*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Kedua
Hari ke-37.
Pagi itu langit Jakarta mendung.
Evelyn bangun lebih awal dari biasanya. Ada firasat aneh yang nggak bisa dia jelasin.
Matthias udah berangkat ke proyek Jakarta Barat jam 6. Katanya mau cek pengecoran lantai 22 sebelum hujan turun.
Evelyn sempet ngomong, “Hati-hati ya.”
Matthias cuma ngangguk, cium keningnya sekilas, lalu pergi.
Sekarang jam 8.47.
Telepon Matthias nggak aktif.
Grup WA mandor proyek tiba-tiba sepi.
Evelyn nggak tahu kenapa dadanya sesak banget.
“Bu, telepon Pak Matthias nggak bisa,” kata sekretarisnya di telepon, suara panik.
“Kenapa? Ada apa?”
“Maaf Bu… ada crane jebol lagi. Tadi pagi. Pak Matthias ada di lokasi.”
Dunia Evelyn berhenti 3 detik.
“LOKASI SEKARANG!” bentaknya.
---
Jalan ke proyek macet. Hujan mulai turun.
Evelyn duduk di mobil, tangan gemetar pegang ponsel.
Nyonya Alina udah nangis di telepon. Om Dimas nggak bisa ngomong apa-apa.
Sampai di lokasi, ambulans udah parkir.
Polisi garis kuning. Pekerja duduk di pinggir, muka pucat.
Evelyn turun, lari.
“MATTHIAS!”
Seorang mandor narik lengannya.
“Bu, jangan masuk dulu! Bahaya!”
“GUE MAU LIHAT SUAMI GUE!”
Dia nyelinap lewat celah garis kuning.
Lumpur, besi bengkok, air hujan.
Dan di tengah semua itu—
Matthias tergeletak.
Bajunya robek, kepalanya berdarah, matanya merem.
Evelyn jatuh berlutut di sampingnya.
“Matthias! Bangun! Buka mata lo!”
Nggak ada respon.
Cuma napas lemah.
Paramedis dorong dia pelan.
“Bu, mundur! Kami harus bawa dia ke rumah sakit sekarang!”
Evelyn berdiri. Tangannya masih gemetar.
Dia naik ke ambulans.
Nggak peduli bajunya kotor. Nggak peduli hujan basahin rambutnya.
Di dalam ambulans, dia genggam tangan Matthias erat.
Dingin.
Dingin banget.
“Jangan ninggalin gue, Matthias. Denger gue? Lo janji nggak akan ninggalin gue.”
Nggak ada jawaban.
---
RS Pondok Indah.
Ruang IGD penuh.
Evelyn duduk di luar, lutut ditekuk, kepala di tangan.
Nyonya Alina datang 20 menit kemudian, lari sambil nangis.
Om Dimas menyusul, muka pucat.
Para direktur Virel Group mulai berdatangan.
Semua nanya, “Bagaimana keadaannya?”
Evelyn nggak jawab.
Dia cuma lihat pintu IGD.
Dokter keluar jam 10.12.
Muka serius.
“Operasi harus dilakukan sekarang. Ada pendarahan di kepala. Kami butuh tanda tangan keluarga.”
Evelyn langsung berdiri.
“Tanda tangan di mana?!”
“Di sini, Nyonya.”
Tangannya gemetar waktu tanda tangan.
Nggak peduli salah. Nggak peduli berantakan.
Yang penting Matthias hidup.
Pintu ruang operasi tertutup.
Lampu merah nyala.
Evelyn duduk lagi.
Kali ini dia nggak nangis.
Dia cuma tatap lantai, komat-kamit, “Jangan mati. Jangan mati. Jangan mati.”
---
Dua jam berlalu.
Rasanya kayak dua tahun.
Pintu operasi terbuka.
Dokter keluar, lepas masker.
Evelyn berdiri langsung.
“Bagaimana?!”
Operasi berjalan lancar. Pendarahan sudah berhenti. Tapi pasien belum sadar. Kami akan pindahkan ke ICU untuk observasi 24 jam.”
Evelyn lemas.
Tapi lega.
Dia ikut ke ICU.
Matthias terbaring di ranjang, selang infus, monitor bunyi pelan.
Wajahnya pucat. Tapi masih hidup.
Evelyn duduk di sampingnya.
Genggam tangannya.
“Lo denger gue, kan? Gue marah banget. Lo janji nggak akan ninggalin gue. Lo janji.”
Matthias nggak jawab.
Tapi monitornya bunyi stabil.
Nyonya Alina masuk, bawa sup.
“Na, makan sedikit. Kamu dari pagi belum makan.”
Evelyn menggeleng.
“Gue nggak laper.”
“Kalau kamu pingsan, siapa yang jaga dia?”
Evelyn akhirnya makan 3 sendok.
Itu aja udah susah.
---
Malam hari, ICU sepi.
Cuma ada suara monitor dan napas Matthias.
Evelyn tidur di kursi samping ranjang.
Dia mimpi aneh.
Mimpi dia di hari pertama pernikahan kontrak.
Matthias dingin. Jarak 1 meter. Kontrak di meja.
Dia bangun kaget.
Melihat Matthias masih di sana.
Hidup.
Dia pegang tangan Matthias lagi.
“Gue nggak mau balik ke hari pertama itu lagi, Matthias. Gue nggak mau.”
Jam 2 pagi, jari Matthias bergerak.
Pelan.
Evelyn langsung bangun.
“Matthias?”
Matanya terbuka. Samar.
“Evelyn…”
Suara itu serak. Pelan. Tapi nyata.
Evelyn langsung pencet tombol perawat.
“Dia sadar! Dia sadar!”
Perawat masuk, cek tekanan darah, cek pupil.
“Sadarnya stabil. Tapi jangan diajak ngomong banyak dulu.”
Evelyn mengangguk.
Dia duduk di pinggir ranjang, air mata jatuh pelan.
“Lo nakutin gue,” bisiknya.
Matthias senyum tipis.
“Maaf… nggak sengaja.”
Evelyn ketawa kecil, sambil usap air mata.
“Jangan janji kalau nggak bisa nepatin. Gue udah bilang kan?”
“Aku ingat.”
Mereka diem.
Tapi di ruangan itu, nggak ada takut lagi.
Cuma ada lega.
---
Pagi hari ke-38, berita kecelakaan kedua udah tersebar.
Hashtag #PrayForMatthias trending.
Tapi Evelyn nggak peduli.
Dia duduk di kursi ICU, kepala sandar di ranjang Matthias.
Matthias tidur. Stabil.
Nyonya Alina masuk bawa bubur.
“Dia akan baik-baik aja, Na. Tuhan tahu kamu udah cukup kuat.”
Evelyn mengangguk.
Dia lihat Matthias.
“Gue nggak peduli proyek, nggak peduli Virel Group. Gue cuma mau lo bangun dan marahin gue lagi karena gue nggak sarapan.”
Matthias nggak jawab.
Tapi jari tangannya genggam tangan Evelyn lebih erat.
---
Bersambung ..