NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : LENCANA DI DEPAN GUA

Daging ular spiritual ternyata memiliki tekstur yang tidak ada bandingannya dengan hewan laut biasa.

Tabib Hua Yuan yang pertama kali mengangkat potongan dagingnya ke hidung untuk dicium, kemudian menganggukkan kepala dengan ekspresi seorang profesional yang baru mengonfirmasi diagnosis yang sudah dia duga. "Qi-nya masih tersimpan di dalam serat dagingnya," katanya kepada siapa pun yang mau mendengar. "Makhluk tingkat enam yang hidup di lingkungan seperti ini, qi-nya sudah meresap sampai ke otot. Makannya pelan-pelan. Biarkan tubuh menyerap."

Tianbao sudah mengambil gigitan keduanya sebelum kalimat itu selesai. Ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang tidak punya nama yang tepat selain kaget yang menyenangkan. "Ini enak sekali."

"Pelan-pelan, kataku."

Tianbao tidak memperlambat kecepatan makannya.

Api unggun yang mereka buat dari kayu-kayu hutan terdekat cukup besar untuk memanggang potongan daging yang Zhao Feng dan Sun Li tangani dengan efisiensi dua orang yang ternyata tidak asing dengan aktivitas memasak di lapangan. Hua Ling membantu menata potongan-potongan yang lebih kecil di atas batu panas di sisi api, dan hasilnya adalah aroma yang sangat tidak sesuai dengan pemandangan di sekitar mereka, dua bangkai ular raksasa yang tergeletak di antara pohon-pohon.

Sementara Haifeng duduk dengan lutut ditekuk, sepiring daun daging di tangannya, matanya mengamati kilatan riak di bilah Pedang Samudera yang sudah kembali tenang. Manfaat kultivasi dari daging itu mungkin tidak akan banyak berarti baginya yang tingkat nol, tapi Hua Yuan bilang tetap ada efek penguatan tubuh yang tidak bergantung pada tingkat. Cukup sebagai alasan untuk makan.

Lalu dipojokan sana, Ma Chao masih berselimut dengan kain yang entah dari mana asalnya, duduk terpisah dari kelompok, matanya sesekali bergerak ke arah bangkai ular dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa traumanya belum selesai memproses semua yang terjadi tadi.

Lantas Sun Li melemparkan potongan daging matang ke pangkuannya. "Makanlah."

Ma Chao tidak bergerak.

"Ma Chao."

"Aku masih bisa merasakan getarannya," kata Ma Chao ketakutan. "Saat tanah bergetar waktu ular itu jatuh. Aku masih bisa—"

Tamparan ringan di belakang kepalanya memotong kalimat itu.

"Berhenti berlebihan," kata Sun Li. "Kau masih hidup. Fokus pada itu saja."

"Mudah bagimu bicara begitu, kau tidak hampir—"

"Kau tahu siapa yang hampir?" Sun Li duduk di sampingnya dengan piring sendiri. "Haifeng. Anak tingkat nol itu tersabet ekor ular dan terlempar ke pohon, lalu bangkit dan membelah ular itu dari kepala sampai ekor. Sementara kau yang tingkat empat, masih berselimut seperti ulat yang belum jadi kupu-kupu. Dan omong-omong, taring ular spiritual itu bisa dijual mahal di apoteker mana pun. Kalau kau mau, ambil sebelum kita pergi."

Ma Chao berhenti menggigil. Matanya bergerak ke arah bangkai ular sebelum ke Sun Li dan berpindah lagi ke bangkai ular.

Tiga puluh detik kemudian, Ma Chao sudah berdiri dan berjalan ke arah bangkai dengan sempoyongan tapi sangat bertujuan.

Sun Li memandangnya sambil mengunyah. "Itulah semangat yang benar."

Setelah taring itu berhasil dilepas dengan pisau kecil yang Ma Chao bawa di sakunya, dia berbalik ke arah Haifeng dan menjatuhkan dirinya ke lutut sebelum siapa pun sempat mencegahnya.

"Tuan Muda Haifeng," katanya, kepalanya hampir menyentuh tanah. "Saya berhutang nyawa. Saya tidak akan pernah—"

"Ayo berdiri." Haifeng menggaruk belakang kepalanya dengan tangan yang bebas, ekspresinya campuran antara tidak nyaman dan tidak tahu harus menaruh pandangan ke mana. "Aku hanya melakukan yang perlu dilakukan. Kita semua dalam bahaya yang sama."

Ma Chao tidak berdiri karena kepalanya justru semakin dekat ke tanah.

Lantas Haifeng menatap Tianbao dengan ekspresi minta tolong. Tianbao malah balik menatapnya dengan ekspresi sedang menikmati pemandangan ini dan tidak berencana membantu.

Adapun Bai Mei menyipitkan matanya.

Dia duduk sedikit terpisah dari kelompok utama, makan dengan cara yang sangat terkontrol untuk seseorang yang sehari-hari tidak kesulitan menemukan makanan, dan matanya bergerak di antara Ma Chao yang bersujud, Haifeng yang canggung, dan Zhao Feng dan Sun Li yang untuk pertama kalinya tidak berbicara dengan nada meremehkan saat nama Haifeng disebut.

Sesuatu yang sudah dia rencanakan dengan sangat rapi tadi menjadi sedikit lebih rumit dari yang seharusnya.

Menyadari ada yang janggal, lantas Panglima Qinghan berdiri.

