Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Rapat direksi sore itu menjadi ajang pertunjukan ketegangan yang lebih intens daripada film *thriller* kelas wahid. Arkan Mahendra duduk di kursi kepemimpinan dengan aura yang mampu membekukan cairan apa pun di dalam ruangan. Di seberang meja mahoni panjang, Dimas duduk dengan gaya santai yang disengaja, kakinya disilangkan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang menguji kesabaran.
Aku, sebagai bagian dari divisi pemasaran yang dipanggil untuk memberikan klarifikasi soal kampanye, duduk tepat di samping Arkan.
"Jadi," Dimas memulai dengan suara yang terdengar sangat tenang, "terkait proposal agensiku, bukankah lebih efisien jika kita melibatkan pihak luar yang memiliki perspektif berbeda? Aku merasa Arkan terlalu... subjektif dalam mengambil keputusan, terutama jika itu menyangkut departemen di mana istrinya bekerja."
Seluruh jajaran direktur saling pandang. Mereka takut pada Arkan, tapi mereka juga tidak ingin dianggap tidak objektif oleh pemegang saham lain. Dimas benar-benar tahu cara menekan tombol yang tepat.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil cangkir kopi espresso di hadapannya, menyesapnya sedikit, lalu menaruhnya kembali dengan gerakan sangat perlahan.
"Subjektif?" tanya Arkan dingin. "Dimas, kalau kamu ingin membahas efisiensi, mari kita bicara soal kerugian agensimu dalam tiga kuartal terakhir. Jika kamu ingin membantu perusahaan ini, mulailah dengan membenahi laporan keuanganmu sendiri, bukan dengan mencoba mengintervensi divisi yang kinerjanya sudah melampaui target tahunan."
Aku harus menahan senyum. Arkan tidak pernah memukul dengan tangan kosong; dia selalu menggunakan data.
"Oh, aku hanya khawatir, Arkan," Dimas membalas dengan seringai. "Konflik kepentingan adalah hal yang sensitif. Apalagi kalau nanti ada isu bahwa Naura mendapatkan perlakuan khusus..."
*PRANG!*
Sesuatu yang tak terduga terjadi. Saat Dimas sedang giat-giatnya memprovokasi, sebuah pergerakan tiba-tiba membuat cangkir kopi espresso Arkan tersenggol tanganku yang ingin mengambil dokumen. Cairan hitam pekat itu tumpah tepat di atas berkas proposal milik Dimas yang tergeletak di meja.
Bukan hanya berkasnya yang basah, tapi kopi itu juga menggenang tepat di bagian selangkangan celana bahan *branded* milik Dimas.
Keheningan seketika menyergap ruang rapat yang luas itu.
Dimas melompat berdiri, wajahnya yang tadi tenang berubah menjadi merah padam menahan kaget dan kesal. "Naura! Apa-apaan kamu?!"
Aku membelalak, wajahku pucat namun dalam hati aku hampir meledak menahan tawa. "Astaga, maafkan aku! Aku tidak sengaja! Tanganku tidak sengaja menyenggol cangkir kopi Mas Arkan!"
Arkan tidak bergerak sedikit pun untuk membantunya. Ia justru bersandar di kursinya, menatap noda kopi di celana Dimas dengan ekspresi yang sangat datar—bahkan terkesan puas.
"Hadi," panggil Arkan tanpa memalingkan wajah. "Berikan tisu pada Dimas. Sepertinya dia baru saja mendapatkan 'kehangatan' yang dia cari dalam rapat ini."
Hadi, yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah setenang air, melangkah maju sambil menyodorkan satu kotak tisu wajah dengan gaya yang sangat formal. "Silakan, Pak Dimas. Ini tisu terbaik yang kami punya. Mohon maaf atas insiden yang... tidak terduga ini."
Dimas menatap tisu di tangan Hadi, lalu menatap celananya yang kini memiliki bercak cokelat besar yang sangat memalukan, kemudian menatap Arkan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia sadar ia baru saja dipermalukan di depan seluruh dewan direksi.
"Aku akan kembali nanti," geram Dimas, mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar dengan gaya terpincang-pincang karena risih dengan celana basahnya.
Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat, suasana berubah drastis. Para direktur yang tadi tegang mulai menunduk, sibuk dengan dokumen mereka masing-masing agar tidak tertawa.
Arkan menoleh ke arahku. Aku masih menatapnya dengan perasaan bersalah yang dibuat-buat.
"Naura," bisiknya rendah, suaranya mengandung nada yang sulit diartikan. "Itu tadi... tindakan yang sangat tidak sengaja, kan?"
