NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis / Tamat
Popularitas:36.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANGAT YANG MENEPIS RAGU.

Malam semakin larut menyelimuti mansion megah keluarga Akram. Jam dinding di ruang tengah telah berdenting menunjukkan pukul sepuluh. Melihat sang Nenek yang beberapa kali menyeka mata karena kantuk dan lelah perjalanan, Astuti segera memegang lembut pundak wanita tua itu.

"Mbah, sepertinya Mbah sudah sangat lelah. Ayo, biar Astuti antar ke kamar untuk istirahat," ujar Astuti penuh perhatian.

Ardiah yang sejak tadi mencari celah, langsung berdiri dengan sigap dari duduknya. "Eh, tidak usah, Mah. Biar Diah saja yang mengantar Nenek ke kamarnya."

Ardiah menoleh ke arah suaminya yang sedang asyik mengunyah sisa camilan. "Haikal, malam ini aku tidur di kamar Mbah saja, ya? Aku takut Mbah belum terbiasa dengan suasana kamar barunya dan merasa tidak nyaman kalau sendirian."

Mendengar penuturan Ardiah, kunyahan di mulut Haikal seketika terhenti. Binar jenaka di sepasang matanya langsung meredup, digantikan oleh gurat kekecewaan yang kentara. Ia menatap Ardiah dengan pandangan sayu yang tampak begitu sedih, bagaikan seorang anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.

Namun, mengingat kondisi nenek mertuanya yang memang sudah lansia, Haikal tidak ingin bersikap egois. Ia mengembuskan napas pendek lalu mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Ya sudah... kalau memang begitu maunya Kak Diah, aku izinkan. Jaga Mbah baik-baik, ya."

Ardiah mengangguk lega, lalu segera menuntun sang Nenek menuju kamar tamu luas yang terletak di lantai bawah. Begitu pintu kamar ditutup, Ardiah langsung merebahkan tubuhnya di sisi ranjang, bersiap untuk ikut memejamkan mata.

Namun, sang Nenek yang baru saja membenarkan posisi bantalnya justru menatap Ardiah dengan kening berkerut. "Nduk, kenapa kamu malah tiduran di sini?"

"Diah kan sudah bilang mau menemani Mbah tidur di sini malam ini," jawab Ardiah santai sembari menarik ujung selimut.

Nenek langsung duduk tegak, menepuk pelan kaki cucunya. "Tidak boleh begitu, Diah. Sekarang kamu kembali ke kamarmu di atas. Suamimu sendirian di sana."

"Tapi, Mbah..."

"Dengarkan Mbah, Nduk," potong sang Nenek dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ketegasan seorang orang tua. "Sebagai pasangan suami istri yang baru menikah, tidak boleh sering-sering pisah ranjang tanpa alasan yang syar'i. Tindakan seperti itu bisa menjauhkan keberkahan dan juga menutup pintu rezeki di dalam rumah tanggamu."

Nenek mengusap lembut kepala Ardiah yang kini terdiam. "Sudah menjadi kewajiban utama bagi seorang istri untuk menyenangkan hati suaminya. Pahalanya di mata Allah itu sangat besar, Nduk. Apalagi kalau seorang istri yang mendatangi dan meminta suaminya duluan dengan ikhlas, maka derajatnya akan didekatkan dengan pintu surga. Jangan biarkan suamimu tidur dengan hati yang gundul."

Ardiah terpaku di tempatnya, lidahnya mendadak kelu. Di dalam lubuk hatinya, rasa canggung dan ragu yang tersisa dari trauma masa lalu masih membayangi. Ia takut jika ia melangkah terlalu jauh, luka lama itu akan kembali terbuka. Namun, karena sang Nenek terus menerus mendesak dan menolak untuk ditemani, mau tak mau Ardiah bangkit berdiri dengan perasaan yang campur aduk.

Dengan langkah yang sangat pelan dan ragu, Ardiah menaiki anak tangga menuju kamar utama milik Haikal di lantai atas. Ia berdiri di depan pintu kayu jati tersebut selama beberapa menit, mengatur ritme napasnya yang mendadak tidak beraturan sebelum akhirnya memutar kenop pintu perlahan.

Cklek.

Haikal yang saat itu sedang bersandar di kepala ranjang sambil menatap langit-langit kamar dengan wajah lesu, langsung menolehkan kepalanya cepat. Sepasang matanya membelalak tidak percaya saat mendapati sosok Ardiah melangkah masuk ke dalam kamar.

"Kak Diah?" tanya Haikal, langsung membenarkan posisi duduknya. "Bukankah tadi Kakak bilang mau menemani Mbah tidur di bawah?"

Ardiah berjalan mendekati sisi ranjang dengan wajah yang memerah menahan canggung. Ia meraba ujung jilbabnya gugup. "Mbah... Mbah bilang dia tidak nyaman kalau ditemani tidur olehku. Dia menyuruhku kembali ke sini."

Mendengar alasan itu, senyum bahagia yang sangat lebar instan terbit di wajah tampan Haikal. Kesedihan yang menggelayutinya sejak tadi menguap begitu saja bak ditelan bumi. Dengan gerakan kilat, ia langsung membuka setengah selimut tebal yang menutupi tubuhnya, lalu menepuk-nepuk ruang kosong di kasur empuk yang berada tepat di sebelahnya.

