"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPAN BELAS
"Ada apa?" Tanya Arjuna yang menyadari tatapan istrinya
"Tuan keliatan ganteng kalau tertawa seperti ini" Aluna tidak bohong, Arjuna berkali-kali lipat lebih tampan
"Lebih ganteng dari Joseph?"
"Kenapa bawa-bawa Joseph?" Aluna bingung
"Jawab saja!"
"Sama aja sih, lagipula Joseph juga jarang senyum. Tapi menurut aku jauh lebih ganteng dokter Samuel"
Arjuna terdiam, bagaimana bisa istrinya ini dengan mudahnya memuji pria lain
"Menurut saya dokter Samuel tidak setampan itu" Arjuna memasang wajah kesal, bukannya takut, Aluna malah tertawa
"Dokter Samuel itu ramah, makanya kelihatan ganteng. Apalagi dokter Samuel itu masih muda" Kata Aluna
"Maksud kamu saya sudah tua?" Arjuna sudah kesal
"Tapi tuan memang lebih tua dari dokter Samuel"
"Ck, berhenti bahas dokter kandungan itu! Sekarang kamu mulai berenang" Arjuna menurunkan lagi istrinya kedalam air, namun kali ini ia tidak melepas nya
"Saya takut"
"Berenang itu bagus untuk ibu hamil, biar persalinan kamu lancar" Arjuna mulai mengajari istri kecilnya itu berenang, Aluna mulai terbiasa walaupun belum bisa melakukannya sendiri
"Sudah cukup!" Arjuna kembali mendudukkan istrinya ditepi kolam
"Ini menyenangkan" Aluna terlihat gembira
Tanpa menunggu lagi Arjuna menyerang wanita itu, Aluna kewalahan karena serangan yang tiba-tiba
"Tuan mau apa?" Napasnya tersengal-sengal karena suaminya yang seolah tidak memberi jeda
"Berhenti memanggil saya tuan" Arjuna menyerang lagi bibir manis itu
"Tuan, saya gak bisa napas!"
"Kita lakukan disini!" Aluna tidak membantah, terlebih saat sang suami mulai memberi rangsangan yang membuat tubuhnya meremang
"Tuan" Aluna mendongak, rasanya ia ingin terus diperlakukan seperti ini "Ya"
"Kamu benar-benar membuat saya candu, Aluna" Wanita hamil itu tidak membalas, suara yang keluar hanya berupa racauan yang tidak jelas
Pagi yang membuat Aluna terkapar karena lelah, suaminya melakukannya tidak hanya sekali
Setelah keluar dari kolam, Arjuna kembali menghujam istrinya itu dikursi santai disamping kolam dan sekarang Aluna kelelahan dan kelaparan
"Ayo sarapan!" Ajak Arjuna pada istrinya yang duduk ditepi tempat tidur, wajahnya terlihat masam dan Arjuna tau penyebabnya
"Sekarang sudah waktunya makan siang" Arjuna kembali tertawa, Aluna adalah satu-satunya orang yang berani berucap ketus pada dirinya
Jika ini bukan Aluna mungkin kepalanya sudah pecah. Namun, bukannya marah, pria itu malah terlihat senang
"Saya minta maaf"
Aluna mengangkat wajahnya, terlihat takjub mendengar suaminya mengucapkan kata maaf
"Tuan minta maaf?" Tanyanya tak percaya, sedetik kemudian ia dibuat kesal karena suaminya itu main cium saja
"Saya sudah bilang jangan panggil saya tuan"
"Terus saya harus panggil apa?"
"Apa saja, kamu bisa panggil sayang" Sekarang Aluna tau jika suaminya ini tidak sedingin itu
Arjuna adalah pria yang hangat dan suka bercanda. Pria ini sangat suka tertawa dan yang paling penting adalah Arjuna sangat jahil
"Saya mana berani"
"Kenapa kamu tidak berani? Saya tidak makan orang" Ucapnya
"Kata siapa? Buktinya tuan selalu mau makan saya" Kesal Aluna
Arjuna kembali tertawa, kali ini bahkan tawanya begitu lepas hingga membuat Aluna terpaku
"Itu karena kamu yang terlalu menggoda" Ujar Arjuna membuat sang istri mendengus
"Saya lapar"
"Saya sudah ajak kamu dari tadi, ayo kita makan!" Aluna tersenyum, menyambut uluran tangan suaminya lalu keduanya melangkah menuju ruang makan
***
"Saya ada pekerjaan diluar kota, kamu tetap di villa dan jangan keluar!" Kini Arjuna tengah berada dikamar bersama istri kecilnya
"Berapa lama tuan perginya?"
