Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pertemuan Pertama dengan Sang Tuan
Anak tangga spiral itu seperti tidak ada ujungnya.
Setiap anak tangga terbuat dari batu obsidian hitam yang licin. Tidak ada pegangan. Tidak ada jendela. Hanya kegelapan pekat yang diiris oleh nyala api kecil di telapak tangan Kael.
Dingin. Bukan dingin biasa. Ini dingin yang menusuk tulang dan membuat sihir pun sulit beredar.
Luna berjalan di samping Kael. Napasnya pendek. Di tangannya sudah siap mantra penyembuh. Wajahnya pucat tapi matanya tegas.
Grom ada di depan. Tubuhnya membungkuk rendah seperti binatang yang siap menerkam. Tombaknya berdenyut merah, menyerap darahnya sendiri sebagai bahan bakar.
Sudah 15 menit mereka naik.
Dari atas, suara tawa rendah terdengar. Bergema, memantul di dinding, membuat kepala pusing.
"Kau membawa teman, Kael? Manis sekali. Sudah lama aku tidak menerima tamu."
Suara itu... tua. Dalam. Seperti berasal dari dasar jurang.
Kael tidak menjawab. Dia hanya mempercepat langkah. Urat hitam di lengannya berdenyut mengikuti irama jantungnya.
Anak tangga terakhir.
Pintu besar terbuka dengan sendirinya.
*Ruangan Altar*
Ruangan melingkar dengan diameter 100 meter. Langit-langitnya tidak terlihat. Gelap.
Di tengah ruangan ada altar batu setinggi 3 meter. Permukaannya penuh goresan dan noda hitam yang sudah mengering.
Di atas altar, melayang 12 bola cahaya seukuran kepala manusia. Tapi di dalam setiap bola... ada wajah. Ratusan wajah. Berteriak. Menangis. Memohon. Tanpa suara.
Energi jahat di ruangan itu sangat pekat sampai Luna langsung batuk.
Dan di depan altar, membelakangi mereka, berdiri seorang pria.
Jubah hitam panjang menyapu lantai. Tidak ada rambut. Tidak ada wajah. Hanya kegelapan.
Tapi dari kegelapan itu, dua titik merah menyala. Menatap lurus ke arah mereka.
Sang Tuan.
Dia tidak bergerak selama 5 detik. Lalu perlahan berbalik.
"Selamat datang di rumah, anakku."
Suara itu langsung masuk ke kepala Kael. Bukan lewat telinga. Tapi langsung ke otak.
Kael berhenti 10 meter dari altar. Kaki terasa berat.
"Kau bukan ayahku." Suara Kael serak, tapi dingin.
Sang Tuan memiringkan kepalanya. Gerakan itu tidak manusiawi. "Bukankah aku yang menarikmu keluar dari reruntuhan desa itu? Bukankah aku yang memberimu napas kedua saat kau sekarat?"
"Dengan membunuh orang tuaku terlebih dahulu?"
"Pengorbanan." Sang Tuan mengangkat tangannya. 12 bola cahaya berputar lebih cepat. Jeritan di dalamnya semakin keras. "Untuk menciptakan dunia baru. Dunia tanpa perang. Dunia tanpa orang lemah seperti mereka."
Luna tidak tahan. "Lepaskan mereka! Mereka punya keluarga!"
Sang Tuan baru seakan menyadari keberadaan Luna dan Grom. Dia tertawa. Suara tawanya membuat retakan muncul di lantai.
"Oh... seekor penyembuh dan seekor goblin. Menarik. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ada goblin yang berani masuk ke sini?"
Dia menjentikkan jari.
_DUAR_
Sebuah gelombang kejut tak terlihat menghantam Grom. Tubuh goblin itu terpental seperti boneka, menghantam dinding dan membuat retakan besar.
"GROM!"
Kael berlari. Grom tergeletak, memuntahkan darah hitam. Tulang rusuknya patah.
"Tuan... aku baik-baik saja..." Grom berbisik. "Lanjutkan..."
Kael menatap Sang Tuan. Matanya merah. "Kau..."
Sang Tuan mengabaikan kemarahan Kael. Dia melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar.
"Kau sudah mengumpulkan 4 pecahan, ya? Bagus. Efisien." Dia menatap tas Kael. "Tinggal 5 lagi."
"Untuk apa?" Bentak Kael.