"Wah, ternyata Mbah memang sekutu terbaikku!" seru Haikal dengan nada tengilnya yang telah kembali seratus persen. "Kalau Mbah tidak nyaman tidur sama Kak Diah, tenang saja, aku yang akan sangat nyaman tidur di sebelah Kak Ardiah. Apalagi kalau tidurnya sambil dipeluk, aku jamin mimpi buruk tentang masa lalu itu pasti akan langsung kabur menjauh."

Ardiah mendengus pelan, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya. Merasa tidak punya pilihan lain dan tubuhnya pun sudah teramat lelah, ia akhirnya naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di sisi Haikal. Dengan telaten, Haikal menarik selimut tebal itu hingga menutupi sebatas dada Ardiah, memastikan istrinya tidak kedinginan oleh embusan AC kamar.

Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Mereka berdua kini berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang sama dengan jarak yang hanya berkisar beberapa sentimeter.

Haikal memiringkan tubuhnya, menopang kepalanya dengan satu tangan sementara netra matanya menatap lekat profil samping wajah Ardiah. "Kak..."

"Hmm?"

"Bolehkah malam ini aku memelukmu lagi seperti waktu di desa?" tanya Haikal dengan suara yang mendadak merendah, terdengar begitu lembut dan penuh permohonan.

Ardiah tampak ragu, tubuhnya mendadak menegang kaku karena rasa canggung yang kembali menyerang.

Melihat reaksi tubuh istrinya, Haikal tidak memaksakan kehendak. Ia mengulas senyum paling tulus, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan pucuk kepala Ardiah. "Hanya pelukan hangat saja kok, Kak. Kak Diah tidak perlu khawatir atau takut. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu lebih dari ini jika Kakak memang belum siap."

Haikal menatap dalam-dalam manik mata Ardiah yang kini menoleh menatapnya. "Aku akan menunggu dengan segenap kesabaran yang kupunya, sampai istriku ini benar-benar sudah membuka hatinya dan menerimaku seutuhnya sebagai suamimu tanpa ada paksaan. Berbulan-bulan atau bertahun-tahun pun, aku akan tetap setia menunggu di sini, di sisimu."

Mendengar untaian kalimat penuh ketulusan dan pengertian yang begitu mendalam dari mulut Haikal, bagian terdalam dari hati Ardiah seketika terenyuh hebat. Segala benteng pertahanan dan rasa canggung yang ia agungkan sejak tadi seolah meleleh seketika oleh kehangatan jiwa pria di depannya ini.

Tanpa sepatah kata pun, Ardiah perlahan menggeser tubuhnya mendekat, membiarkan Haikal merengkuh tubuhnya ke dalam sebuah pelukan yang kokoh namun sangat protektif. Saat wajahnya bersandar di dada bidang Haikal dan mendengar detak jantung pria itu yang berdegup tenang, Ardiah memejamkan matanya dengan seulas senyuman tipis. Malam itu, di dalam dekapan hangat sang suami, rasa ragu di hatinya perlahan mulai terkikis, berganti dengan benih-benih keyakinan baru yang kian mengakar kuat.

1
sunaryati jarum
Jika sudah lahir jadi pangera,ya Banyak yang ikut merawat dan melayani
sunaryati jarum
Semoga sehat bayi dan ibunya
sunaryati jarum
Bu anak jika sudah berumah tangga jangan disetir atau ikut campur jika bukan untuk mendamaikan,saat kurang akur.Serta jangan asal nuduh sebelum ada bukti akurat.
Lia siti marlia
apa thorr udah tamat aja kok gak kerasa yah aku bacanya 🤭🤭🤭saking seru haru nya cerita haikal sama ardiah makasih thorr di tunggu judul barunya 🥰🥰🥰
Lia siti marlia
ais haikal bisa aja 🤭🤭🤭
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁
Lia siti marlia
bener bener yah c haikal.kalau aku jadi ardiah udah aku jambak kamu 😁😁😁
Lia siti marlia
ardiah yang mau lahiran aku yang deg degan 🤭🤭🤭🤗🤗
Lia siti marlia
cie ikal dapat jagoan🤗🤗 nanti jagoan mu kalau udah lahir kamu jamgam cemburu yah karna di duain istrimu 🤭🤭🤭
Danny Muliawati
rasain nenek tua angkuh d sombong kena lo
Jaya Fandi
mantap Haikal,,lgsg dasdes,,
Lia siti marlia
hahaha bagus haikal orang sombong harus di balas dengan cara elegan supaya tahu diri 😁😁😁
sunaryati jarum
Nanti sifat anaknya niru siapa,Ya.
sunaryati jarum
Selamat semoga sehat baby dan ibunya
Eliermswati
haikal nnti q ksh permen y jangan nangis oke😂😂😂 dah mau jd ayah sifatnya g berubah ikal q jd ikut ketawa😂😂smngt thor up nya
Lia siti marlia
udah mau jadi ayah masih aja manja ikal ikal 🤭🤭🤭
Lia siti marlia
selamat yah haikal ardian kalian akan jadi orang tua 🤗🤗🤗 🥺🥺🥺
Jaya Fandi
m7dah mudahan hamil anak jembar kal
Danny Muliawati
hamil spt nya yah
Anonim
Cepet² ya updatenya thor
sunaryati jarum
Sudah tumbuh kecebong kamu Haikal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!