NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Dingin,Tapi Tak Lupa Rasa

Bab 4: Dingin, Tapi Tak Lupa Rasa

Langkah kaki gua terasa berat tapi tetap mantap, menyusuri jalan tanah yang makin lama makin tertutup kegelapan.

Di samping gua, Carmelia berjalan sambil terus mencengkeram ujung belakang baju gua. Jari-jarinya kecil itu masih gemetar hebat. Rasa takut saat dikejar dan dikepung kawanan serigala tadi jelas belum hilang sama sekali dari pikirannya.

Gua sama sekali tidak berkata apa-apa. Wajah gua datar, sedatar dinding batu. Mata gua menatap lurus ke depan, tetap waspada, meski kemampuan Gluttony’s Sight tidak menunjukkan ada makhluk berbahaya apa pun di dalam radius lima puluh meter di sekitar sini.

Aneh rasanya. Biasanya, di jam-jam seperti ini hutan sudah penuh suara geraman, suara teriakan, suara makhluk yang sedang berburu atau diburu. Tapi sekarang? Sunyi senyap, seolah-olah seluruh penghuni hutan ini sudah kabur pergi entah ke mana.

Baru gua sadar alasannya.

Bau darah segar yang menempel di tangan, baju, dan tubuh gua pasca membunuh ketiga serigala bayangan tadi rupanya masih tercium sangat kuat. Sisa aura kebrutalan dan kekuatan yang gua keluarkan tadi membuat semua makhluk di sekitar sini tahu: ada pemangsa yang jauh lebih berbahaya daripada mereka yang sedang lewat. Jadi, mereka memilih bersembunyi dan tidak mau bertemu dengan gua.

"Kak... Kak Yudha..."

Suara Carmelia terdengar sangat lirih, hampir tidak terdengar. Pelan, ragu-ragu, seolah ia takut kalau bicara sedikit saja, gua akan marah atau kesal.

"Apa?" sahut gua singkat. Suara gua berat, dingin, sama sekali tidak ada nada ramah atau lembut sedikit pun.

"Tangan Kakak... masih berdarah. Pasti sakit sekali, ya?"

Ia menatap lengan kiri gua yang kainnya robek besar, terlihat jelas bekas gigitan dalam yang ditinggalkan serigala tadi. Darah di sana sudah mulai mengering, tapi bagi anak kecil seumurnya, luka seperti itu pasti terlihat sangat mengerikan dan menyakitkan.

Gua cuma melirik sekilas, lalu langsung membuang muka lagi ke arah jalan di depan.

"Biasa saja. Tidak terasa apa-apa," jawab gua datar.

Gua tidak berbohong. Luka digigit binatang buas sebesar itu? Buat gua, itu sama sekali tidak ada artinya.

Kalau dibandingkan dengan apa yang pernah gua rasakan di dunia lama, rasanya ini cuma seperti cubitan kecil saja di kulit. Tanpa sadar, pikiran gua langsung melayang kembali ke masa lalu yang paling gua benci, masa yang ingin sekali gua hapus dari ingatan tapi tidak akan pernah bisa hilang.

Ingatan tentang tiga minggu penuh di mana gua tidak makan apa pun yang layak masuk mulut. Di mana tubuh gua sudah begitu lemah sampai ia mulai "memakan" dirinya sendiri dari dalam untuk tetap bisa bertahan hidup.

Rasa perih di perut yang terasa seperti ada sesuatu yang terus mencabik-cabik, sampai gua sering muntah cairan kuning pahit karena perut gua sudah benar-benar kosong. Sampai pada titik di mana gua bahkan tidak punya tenaga sedikit pun untuk sekadar mengusir lalat yang terus beterbangan di wajah gua. Saat itu gua cuma bisa terbaring di atas tumpukan kardus basah, menunggu organ tubuh gua mati satu per satu sampai akhirnya gua ikut mati bersamanya.

Dibandingkan rasa perlahan sekarat seperti itu, digigit, dipukul, terluka fisik seberat apa pun rasanya sama sekali tidak ada apa-apanya. Air mata gua sudah habis ditangisi di malam sialan itu. Sekarang, yang tersisa di dalam dada gua hanyalah kekosongan, dan rasa benci yang dalam sekali terhadap dunia yang begitu tidak adil ini.

"Tapi... gara-gara menyelamatkan aku, Kakak jadi terluka..."

Carmelia menunduk dalam, kepalanya hampir menyentuh dada. Matanya mulai basah, air mata mulai menggenang lagi di sudut matanya.

