NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

"Sialan! Dasar pria gila!"

​Clara menyumpah serapah sepanjang jalan koridor stasiun. Langkah kakinya dipercepat, setengah berlari menembus lautan manusia di Stasiun Manggarai pada jam pulang kerja. Jas kerjanya sengaja dilipat dan dimasukkan ke dalam tas, blusnya yang rapi kini agak tertekur, dan sepatu heels-nya sudah berganti dengan sneakers putih.

​Dia berhasil kabur dari pintu belakang gedung kantor sebelum Elzio sempat memanggilnya ke ruang kerja. Clara tersenyum puas, melangkah masuk ke dalam gerbong KRL yang padat merayap. Tubuhnya terimpit di antara tumpukan penumpang lain, berdesakan hingga sulit bernapas.

​Pikir lu, lu bisa ngatur hidup gue pakai uang lima miliar itu?! Rasain nih, CEO gila! batin Clara penuh kemenangan sambil berpegangan pada tali gantungan gerbong.

​Clara tidak tahu, tiga meter dari posisinya berdiri, dua pria berbadan tegap berpakaian kasual dengan stiker bodyguard di balik jaket mereka terus memandangi setiap pergerakannya. Salah satu dari mereka memegang ponsel yang terhubung langsung dengan panggilan video rahasia.

​Di lantai atas gedung Mahendra Group, Elzio berdiri membelakangi meja kerjanya. Matanya yang pekat menatap layar iPad di tangannya. Binar matanya mendadak berubah sangat pekat dan dingin saat melihat tubuh Clara terimpit dekat dengan beberapa penumpang pria asing di dalam gerbong KRL yang sesak.

​Genggaman tangan Elzio pada iPad-nya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Arka," panggilan Elzio menggelegar dingin di ruang kerjanya yang luas.

​"Ya, Pak Elzio?" Arka yang berdiri di dekat pintu langsung membungkuk.

​"Siapkan mobil dan pengemudi pribadi paling berpengalaman esok pagi," desis Elzio rendah, napasnya memburu menahan amarah yang membakar dadanya. "Kalau wanita saya sampai menyentuh angkutan umum itu lagi... kamu dan seluruh tim pengawal pribadi saya pecat hari itu juga."

...****************...

​Keesokan harinya, pukul enam pagi.

​Clara baru saja keluar dari gerbang kontrakan sederhananya dengan tas laptop di pundak. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti total.

​Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilat sudah terparkir manis tepat di depan gang rumahnya. Di samping mobil, seorang pria paruh baya berseragam pengemudi rapi berdiri dengan wajah sangat pucat dan gelisah.

​"Selamat pagi, Mbak Clara," panggil pengemudi itu buru-buru membungkuk begitu melihat Clara.

​Dahi Clara berkerut tajam. "Bapak siapa ya? Salah alamat kali, Pak."

​"Tidak, Mbak. Saya Pak Bambang, pengemudi pribadi yang diutus langsung oleh Pak Elzio Mahendra untuk menjemput Mbak Clara berangkat ke kantor," jawabnya dengan suara gemetar.

​Darah Clara langsung naik ke kepala. "Pak Elzio?! Aduh Pak, mending Bapak pulang aja deh. Saya naik KRL aja, makasih!"

​Clara hendak memutar badan melangkah pergi, tapi Pak Bambang langsung berlari kecil dan menghadang langkahnya dengan wajah memelas, hampir menangis.

​"Mbak Clara! Tolong saya, Mbak... mohon dengan sangat," ratap Pak Bambang sambil mengatupkan kedua tangannya. "Pak Elzio bilang, kalau pagi ini Mbak Clara tidak mau masuk ke dalam mobil ini dan malah naik KRL lagi, hari ini juga saya dipecat. Saya punya tiga anak yang masih sekolah, Mbak..."

​Langkah Clara terhenti seketika. "Apa?!"

​"Tolong saya, Mbak Clara... Pak Elzio tidak pernah main-main kalau memberi perintah," mohon Pak Bambang lagi dengan mata berkaca-kaca.

​Clara mengepalkan tangannya kencang-kencang. Dadanya naik turun menahan amarah yang luar biasa. Pria gila itu benar-benar mengunci semua celahnya! Menggunakan nasib dan rezeki orang kecil hanya untuk memaksanya nurut.

​"Pria gila... bener-bener manusia sakit jiwa!" umpat Clara pedas. Dia menatap Pak Bambang yang ketakutan dengan perasaan tak tega. "Ya udah, Pak! Buka pintunya! Biar saya samperin boss gila Bapak itu sekarang!"

​"Terima kasih banyak, Mbak Clara! Terima kasih!" Pak Bambang dengan sigap membukakan pintu belakang.

...****************...

​Tiga puluh menit kemudian.

​PRAK!

