NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: SAPU MAUT MAMA YUNI

Niat awal untuk pulang dan numpang mandi di rumah Aldi seketika buyar di tengah jalan. Begitu melewati jembatan bambu kecil yang membatasi area kompleks perumahan dengan aliran sungai hilir, Sendy mendadak menghentikan langkah kakinya. Matanya melirik ke arah aliran air sungai yang tampak jernih di bagian atas, mengalir tenang di antara bebatuan kali yang besar.

"Eh, Dul, Nan! Ngapain kita repot-repot ngotorin kamar mandi rumah si Bedul? Yang ada ntar Tante Baren ngamuk liat keramiknya berubah jadi ladang batubara," celetuk Sendy sambil menepuk-nepuk perut ikan lele tangkapannya yang sudah lemas. "Mending kita bablas mandi di sungai aja sekalian nyuci sempak! Tanggung nih badan udah kepalang basah, sekalian!"

Kenan yang badannya sudah gatal-gatal karena lumpur comberan yang mulai mengering langsung setuju tanpa pikir panjang. "Bener juga kata lu, Sen. Daripada gue digebukin bokap karena pulang bawa lumpur sepanci, mending gue bersihin di sini aja."

Aldi yang tadinya masih punya sedikit otak sehat akhirnya ikut tergiur melihat segarnya air sungai pagi itu. "Yaudah, bener juga kata lu berdua. Daripada kamar mandi rumah gue jadi korban kemarahan Kanjeng Ratu pagi-pagi, mending kita langsung nyebur aja di sini. Tapi bentar, kita gak bawa sabun sama baju ganti, Kunyuk!"

"Halah, gampang! Tuh di pos ronda deket jembatan kan ada sabun batangan sisa jatah ronda kemarin. Baju ganti mah ntar kita jemur bentar di atas batu juga kering disengat matahari pagi," sahut Sendy gercep. Gak pakai nunggu persetujuan, si jagoan lele itu langsung ngacir ke pos ronda, lalu kembali lagi sambil membawa sebuah bakul anyaman bambu berukuran sedang milik mpok warung yang biasa digeletakin di sana.

"Buat apaan lu bawa bakul, Nyuk? Mau jualan rengginang?" tanya Aldi heran.

"Ini buat nyari udang kecil-kecil di sela-sela lumut batu, Dul! Lu bayangin, ntar udangnya kita bawa pulang, terus kita suruh Bunda lu bikin bakwan udang yang garing, renyah, dicocol pakai sambal kecap... beuh! Surga dunia!" mata Sendy berbinar-binar membayangkan makanan gratis sesi kedua.

Mendengar kata 'bakwan udang', pertahanan iman Aldi runtuh seketika. "Yaudah, gas! Tapi lelenya ikat dulu di pohon, ntar lepas lagi lu nangis kejer."

Ketiga pemuda andalan bangsa itu akhirnya melompat turun ke tepian sungai yang agak dangkal. Tanpa rasa malu sedikit pun, mereka langsung menanggalkan pakaian kotor mereka hingga menyisakan celana dalam alias sempak masing-masing. Sendy memamerkan sempak bermotif bolong-bolong di pinggir akibat keseringan dipakai, Kenan dengan sempak polos sewarna kain kafan, sementara Aldi memakai sempak merah menyala—yang langsung diledek habis-habisan oleh Sendy sebagai bentuk jimat pelet buat memikat Bu RT Jasmine.

"Byuuurrr!"

Mereka bertiga melompat ke dalam air sungai yang segar, berteriak kencang melepaskan rasa penat setelah lelah dikerjai lumpur irigasi. Sambil menyelam membasuh sisa-sisa kotoran di rambut dan badan, Aldi, Kenan, dan Sendy mulai mengucek pakaian dan sempak mereka di atas batu kali besar, menggunakan sabun batangan kuning yang busanya melimpah ruah ditiup angin pagi.

