NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Balik Topeng

Di dalam kediaman keluarga Vincentes, suasana terasa hangat untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Lampu-lampu ruang tamu menyala terang, menerangi wajah-wajah yang tersenyum dan tawa yang menggema di setiap sudut. Aroma teh dan kue buatan rumah memenuhi udara, menciptakan atmosfer keakraban yang sudah lama hilang dari rumah ini.

Gran Vincentes, yang biasanya tegas dan dingin, kini duduk di kursi ruang tamu dengan wajah cerah. Tawanya bergema di seluruh ruangan, matanya berbinar penuh kebahagiaan.

"Gianna," ucap Gran, suaranya hangat, "kau masih ingat rumah ini rupanya. Aku pikir kau sudah lupa jalan pulang setelah bertahun-tahun menghilang."

Gianna Vincentes, yang duduk di seberangnya dengan anggun, tersenyum tipis. Rambut pirang keemasannya tergerai indah, dan gaun sutra biru langitnya membuatnya tampak seperti bidadari yang turun dari surga.

"Tentu saja, Kakak," jawabnya lembut. "Aku tidak akan melupakan tempat di mana aku berasal. Rumah ini adalah bagian dari diriku, meskipun aku jarang berada di sini."

Ia menatap sekeliling ruangan, matanya menyapu setiap sudut yang dikenalnya sejak kecil. Hatinya hangat, tetapi ada sedikit kesedihan di balik senyumnya.

"Aku sudah lama tidak pulang," pikirnya. "Terlalu lama."

Gran tertawa lagi, mengusap air mata bahagia di sudut matanya. "Kau datang tepat waktu, adikku. Keluarga ini sangat membutuhkan kehadiranmu."

Gianna mengangguk. "Aku senang bisa kembali, Kakak."

Di sudut ruangan, jauh dari keramaian, Grey Vincentes duduk dengan tenang di kursi dekat jendela. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah taman yang gelap, seolah-olah ada sesuatu di sana yang lebih menarik daripada kebahagiaan keluarganya.

"Ternyata Bibi Gianna datang lebih cepat dari dugaanku," pikirnya dalam hati, suaranya dingin dan terhitung. "Aku tidak menyangka dia langsung berangkat begitu suratku tiba."

Ia meremas cangkir teh di tangannya, tetapi tidak meminumnya.

"Tapi itu lebih baik. Aku sengaja meminta Bibi Gianna datang ke kastil Ragonves untuk pengalihan. Saat itulah aku mengirimkan Arvos Eight—pembunuh bayaran terbaikku—memasuki wilayah luar Ragonves."

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, nyaris tidak terlihat.

"Keluarga Sienta lengah. Mereka terlalu fokus pada Bibi Gianna, terlalu sibuk dengan kehadirannya di kastil. Mereka tidak menyadari bahwa aku sudah mengirimkan pasukan bayaran untuk menyerang dari luar."

Grey menyesap tehnya perlahan, menikmati rasa pahit yang menyebar di lidahnya.

"Ku harap Arvos membantai sebagian pasukan keluarga Sienta. Wilayah luar yang mereka jaga bukanlah tempat sembarangan—penjaganya sangat ketat. Tapi dengan pengalihan Bibi Gianna, mereka lengah."

Ia meletakkan cangkirnya di atas meja kecil di sampingnya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu.

"Tapi kenapa aku tidak menghancurkan keluarga Sienta lebih cepat?"

Grey terdiam. Pikirannya tiba-tiba melayang pada Keilla—wajahnya yang dingin, senyumnya yang dipaksakan, dan pengkhianatan di bawah pohon sakura.

"Aku masih ragu menghancurkan keluarga Sienta dan melihat Keilla menangis sedih," akunya dalam hati, rasa sakit menusuk dadanya. "Meskipun dia mengkhianatiku, meskipun dia memilih pria lain..."

Ia menggenggam erat lengannya sendiri, mencoba menahan emosi yang mulai muncul.

"Ah, lupakan saja. Dia juga berkhianat. Jadi untuk apa aku kasihan?"

Grey menghela napas panjang, lalu menghilangkan semua perasaannya. Ia menutup matanya sejenak, dan ketika membukanya, matanya kembali kosong dan datar.

"Dendam lebih penting daripada cinta," pikirnya tegas. "Keluarga Sienta harus hancur."

Ia kembali bersikap biasa, tertawa ringan saat Gran melontarkan lelucon. Wajahnya cerah, matanya berbinar, dan ia tampak seperti pemuda bahagia yang menikmati kebersamaan keluarganya.

Namun, saat tidak ada yang sadar...

Grey tersenyum kecil. Senyum yang hanya bisa ia lihat sendiri.

"Semuanya berjalan tanpa kendala."

Di kejauhan, di luar wilayah Ragonves, Arvos Eight dan pasukan bayarannya mulai bergerak di bawah kegelapan malam. Pedang mereka berkilau di bawah cahaya bulan, siap menebas siapa pun yang menghalangi jalan mereka.

---

Di Ruang Belakang - Ressa Mengamati

Di balik pintu ruang tamu, Ressa Narvieta berdiri diam. Ia tidak terlihat oleh siapa pun, tetapi ia melihat semuanya.

Matanya yang cokelat keemasan tertuju pada Grey—pemuda yang tertawa bersama keluarganya, tetapi di matanya ada kekosongan yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Tuan Grey..." gumam Ressa pelan. "Apa yang kau sembunyikan?"

Ia melihat senyum Grey, mendengar tawanya, dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Dia berpura-pura," sadar Ressa. "Dia sangat pandai berpura-pura."

Ressa menggenggam erat ujung celemeknya, hatinya berdebar.

"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum semuanya terlambat."

Ia berbalik dan pergi dengan langkah pelan, meninggalkan Grey yang masih tertawa bersama keluarganya.

Di ruang tamu, Grey menoleh sekilas ke arah pintu. Matanya menyipit.

"Ressa..." pikirnya. "Kau melihat sesuatu, bukan?"

Namun, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum dan kembali menikmati malam bersama keluarganya.

Malam semakin larut, dan rahasia-rahasia mulai terungkap satu per satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!