"Aku selalu merepotkan semua orang. Di rumah pun, aku tidak bisa membantu apa-apa, malah cuma bikin Ibu makin repot saat dia sakit..."

Gua berhenti berjalan mendadak.

Carmelia tersentak kaget, tubuhnya mundur selangkah karena takut. Ia menatap gua dengan tatapan cemas, seolah-olah ia pikir gua akan marah besar padanya.

Gua menatap matanya dalam-dalam. Wajah gua tetap kaku, tidak ada senyum, tidak ada nada lembut. Hati gua sudah terlalu lama membeku, gua tidak tahu lagi caranya bersikap baik atau menghibur orang lain. Gua harus tetap berpikir jernih, tetap rasional, tidak boleh terbawa perasaan.

"Dengar," kata gua tegas, nada bicara gua keras dan jelas.

"Gua menyelamatkan kamu bukan karena gua mau jadi pahlawan, bukan karena gua baik hati, dan bukan karena gua kasihan sama kamu. Gua cuma ingin menyingkirkan binatang-binatang itu, dan kamu berguna buat gua sebagai petunjuk jalan. Jadi, jangan pernah merasa berutang nyawa, jangan merasa bersalah, dan jangan berharap gua melakukan itu cuma demi kamu. Paham?"

Ia mengangguk pelan, air matanya langsung jatuh menetes ke tanah.

"Satu lagi," lanjut gua, nada bicara gua sedikit melunak tapi masih tetap tegas.

"Kamu tadi berani masuk ke hutan yang berbahaya ini sendirian cuma buat cari obat buat ibumu. Orang yang benar-benar lemah tidak akan pernah berani melakukan hal sebegitu besarnya. Jadi, berhenti terus bilang kalau kamu tidak berguna atau lemah. Omongan itu cuma bikin gua tidak nyaman mendengarnya."

Tanpa menunggu ia menjawab apa pun, gua langsung berbalik badan dan kembali melangkah.

"Cepat jalan. Sebelum langit benar-benar gelap gulita dan makhluk malam mulai bergerak keluar sepenuhnya."

Tidak sampai setengah jam lagi, hutan lebat ini berakhir dan terganti oleh hamparan rumput dan ilalang yang luas. Di kejauhan, terlihat bayangan atap rumah kayu dan titik-titik cahaya lampu minyak yang mulai dinyalakan. Sebuah desa kecil di pinggir hutan.

Tempatnya terlihat sederhana, bahkan agak kumuh dan kotor, tapi setidaknya di sini ada kehidupan manusia, ada tempat berteduh, ada tempat berlindung dari bahaya malam.

Carmelia menuntun gua melewati jalan tanah yang sepi, sampai akhirnya kami berhenti di depan rumah kayu yang ada di bagian paling pinggir desa. Tepat saat kami sampai, pintu rumah itu terbuka keras-keras dari dalam.

"Carmelia?! Kamu ke mana saja, Nak?!"

Seorang pria keluar dengan wajah yang pucat pasi, wajahnya penuh cemas dan panik. Badannya kurus, bajunya sederhana dan sudah lusuh, matanya merah bengkak seolah sudah lama tidak tidur atau terus menangis. Tapi langkahnya langsung berhenti saat ia melihat gua yang berdiri tepat di belakang anaknya.

Ia mundur selangkah, matanya memandang gua dari atas sampai bawah dengan tatapan waspada dan takut. Bagi orang biasa, melihat orang asing dengan wajah dingin, mata tajam, dan baju penuh darah seperti gua pasti terlihat seperti penjahat atau orang berbahaya.

"A-Ayah..."

Carmelia langsung berlari masuk dan memeluk kaki serta pinggang ayahnya itu.

Pria itu langsung memeluk anaknya erat sekali, tapi matanya sama sekali tidak beralih dari gua. Di wajahnya terlihat jelas perasaan bercampur: takut, curiga, tapi juga bingung.

"Carmelia... siapa orang ini?"

Gua tidak membiarkan anak itu menjawab duluan. Gua melangkah maju dua langkah, membuat pria itu makin menegang dan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Tanpa basa-basi, tanpa nada sopan, gua melempar ikatan tanaman obat yang tadi gua bawa tepat ke arah tangannya.

"Itu obat buat istrimu," kata gua datar.

"Anakmu hampir mati dimakan serigala di dalam hutan cuma buat cari benda ini. Kalau kamu benar-benar ayah yang bertanggung jawab, jagalah dia dengan baik. Jangan biarkan anak sekecil ini harus bertaruh nyawa cuma karena kamu sendiri yang lalai atau tidak bisa menjaganya."