Setelah badan mereka dirasa agak bersih dari aroma comberan, operasi perburuan udang pun dimulai. Aldi bertugas memegang bakul bambu di dalam air, sementara Kenan dan Sendy bertindak sebagai tim penggiring, mengobok-obok bagian bawah batu kali agar udang-udang kecil itu melompat masuk ke dalam jebakan bakul.

"Ayo, Sen! Giring ke kanan! Banyak nih udangnya pada ngumpul di balik lumut!" seru Aldi bersemangat, posisinya sudah nungging di tengah air dengan celana dalam merahnya yang kelihatan jelas dari atas permukaan.

"Sabar, Dul! Ini kaki gue kepeleset mulu di batu—"

"HEH!!! BOCAH-BOCAH SETAN!!! PADA NGAPAIN LU PADA DI SITU, HAH?!"

Sebuah lengkingan suara berfrekuensi tinggi memecah kesunyian pinggiran sungai. Suara itu begitu familier di telinga mereka, terutama di gendang telinga Kenan. Otomatis, ketiga pemuda itu langsung menegakkan badan mereka dengan gerakan kilat, menoleh ke arah tanggul atas sungai dengan wajah pucat pasi.

Di atas sana, tepat di ujung jembatan bambu, berdiri sesosok wanita paruh baya dengan kepala plontos yang ditutupi oleh ciput kain warna hitam. Beliau adalah Mama Yuni, ibunda kandung Kenan yang baru saja menyelesaikan masa pengobatan kemoterapi tahap pertamanya. Meskipun tubuhnya terlihat agak kurus, aura kegalakan seorang ibu rumah tangga sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Terlebih lagi, tangan kanan Mama Yuni saat ini sedang mencengkeram erat sebuah sapu lidi tebal—tipe sapu lidi penggusur setan yang biasa dipakai buat membersihkan halaman rumah.

"M-Mama?!" gumam Kenan terbata-bata, nyawanya berasa mau terbang melihat ibunya sudah berdiri dalam mode God of War di atas tanggul.

Mama Yuni berkacak pinggang, napasnya naik-turun menahan dongkol. Matanya melotot tajam menatap ke tiga pemuda yang sedang berendam di air. "Kenan! Aldi! Sendy! Mama cariin kalian dari tadi di lapangan kerja bakti, katanya kalian bertiga ke saluran irigasi! Eh, dicariin ke sini malah pada nungging-nungging gak jelas cuma pakai sempak! Mana itu si Sendy sempaknya bolong lagi! Si Aldi pakai sempak merah menyala kayak mau nyari tumbal! Gak punya kemaluan apa lu pada?!"

Sendy yang merasa namanya disebut langsung reflek menutupi bagian belakang celananya menggunakan bakul bambu milik Aldi. "Eh... anu, Tante Yuni... ini kita lagi... lagi terapi air sungai buat melancarkan peredaran darah, Tante! Sumpah, bukan main-main!" ngeles Sendy dengan suara bergetar.

"Terapi matamu peyang! Buruan naik lu semua! Malu-maluin komplek aja dilihat orang lewat!" omel Mama Yuni sambil mengayun-ayunkan sapu lidinya ke udara, membuat suara angin yang cukup mengerikan. "Kenan! Aldi! Sendy! Ayo naik semua atau Mama seret kalian satu-satu pakai sapu ini?! Apalagi kamu, Aldi, kamu itu Ketua Karang Taruna kok malah ikut-ikutan sesat memimpin ritual sempak di kali?!"

"I-iya, Tante! Iya! Ini kita naik, ampun, Tante!" jerit Aldi ikut panik setengah mati.

Dengan gerakan secepat kilat, Kenan, Aldi, dan Sendy langsung meraih celana panjang mereka yang masih basah kuyup. Mereka memakainya asal-asalan tanpa sempat dikancing, lalu merangkak naik ke atas tanggul sungai dengan gerakan kepiting karena takut kena sabetan sapu maut milik Mama Yuni.