Langkah perempuan itu ke arahnya sangat terukur dengan berat yang berbeda dari langkah orang yang sekadar berjalan. Qinghan pun berhenti tepat di depan Bai Mei dengan jarak yang cukup dekat untuk memastikan bahwa percakapan ini tidak perlu didengar orang lain, tapi cukup terbuka untuk dilihat siapa pun yang mau melihat.

"Kau tahu di mana ular-ular itu berada sebelum kita sampai di sana," kata Qinghan.

Bai Mei mengedipkan matanya dengan sangat sempurna, campuran antara terkejut dan tersinggung yang terlatih dengan baik. "A-a-aku tidak tahu apa yang Nona Wei maksudkan. Aku juga hampir mati tadi."

"Hampir." Qinghan menekankan kata itu dengan cara yang terasa seperti ujung pisau. "Sementara Ma Chao benar-benar dimakan."

"Itu tragedi yang sangat menyedihkan, dan aku—"

"Batu yang kau lempar ke semak-semak itu," kata Qinghan. "Kau tidak sedang memanggil Chen Mo. Kau melemparnya ke arah yang tepat untuk membangunkan makhluk yang memang sudah ada di sana."

Bai Mei membuka mulutnya hanya untuk tergantung di sana. Kemudian memilih ekspresi yang paling meyakinkan yang bisa dia produksi pada jarak ini. "Aku sungguh tidak mengerti tuduhan itu. Aku hanya melihat sesuatu bergerak di sana dan mengira itu Chen Mo. Apakah Panglima tidak percaya pada kata-kataku?"

"Tidak sepenuhnya."

Sungguh jujur untuk ukuran diplomasi.

Haifeng akhirnya menghampiri kakaknya dari sisi, meletakkan satu tangan di lengannya. "Kak. Tidak ada yang bisa kita buktikan sekarang, dan semua orang selamat."

Suara Haifeng tidak memaksa, tapi cukup untuk membuat Qinghan berpaling dari Bai Mei dan menatap adiknya. "Kita masih perlu mencari Chen Mo dan orang-orang lain."

Qinghan menatap Haifeng selama beberapa detik sebelum kembali menoleh ke Bai Mei.

"Kalau ada niat buruk yang kau rencanakan," katanya, "kau akan menyesal dengan cara yang tidak bisa diobati oleh tabib mana pun."

Bai Mei tidak menjawab, sementara Qinghan berbalik dan pergi.

Perjalanan akhirnya dilanjutkan ketika matahari masih belum terlalu rendah di langit.

Bai Mei berjalan di sisi Zhao Feng, suaranya sangat lirih tapi nadanya tidak menyenangkan. Sedangkan Zhao Feng merespons dengan satu atau dua kalimat, juga lirih, dan dari caranya menjawab terlihat jelas bahwa setidaknya sebagian dari antusiasme awalnya sudah terkikis oleh beberapa hal, termasuk ular yang lebih besar dari yang dia bayangkan, dan termasuk pemandangan seorang pemuda tingkat nol yang membelah makhluk tingkat enam dengan satu ayunan.

Pandangannya ke arah Haifeng yang berjalan di depan berbeda dari pandangan sebelumnya.

Sun Li malah lebih langsung dari itu. Ketika Haifeng hampir tersandung akar pohon dan hampir menjatuhkan kompas Dao-nya, Sun Li yang ada di dekatnya meraih benda itu sebelum jatuh dan mengembalikannya tanpa komentar sama sekali.

Bai Mei memandang semua itu dengan rahang yang mengencang. "Baiklah," bisiknya kepada dirinya sendiri. "Aku akan pulang dengan kantong paling penuh di antara semua orang yang pernah ikut ekspedisi bodoh ini. Dan tidak ada satu pun dari kalian yang akan bisa mencegahnya."

Hingga Qinghan tiba-tiba berhenti.

Tidak ada peringatan sebelumnya, tidak ada isyarat. Langkahnya berhenti dan semua orang di belakangnya memperlambat diri secara otomatis, karena berhentinya Qinghan tanpa penjelasan selalu berarti ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Di depannya ada mulut gua yang cukup lebar untuk dimasuki empat orang berdampingan. Batu-batu di sekitar mulut gua itu menunjukkan tanda-tanda yang tidak ada di bagian hutan mana pun yang mereka lewati tadi. Tumpukan bangkai binatang spiritual, beberapa ukuran sedang dan satu yang cukup besar, tersusun tidak rapi di sisi kanan mulut gua. Jejak-jejak sepatu yang berbeda ukuran tercetak di tanah lembab di depannya. Beberapa anak panah patah tertancap di tanah dan di celah batu.

Ada orang yang sudah lebih dulu sampai di sini. Lebih dari satu orang, dan mereka sudah di sini cukup lama untuk meninggalkan bekas sebanyak ini.

Lantas Qinghan berjongkok. Tangannya menyentuh sesuatu di antara akar pohon di tepi mulut gua, mengangkatnya, membaliknya di antara jari-jarinya.

Lencana kecil berlapis tembaga dengan ukiran naga Long Yuan di permukaannya. Tepinya bengkok di satu sisi, tanda sudah melewati sesuatu yang tidak ringan, tapi ukirannya masih jelas.

Qinghan mengenalinya tanpa perlu berpikir dua kali.

"Chen Mo." Suaranya tidak berubah nadanya, tapi ada sesuatu yang lebih personal dari sekadar penilaian taktis.

Panglima akhirnya berdiri, menyimpan lencana itu di dalam sakunya, dan menatap mulut gua yang gelap di depannya.

"Kita masuk."

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!