💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Delulu Tingkat Dewa
"Jangan tinggalkan aku, suamiku!"
Tangisan dramatis memenuhi kamar kos sempit berukuran tiga kali empat meter itu. Di atas kasur yang sudah miring sebelah, seorang perempuan dengan rambut berantakan sedang tengkurap sambil menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Air mata hampir keluar dari matanya.
Bukan karena sedih.
Tapi karena terlalu menghayati drama Cina murahan berjudul Suami Kuliku Ternyata CEO.
"ASTAGA... AKU TAHU! AKU SUDAH TAU DARI EPISODE DUA KALAU DIA ITU CEO!" teriak Lusi sambil menunjuk layar ponselnya seperti komentator sepak bola.
Di layar, pemeran utama pria baru saja membuka jas lusuhnya dan memperlihatkan identitas asli sebagai pewaris perusahaan raksasa.
Lusi langsung berguling di kasur.
"Kenapa hidupku gak kayak gini sih? Minimal ketemu pemulung ganteng kek... Nanti ternyata pemilik mall se-Asia Tenggara." Dia mendesah panjang lalu membuka kolom komentar.
Jarinya bergerak cepat.
“Kalau aku jadi pemeran utama wanita, dari awal udah kuajak nikah.”
“CEO kayak gini gak mungkin nyasar ke hidupku. Yang nyasar paling tukang galon.”
“Ya Tuhan... kirim satu CEO dingin untukku. Satu aja. Bekas juga gak apa-apa.”
Setelah puas berhalu, Lusi memeluk guling kusam motif stroberi miliknya.
Tubuhnya mager total. Olahraga terakhir yang dia lakukan mungkin adalah mengejar diskon mi instan di minimarket bulan lalu.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun. Pengangguran, single, tabungan menyedihkan, karir nihil, dan masa depan... yah, bahkan aplikasi ramalan nasib pun mungkin menyerah membaca hidupnya.
Namun meski hidupnya mengenaskan, kemampuan berhalunya berada di level dewa.
Tiba-tiba--- TING!
Notifikasi media sosial muncul di layar.
Lusi mengangkat alis malas. Awalnya dia ingin mengabaikan, sampai matanya menangkap nama yang muncul.
Nama yang sangat familiar. Nama yang dulu pernah memenuhi sebagian masa mudanya.
Arga Wijaya.
Mantan pacarnya.
Jantung Lusi sedikit tersentak. Dengan ragu, dia membuka notifikasi itu. Seketika sebuah foto memenuhi layar.
Gaun putih mewah, gedung pernikahan megah penuh lampu kristal, karpet merah, dan di tengah semuanya... Arga berdiri gagah dengan jas mahal sambil merangkul seorang wanita cantik berwajah elegan.
Senyuman mereka terlihat begitu sempurna, caption-nya sederhana.
"Akhirnya menemukan rumah terbaik untuk pulang."
Sunyi.
Lusi menatap layar itu beberapa detik. Lalu---
"HAH?!" Dia langsung duduk tegak.
"DIA?! NIKAH?!!" Jarinya gemetar memperbesar foto.
"WOI?! GEDUNGNYA BISA BUAT ACARA WISUDA SATU FAKULTAS!" Lusi menatap wajah pengantin wanita itu lama sekali. Cantik, elegan, kulit putih bersih, tubuh ramping.
Aura orang kaya terpancar bahkan hanya dari cara tersenyumnya. Lusi refleks melihat pantulan dirinya di layar hitam ponsel.
Kaos kebesaran yang menyembunyikan tubuh yang sedikit berisi, rambut seperti sarang burung gagal panen, dan wajah kusam karena begadang nonton dracin sampai subuh.
"..." Yah kalah telak sih.
Dadanya terasa panas.
Panas sekali.
Seperti mi instan kuah level neraka yang pernah dia makan saat diskon. Lusi menggigit guling sambil menatap foto pernikahan itu lagi.
