Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
KELUAR DARI ARENA
Lisa berjalan keluar dari lingkaran arena dengan langkah santai dan tenang. Baju tempurnya tidak kotor sedikitpun, tidak ada debu yang menempel, seolah dia baru saja jalan-jalan bukan berduel mematikan.
"Buang-buang waktu saja..." gumam Lisa pelan dengan nada malas. "Sudah lemah, curang, tapi masih merasa hebat."
Di tengah lapangan, wasit dan guru-guru yang tadi menonton masih terpaku, lalu tiba-tiba sadar dan langsung bertepuk tangan keras-keras. Suara gemuruh memenuhi stadion!
"PEMENANGNYA ADALAH... LISA!!" teriak Guru Pembina dengan suara bergetar penuh kekaguman. "Kemenangan mutlak! Teknik yang sempurna!"
Tapi Lisa sama sekali tidak peduli. Dia tidak menoleh, tidak tersenyum, tidak angkat tangan. Dia langsung berjalan lurus menuju ke arah Floyen yang sudah menunggu dengan senyum bangga setinggi langit.
Di sisi lain, Kyle, Harit, Theo, dan Kael masih belum bisa nutup mulut.
KYLE 🤯
"GILA GILA GILA!! Gue liat pake mata kepala sendiri tapi tetep gak percaya! Tadi tuh gerakannya ilang kan?! Woy itu manusia apa angin?!"
Kyle memegang kepalanya frustasi tapi kagum, "Gue ngerasa kayak bego banget hidup di dunia ini! Tadi si cowok ngebabin hantam semua, eh Lisa cuma ngejawat dikit doang terus orangnya jadi saringet darah gitu?! What the hell teknik itu?!"
HARIT 📝
Harit menulis catatan secepat kilat, tangannya gemetar, "Tidak ada di buku sejarah... sama sekali tidak ada.Dia mengayunkan pedangnya seperti menari!"
THEO 💪
Theo menghela napas panjang, "Kita semua salah besar kalau mengira dia cuma penyihir. Level main pedangnya... di atas kita semua. Jauh di atas."
KAEL 👑❤️
Pangeran Kael menatap punggung Lisa yang menjauh dengan tatapan hangat dan takjub.
"Cantik, kuat, dingin, dan misterius... Lisa benar-benar makhluk yang tidak masuk akal. Tapi... aku suka." senyum Kael miring.
NASIB SI COWOK
Di arena, kondisi cowok berotot itu makin parah.
Setelah efek kekuatan palsu itu hilang total, tubuhnya mulai bereaksi aneh. Obat terlarang itu mulai memakan sarafnya.
KEJANG... KEKENG...
Tubuhnya meringkuk kaku, matanya memutih, busa keluar dari mulutnya. Dia kejang-kejang hebat kesakitan!
"Dokter! Cepat bawa obat penawar!!" teriak panik teman-temannya.
Para tabib sekolah memeriksa dan wajah mereka pucat.
"Tidak bisa! Ini racun dalam darah! Energinya kacau balau! Obat biasa tidak mempan! Bahkan obat kerajaan pun mungkin tidak cukup cepat!"
"Terus apa yang bisa nyembuhin?!" tanya orang panik.
"Hanya ada satu obat di seluruh kerajaan yang bisa menetralkan racun sejahat ini... Ramuan Herba Suci dari Gunung Es! Itu satu-satunya harapan!"
OBAT ITU ADA PADA LISA
Mendengar itu, semua orang terdiam.
Karena semua orang tahu... kemarin Lisa lah yang berhasil mengambil obat itu! Dan obat itu sekarang ada di kamar Lisa!
Si cowok itu terus kejang, wajahnya membiru. Nasibnya ada di tangan orang yang baru saja dia hinakan dan dia tantang mati-matian.
Lisa yang sudah sampai di depan Floyen, seolah mendengar pembicaraan itu, hanya tersenyum tipis sangat dingin.
"Floyen, ayo pulang. Udara di sini bau darah dan bau penyesalan."
"Iya Kakak! Hahaha biarin aja tuh orang! Siapa suruh jahat sama Kakak!" jawab Floyen ketawa.
Melihat si cowok berotot itu sudah kejang-kejang dan wajahnya mulai membiru, Pangeran Kael tidak bisa diam saja. Walaupun orang itu salah besar, walaupun orang itu menghina Lisa, tapi sebagai ketua OSIS dan seorang pangeran yang menjunjung tinggi keadilan... dia tidak bisa membiarkan manusia mati begitu saja.
Kael menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Lisa yang baru saja hendak pergi bersama Floyen.
"Lisa... tunggu," panggil Kael pelan.
Lisa berhenti dan menoleh dingin. "Ada apa lagi? Jangan bilang kau ingin membelanya."
"Aku tahu dia salah. Aku tahu dia kurang ajar dan pantas mendapatkannya," jawab Kael jujur, menunduk sedikit. "Tapi tolong... sebagai teman, tolong selamatkan nyawanya. Aku mohon."
Lisa menatapnya tajam. "Itu obat sangat berharga. Buat menyelamatkan sampah yang menghinaku? Kau pikir aku sebaik itu?"
"Aku tahu aku meminta hal yang keterlaluan. Aku tahu mungkin kau akan membenciku karena memintamu melakukan ini. Tapi kumohon..." Kael menatap Lisa dalam-dalam. "...Aku tidak tega melihat kematian, siapapun itu."
Lisa terdiam beberapa saat. Hening. Udara terasa tegang. Floyen di sampingnya sudah manyun tidak terima.
Akhirnya, Lisa merogoh saku baju tempurnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bersinar. Itu adalah salah satu obat dari Gunung Es tadi.
Lisa melemparkannya dengan santai tepat ke dada Kael.
