Dia memang memiliki kebiasaan buruk suka menggoda tetua."
Pria bernama Tie Shan itu menurunkan kedua lengan tangannya dari dada, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan secara terbuka.
"Namaku adalah Tie Shan, Penjaga Sah dari Lantai Ketiga Menara Dewa Kuno," ucapnya dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan tegas. "Metode ujianku bersamamu sama sekali tidak akan rumit seperti dua penjaga di lantai bawah. Aku tidak akan mengujimu dengan kelincahan teknik ataupun kejelian mata."
Tie Shan perlahan mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Krek! Krek! Krek! Suara persendian tulang-tulang jarinya berderak keras, memancarkan letupan energi Qi murni yang kasat mata di sekitar tinjunya.
"Ujianku bersamamu teramat sangat pragmatis dan brutal."
"Cukup gunakan seluruh kemampuan pertahanan fisikmu untuk bertahan hidup dari Sepuluh Kali Pukulan Tinjuku secara berturut-turut."
Shen Yu mengangkat sebelah alisnya, matanya menatap kepalan tinju raksasa milik Tie Shan. "Hanya sebatas bertahan menerima pukulan saja? Tidak perlu membalas?"
Tie Shan menganggukkan kepalanya dengan angkuh. "Benar. Cukup bertahan. Jika setelah pukulan kesepuluh mendarat di tubuhmu kau masih memiliki kemampuan untuk tetap tegak berdiri di atas kedua kakimu... maka kau akan langsung dinyatakan lulus dari lantai ini."
Mendengar detail syarat tersebut, wajah Roh Menara seketika berubah drastis penuh kepanikan. "Tie Shan! Apa kau sudah gila?! Syarat ujianmu itu terlalu ekstrem dan tidak masuk akal bagi seorang pemula! Tingkat kultivasi fisik Shen Yu saat ini baru saja melangkah ke alam Body Tempering Tingkat Pertama! Bagaimana mungkin tubuh fananya sanggup menahan daya hancur tinju besarmu?!"
Tie Shan mengalihkan pandangan emasnya, menatap Roh Menara dengan sorot mata yang dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Jika untuk sekadar menahan sepuluh pukulan tinju dasarku saja tubuh pewaris ini sudah hancur lebur menjadi potongan daging... lalu dengan modal apa kau bermimpi bocah kurus ini akan sanggup bertahan hidup menghadapi gempuran Pemburu Bayangan ranah Foundation Establishment yang sedang menantinya di luar jurang sana, huh?!" tanya Tie Shan dengan nada telak yang tak terbantahkan.
Roh Menara seketika bungkam seribu bahasa, tidak mampu menyangkal kebenaran pahit dari argumen tersebut.
Shen Yu menarik napas panjang, mengunci pandangan matanya tepat pada sosok raksasa Tie Shan. Ia tahu persis, ujian kali ini akan menjadi sebuah simulasi neraka yang sesungguhnya. Di tempat ini, tidak akan ada celah pola gerakan yang bisa ia manfaatkan dengan kecerdikan insting pemburunya. Ini adalah sebuah panggung benturan kekuatan fisik secara absolut dan jujur.
Tie Shan mengambil satu langkah lebar maju ke depan memasuki area arena.
BUM!!!
Permukaan lantai batu arena seketika retak dan amblas ke bawah hanya karena satu tekanan langkah kakinya yang dilapisi energi berat. Pria berambut perak itu perlahan mengangkat lengan kanan kekarnya ke udara, mengarahkan tinju raksasanya tepat ke arah dada Shen Yu.
"Persiapkan seluruh sirkulasi energimu, wahai Pemburu dari Desa Qinghe..."
"Mari kita mulai pesta penempaan ini... dengan Pukulan Pertama!!!"
Wush!
Detik berikutnya, tinju raksasa Tie Shan melesat membelah ruang udara dengan kecepatan yang memicu distorsi suara ledakan sonic, mengincar tepat ke arah ulu hati Shen Yu!