Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontraksi di Senja Hari dan Kepanikan di Ruang Bersalin
Udara sore di kawasan perumahan elit Graha Famili, Surabaya Barat, terasa hangat. Sinar matahari keemasan memantul di kaca jendela besar ruang tamu, menyinari lantai marmer putih yang bersih.
Di atas sofa empuk ruang keluarga, Nayara Zayna Az-Zahra duduk bersandar sambil membaca sebuah jurnal kedokteran. Usia kehamilannya kini telah menginjak tujuh bulan. Perutnya tampak semakin membuncah indah di balik gamis panjang berwarna sage green yang ia kenakan.
Beberapa langkah dari tempat duduknya, Revan Al-Gibran sedang sibuk membereskan meja kerja portabel. Pria berjas kasual itu baru saja merampungkan rapat daring terakhirnya dengan dewan direksi perusahaan. Begitu laptopnya tertutup, Revan langsung melangkah mendekati istrinya, membawa semangkuk kecil buah stroberi segar yang sudah dicuci bersih.
"Sudah bacanya, Zawjati? Nanti matamu lelah," tegur Revan lembut. Ia duduk di lantai karpet tepat di hadapan Nayara, lalu menyuapkan sebutir stroberi ke mulut istrinya.
Nayara tersenyum manis, menerima suapan dari suami siaganya itu. "Sedikit lagi selesai kok, Mas. Rasanya aneh ya, tidak terasa usia kehamilanku sudah tujuh bulan. Sebentar lagi kita bakal jadi orang tua beneran."
Revan tersenyum hangat, lalu meletakkan mangkuk buah di atas meja. Ia merangkul lutut Nayara dan mendekatkan wajahnya ke perut buncit sang istri, berbisik pelan menyapa buah hati mereka.
"Halo, jagoan kecil Ayah... Jangan bikin Bunda kecapekan ya di rumah. Cepatlah besar, Ayah sudah tidak sabar men—”
Ucapan Revan mendadak terhenti. Kalimatnya menggantung di udara.
Wajah Nayara yang tadinya tersenyum cerah tiba-tiba berubah pucat. Kedua tangannya secara refleks mencengkeram erat pinggiran sofa, sementara napasnya mendadak tersengal. Keningnya langsung dibanjiri butiran keringat dingin dalam hitungan detik.
"Ssshh..." rintih Nayara tertahan, menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang luar biasa menusuk dari bagian bawah perutnya.
Revan yang berada tepat di hadapannya langsung berdiri dengan panik. Wajah pria itu berubah pucat pasi.
"Nay? Zawjati! Ada apa? Kenapa?" tanya Revan bertubi-tubi, suaranya bergetar hebat. Ia melihat ke bawah dan mendapati cairan hangat merembes membasahi rok gamis Nayara.
Ketakutan luar biasa langsung menghantam dada Revan. Ini bukanlah kontraksi palsu biasa. Usia kandungan baru menginjak tujuh bulan, dan tanda-tanda persalinan prematur mendadak terjadi secara spontan.
"Mas... perutku... sakit sekali... rasanya seperti mau melahirkan..." rintih Nayara di sela isak tangisnya yang mulai pecah, mencengkeram kuat lengan suaminya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, jiwa mantan penguasa jalanan yang cekatan dan penuh perhitungan langsung mengambil alih kepanikan Revan. Ia tidak boleh kehilangan kendali. Istri dan anaknya berada di ambang bahaya.
"Pegangan yang erat, Nay. Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Revan tegas.
Dalam gerakan cepat, Revan mengangkat tubuh Nayara dengan gaya bridal style keluar rumah menuju garasi. Ia mendudukkan istrinya di kursi depan mobil SUV hitam mereka dengan sangat hati-hati, memasangkan sabuk pengaman, lalu berlari memutar ke kursi pengemudi.
Perjalanan dari Graha Famili menuju Rumah Sakit Islam Al-Hikmah Surabaya terasa begitu mencekam. Revan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi namun tetap berusaha stabil, sesekali melirik ke arah Nayara yang terus merintih kesakitan di sampingnya sambil memegangi perutnya yang menegang hebat.
"Sabar, Nay... Sebentar lagi sampai. Kumohon bertahanlah..." bisik Revan penuh kecemasan, tangannya yang satu lagi menggenggam erat jemari istrinya yang sudah basah oleh keringat dingin.
Begitu mobil mereka melesat masuk ke area drop-off IGD rumah sakit, beberapa perawat dan petugas medis yang sigap langsung mendorong brankar darurat ke sisi pintu mobil.
"Dokter muda Nayara mengalami kontraksi prematur spontan! Ketubannya sudah pecah di usia kehamilan tujuh bulan!" seru Revan dengan suara baritonnya yang menggelegar panik, membantu perawat memindahkan istrinya ke atas brankar.
Suasana di IGD seketika menjadi sibuk. Nayara segera didorong menuju ruang bersalin darurat. dr. Maya, Sp.OG—dokter spesialis kandungan senior yang menangani Nayara selama ini—langsung berlari menyusul masuk ke ruang tindakan setelah mendapat panggilan darurat dari perawat.
