“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bab 34: Dinding Es di Atas Meja Makan
Pagi hari di hari Selasa datang membawa keheningan yang jauh lebih pekat daripada hari-hari sebelumnya. Sinar matahari yang biasanya menerobos masuk melalui celah tirai kamar utama seolah kehilangan kehangatannya, menyisakan udara dingin yang merayap di kulit. Di atas tempat tidur king size yang luas, Rangga terbangun lebih awal. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati sisi bantal di sebelah kanannya kosong. Keisha sudah tidak ada di sana.
Rangga bangkit duduk, mengusap wajahnya yang terasa kaku akibat kurang tidur. Semalaman penuh pikirannya berkecamuk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa jarak emosional yang tercipta antara dirinya dan sang istri bukan lagi sekadar salah paham sepele, melainkan akumulasi dari kekecewaan yang telah lama dipendam Keisha. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu keras, membuat napasnya terasa sesak.
Dengan langkah lesu, Rangga beranjak dari tempat tidur, mengenakan pakaian santai, lalu berjalan turun menuju lantai bawah untuk mencari istrinya. Ia berharap setidaknya pagi ini mereka bisa duduk bersama, merendahkan ego masing-masing, dan memperbaiki keadaan.
Namun, setibanya di area dapur, suasana yang ia temui justru semakin mendinginkan hatinya.
Keisha sudah berdiri di dekat meja dapur mengenakan pakaian kerjanya yang rapi. Wanita itu sedang menuangkan sisa air panas ke dalam termos kecil tanpa sedikit pun menoleh ke arah tangga. Tidak ada aroma harum kopi hitam buatan Rangga, tidak ada pula piring berisi roti panggang seperti biasanya. Di atas meja makan, hanya ada sebuah cangkir kosong dan selembar catatan kecil berukuran memo.
Rangga menghentikan langkahnya di ambang pintu dapur, menatap punggung istrinya dengan perasaan gundah. "Keish..." panggilnya dengan suara bariton yang terdengar parau.
Keisha menghentikan gerakannya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik perlahan menghadap suaminya. Ekspresi wajah wanita itu tampak sangat datar—tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada air mata, namun justru tatapan mata yang kosong itulah yang paling menakutkan bagi Rangga. Tatapan dari seseorang yang mulai lelah untuk peduli.
"Aku sudah buatkan air hangat di termos buat Kakak kalau mau bikin kopi sendiri," ucap Keisha dengan nada suara yang tenang, namun begitu dingin dan berjarak. "Aku berangkat duluan ke stasiun sekarang. Ada jadwal rapat pagi jam delapan di kantor keuangan, jadi aku nggak bisa nunggu."
Sebelum Rangga sempat melangkah mendekat atau mengucapkan sepatah kata pun untuk menahan langkahnya, Keisha sudah meraih tas tangan kulitnya, menyampirkan tas kerja di bahu kiri, lalu berjalan melewati suaminya begitu saja tanpa memberikan pelukan perpisahan seperti ritual wajib yang biasa mereka lakukan setiap pagi.
Batas tak kasat mata kini benar-benar terbentang di antara mereka.
Rangga mematung di tempatnya. Suara pintu depan yang tertutup pelan dari kejauhan menggema di dalam rumah yang terasa begitu luas dan sepi. Untuk pertama kalinya sejak mereka resmi menikah, Rangga merasakan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat ia harus menghadapi ancaman hukum dari keluarganya sendiri. Kehilangan pabrik atau runtuhnya bisnis adalah hal yang bisa ia perjuangkan kembali, tetapi kehilangan kehangatan dari wanita yang sangat ia cintai adalah kekalahan telak yang tidak sanggup ia bayangkan.
Di kantor pusat keuangan tempat Keisha bekerja, suasana dinamis di ruang kubikal lantai dua belas tidak mampu meredam kekosongan di dalam dada wanita itu. Sejak kedatangannya pagi tadi, Keisha hanya duduk diam menatap layar monitor komputernya. Jemarinya memang menari di atas papan ketik untuk merampungkan laporan keuangan triwulan, namun pikirannya melayang entah ke mana.