​Pintu kayu tebal ruang kerja CEO di lantai 12 didorong kasar hingga membentur dinding dengan suara memekakkan telinga.

​Seluruh staf dan sekretaris di luar ruangan mendadak membeku di tempat. Mereka menahan napas dengan wajah pucat pasi. Tidak pernah ada satu pun orang di perusahaan ini yang berani membuat kegaduhan, apalagi mendobrak pintu ruangan Elzio Mahendra yang terkenal dingin dan bertangan besi.

​"ELZIO MAHENDRA!" jerit Clara galak dari pintu masuk, melangkah lebar-lebar mendatangi meja kerja megah itu.

​Elzio yang sedang meneliti berkas laporan keuangan perlahan mendongak. Tidak ada raut terkejut atau marah di wajah tampannya. Sebaliknya, saat matanya menangkap sosok Clara yang berdiri dengan pipi memerah dan mata menyala-nyala karena emosi, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya.

​Bagi Elzio, galaknya Clara adalah keindahan yang paling memabukkan.

​"Selamat pagi, Clara," sapa Elzio lembut, suaranya tetap tenang dan mengalun rendah. "Suara kamu merdu sekali di pagi hari."

​"Nggak usah sok manis lu, brengsek!" bentak Clara, memukul meja kerja Elzio dengan kedua telapak tangannya. "Lu apa-apaan sih?! Pake ngancam mau mecat Pak Bambang segala kalau gue nggak naik mobil jemputan lu?! Lu pikir lu siapa, hah?! Raja?!"

​"Saya atasan kamu, dan calon suami kamu," jawab Elzio santai. Dia bersandar di kursi kulitnya, memandangi wajah Clara yang galak tanpa berkedip sedikit pun.

​"Calon suami matamu picek!" semprot Clara ceplas-ceplos, matanya mendelik lebar. "Gue nggak sudi! Lu tuh kekanak-kanakan banget, tahu nggak?! Ngatur-ngatur hidup gue, ngintilin gue pake bodyguard, sampai ganggu rezeki orang lain!"

​"Saya melakukan itu karena kamu bertingkah konyol kemarin sore," balas Elzio. Nada suaranya mendadak berubah dingin dan pekat. "Kamu naik kereta yang berdesakan dengan belasan pria asing, Clara. Tubuh kamu terimpit dan tersentuh oleh orang lain. Kamu pikir saya bakal diam saja melihat milik saya diperlakukan seperti itu?"

​"Gue bukan milik lu!" teriak Clara lagi. "Gue cuma rakyat biasa yang terbiasa naik KRL! Lu yang kebangetan posesif gila!"

​Para staf di luar ruangan yang mendengarkan teriakan Clara lewat celah pintu yang sedikit terbuka makin berkeringat dingin. Mereka menunggu saat-saat Elzio meledak dan memecat wanita itu.

​Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

​Elzio bukannya murka, dia malah meraih sebuah cangkir take-away dari atas mejanya dan menggesernya perlahan ke hadapan Clara.

​"Minum dulu. Kamu pasti haus habis teriak-teriak," ujar Elzio tenang, menatap Clara dengan binar mata gemas yang tak tersembunyikan.

​Clara menunduk, memelototi cangkir kertas itu. "Apaan nih?! Lu mau racunin gue?!"

​"Es Hazelnut Latte," bisik Elzio lembut, menopang dagunya dengan satu tangan. "Dengan extra shot espresso biar terasa lebih pahit. Persis seperti favorit kamu, kan?"

​Clara membeku seketika. Matanya berkedip dua kali. Dari mana pria ini tahu minuman favoritnya secara mendetail sampai ke takaran pahitnya?

​"Lu... lu nyuruh orang mata-matai selera kopi gue juga?!" tembak Clara, wajahnya makin merona merah—antara amarah dan kepanikan karena merasa pria ini terlalu mengenalnya.

​"Saya cuma mengingat apa yang kamu pesan saat kita di Bali," jawab Elzio jujur, menatap lurus ke mata Clara. "Ambil minumannya, lalu duduk. Kita mulai jam kerja."

​Clara menyambar cangkir es kopi itu dengan kasar, menatap Elzio penuh kebencian yang makin tidak mempan. "Gue minum ini bukan karena lu yang kasih, tapi karena gue haus meladeni orang gila kaya lu!"

​"Terserah apa kata kamu, sweetheart," tawa rendah Elzio akhirnya pecah seketika, membuat para staf di luar ruangan makin melotot tak percaya. CEO mereka yang terkenal dingin seperti es baru saja tertawa renyah hanya karena dimarahi oleh asisten barunya.

​Clara menghentakkan kakinya kesal, memutar badan dan berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan dengan cangkir kopi di tangannya.

​Gue bakal cari cara buat bikin lu nyerah, Elzio, batin Clara penuh dendam sambil menyeruput es kopinya yang pahit dan gurih—persis sesuai selera lidahnya.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!