"Untuk membuka Gerbang." Sang Tuan menunjuk ke langit-langit. Di sana ada simbol raksasa yang berputar perlahan. Simbol itu sama dengan yang ada di batu mata. "Gerbang menuju rumah sejatiku. Tempat dimana aku adalah Tuhan. Tempat tanpa rasa sakit, tanpa kematian, tanpa orang-orang lemah yang menangis."
"Dengan mengorbankan ribuan nyawa?"
"300 jiwa per desa." Sang Tuan mengangkat bahu. "Matematika sederhana. 300 untuk jutaan. Kau penyihir pintar. Kau pasti mengerti."
Kael mengepalkan tangan. Api hitam menyala di antara jarinya.
"Cukup bicara omong kosong."
*Pertarungan Dimulai*
Kael melesat. Kecepatannya 3 kali lipat dari biasanya. Tinjunya dilapisi api hitam pekat.
Sang Tuan tidak bergerak. Dia hanya mengangkat satu jari.
_BRAK_
Dinding es setebal 2 meter muncul dari lantai, menahan pukulan Kael. Esnya langsung meleleh, tapi cukup untuk memperlambat.
Dari belakang dinding, 5 tombak bayangan melesat ke arah titik vital Kael.
Kael berguling di tanah. Rambutnya tersambar satu tombak dan langsung terbakar.
"Kael!" Teriak Luna. Dia membuat perisai cahaya di depan Kael.
"Jangan ikut campur!" Raung Kael. "Ini urusanku!"
"Tidak ada urusan sendiri di tim ini!" Balas Luna. Dia menembakkan panah cahaya ke arah Sang Tuan.
Panah itu ditangkis dengan satu lambaian tangan.
Sang Tuan akhirnya serius. Dia mengangkat kedua tangan.
"Kalau kau mau bertarung sungguhan... baiklah."
Langit-langit ruangan terbuka. Ratusan rantai hitam turun dari atas. Setiap ujung rantai memiliki mata yang menatap.
Pertarungan pecah.
Kael vs Sang Tuan.
Luna dan Grom vs Rantai.
Api vs Bayangan. Cahaya vs Kegelapan.
Kael menggunakan semua yang dia punya. Nyala Archmage Fase 2. Tombak Api. Ledakan.
Sang Tuan menggunakan sihir yang tidak masuk akal. Dia bisa memanggil monster bayangan, membekukan waktu 1 detik, bahkan memotong ruang.
10 menit. 20 menit.
Arena hancur. Lantai penuh kawah. Dinding retak.
Kael berhasil membakar lengan kiri jubah Sang Tuan.
Di bawah jubah... tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan pekat dan urat-urat merah yang berdenyut seperti cacing.
Sang Tuan mendesis. Untuk pertama kalinya dia terluka.
"Kau..." Suaranya marah. "Kau mengingatkanku pada ayahmu."
"DIAM!" Kael berteriak. Dia mengumpulkan semua sihir di tubuhnya.
[Skill: Nyala Archmage - Fase 3: Kiamat]
Di atas kepalanya muncul bola api hitam sebesar rumah. Suhunya sampai membuat udara berdistorsi.
Sang Tuan menyipitkan mata. "Teknik itu... hanya ayahmu yang bisa."
"MATI KAU!"
Kael melemparkan bola itu.
Ledakan.
Cahaya ungu memenuhi seluruh ruangan. Gelombang kejutnya sampai membuat Luna dan Grom terpental.
Asap tebal menutupi semuanya.
Batuk. Suara napas berat.
Ketika asap menghilang...
Sang Tuan masih berdiri. Tubuhnya penuh luka bakar. Satu lengannya hilang. Tapi dia tertawa.
"HA... BAGUS! SANGAT BAGUS!"
Dia bertepuk tangan. Pelan.
"Kau memang wadah yang sempurna. Aku tidak salah pilih."
Kael terengah. Lututnya hampir menyentuh tanah. Sihirnya habis 90%.
"Apa maksudmu... wadah?"
Sang Tuan berjalan mendekat. Darah hitam menetes dari tubuhnya. Tapi lukanya menutup sendiri.
Dia berhenti 3 meter di depan Kael.
Lalu dia berkata dengan nada yang paling lembut... dan paling mengerikan.
"100 tahun lalu, aku mencoba ritual pemindahan jiwa lintas dunia. Ritual itu gagal. Jiwaku terbelah dua."
Dia menunjuk dadanya yang berlubang. "Sebagian terjebak di sini. Di tubuh ini."
