Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Jangan, itu kebanyakan. Kira, kamu sudah belikan kami begitu banyak barang, Kami sudah puas. Nggak perlu kasih uang lagi."
Basan menggeleng.
Jika Danu dan Doddy masing-masing mendapatkan 50 ribu rupiah dan dirinya mendapat 60 ribu rupiah, totalnya sudah 160 ribu rupiah.
Baik teknik menangkap ikan, Teknik Busur Ikan maupun cara pembuatan gula putih, itu semua adalah teknik rahasia Kira. Jika dia mencari orang untuk bekerja untuknya, semua orang juga sudah akan berebutan kerja dengan gaji 30 rupiah sehari. Jadi, bagaimana bisa mereka menerima begitu banyak uang dari Kira?
“Benar, nggak boleh!"
Danu dan Doddy juga menyuarakan pendapat mereka. Mereka itu kerabat, hanya dengan di traktir makan dan di belikan baju sebagai imbalan saja sudah cukup.
Tony juga bersuara,
"Kira, aku cuman seorang gelandangan. Biasanya aku selalu kekurangan makanan, juga nggak punya baju ganti. Ke mana-mana juga selalu dipandang rendah sama orang lain. Tapi selama dua hari ini, aku sudah bisa makan enak. Sekarang, kamu juga belikan aku baju baru. Aku sudah puas kok. Uangnya nggak perlu lagi."
Bukan nya mereka tidak mau menerimanya, tetapi tidak boleh menerima nya. Jika tidak, mereka akan merasa bersalah.
Kira pun berkata sambil tersenyum,
*Memangnya 50-60 ribu rupiah itu banyak?"
Danu, Doddy dan Tony langsung mengangguk. Namun, Basan malah merenung
Setelah melihat reaksi mereka, Kira berkata,
"Harga tanah seluas 600-700 meter persegi sudah butuh 5.000 rupiah. Budi punya 20 hektar tanah, nilainya paling nggak 4,5 juta rupiah. Itu masih belum termasuk bahan pangan dan uang tunai yang dia punya. Kalau mereka begitu kaya, uang ini termasuk apa?™
Keempat orang itu langsung terkejut dan mengangguk setelah mendengar ucapan Kira,
"Enam ratus ribu rupiah memang terlihat banyak, tetapi sebenarnya masih tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan Budi. Tapi, asalkan tetap berupaya keras, kita pasti bisa segera melampaui mereka."
Kira berkata dengan senyum usil,
“Kelak, kita bahkan bisa dapat 6 juta atau 60 juta rupiah"
"Enam juta atau enam puluh juta rupiah?" Tony menggaruk kepalanya sambil termenung.
Tony hanya tahu hitungan sampai ribuan, sedangkan puluh ribuan menandakan sangat banyak. Namun, día tidak tahu spesifik jumlahnya. Danu dan Doddy hanya melongo. Sementara Basan yang selalu bersikap tenang juga terlihat terkejut.
"Aku kasih uang ini untuk kalian, bukan suruh kalian untuk sembarangan foya-foya,."
Kira memasukkan batang perak ke tangan mereka berempat, lalu berkata dengan serius,
"Tony, Danu, Doddy, kalian sudah dewasa dan cukup umur untuk menikah. Pakai uang ini untuk bangun rumah, lalu carilah istri yang cantik dan baik. Kalau uangnya nggak cukup, nanti aku kasih lagi. Ingat, harus bangun rumah batu yang punya pekarangan. Nanti aku bantu desain rumahnya. Kalau kalian bangun gubuk jerami, nggak usah ikut aku lagi kelak"
"Menikah? Bangun rumah batu?" tanya Tony dengan terkejut.
Kemudian, dia tiba-tiba menangis dan berlutut,
"Kira, nyawaku ini sudah jadi milikmu. Kelak, kamu mau suruh aku bunuh orang juga boleh!"
Tony tidak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa memakan nasi dengan lauk, minum alkohol, pakai baju bagus, bangun rumah batu dan menikah. Namun, impian yang terasa jauh ini sudah tercapai dengan hanya bekerja untuk Kira selama dua hari.
"Kami juga!" seru Danu dan Doddy bersamaan.
