NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTOLONGAN TENGAH MALAM

Malam semakin larut, jam di dinding ruang tengah sudah menunjuk angka sembilan. Di kamarnya, Arum masih duduk tegak di depan meja, mata dan pikirannya sibuk menatap layar laptop. Ide cerita sedang mengalir deras sekali, tangannya tak berhenti mengetik menyusun kata demi kata. Suasana hening dan sepi ini memang waktu favorit Arum untuk berkarya, tapi ada satu hal yang kurang: teman ngemil.

Jari-jarinya berhenti bergerak sejenak. Arum menguap pelan, lalu beranjak dari kursi menuju lemari kecil tempat ia biasa menyimpan persediaan camilan. Ia membuka pintu lemari itu, mengamati isinya dengan harap-harap cemas.

"Kosong...?" gumamnya kecewa.

Ternyata stok biskuit, keripik, dan cokelat yang biasa ia simpan sudah habis tak bersisa. Padahal kalau lagi nulis begini, rasanya ada yang kurang kalau gak sambil ngemil. Arum liat ke luar kamar, rumah terlihat gelap dan sunyi. Ayah dan Ibunya rupanya masih belum pulang dari kebun, urusan panen besar kemarin memang membuat mereka harus pulang sangat larut.

Arum berpikir sejenak, lalu mengambil ponselnya, berniat menghubungi Intan. Barangkali sahabatnya itu punya sisa camilan atau mau menemaninya sebentar. Namun baru saja pesan terkirim, balasan masuk dengan cepat:

"Maaf banget Rum, aku lagi nggak bisa kemana-mana, lagi packing pesenan yang belum selesai. Maaf ya :("

Arum menghela napas panjang. Tidak ada pilihan lain. Minimarket terdekat jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima menit berjalan kaki dari rumah. Tempatnya juga agak ramai dan terang. Arum memutuskan untuk pergi sendiri saja. Ia mengambil jaket tipis, memakaikan sandal, lalu berjalan keluar pagar rumah dengan langkah santai, berniat segera pulang begitu camilan sudah didapat.

Perjalanan pergi berjalan lancar. Arum mendapatkan camilan yang ia inginkan, membayangkan betapa nikmatnya nanti ia menulis sambil mengunyah biskuit cokelat itu.

Namun Saat jalan pulang melewati jalanan yang sedikit sepi dan diterangi lampu jalan yang remang, tiba-tiba langkah kakinya terhenti.

Dari arah samping, dua sosok laki-laki dengan penampilan acak-acakan dan tatapan tidak ramah tiba-tiba muncul dan memotong jalan Arum. Mereka berdiri menghadang jalan Arum.

"Waduh, cantik cantik keluar malem-malem sendirian aja, Mbak?" ujar salah satu dari mereka sambil tersenyum miring, matanya menatap Arum dari ujung kaki sampai kepala dengan tatapan yang membuat bulu kuduk meremang.

Arum mundur perlahan, tangannya erat menggenggam kantong plastik berisi camilannya, jantungnya berdegup kencang ketakutan. Wajahnya memucat.

"Ka-kalian mau apa? Minggir, saya mau pulang," jawab Arum terbata-bata, suaranya bergetar menahan takut.

"Pulang? Buru-buru amat sih? Mampir ngobrol dulu aja sama kita," sahut yang satu lagi, semakin mendekat dan mencoba meraih lengan Arum.

"Atau... dompet sama HP-nya kasih sini aja, nanti kami kasih lewat."

Arum makin panik. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Kakinya terasa lemas sekali. Ia sadar, tidak ada siapa-siapa di jalan ini selain mereka bertiga.

Namun di saat yang sama, tidak jauh dari sana, sebuah mobil hitam berjalan pelan melintasi jalan itu. Di dalamnya, Angkasa sedang menyetir dengan pikiran yang melayang. Ia sebenarnya baru saja selesai mengurus berkas-berkas di kantor cabang kota, dan memutuskan untuk berputar lewat jalan ini menuju rumah Pak Bimo.

Masih ada sedikit urusan dokumen yang belum selesai, dan Angkasa berniat menyelesaikannya malam ini juga supaya besok pagi sudah beres.

Namun pandangannya gak sengaja liat pemandangan yang membuat darahnya seketika mendidih. Di bawah tiang lampu itu, ia melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya sedang dikepung dua orang laki-laki. Wajah ketakutan itu... tidak salah lagi, itu Arum.

Tanpa pikir panjang, Angkasa langsung mengerem mendadak di pinggir jalan. Ia melompat keluar dari mobil, berlari secepat kilat menghampiri mereka, amarahnya memuncak luar biasa melihat gadis yang ia cintai dalam bahaya.

"SIALAN! MUNDUR KALIAN KALAU TIDAK INGIN LUKA!" suara berat dan menggelegar itu terdengar mengintimidasi di tengah keheningan malam.

Kedua preman itu dan Arum serentak menoleh. Arum yang tadinya hampir menangis karena ketakutan, matanya seketika membelalak melihat sosok tinggi besar yang berlari mendekat dengan raut wajah yang sangat marah namun juga penuh kekhawatiran. Itu Angkasa.

"Mas Angkasa..." bisiknya pelan.

Dua preman itu sempat kaget sejenak, lalu tertawa meremehkan saat melihat hanya ada satu orang yang datang.

"Eh, ada pahlawan datang nih. Minggir deh, nggak usah ikut campur urusan orang lain!" bentak salah satu preman, berusaha mengusir.