"Ini nikah apa launching kerajaan sih?" Dia memperbesar dekorasi gedung.
Lampu gantung kristal, meja bunga mahal, gaun pengantin yang mungkin harganya bisa buat bayar kos dua tahun.
"Astaga... Bahkan bunga di situ lebih mahal daripada laptopku." Namun semakin lama dilihat, semakin aneh rasa di dadanya.
Awalnya kesal.
Lalu iri.
Lalu...
Pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang berat, Lusi menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong mengarah ke langit-langit kamar kos yang mulai menguning.
Dulu... dia pernah menjadi bagian dari hidup Arga. Bahkan pernah berpikir mereka akan menikah. Waktu kuliah, Arga bukan siapa-siapa.
Mereka sama-sama mahasiswa jurusan IT yang sering begadang mengerjakan proyek sampai pagi. Makan mi instan berdua sudah terasa romantis waktu itu.
Arga dulu sering berkata... "Kalau aku sukses nanti, orang pertama yang bakal aku bahagiakan itu kamu."
Kalimat yang dulu membuat hati Lusi meleleh.
Lucunya, sekarang malah terasa seperti bahan lawakan pahit. Karena pada akhirnya, saat Arga mulai sukses dan lingkaran pertemanannya berubah... Lusi justru menjadi orang yang paling memalukan untuk diakui.
Dia masih ingat jelas hari itu.
Hari ketika Arga memperkenalkannya kepada teman-teman kantornya.
Orang-orang berpakaian mahal. Berbicara soal investasi, startup, saham, dan bisnis. Sedangkan Lusi... Bahkan gugup memegang garpu.
Salah satu wanita di sana tertawa kecil sambil berkata. "Pacarmu lucu ya, Arga. Polos banget."
Kalimat biasa.
Namun cara mereka memandangnya seolah dia makhluk dari dunia berbeda, dan yang paling menyakitkan... Arga tidak membelanya.
Pria itu hanya tertawa kecil.
Malu.
Seakan keberadaan Lusi memang sesuatu yang memalukan. Tidak lama setelah itu hubungan mereka berakhir. Alasannya sederhana.
"Kita sudah berbeda dunia."
Sampai sekarang, kalimat itu masih seperti duri kecil yang tertancap di hatinya. Lusi menghela napas panjang lalu menepuk pipinya pelan.
"Udah lah. Mau nangis juga gak bakal dapet cashback." Dia bangkit malas dari kasur lalu berjalan ke meja kecil di sudut kamar.
Sebuah laptop tua penuh stiker usang tergeletak di sana. Laptop itu sudah sangat mengenaskan-- Bodi retak, keyboard beberapa huruf hilang, kipasnya berbunyi seperti motor mau rusak. Namun benda itu masih bertahan hidup dengan keras kepala... Persis seperti pemiliknya.
Lusi menekan tombol power.
Laptop itu loading sangat lama sampai dia sempat mengambil air minum dulu. "Ayo... Jangan mati sekarang. Kita miskin bareng-bareng dulu ya."
Beberapa detik kemudian layar akhirnya menyala. Lusi langsung membuka email, matanya penuh harapan kecil. Mungkin ada panggilan interview. Mungkin ada balasan HR, mungkin---
Kosong.
Tidak ada apa pun.
Selain promo pinjaman online dan diskon makanan.
Senyum kecil di wajahnya perlahan menghilang. Sudah berbulan-bulan dia melamar kerja ke banyak perusahaan IT.
CV diperbaiki berkali-kali, portofolio diperbarui, sertifikat ditambah. Bahkan dia sampai ikut kursus online murah sambil berharap nasibnya berubah.
Namun hasilnya tetap sama, sepi, tidak ada jawaban, tidak ada kesempatan. Seolah seluruh perusahaan sepakat mengabaikan keberadaannya atau seolah dia adalah orang jahat yang sudah di blacklist dari tiap perusahaan.
Dan itu melelahkan.
Sangat melelahkan.