"Masih panggil tuan juga?" Arjuna memberi hukuman yang menurutnya menyenangkan
"Maksud aku kamu, kamu perginya berapa lama?" Aluna meralat ucapannya
"Mungkin sekitar dua bulan, mungkin lebih lama atau mungkin juga lebih cepat" Arjuna tidak bisa memberi jawaban yang meyakinkan
"Terus aku gimana?" Aluna memasang wajah cemberut membuat pria yang tengah memeluknya tersenyum
"Disini ada pelayan, kamu bisa minta apapun! Kita akan lebih sering video call"
"Bohong, kata pelayan disini, kamu gak bisa diganggu kalau lagi kerja"
Arjuna menekan hidung mancung istrinya itu, Aluna sangat pintar bicara dan selalu membuatnya terhibur
"Saya yang akan menelepon duluan, sebelum saya telepon, kamu jangan menelepon dulu!"
Aluna mengangguk, ini sedikit membuat tenang, entah kenapa ia tidak ingin jauh-jauh dari suaminya yang tampan ini
"Kamu perginya sama siapa?"
"Aku sama Joseph"
"Kenapa Joseph dibawa? Kan biasanya dia yang jagain aku" Arjuna mengernyit, kenapa ia merasa istrinya lebih sedih saat mengetahui Joseph akan pergi
"Biar kamu gak terus-terusan liat laki-laki lain"
"Kamu cemburu?"
"Sedikit"
"Bohong!"
"Dasar" Keduanya tertawa, Arjuna tidak pernah merasakan hal ini selama pernikahannya bersama Zoya
Entah kenapa ia sangat bahagia bersama Aluna, jika sang ibu masih ada, wanita itu jelas akan senang bertemu dengan menantu seperti Aluna ini
"Sebelum aku pergi, aku ingin bekal" Ucap Arjuna membuat sang istri bertanya
"Bekal apa? Kamu mau dimasakin?" Tanya Aluna tidak mengerti
"Bukan itu, tapi aku butuh penyemangat" Sekarang Aluna tau apa maksud dari bekal itu, terlebih tangan pria itu tengah membuka satu-persatu kancing piyamanya
Aluna berbaring, Arjuna lebih dulu mengusap perut buncit istrinya itu
Arjuna tersenyum, membayangkan dirinya akan menjadi seorang ayah "Halo sayang! Kalian sedang apa?"
Pria tampan itu meletakkan telinganya didepan perut buncit istrinya sambil terus mengusapnya
"Dia bergerak" Aluna berteriak saat merasakan pergerakan dari bayinya "Awww"
"Ada apa? Apa sakit?" Tanya Arjuna yang sepertinya terlihat panik
"Tidak, aku malah seneng. Itu artinya mereka sehat" Aluna tersenyum
"Biar aku ajak bicara lagi" Arjuna kembali mengusap perut buncit itu "Sayang, tolong jangan terlalu keras, kasihan Mama kesakitan"
Aluna tersenyum, ia kembali terkejut saat merasakan bayi didalam kandungannya kembali menendang
Untuk beberapa saat Arjuna larut dalam kegiatannya yang tengah bercengkrama bersama calon buah hatinya
Aluna berpikir jika suaminya itu mungkin lupa, namun Arjuna sepertinya tidak akan pernah melupakan hal seperti itu
"Aku ngantuk, besok aja yaa!" Keluh Aluna karena dirinya benar-benar merasa mengantuk
"Tidak bisa Aluna, saya menginginkan kamu" Arjuna mulai memberi rangsangan yang berhasil membuat sang istri terbuai, bahkan Aluna melupakan kantuknya
"Tidurlah, selamat malam!" Arjuna mengecup kening istrinya yang telah terlelap
Wanita itu benar-benar kelelahan, bahkan Aluna tidak sanggup lagi ke kamar mandi sekedar untuk membersikan diri