Tapi Angkasa tidak bergeming. Ia berdiri tegak di hadapan Arum, melindungi gadis itu sepenuhnya di belakang punggungnya. Tatapan matanya tajam, dingin, dan penuh ancaman.

"Katakan sekali lagi... mau apa kalian?" tantang Angkasa rendah.

Tak butuh waktu lama, perkelahian pun tak terelakkan. Kedua preman itu menyerang bersamaan, tapi Angkasa ternyata bukan orang biasa. Gerakannya lincah, cepat, dan terlatih. Ia menangkis serangan demi serangan dengan tenang, lalu membalas dengan pukulan dan tendangan yang kuat dan akurat.

Di bawah lampu jalan yang remang, terlihat jelas otot-otot lengannya yang menegang, dan tato aksara Jawa bertuliskan "Arum Sekarwangi" di lengan kanannya itu bergerak seiring gerakannya, seolah ikut bertempur demi melindungi nama yang tertulis di sana.

Arum hanya bisa diam terpaku di belakang, menutup mulutnya menahan teriakan, hatinya berdebar kencang antara takut dan kagum melihat keberanian Angkasa.

Hanya hitungan menit, kedua preman itu sudah terkapar kesakitan tak berdaya. Mereka sadar lawan mereka bukan orang sembarangan. Sambil mengerang kesakitan, mereka bangkit berlari pergi dari tempat itu, berjanji tidak akan kembali lagi.

Setelah suasana menjadi hening kembali, Angkasa langsung berbalik badan. Wajahnya yang tadi penuh amarah seketika berubah menjadi sangat khawatir dan lembut saat menatap Arum yang masih gemetar hebat. Ia mendekat, ingin memastikan keadaan gadis itu aman.

"Mbak Arum... kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanyanya cemas, suaranya terdengar panik.

Arum menatap wajah Angkasa. Wajah yang baru saja berjuang mati-matian demi menyelamatkannya. Rasa takut yang tadi melumpuhkannya, rasa lega karena selamat, dan rasa haru bercampur menjadi satu.

Tanpa sadar, seolah ada dorongan dari naluri terdalamnya, Arum melangkah maju dan langsung memeluk tubuh Angkasa dengan sangat erat. Kepalanya menempel kuat di dada bidang pemuda itu, mendengar detak jantungnya yang kencang namun menenangkan.

"Ma-mas Angkasa...hiks" isaknya pelan, tubuhnya masih gemetar.

Angkasa sempat kaget luar biasa. Tubuhnya kaku sejenak, tidak menyangka akan mendapatkan pelukan seerat itu. Namun begitu ia merasakan betapa ketakutannya Arum, betapa butuhnya gadis itu akan sandaran, rasa kaget itu hilang seketika. Perlahan, tangan-tangan besar dan kuat itu terangkat, lalu membalas pelukan itu dengan sama eratnya.

Tangan kanannya melingkar di punggung Arum, posisi tato aksara Jawa itu menempel persis di punggung gadisnya, seolah nama Arum sedang memeluk pemiliknya sendiri. Tangan kirinya mengusap lembut kepala Arum, berusaha menenangkan.

"Sudah... sudah aman... nggak ada apa-apa lagi," bisik Angkasa lembut di sela-sela telinga Arum, nadanya begitu meneduhkan.

"Saya ada di sini. Nggak akan ada yang nyakitin kamu lagi, percaya sama aku."

Detik-detik itu berjalan begitu lama, terasa damai dan penuh rasa di antara mereka berdua di bawah lampu jalan yang sepi. Namun perlahan-lahan, kesadaran Arum kembali pulih sepenuhnya. Ia sadar... ia sedang memeluk Angkasa. Sangat erat. Di jalan umum. Dan tidak mau melepaskannya.

Mata Arum membulat. Wajahnya yang tadi pucat karena takut, kini seketika berubah merah padam menahan malu yang luar biasa. Seperti tersengat aliran listrik, Arum langsung melepaskan pelukannya secara mendadak, lalu mundur selangkah dengan napas terengah-engah. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona sampai ke telinga.

"Ma-maaf! Maaf banget Mas Angkasa! Aku...aku nggak sengaja... tadi saking takutnya... aku... aku..." Arum terbata-bata, bicaranya jadi berantakan dan tak karuan karena gugup setengah mati. Ia tidak berani menatap mata Angkasa sama sekali.

Angkasa diam sejenak, menatap gadis itu yang terlihat lucu namun tetap menggemaskan meski baru saja mengalami kejadian menakutkan itu. Senyum tipis perlahan tersungging di bibir Angkasa. Ia tidak merasa keberatan sama sekali, malah hatinya terasa penuh dan hangat sekali.

Angkasa mendekat sedikit, lalu berbicara lembut.

"Nggak apa-apa, Mbak Arum. Saya ngerti... wajar kok kalau tadi kamu takut." ucap Angkasa pelan. Ia lalu mengambil kantong plastik berisi camilan yang sempat tergeletak di jalan, lalu mengulurkannya kembali ke tangan Arum.

"Ayo, saya antar pulang. Nggak aman kalau kamu jalan sendirian lagi malam begini."

Arum mengangguk pelan, masih menunduk malu tapi hatinya kini terasa aman dan nyaman sekali. Ia berjalan di samping Angkasa menuju rumahnya, jarak di antara mereka begitu dekat, dan sisa rasa hangat dari pelukan tadi masih terasa membekas di dada keduanya, menjadi rahasia indah yang baru saja tercipta di malam itu.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!