"Keish, lo baik-baik aja kan dari kemarin?" tanya Riri, rekan sekantornya, sambil meletakkan setumpuk berkas arsip di atas meja kubikal Keisha dengan tatapan penuh selidik. "Muka lo pucat banget, terus dari tadi pagi kelihatan murung parah. Ada masalah serius sama Rangga? Jangan bilang pengantin baru kalian lagi ngadapi krisis rumah tangga?"
Keisha menghentikan ketikannya. Ia mendongak menatap sahabat kantornya itu, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman miris yang menyembunyikan badai emosi di dalam hatinya. "Nggak apa-apa kok, Ri. Cuma... akhir-akhir ini kami berdua sama-sama sibuk banget sama pekerjaan masing-masing. Jadi komunikasi agak sedikit terganggu."
Riri menarik kursi kecil di sebelah kubikal Keisha, duduk mendekat dengan ekspresi prihatin. "Dengar ya, Keish. Sibuk cari uang dan membangun karier itu penting banget, tapi jangan sampai bikin hubungan kalian renggang. Laki-laki sesabar dan sebaik Rangga itu langka. Kalau lo terus-terusan jaga jarak gara-gara ego, nanti justru bakal ada celah buat orang lain masuk atau bikin kalian makin jauh."
Nasihat itu menohok relung hati Keisha. Kalimat Riri seolah memvalidasi ketakutan terbesarnya selama beberapa hari terakhir: bahwa kesibukan dan ambisi mereka berdua perlahan-lahan sedang merusak fondasi rumah tangga yang baru seumur jagung mereka bangun. Namun, rasa lelah dan luka akibat merasa diabaikan membuat Keisha belum memiliki keberanian untuk melangkah lebih dulu mencairkan suasana.
Sementara itu di lantai sepuluh gedung operasional Aldebaran Engineering & Automotive Hub, Rangga berada dalam situasi yang tidak jauh berbeda. Ia duduk di kursi kerjanya di ruang direktur, menatap lembaran-lembaran kontrak proyek baru dengan tatapan kosong. Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada angka-angka dan spesifikasi teknik mesin di atas kertas.
Ponsel di atas meja kerjanya berdering menampilkan panggilan masuk dari manajer logistik pabrik, namun Rangga membiarkan panggilan itu berdering hingga mati dengan sendirinya. Ia sudah menginstruksikan sekretarisnya untuk menunda seluruh jadwal rapat koordinasi siang hari ini. Keadaan mentalnya sedang tidak memungkinkan untuk membuat keputusan bisnis yang krusial.
Rangga menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata erat-erat sambil memijat batang hidungnya yang terasa penat. Kegagalan komunikasi semalam dan sikap dingin Keisha pagi ini benar-benar memukul telak harga dirinya sebagai seorang suami. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus membuktikan diri kepada dunia—terutama kepada keluarga besarnya yang pernah merendahkannya—bahwa ia mampu sukses secara finansial. Namun dalam proses pembuktian itu, ia justru mengabaikan hal paling berharga yang sudah ia menangkan: senyuman dan kebersamaan dengan istrinya di rumah.
Pintu ruang kerja mendadak diketuk pelan, lalu terbuka lebar. Advokat Arya melangkah masuk dengan membawa map dokumen hukum. Namun begitu melihat ekspresi wajah Rangga yang kusut dan berantakan, Arya menghentikan langkahnya dan menutup kembali pintu rapat-rapat.
"Ada apa lagi, Rangga? Jangan bilang pihak keluarga pamannyamu itu berulah lagi?" tanya Arya langsung to the point, duduk di kursi seberang meja kerja Rangga.