Ruangan kecil itu menjadi sunyi.
Hanya suara kipas laptop tua yang berisik menemani dirinya. Lusi duduk diam di kursi plastik sambil menatap inbox email kosong.
Kosong.
Lagi.
Dan entah kenapa, kali ini rasa sesak yang tadi dia tekan mulai sulit dibendung. Dia memejamkan mata sebentar lalu tertawa kecil.
"Hebat banget hidupku."
Umur dua puluh delapan tahun, lulusan universitas ternama jurusan IT, IPK cukup bagus, tidak pernah terlibat kriminal, tidak pernah aneh-aneh. Namun hidupnya terasa seperti karakter NPC gagal berkembang.
Teman-temannya sudah menikah.
Ada yang kerja di perusahaan luar negeri, ada yang jadi programmer sukses, ada yang buka startup. Sedangkan dia?
Masih rebutan colokan listrik di kamar kos. Lusi menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya kosong, kadang dia benar-benar tidak mengerti.
Kenapa tidak ada satu pun perusahaan yang menerimanya?
Awalnya dia berpikir mungkin karena kurang pengalaman, lalu dia memperbaiki portofolio. Masih gagal? Dia belajar skill baru, masih gagal? Melamar lagi, ditolak lagi...
Sampai lama-lama muncul pikiran yang tidak ingin dia pikirkan.
Mungkin... Ini ada hubungannya dengan masa lalunya dulu. Dengan orang-orang yang pernah dia kenal, dengan hubungan yang hancur secara buruk, dengan seseorang yang sekarang sedang menikah mewah di gedung megah.
Lusi mengacak rambutnya kasar. "Ah sudahlah!"
Dia berdiri lalu berjalan mondar-mandir di kamar, kalau dipikir terus dia bisa gila. Akhirnya seperti biasa... Otaknya mulai kabur ke dunia halu.
Lusi menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Menatap langit-langit, lalu mendesah dramatis.
"Ahh... Andai saja aku bertemu CEO yang pura-pura jadi pemulung." Matanya mulai berbinar.
"Nanti aku bantu dia karena kasihan, terus ternyata dia pewaris perusahaan terbesar, lalu dia jatuh cinta sama aku, terus bilang--"
Lusi langsung mengubah suaranya menjadi berat.
"Wanita, mulai hari ini kartu hitam ini milikmu." Dia langsung berguling di kasur sambil cekikikan sendiri.
"Terus mantanku datang, kaget lihat aku turun dari mobil mewah." Kini fantasinya semakin liar.
Dia membayangkan dirinya memakai gaun mahal, datang ke pesta elit. Semua orang tercengang melihat kecantikannya, mantan pacarnya menyesal, istri mantannya iri, dan CEO dingin super tampan berdiri sambil melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Istriku mudah lelah. Jangan ajak dia bicara terlalu lama."
"HEHEHEHE..."
Lusi menutup wajah dengan bantal.
Ya Tuhan, otaknya benar-benar tidak tertolong. Namun anehnya, semakin dia berhalu, semakin ringan dadanya. Fantasi absurd itu seperti pelarian kecil dari kenyataan hidupnya yang berantakan.
Karena di dunia nyata, tidak ada CEO tampan. Tidak ada keberuntungan mendadak. Tidak ada kisah cinta ajaib. Yang ada hanya kamar kos sempit, laptop tua, dan inbox email kosong.
Lusi menghela napas panjang, lalu bergumam pelan sambil menatap langit-langit. “Kalau hidupku ternyata cuma setting sebelum jadi tokoh utama sih gapapa, tapi lama banget development karakternya.”
Setelah mengatakan itu, dia tertawa kecil sendiri. Tidak tahu bahwa malam itu... Hidupnya benar-benar akan berubah.
***
Halo semuanya, kembali dengan karya baru author Anan. Semoga suka dan gak baca awalan atau setengah doang ya. Terimakasih ☺️🙏
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/