NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan dari Kegelapan

Udara dingin malam terasa menusuk hingga ke tulang belulang saat surat di tangan Citra jatuh tergolek di lantai. Bunga mawar hitam kering itu terbaring di atas bantal, seolah tersenyum mencemoohkan kemenangan kecil yang baru saja mereka raih. Putra segera meraih surat itu kembali, tangannya yang biasa kokoh menggenggam senapan kini gemetar menahan amarah dan kekhawatiran yang memuncak. Ia membaca ulang setiap baris kalimat bertinta emas itu, seolah tak percaya ada sosok yang bisa menyusup masuk ke kediaman yang dijaga seketat benteng militer.

"Dia ada di sini... dia benar-benar mengawasi setiap hembusan napas kita," gumam Putra, suaranya berat dan rendah. Matanya yang tajam meneliti setiap sudut kamar, seolah sosok misterius itu masih bersembunyi di balik tirai gelap. "Bagaimana caranya masuk? Bahkan lalat pun sulit menembus penjagaan Kolonel Bayu malam ini."

Citra memegangi dadanya, rasa pusing tiba-tiba menyerang. Sebagai dokter, ia terbiasa menghadapi situasi kritis dan nyaris mati, namun ancaman yang tak kasat mata ini jauh lebih mengerikan daripada luka bedah apa pun. Ia menatap suaminya, matanya berkaca-kaca namun tak sepenuhnya patah semangat. "Mas... Andi. Apa yang akan kita lakukan? Jika kita menuruti permintaannya, kita berjalan ke dalam jebakan. Jika kita menolak... nyawa anak kesayangan kita dipertaruhkan."

Putra menarik Citra masuk ke dalam pelukan erat, menenggelamkan wajah istrinya di dadanya seolah ingin melindunginya dari segala kejahatan dunia. Ia mencium ubun-ubun Citra, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang. "Kita takkan biarkan apa pun menimpa Andi. Tidak peduli siapa dia, sekuat apa pun jaringannya, dia telah membuat kesalahan fatal dengan mengancam keluarga kita. Ia tak tahu betapa tajamnya taring kita saat orang yang kita cintai terancam bahaya."

Tak lama kemudian, Kolonel Bayu dan Mayor Danu bergegas masuk ke kamar setelah mendengar kabar mengejutkan itu. Wajah keduanya yang tadinya cerah karena keberhasilan menangkap Aditya dan Ratih kini berubah kelabu, dipenuhi rasa tak percaya dan rasa malu yang mendalam. Penjagaan ketat mereka ternyata tak berarti apa-apa di hadapan keahlian Tuan Bayangan.

"Ini tanggung jawabku sepenuhnya," ucap Kolonel Bayu tegas namun penuh penyesalan. "Aku sudah mengerahkan pasukan terbaik, namun ternyata kita masih terlalu jauh tertinggal langkah. Tambang tua itu... tempat itu sudah lama ditinggalkan, penuh lorong rahasia yang tak tercatat di peta resmi, dan juga tempat di mana ayahmu, Putra, gugur secara misterius puluhan tahun silam."

"Justru itulah alasannya dia memilih tempat itu," sahut Putra, melepaskan pelukannya sebentar untuk menatap Kolonel Bayu dengan pandangan penuh wawasan baru. "Dia tak hanya ingin memancing kita datang, dia ingin membangkitkan masa lalu kelam yang kita coba kubur dalam-dalam. Dia bilang ada rahasia terbesar di balik alasan perjodohan kita... bisa jadi kematian Ayah pun bukanlah kecelakaan biasa, melainkan bagian dari rencana besarnya sejak dulu."

Mayor Danu mengepalkan tangannya rapat. "Kalau begitu, kita takkan datang sendirian tanpa persiapan. Kita kirim pasukan elit untuk mengepung area tambang dari kejauhan, pasang alat pendengar dan pengintai canggih, serta siapkan rencana cadangan untuk segala kemungkinan. Kita takkan berjalan buta ke dalam perangkap."

Namun Citra menggeleng perlahan, wajahnya teguh dengan keyakinan yang tumbuh kuat di dalam dadanya. "Jika kita membawa pasukan, Tuan Bayangan pasti akan mengetahuinya. Dia memperingatkan datang berdua saja. Jika kita melanggar, nyawa Andi yang menjadi taruhan pertamanya. Kita harus percaya pada kemampuan kita sendiri Mas Putra adalah prajurit terlatih, dan aku... aku punya cara sendiri untuk bertahan serta membela nyawa orang-orang yang kucintai."

Putra menatap istrinya dengan rasa kagum yang semakin membuncah. Wanita lembut yang pernah ia benci dan anggap sebagai beban kini menjelma menjadi pendamping jiwa yang setangguh baja. "Kau benar. Kita akan pergi sesuai permintaannya, tapi bukan berarti kita datang tanpa senjata dan rencana. Danu, Kolonel... carilah segala catatan lama tentang tambang itu, peta tersembunyi apa pun, serta riwayat lengkap tentang semua pihak yang pernah berhubungan dengan lokasi tersebut. Sosok ini pasti memiliki akar di sana."

Malam semakin larut, namun tak ada mata yang terpejam di kediaman megah itu. Putra dan Citra menghabiskan waktu berjam-jam memeriksa peralatan tempur dan memastikan tak ada kelemahan sedikit pun. Di dalam hati mereka, meski dihantui rasa cemas, tumbuh pula api penasaran yang tak terpadamkan akhirnya mereka akan mengetahui kebenaran mutlak: siapa dalang di balik segala penderitaan mereka, apa hubungannya dengan Andi, dan kenapa takdir mempertemukan mereka lewat perjodohan yang tampak begitu kejam namun ternyata penuh rahasia tersembunyi.

Menjelang pagi, keduanya masuk sebentar ke kamar Andi. Bocah kecil itu masih terlelap damai, tak sadar betapa besar bahaya yang mengancam hidupnya dan betapa besar pengorbanan yang akan dilakukan kedua orang tuanya. Citra mengecup kening Andi, menitipkan doa terdalamnya, sementara Putra meletakkan tangannya di atas kepala anak itu seolah memberikan perlindungan terakhir sebelum berangkat.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan langit berubah menjadi warna ungu gelap, mereka bersiap berangkat. Di ambang pintu, sebelum melangkah menuju kendaraan yang telah disiapkan, Putra menggenggam tangan Citra erat sekali, menatap matanya dalam-dalam.

"Apa pun yang terjadi di sana, apa pun kebenaran yang akan kita temukan... ingat satu hal," bisik Putra dengan suara yang mantap dan tak tergoyahkan. "Kita berdua, kita dan cinta ini, adalah satu-satunya kebenaran nyata di tengah segala kebohongan. Bersamamu, aku tak takut menghadapi iblis sekalipun."

Citra mengangguk, matanya berbinar percaya diri. "Dan bersamamu, Mas, aku siap berjalan ke neraka sekalipun demi kebenaran dan kebahagiaan kita."

Mobil melaju kencang, meninggalkan kota menuju kawasan pegunungan yang sepi dan berhutan lebat tempat di mana semuanya dimulai, dan tempat pula di mana mereka berharap semuanya akan segera menemukan ujungnya. Mereka bangun dengan susah payah

Perjalanan menuju tambang tua itu terasa semakin panjang dan menyesakkan, seolah jalanan pun berusaha memperingatkan mereka bahwa apa yang menanti di ujung sana bukan sekadar pertarungan fisik, melainkan pengungkapan fakta yang mampu mengguncang seluruh dasar hidup mereka selamanya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!