Rangga membuka matanya, menggeleng perlahan sambil menghela napas panjang. "Bukan soal keluargaku, Arya. Masalahnya jauh lebih rumit dari itu."
"Masalah apa lagi yang lebih rumit dari sengketa aset pabrik senilai miliaran rupiah?" tukas Arya setengah berseloroh, namun raut wajahnya segera berubah serius ketika melihat kesungguhan di mata sahabatnya itu.
Rangga menautkan kedua jemarinya di atas meja, menatap lurus ke depan. "Rumah tanggaku retak, Arya. Keisha... istriku, mendiamkan aku sejak dua hari lalu gara-gara aku terlalu sibuk mengurus urusan kantor pasca insiden somasi kemarin. Semalam kami bertengkar hebat, dan tadi pagi ia berangkat kerja tanpa bicara sepatah kata pun."
Arya tertegun sejenak. Sebagai sahabat sekaligus penasihat hukum yang sering mendampingi Rangga melewati masa-masa sulit, ia tahu betul bagaimana perjuangan Rangga mendapatkan hati Keisha hingga akhirnya mereka menikah. Mendengar bahwa biduk rumah tangga yang baru seumur jagung itu kini goyah justru karena masalah kesibukan pekerjaan, Arya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tahu di mana letak kesalahanmu, Rangga?" ucap Arya dengan nada suara tegas namun bersahabat. "Kamu terlalu fokus jadi direktur yang hebat di luar sana, sampai lupa kalau di rumah ada seorang istri yang butuh kehadiran emosionalmu, bukan cuma jaminan materi atau perlindungan dari ancaman luar."
Kalimat itu bagaikan tamparan keras bagi Rangga. Pria itu terdiam seribu bahasa, meresapi setiap kata yang diucapkan sahabatnya.
"Keluarga besarmu gagal menghancurkanmu lewat jalur hukum," lanjut Arya serius. "Tapi kalau kamu tidak segera memperbaiki hubungan dengan Keishamu, justru kebodohanmu sendiri yang bakal menghancurkan pernikahanmu dari dalam."
Menjelang pukul lima sore, jam kerja resmi berakhir. Di stasiun kereta komuter yang mulai dipadati oleh ribuan pekerja kantoran, Keisha berjalan melangkah keluar dari gerbang peron dengan perasaan gundah. Bayangan pertengkaran kecil dan sikap dingin suaminya terus berkelebat di dalam benaknya. Meskipun ia masih merasa kecewa, ada rasa rindu dan penyesalan yang mulai bergemuruh di dadanya. Apakah ia terlalu keras pada Rangga? Apakah seharusnya ia mendengarkan penjelasan suaminya malam itu alih-alih memilih pergi tidur dan mendiamkannya?
Keisha melangkah keluar menuju trotoar jalan raya di dekat stasiun, bersiap menunggu angkutan umum atau memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Namun, langkahnya seketika terhenti ketika ia melihat sesosok pria berdiri di samping sebuah motor matic hitam di tepi jalan.
Rangga berdiri tegak mengenakan kemeja abu-abu terang dengan lengan kemeja yang dilipat hingga siku. Pria itu tidak mengenakan jas kantornya, dan rambutnya sedikit berantakan tertiup angin sore. Begitu melihat sosok wanita yang melangkah keluar dari area stasiun, senyuman hangat bercampur rasa bersalah langsung merekah di wajah Rangga.
Pria itu melangkah menghampiri Keisha, berhenti tepat di hadapan istrinya dengan jarak kurang dari satu meter.
Keisha terpaku. Ia tidak menyangka suaminya akan datang menjemput setelah apa yang terjadi di antara mereka sejak dua hari lalu. "Kak... buat apa ke sini?" tanya Keisha pelan dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan benteng dinginnya meski hatinya mulai luluh.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat manik mata istrinya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh ketulusan dan penyesalan yang mendalam. Tanpa mempedulikan orang-orang yang lalu-lalang di sekitar stasiun, Rangga perlahan mengangkat kedua tangannya, meraih jemari tangan Keisha yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat-erat di dalam genggaman hangat telapak tangannya.