Begitu sampai di atas, ketiga bujangan itu berbaris rapi seperti prajurit yang sedang dihukum. Kepala mereka menunduk dalam, kondisi tubuh mereka basah kuyup, menggigil kedinginan, sambil memegangi pakaian basah masing-masing di depan dada untuk menutupi tubuh mereka.

Mama Yuni menatap mereka bertiga satu per satu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan menyipit tajam. Namun, begitu matanya tertuju pada wadah kotak makan plastik dari Bu Baren yang diletakkan Kenan di dekat tiang jembatan, gurat kemarahan di wajah Mama Yuni perlahan memudar, digantikan oleh hela napas panjang yang sarat akan rasa haru.

Beliau menurunkan sapu lidinya, lalu mengetuk kepala Kenan, Aldi, dan Sendy bergantian menggunakan gagang kayu sapu secara pelan. "Kamu itu ya... bikin Mama jantungan aja pagi-pagi. Mama nyariin kalian tuh sebenarnya mau ngasih tahu, tadi Tante Baren datang ke rumah nganterin sayur lagi. Ini kalian malah kelayapan di kali."

Mama Yuni kemudian menatap Aldi dan Sendy dengan pandangan yang melembut. "Kalian berdua juga, Aldi, Sendy. Makasih ya udah nemenin dan jagain Kenan terus dari kemarin. Tapi tolong, Mas Aldi, kamu kan ketuanya, besok-besok kalau mau mandi di kali, minimal pakailah celana yang bener. Jangan pamer sempak merah begitu di depan umum, ntar dikira warga ada pesugihan tuyul raksasa peliharaan RT 04!"

"Hahaha! Siap, Tante Yuni! Maaf ya," sahut Sendy cengiran, sementara Aldi hanya bisa menutup mukanya dengan kaos basah karena menanggung malu tingkat internasional di depan ibu sahabatnya sendiri.

"Yaudah, buruan pada pulang ke rumah Aldi sana, pakai baju yang bener! Ntar jam delapan kalian bertiga harus balik lagi ke lapangan buat kerja bakti, Pak RW udah nanyain itu motor gerobak kecamatan ditaruh di mana," perintah Mama Yuni akhirnya memberikan ampunan. Beliau membalikkan badan, berjalan kaki kembali menuju area kompleks perumahan sambil menenteng sapu lidinya dengan wibawa yang luar biasa.

Setelah punggung Mama Yuni menjauh dan hilang di belokan gang, Aldi, Kenan, dan Sendy langsung ambruk duduk di atas lantai jembatan bambu secara bersamaan. Mereka saling bertukar pandang sebelum akhirnya tawa riuh mereka kembali pecah, menggelegar memenuhi keheningan pinggiran sungai hilir pagi itu.

"Sumpah, Dul... nyawa gue berasa copot pas liat nyokap lu bawa sapu lidi legendaris itu," ujar Sendy sambil mengusap dadanya yang masih berdegup kencang ke arah Kenan.

"Lu sih! Pakai ide mandi di kali segala! Mana si Aldi beneran ikutan lagi!" balas Kenan tertawa puas sambil melempar baju basah ke muka Sendy.

Aldi berdiri sambil merapikan bakul bambunya yang ternyata di dalamnya sudah terisi sekitar sepuluh ekor udang kecil yang menggelepar pasrah. "Udah, gak usah banyak omong lagi lu pada. Yang penting emak lu gak stroke ya, Nan, liat kelakuan kita. Ayo gercep balik ke rumah gue, kita jemur baju sekalian minta Bunda gorengin ini udang mini sama lele dajjal tadi. Sebelum jam delapan kita bertiga harus udah rapi di pos ronda, petualangan kita bareng ibu-ibu ghibah dan rapat gabungan si kembang desa Irene siang nanti masih panjang!"

Dengan langkah sergap dan sisa-sisa tawa yang membekas, ketiga pemuda tangguh RT 04 itu melangkah mantap kembali ke rumah Aldi, bersiap menghadapi sisa hari Sabtu mereka yang dipastikan akan jauh lebih ramai, gila, dan penuh kejutan tak terduga.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!