Meskipun Basan tidak berbicara, dia mengangguk ringan sambil menatap uang perak di tangan nya, Biasanya, penduduk desa sudah menikah di usia 15-16 tahun,
Danu dan Doddy sudah mencapai usia itu. Mereka juga sudah pernah mencoba mencari pasangan, tetapi tidak ada gadis yang bersedia setelah mendengar keadaan keluarga mereka, Basan juga ingin mendapatkan uang untuk membangun beberapa rumah agar kedua putranya bisa menikah.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Basan sudah punya tambahan dua orang anak lagi. Kedua putra yang belajar bela diri darinya juga punya nafsu makan yang besar. Mereka sudah kerja keras selama beberapa tahun, tetapi uang yang terkumpul masih 3.000 rupiah. Entah kapan mereka baru bisa mengumpulkan cukup banyak uang agar bisa menikah. Sekarang, kedua putranya sudah bisa langsung menikah dengan 160 ribu rupiah ini.
Kira memapah Tony untuk berdiri, lalu berkata,
"Buat apa bunuh orang? Pokoknya kita berusaha saja untuk kerja dan hasilkan uang supaya kehidupan kita bisa jadi makin baik"
Keempat orang itu langsung mengangguk dengan yakin. Mereka sudah merasa cukup senang apabila bisa hidup berkecukupan.
"Danu, Doddy!"
Basan menatap uang perak di tangan mereka dan berkata,
"Sini, Ayah bantu kalian simpan uangnya!"
Danu langsung tersenyum dan menyerahkan uang perak itu kepada Ayahnya. Doddy juga menyerahkan uang perak itu dengan cemberut.
"Ayah, panggil aku Zabran dong!"
Basan mengangkat cambuk di tangannya, lalu Doddy pun buru-buru kabur.
Melihat gerakan Doddy yang gesit, Kira pun bertanya,
"Paman Basan, Doddy bisa menghadapi sekaligus sembilan orang di Pasar Timur, Iwan juga bilang dia itu orang yang berlatih bela diri. Apa kamu yang mengajari mereka?"
Tony juga penasaran,
Basan sudah pensiun militer selama lima tahun, tetapi tidak pernah menunjukkan kemampuan nya, Waktu para warga saling berebut air di musim kemarau, baik Basan, Danu maupun Doddy juga tidak pernah main tangan meskipun di maki dan di kasari orang.
"Emmm..."
Setelah merenung sesaat, Basan menjawab,
"Itu keterampilan bela diri yang diajarkan panglima militer dulu. Lalu aku ajarkan juga ke mereka berdua."
Kira bertanya dengan penasaran,
"Kalau gitu, kamu bisa lawan berapa orang sekaligus?"
Basan menjawab,
"Tergantung, sekarang tubuh ku sudah lemah, kalau dengan tangan kosong, aku bisa hadapi 10 orang biasa. Kalau lawanku punya senjata dan aku tangan kosong, sekitar 5-6 orang sudah bisa mengepungku. Kalau yang berlatih bela diri, tiga orang saja sudah bisa menangkap ku. Makanya waktu di kota, sebisa mungkin jangan berkelahi. Orang-orang di sana punya senjata, bisa bahaya kalau dikepung!"
"Emmm..."
Kira memandang ke langit, lalu berkata,
"Ayo jalan nya cepat dikit. Kita harus sampai rumah sebelum gelap. Kalau nggak, Budi pasti datang tagih utang. Aku takut dia bertindak sembarangan ke Wulan kalau tahu dia sendirian di rumah."
Di rumah Kira.
"Duk, Duk, Duk!"
Ada empat orang bawahan Budi yang menendang pintu rumah Kira.
Budi berteriak,
"Kira! Buka pintunya! Sudah saatnya kamu bayar utang! Jangan sembunyi lagi! Cepat keluar dan jadilah budak ku! Selain itu, suruh istrimu mandi yang bersih. Hari ini, aku mau menidurinya!"
Wulan sudah menggunakan sebatang kayu untuk menahan gagang pintu rumah mereka.
"Suamiku sedang menjual ikan!"
"Mau jual ikan untuk bayar utang?"
Budi tersenyum mengejek, lalu melanjutkan,
"Mana mungkin segampang itu bisa mendapatkan 40 ribu rupiah! Jangan menipu ku lagi! Cepat buka pintu dan bayar utangnya! Kalau nggak, aku dobrak paksa!"
"Duk, Duk, Duk!"
Keempat bawahan itu mulai mendobrak.