Lalu dia menunjuk Kael. "Sebagian lagi... terlahir kembali. Sebagai manusia. Sebagai anak. Sebagai... kau."
Waktu berhenti.
Kepala Kael seperti disambar petir.
"Bohong..." Bisik Kael.
"Tidak percaya?" Sang Tuan tersenyum. "Ingat mimpi burukmu? Ingat saat kau melihat desa terbakar dari mata orang lain? Itu karena kita terhubung."
Dia mengangkat tangan. 9 bola cahaya yang tersisa melayang ke arahnya dan masuk ke dalam tubuhnya. Luka-lukanya langsung sembuh.
"Aku menculikmu saat kau 5 tahun. Aku membunuh orang tuamu karena mereka mencoba menyegelku di dalam dirimu. Dan aku menciptakan desa-desa itu... untuk mengumpulkan energi agar bisa memanggil jiwaku yang terpisah dan... mengambil alih tubuhmu sepenuhnya."
Luna menutup mulutnya. Air matanya jatuh. "Tidak... tidak mungkin..."
Sang Tuan menatap Kael dengan mata penuh kasih sayang yang menjijikkan.
"Ritual terakhir. 7 hari lagi. Saat bulan darah. Datanglah ke sini sendiri, Kael. Kalau kau membawa mereka..." Dia melirik Luna dan Grom. "...mereka akan jadi tumbal pertama."
_WUSHH_
Tubuh Sang Tuan berubah jadi kabut hitam. Sebelum menghilang sepenuhnya, dia berbisik.
"Aku menunggumu, anakku. Atau harusnya aku bilang... aku menungguku."
Lalu dia hilang. Meninggalkan ruangan yang hancur dan bau darah.
*Setelahnya*
Hening selama 1 menit penuh.
Luna langsung lari memeluk Kael. "Kael... Kael kau dengar aku? Tatap aku!"
Kael menatap kosong ke depan. Tangannya gemetar.
"Jadi... monster yang kuburu..." Suaranya pecah. "Itu aku."
"BUKAN!" Luna membentak. Dia menampar pipi Kael. "Dengar aku! Kau bukan dia! Kau Kael! Kau yang menyelamatkan desa! Kau yang menyelamatkan aku! Kau yang menyelamatkan Grom!"
Grom tertatih mendekat. Dia meletakkan tangan besarnya di bahu Kael.
"Tuan... bukan monster. Tuan... pahlawan."
Air mata Kael akhirnya jatuh. Satu. Dua.
Dia mengepalkan tangan. Darah keluar dari telapaknya.
"Aku punya 7 hari." Suaranya rendah tapi penuh tekad. "7 hari untuk jadi cukup kuat untuk membunuh... bagian dari diriku sendiri."
Dia berdiri. Wajahnya sudah datar lagi. Tapi di matanya ada api yang belum pernah ada sebelumnya.
"Besok kita ke Dungeon Tulang. Rank C. Kita grinding 24 jam. Kita butuh level. Artefak. Skill."
Luna mengusap air matanya. "Aku ikut."
Grom mengangguk. "Grom ikut mati untuk Tuan."
Kael menatap mereka berdua.
"Terima kasih." Katanya pelan. "Karena tidak meninggalkan aku."
*Malam di Penginapan*
Kael tidak tidur. Dia duduk di lantai, di depannya 4 pecahan batu mata.
Dia menyatukan mereka. 4 pecahan bergetar dan saling tarik.
[Notifikasi Sistem]
[4/9 Pecahan Terkumpul]
[Efek: Visi Masa Depan 3 Detik Terbuka]
Tiba-tiba penglihatannya kabur.
_Visi: Dirinya sendiri berdiri di depan Sang Tuan. Bulan darah di atas. Dia menusukkan pedang ke dada Sang Tuan. Tapi pedang itu juga menembus dadanya sendiri._
Visi selesai.
Kael memegangi kepalanya. Sakit.
Luna yang belum tidur langsung menghampiri. "Kau lihat apa?"
Kael menggeleng. "Tidak apa-apa."
Dia berbohong.
[Notifikasi Sistem]
[Quest Utama: Ritual Bulan Darah - 6 Hari 23 Jam 59 Menit]
[Debuff: Keraguan Diri - Kekuatan -15% saat melawan Sang Tuan]
[Buff Baru: Tekad Archmage - Jika HP < 20%, semua stat +100%]
Kael menatap keluar jendela. Bulan di langit sudah mulai memerah.
Perang melawan diri sendiri... akan dimulai.