Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Ketika Topeng Tidak Lagi Cukup
Pagi itu, SMA Wijaya tidak lagi terasa seperti sekolah.
Lebih mirip arena.
Bukan arena yang dipenuhi darah.
Tapi dipenuhi tatapan.
Semua mata mengikuti satu orang.
Anya Clarissa.
Dia berjalan seperti biasa.
Buku di dada.
Kacamata bulat.
Langkah pelan.
Tunduk.
Sempurna.
Tapi hari ini…
ada yang berbeda.
Bisik-bisik itu tidak lagi samar.
Lebih berani.
Lebih tajam.
“Katanya dia pernah ada di lokasi kebakaran itu…”
“Eh, kamu lihat Selene kemarin?”
“Arsen juga ikut ke sana…”
Anya tetap berjalan.
Tidak menoleh.
Tidak bereaksi.
Tapi jarinya di balik buku sedikit mengencang.
Di ujung koridor.
Selene berdiri.
Tersenyum.
Bersama beberapa murid lain.
Dan di tangannya—
ponsel.
Anya langsung tahu.
Ini bukan kebetulan.
Selene mengangkat ponselnya sedikit.
Menunjukkan layar.
Video pendek.
Dan Anya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
Video itu:
bangunan terbakar.
sirene.
dan siluet kecil Anya di depan api.
Suara murid mulai naik.
“Eh itu beneran dia?!”
“Gila…”
“Dia ada di sana?!”
Selene tersenyum puas.
“Ups.”
Anya menutup matanya sebentar.
Lalu membuka lagi.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dia melangkah maju.
Langsung ke arah Selene.
Kerumunan otomatis mundur sedikit.
Seolah ada tekanan yang tidak terlihat.
Selene tidak bergerak.
“Kenapa? Nggak suka jadi bahan tontonan?”
Anya berhenti tepat di depannya.
Diam.
Lalu berkata pelan:
“Kalau kamu ingin bermain…”
“…pilih tempat yang tidak melibatkan orang lain.”
Selene tertawa kecil.
“Wah, peduli juga kamu sama orang lain?”
Anya menatapnya lurus.
“Tutup video itu.”
Selene mengangkat bahu.
“Kalau tidak?”
Hening.
Dan di saat itu—
suara langkah berat terdengar dari belakang.
Arsen.
Semua murid langsung diam.
Bahkan Selene sedikit menegang.
Arsen berhenti di samping mereka.
Matanya langsung ke ponsel Selene.
“Matikan.”
Suara itu datar.
Tapi tidak bisa dibantah.
Selene terkejut.
“Arsen… kamu bela dia lagi?”
Arsen tidak menoleh.
“Matikan.”
Selene tertawa kecil, tapi kali ini tidak stabil.
“Kenapa kamu selalu di pihak dia?!”
Arsen akhirnya menatapnya.
Dan tatapannya—
lebih dingin dari biasanya.
“Aku tidak di pihak siapa pun.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Tapi aku tidak suka kekacauan yang tidak terkontrol.”
Selene menggigit bibir.
“Ini bukan kekacauan. Ini kebenaran.”
Arsen tidak langsung menjawab.
Matanya beralih ke Anya.
Anya berdiri diam.
Tidak meminta bantuan.
Tidak membantah.
Tidak menjelaskan.
Hanya diam.
Seperti seseorang yang menunggu badai lewat.
Dan itu membuat Arsen semakin tidak nyaman.
Selene tiba-tiba tertawa kecil.
“Oh… jadi kamu juga bingung, Arsen?”
Ia mengangkat ponsel lagi.
“Kalau ini aku sebarkan ke grup sekolah…”
“…berapa lama sampai semua orang tahu dia itu apa sebenarnya?”
Arsen langsung bergerak.
Tangan menutup layar ponsel Selene.
Cepat.
“Cukup.”
Suasana langsung membeku.
Selene menatapnya.
“Kamu takut dia terbongkar?”
Arsen diam.
Tapi tangannya masih menahan ponsel itu.
Dan itu cukup sebagai jawaban.
Anya akhirnya berbicara.
“Lepaskan.”
Arsen menoleh sedikit.
Anya menatapnya.
“Ini bukan urusanmu.”
Hening.
Arsen tidak langsung melepas.
Tapi matanya menyipit.
“Kalau ini menyebar, ini jadi urusan semua orang.”
Anya menjawab pelan:
“Tidak. Ini hanya urusanku.”
Selene tersenyum lebar.
“Dengar itu, Arsen?”
Ia mencondongkan tubuh.
“Dia sendiri yang bilang ini bukan urusanmu.”
Arsen akhirnya melepas ponsel Selene.
Pelan.
Tapi wajahnya tidak berubah.
“Kalau kamu lanjutkan,” katanya pada Selene,
“…aku akan pastikan kamu tidak punya akses ke apapun di sekolah ini lagi.”
Selene terdiam.
Untuk pertama kalinya.
Ancaman itu bukan kosong.
Tapi dia masih tersenyum.
“Menarik.”
Ia melirik Anya.
“Berarti aku benar-benar kena sesuatu yang besar ya…”
Lalu berbalik.
“Video ini… baru awal.”
Dan dia pergi.
Kerumunan perlahan bubar.
Tapi tidak dengan bisikannya.
Tidak dengan tatapan mereka.
Anya tetap berdiri.
Diam.
Arsen tidak pergi.
Dia menatap Anya.
Lama.
“Apa yang kamu sembunyikan?”
Anya tidak langsung menjawab.
Lalu berkata pelan:
“Kalau aku jawab…”
“…kamu tidak akan bisa berpura-pura lagi.”
Arsen mengerutkan mata.
“Aku tidak pernah berpura-pura.”
Anya tersenyum kecil.
“Semua orang berpura-pura.”
Hening.
Arsen akhirnya berkata:
“Aku tidak akan biarkan ini berkembang jadi sesuatu yang lebih besar di sekolah.”
Anya menatapnya.
“Aku tidak minta kamu ikut campur.”
Arsen balas:
“Tapi aku sudah terlibat.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Anya tidak langsung menutup percakapan.
Dia hanya berdiri di sana.
Seolah menghitung sesuatu.
Lalu berbisik:
“Kalau kamu terlalu dekat…”
“…kamu akan ikut terbakar.”
Arsen menatapnya.
“Kalau itu risiko yang ada, aku akan lihat sendiri.”
Dan itu—
membuat Anya berhenti sesaat.
Karena itu bukan rasa takut.
Bukan ancaman.
Bukan permainan.
Itu keputusan.
Dan keputusan Arsen…
mulai mengubah arah papan catur ini.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