"Aku jemput istriku tersayang," jawab Rangga lembut, suara baritonnya terdengar sarat akan permohonan maaf. "Aku minta maaf, Keish. Dua hari ini rumah terasa sangat hampa tanpa suara kamu. Aku sadar... aku salah besar karena lebih mementingkan urusan kantor dan mengabaikan perasaanmu di rumah."
Mendengar kejujuran dan ketulusan dari suaminya, pertahanan diri yang sejak kemarin dibangun oleh Keisha seketika runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan di balik sikap dinginnya mendadak mendesak keluar, menggenang di pelupuk matanya.
"Kakak tahu kan... aku nggak pernah peduli seberapa sibuknya Kakak di luar sana," ucap Keisha terbata-bata, bulir air matanya menetes perlahan membasahi pipinya. "Tapi yang paling aku takutkan bukan kesibukan Kakak, melainkan kalau suatu hari nanti kita tinggal di bawah satu atap yang sama, tapi kita merasa seperti orang asing yang tidak saling mengenal lagi."
Rangga merasakan hatinya seperti tertusuk sembilu mendengar kalimat itu. Ia segera melangkah lebih dekat, merengkuh tubuh ramping istrinya ke dalam dekapannya yang hangat, membiarkan Keisha menyandarkan kepala dan menumpahkan air matanya di dada bidang suaminya.
"Maafkan aku, Keish... maafkan kebodohanku," bisik Rangga parau berulang-ulang di dekat telinga istrinya, mencium puncak kepala Keisha dengan penuh kasih sayang. "Mulai hari ini, tidak ada lagi kesibukan yang bisa merusak waktu kita berdua. Kamu adalah prioritas utamaku di atas segalanya. Rumah kita, kebahagiaan kita, itu adalah hal paling penting di dunia ini bagiku."
Keisha membalas pelukan suaminya sama eratnya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rangga, menghirup aroma parfum maskulin bercampur angin sore yang menenangkan. Segala rasa marah, kecewa, dan dingin yang sempat membeku di antara mereka seketika meleleh, hanyut bersama air mata penyesalan dan pelukan hangat pengampunan.
Perjalanan pulang malam itu dengan motor matic menyusuri jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu penerangan jalan terasa begitu syahdu. Setibanya di rumah mungil mereka, suasana asri dan damai kembali menyambut.
Setelah membersihkan diri dan menunaikan shalat maghrib berjamaah bersama, mereka duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Tidak ada lagi laptop kerja yang terbuka, tidak ada lagi dering telepon klien yang mengganggu; yang ada hanyalah keheningan malam yang diisi oleh kehangatan cinta dua insan yang baru saja berhasil melewati ujian terbesar dalam lembaran awal pernikahan mereka.
Keisha menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas bahu Rangga, sementara lengan kokoh sang suami merangkul pundaknya erat-erat, menyalurkan rasa aman yang tidak ternilai harganya.
"Kak..." bisik Keisha lembut.
"Hmm? Ada apa lagi, sayang?" sahut Rangga menunduk, mencium lembut kening istrinya.
"Janji ya... apa pun badai yang datang ke depan nanti, kita bakal selalu hadapi berdua dengan kepala dingin?"
Rangga tersenyum hangat, mengeratkan rangkulannya dan mengecup bibir istrinya sekilas penuh cinta. "Janji, Keish. Selamanya, sampai akhir masa, kita akan selalu berdua."
Di bawah naungan langit malam kota yang bertabur bintang, dinding es yang sempat memisahkan mereka kini telah sepenuhnya mencair. Mengantarkan pasangan pengantin baru itu kembali ke pelukan keharmonisan abadi, siap melangkah menapaki hari-hari esok dengan ikatan cinta yang jauh lebih kuat dan tak tergoyahkan oleh waktu.