Mungkin terdengar kasar, mungkin terdengar tidak sopan. Tapi gua tidak suka berbasa-basi, tidak suka bicara manis-manis yang tidak ada gunanya. Dunia ini tempatnya kejam, dan sedikit saja kamu lengah atau salah langkah, nyawa adalah taruhan yang harus kamu bayar.

Pria itu tertegun, matanya terbelalak menatap tanaman di tangannya, lalu menatap anaknya yang mengangguk pelan sambil terus menangis kecil. Dalam sekejap, rasa takut dan curiga di wajahnya langsung hilang, berganti dengan rasa terima kasih yang begitu dalam sampai matanya kembali berkaca-kaca.

Ia langsung berlutut di tanah, menundukkan kepalanya sampai dahinya hampir menyentuh debu tanah di depan kaki gua.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan! Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan ini... Istri saya benar-benar sudah lama sakit dan sangat butuh ramuan ini..." suaranya bergetar hebat, penuh rasa bersalah dan terima kasih.

Gua menatap pemandangan itu dengan wajah datar, tanpa perasaan apa pun. Tidak ada rasa haru, tidak ada rasa puas, tidak ada rasa apa-apa. Di dalam pikiran gua cuma ada satu kalimat: Drama macam ini benar-benar melelahkan.

"Gua pergi," ucap gua pendek, singkat, padat.

Gua langsung berbalik badan, berniat mencari tempat kosong yang aman di pinggir desa buat beristirahat dan menghabiskan sisa makanan yang gua bawa. Ucapan terima kasih mereka tidak akan mengisi perut gua, tidak akan bikin gua makin kuat, jadi buat gua semuanya tidak ada gunanya.

Tapi tepat saat gua mau melangkah pergi, tangan kecil yang hangat itu lagi-lagi menarik ujung baju gua dengan lembut tapi kuat.

Gua menunduk. Carmelia berdiri di sana, menatap wajah gua. Rasa takut yang dulu selalu ada di matanya sekarang sudah hilang, digantikan oleh tatapan kagum dan percaya yang begitu tulus.

"Kak Yudha... jangan pergi dulu, ya?" bisiknya pelan.

"Di rumah kami masih ada sisa kentang rebus yang banyak. Kakak pasti lapar, kan? Ayo masuk, kita makan bareng..."

Kentang rebus.

Dan kata "lapar" yang keluar dari mulutnya itu... rasanya seolah ada sesuatu yang langsung menghantam dada gua dengan keras. Bayangan tiga minggu penuh menahan rasa lapar yang menyiksa itu langsung kembali muncul di kepala gua, seolah kejadiannya baru terjadi kemarin saja.

Sial. Anak kecil ini, tanpa sadar, tanpa bermaksud apa-apa, baru saja menyentuh bagian yang paling lemah, bagian yang paling sakit, bagian yang paling takut gua rasakan seumur hidup gua.

Gua menatapnya lama, sangat lama. Wajah gua masih sedingin es, masih keras, masih terlihat tidak punya perasaan. Tapi tawaran makanan itu, rasa lapar yang mulai menyiksa perut gua, dan ingatan buruk yang terus datang... semuanya berhasil menggoyahkan pertahanan gua yang sudah gua bangun sedemikian kuatnya selama ini.

Hati gua memang masih beku, tidak mudah meleleh karena kata-kata manis atau perhatian orang lain. Tapi rasa lapar, dan rasa takut akan kelaparan yang gua bawa sampai mati itu... jauh lebih kuat daripada sifat dingin gua.

"Satu piring. Tidak lebih," jawab gua dengan nada masih ketus, masih terlihat tidak mau tahu.

Carmelia langsung tersenyum lebar, senyum paling terang, paling tulus, paling bersih yang pernah gua lihat di mana saja, baik di dunia lama maupun dunia baru ini.

Tapi ada satu hal yang sampai sekarang belum gua sadari sepenuhnya. Ada sesuatu yang tersembunyi rapi di balik wajah polos dan senyum manis anak kecil ini. Sesuatu yang bikin udara di sekitarnya terasa sedikit berbeda, sedikit aneh... sesuatu yang seharusnya tidak mungkin dimiliki oleh anak sekecil dan selugu dirinya.

Tapi sudahlah. Untuk saat ini, gua cuma peduli pada satu hal: kentang rebus itu.

 

[Yudha akhirnya masuk ke rumah Carmelia demi sepiring kentang rebus. Apakah sifat dinginnya akan sedikit lunak setelah makan, atau justru dia akan segera menyadari bahaya besar yang sedang mengincar gadis kecil ini? Tulis pendapat kalian di bawah ya!]

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!