Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Pembuat Masalah?
Rangga menghela nafasnya. Dia menepis segala pemikiran buruk. Rangga berharap Pak Alun baik-baik saja. Sampai akhirnya dirinya terpikir untuk menghubungi keluarga Pak Alun. Rangga lantas menelepon temannya yang kebetulan bekerja di kantor yang sama dengan Pak Alun.
"Kenapa, Ga? Tumben nelepon." Hadi mengangkat panggilan telepon Rangga.
"Cuman mau tanya aja. Ini tentang Pak Alun," kata Rangga.
"Oh... Kenapa? Dia buat masalah apa lagi?"
"Lagi? Emangnya Pak Alun tipe orang yang suka buat masalah?"
"Ya iyalah. Dia sering kena omel atasan karena sembrono. Terus ini sudah nggak masuk selama tiga hari lebih. Dan yang paling gongnya, katanya dia selingkuh dari istrinya. Gimana nggak dianggap pembuat masalah kalau begitu?" Hadi bercerita panjang lebar.
"Pak Alun selingkuh?" Rangga semakin keheranan. Entah kenapa dia tak langsung percaya. Meski tak begitu mengenal Pak Alun, Rangga merasa lelaki tersebut bukanlah tipe pengkhianat begitu.
"Iya. Sama anak kuliahan katanya. Ini istrinya lagi ngurus perceraian katanya."
"Apa kau punya nomor kontak istrinya? Aku ingin menanyakan sesuatu," pinta Rangga.
"Aku nggak punya. Tapi istriku kayaknya ada. Nanti aku minta dulu ke dia ya. Entar langsung aku kasih ke kamu."
Pembicaraan berakhir di sana. Rangga terdiam karena memikirkan apa yang dikatakan Hadi tadi. Tak lama sebuah pesan masuk. Hadi mengirim nomor istri Pak Alun.
Belum sempat menghubungi nomor yang dinamai Bu Mawar itu, Beben lebih dulu menelepon. Rangga langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Bagaimana, Ben? Apa ada barang yang hilang?" tanya Rangga.
"Iya. Ada dua. Bra sama celana dal-amnya Astrid," jawab Beben.
"Terus kau udah cek CCTV?"
"Sudah. Ada satu orang yang mencurigakan. Tapi dia menutupi wajahnya dengan topi dan masker. Aku hanya bisa memastikan kalau pelakunya lelaki."
"Oke. Lalu bagaimana keadaan Astrid?"
"Dia sedang membereskan rumahnya. Sekarang aku juga membantu. Ngomong-ngomong, kenapa kau nggak bilang dia mantanmu? Teman asu kau!" Beben kali ini bicara dengan berbisik.
"Astrid yang memberitahu itu?"
"Ya. Dia bilang dia belum melupakanmu. Katanya dia juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Hah... Harusnya kau saja tadi yang bantu dia ke sini. Sia-sia perjuanganku," omel Beben.
"Cih! Perjuangan apaan. Lebay kau!" balas Rangga.
"Harusnya aku nggak berteman sama orang ganteng. Akhirnya begini terus. Capek aku," keluh Beben.
Rangga memutar bola mata jengah. Jujur saja, rasanya dia sudah mendengar keluhan itu ribuan kali. Itu terlalu sering baginya. Beben memang sering mengeluh begitu, tapi Rangga adalah satu-satunya teman dekatnya di kepolisian. Bisa dibilang, hanya Rangga yang mau bertemannya dengan tulus.
Beben sendiri dikenal sebagai anak juragan sawit. Ayahnya kaya raya. Kebanyakan orang yang ingin berteman dengannya karena uang. Berbeda dengan Rangga yang berteman bukan karena uang.
"Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti tolong sarankan pada Astrid untuk sementara menginap di tempat aman," kata Rangga.
"Kau bicara langsung saja sama orangnya."
"Eh, tapi--"
"Ga! Aku numpang nginap di rumahmu aja ya. Kau tahu kan aku nggak punya teman."
Ucapan Rangga terpotong karena Astrid bicara begitu saja.
"Kau masih gila seperti dulu ya!" timpal Rangga.
"Terus gimana? Kau akan biarin aku tidur di apartemenku malam ini? Ya sudah kalau gitu, aku akan tulis surat terakhirku dulu..." Astrid menghela nafas panjang.
"Kau bisa bermalam di kantor bersamaku dan Beben malam ini. Kebetulan kami jaga malam. Kau tidur di penjara, mau?" sahut Rangga.
"Sialan kau, Ga!" geram Astrid.
Rangga memecahkan tawa untuk pertama kalinya hari itu.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