Revan yang hendak ikut masuk ditahan oleh seorang perawat di ambang pintu.
"Maaf, Pak Revan, silakan menunggu di luar dulu. Tim dokter harus segera melakukan tindakan pemeriksaan awal," ujar perawat tersebut dengan nada profesional.
"Tapi istri saya—"
"Pak Revan, percayakan pada kami!" potong dr. Maya dari dalam ruangan dengan suara tegas namun menenangkan. "Usia kandungan tujuh bulan memang terlalu dini, tapi kami akan berjuang menyelamatkan ibu dan bayinya!"
Cklek. Pintu ruang bersalin tertutup rapat di hadapan Revan.
Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung di lorong rumah sakit. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Seluruh ketenangannya runtuh tak bersisa. Ia merosot pelan untuk duduk di kursi tunggu koridor, menangkupkan kedua tangan di wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Doa-doa terbaik tanpa henti meluncur dari bibirnya yang bergetar, memohon kepada Sang Pencipta agar menyelamatkan belahan jiwanya dan buah hati mereka.
Di dalam ruang bersalin, situasinya jauh lebih menegangkan. dr. Maya memeriksa kondisi Nayara dengan sangat teliti dan cepat.
"Pembukaan sudah lengkap, Nayara. Karena ini persalinan prematur di usia tujuh bulan, bayi harus segera dikeluarkan sekarang. Tarik napas dalam-dalam, ikuti aba-aba saya," instruksi dr. Maya dengan wajah serius.
Nayara mengepalkan kedua tangannya, mengerahkan sisa-sisa tenaga dan ketegarannya di tengah rasa sakit yang luar biasa hebat. Bayangan wajah suaminya di luar pintu menjadi kekuatan satu-satunya yang mendorongnya bertahan.
"Bismillah... ya Allah..." isak Nayara, lalu ia mulai mengejan sekuat tenaga mengikuti instruksi dokter.
"Bagus, Nayara! Terus dorong! Sedikit lagi!" teriak bidan memberikan dukungan.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang mencekam di dalam ruangan. Hingga akhirnya...
Uoek... uoek... uoek...!
Suara tangisan bayi yang terdengar mungil, tipis, namun penuh perjuangan hidup mendadak menggema di dalam ruang bersalin.
dr. Maya segera mengangkat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tersebut. Karena lahir prematur di usia tujuh bulan, ukuran bayi itu jauh lebih kecil dari bayi cukup bulan pada umumnya, dan pernapasannya tampak memerlukan bantuan khusus.
"Alhamdulillah... Bayinya lahir, laki-laki!" seru dr. Maya cepat kepada tim medis. "Segera bawa ke ruang inkubator NICU untuk perawatan intensif pernapasan!"
Nayara hanya sempat melihat sekilas bayinya yang dibawa pergi oleh perawat sebelum kesadarannya perlahan memudar karena kelelahan yang luar biasa.
Pintu ruang bersalin akhirnya terbuka. dr. Maya keluar menemui Revan yang langsung berdiri menyambutnya dengan tatapan penuh kecemasan.
"Dok! Bagaimana keadaan istri saya? Dan anak saya?!" tanya Revan cepat, mencengkeram ujung jas putih dr. Maya.
dr. Maya menghela napas, lalu tersenyum tipis menenangkan. "Alhamdulillah, Nayara selamat dan saat ini sedang beristirahat karena kelelahan hebat. Mengenai bayi Anda... karena lahir prematur di usia tujuh bulan, berat badannya di bawah rata-rata dan organ pernapasannya belum sempurna. Kami harus segera memasukkannya ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk observasi dan bantuan inkubator."
Mendengar penjelasan itu, lutut Revan sempat lemas seketika. Namun ia segera menguasai diri.
"Boleh... boleh saya melihat anak saya dan istri saya, Dok?" tanya Revan dengan suara parau.
"Tentu. Tapi ikuti protokol steril ya, Pak Revan."
Beberapa menit kemudian, Revan diizinkan masuk ke ruang pemulihan tempat Nayara terbaring lemah. Begitu melihat suaminya datang dengan mata berkaca-kaca, Nayara langsung menangis tertahan.
Revan langsung menghampiri ranjang, menggenggam erat tangan istrinya dan mencium kening Nayara penuh kasih sayang.
"Mas... anak kita... dia lahir prematur..." tangis Nayara pelan.
Revan menggeleng tegas, menyeka air mata di pipi istrinya. "Sstt... Jangan sedih, Nay. Anak kita pejuang hebat. Dia pasti kuat bertahan di inkubator. Kita doakan sama-sama ya, sayang..."
Malam itu, di samping ranjang pemulihan sang istri dan di depan kaca steril ruang NICU tempat inkubator putra kecil mereka berasa, Revan berjanji dalam hatinya untuk menjadi pelindung yang lebih kuat bagi keluarga kecilnya menemani setiap detik perjuangan sang buah hati hingga tumbuh menjadi anak yang sehat dan membanggakan.
bawangnya kebanyakan thor