"Tentu saja," bisikku balik dengan senyum nakal. "Tanganku memang sering tidak terkendali kalau ada orang yang terlalu banyak bicara soal hal-hal yang tidak benar."
Arkan terdiam sejenak. Lalu, di balik meja rapat yang tertutup pandangan orang lain, tangannya merayap ke bawah meja dan menggenggam tanganku dengan erat. Ia mengusap jemariku dengan ibu jarinya, sebuah gestur posesif yang membuat jantungku berdegup kencang.
"Kerja bagus," bisiknya nyaris tak terdengar.
***
Malam harinya, di dalam apartemen yang tenang, kami baru saja selesai makan malam. Arkan sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, sementara aku menyesap teh hangat sambil membaca majalah bisnis.
"Tadi itu sangat berisiko," suara Arkan memecah keheningan. Ia menutup laptopnya dan menatapku dengan tatapan serius. "Dimas tidak akan berhenti di sini. Dia akan mencoba cara lain yang lebih kotor."
Aku meletakkan majalahku dan mendekat padanya. "Aku tahu. Tapi kita tidak bisa terus-terusan membiarkannya merasa bahwa dia punya kendali atas emosi kita."
Arkan menarikku untuk duduk di sampingnya. Ia membelai rambutku dengan lembut. "Aku tidak suka melihatmu terlibat dalam permainannya. Aku ingin kamu tetap aman, tetap di posisimu, dan biarkan aku yang berurusan dengan dia."
"Arkan," aku menatap matanya yang berwarna gelap itu. "Pernikahan ini milik kita berdua. Aku bukan pajangan yang harus disembunyikan di balik punggungmu. Jika Dimas ingin bermain, aku akan ikut bermain. Kamu tidak bisa melindungiku selamanya."
Arkan terdiam. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang membaca setiap inci jiwaku. Lalu, ia tersenyum—senyuman yang sangat manis, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selain aku.
"Terkadang aku lupa seberapa keras kepala istriku ini," ucapnya lembut. Ia mencondongkan tubuh, mengecup keningku cukup lama. "Baiklah. Tapi ada satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Jangan pernah mencoba melakukan 'diplomasi kopi' itu lagi tanpa sepengetahuanku. Aku punya rencana yang lebih... elegan untuk menghancurkan strateginya."
Aku tertawa. "Elegan seperti apa? Membeli agensinya lalu memecatnya?"
Arkan mengangkat bahu. "Itu salah satu opsi. Atau mungkin aku akan menantangnya di lapangan golf dan membuatnya kalah telak hingga dia tidak berani muncul selama setahun."
"Kamu benar-benar pria yang arogan, Arkan Mahendra," kataku sambil menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Dan kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat pria arogan ini kehilangan logika dalam hitungan detik," jawabnya pelan, tangannya melingkar di pinggangku, menarikku lebih dekat hingga tidak ada celah di antara kami.
Malam itu, di tengah heningnya apartemen, kami tidak lagi berbicara soal Dimas atau soal perusahaan. Kami hanya duduk berdua, menikmati kehangatan yang perlahan tumbuh di antara kami. Arkan, yang selama ini dikenal sebagai pria yang dingin dan kaku, perlahan mulai menunjukkan sisi manusiawi yang sangat rapuh namun sangat indah.
"Naura," bisiknya di tengah kesunyian.
"Ya?"
"Terima kasih. Untuk kopi tumpah itu tadi. Itu hal paling memuaskan yang pernah kulihat sepanjang tahun ini."
Aku tertawa keras. Tawa kami memenuhi ruangan, menghapus sisa-sisa ketegangan yang tertinggal dari hari yang panjang.
Tiba-tiba ponsel Arkan berbunyi. Ia melirik layar sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi sedikit kesal.
"Siapa?" tanyaku.
"Hadi. Dia bilang Dimas baru saja mengirim pesan ancaman lewat email perusahaan."
"Apa isinya?"
Arkan mendengus, lalu menyodorkan ponselnya padaku. Aku membaca pesan itu dengan saksama.
*'Aku punya foto kalian berdua saat pertemuan rahasia minggu lalu. Jika Arkan tidak segera mundur dari tender X, foto ini akan sampai ke meja wartawan besok pagi.'*
Aku menatap Arkan dengan wajah bingung. "Pertemuan rahasia? Kita tidak pernah bertemu siapa pun selain makan siang dengan Papa."
Arkan tersenyum dingin. "Dia mencoba menipu kita dengan editan foto murahan. Dia pikir dia bisa menakut-nakutiku dengan gertakan seperti itu?"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Sesuatu yang akan membuatnya menyesal telah lahir ke dunia," jawab Arkan dengan nada tenang yang sangat mengerikan.