Buk!
"Tangkaplah. Itu milikmu sekarang," ucap Lisa datar tanpa emosi. "Kau ingin memberikannya? Silakan. Itu urusanmu. Jangan hubung-hubungkan denganku."
Tanpa menunggu jawaban, Lisa langsung berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan mereka, diikuti Floyen yang menatap Kael sinis.
Kael memegang botol obat itu dengan tangan gemetar. Hatinya perih. Ia tahu... Wajah Lisa tadi bukan raut wajah suka. Itu raut wajah "ah kau sama saja seperti mereka" atau raut wajah kecewa.
Begitu Lisa hilang dari pandangan, Kyle langsung maju dan mencengkeram kerah baju Kael!
"WOY KAEL!! SADAR DIRI LO HA?!" teriak Kyle emosi setengah mati. "LO BODO ATAU GIMANA SIH?!"
Harit dan Theo juga berdiri dengan wajah kecewa.
"Kenapa sih lo minta tolong sama dia buat nyelamatin orang yang udah hina dia setengah mati?!" tanya Kyle gemetar. "Lo tau gak sih? Tadi itu kesempatan emas buat kita nunjukin kalau Lisa itu benar! Eh lo malah bikin dia sedih dan kecewa!"
Kael melepaskan tangan Kyle pelan, wajahnya lelah. "Dia manusia Kyle. Dia tidak pantas mati hanya karena kesalahan satu ini."
"ALASAN LO MULUK MULUK TERUS!" Kyle tidak terima. "Padahal lo kan sayang sama Lisa! Lo kan suka sama dia! Tapi apa yang lo lakuin?! Lo malah minta dia ngasih obat mahal buat musuhnya sendiri! Lo pikir itu romantis?! Itu malah bikin Lisa makin jijik dan benci sama lo!"
"Bener kata Kyle," sahut Harit pelan tapi menohok. "Lisa itu tipe orang yang tegas. Dia kasih hukuman ya hukuman. Lo intervensi gitu... lo kayak ngeremehin keputusan dia. Lo bikin dia ngerasa usahanya sia-sia."
Theo menimpali, "Kita bingung sama sifat lo, Pangeran. Kadang lo dingin, kadang lo kebanyakan akal. Lo sayang sama dia, tapi tindakan lo malah bikin jarak makin jauh sama dia. Kenapa sih lo gak mikir perasaan Lisa dulu?!"
Kael menunduk memandang botol obat di tangannya. Air mukanya sedih.
"Kalian tidak mengerti..." bisik Kael pelan.
"Aku melakukan ini bukan karena aku baik hati atau bodoh. Aku melakukan ini karena... aku ingin melihat batasnya. Aku ingin tahu seberapa besar hatinya. Dan juga..."
Kael mengangkat wajahnya menatap pintu gerbang tempat Lisa pergi.
"...Aku rela kalau dia membenciku sedikit hari ini. Asal nyawa itu terselamatkan. Lagipula... kalau dia memang takdirku, dia akan mengerti nanti. Atau mungkin... aku memang harus berusaha lebih keras lagi buat dapetin hatinya yang setinggi langit itu."
Kael pun berlari memberikan obat itu ke si cowok yang sudah hampir tewas.
Sesampainya mereka di kamar, Floyen langsung membanting tubuhnya ke kasur sambil mendengus kesal. Ia masih memikirkan kejadian tadi.
"Kakakkk... aneh banget sih Pangeran Kael itu!" gerutu Floyen sambil memainkan bantal. "Udah tau orangnya jahat, tau juga orang itu curang, eh malah minta tolong minta dikasih obat! Buang-buang barang mahal kan?!"
Floyen menatap Lisa yang sedang duduk santai merapikan pedangnya.
"Terus kenapa sih Kakak kasih aja sih? Kakak kan juga lagi gondok sama orang itu."
Lisa tersenyum tipis, senyum yang sangat misterius dan dingin. Ia menoleh ke arah adiknya.
"Tenanglah Floyen... apa yang kau risaukan?"
"Maksud Kakak?"
"Walaupun aku memberinya obat itu... itu tidak akan mengubah kenyataan apa pun," jawab Lisa pelan namun tegas. "Dia tetap saja... akan mati."
😱😱😱
Mata Floyen terbelalak, "Hah?! Maksudnya gimana Kakak?! Bukan kah itu obat penawar dari Gunung Es?! Obat paling ampuh sedunia kan?!"
PENJELASAN SANG DEWI
Lisa menggeleng pelan. "Kau salah paham. Ramuan Herba Suci itu memang bisa menetralkan racun dan memulihkan energi... TAPI..."
Lisa menatap tangannya sendiri.
"Obat yang diminum orang itu bukan racun biasa. Itu adalah Energi Gelap Murni yang dipaksakan masuk ke tubuh. Energi itu sudah bercampur menjadi satu dengan aliran darah dan sarafnya. Sudah menyatu dengan jiwanya."
"Jadi?"
"Jadiinya... obat dari Gunung Es itu hanya bisa menahan rasa sakit dan menstabilkan tubuhnya sementara saja. Itu hanya bisa memperlambat kematiannya, bukan menyembuhkannya." Lisa tersenyum miring sangat menyeramkan.
"Untuk benar-benar membersihkan energi kotor itu dari dalam tulang dan darah... dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih tinggi levelnya. Dibutuhkan energi murni dan suci... atau harus dilakukan ritual khusus yang mustahil dilakukan di sini."
"Jadi... intinya?" tanya Floyen pelan.
"Intinya, aku kasih obat itu cuma buat nurutin kemauan Pangeran Kael doang. Biar dia ngerasa dia udah berbuat baik. Biar aku juga kelihatan baik di mata dia." Lisa terkekeh pelan.
"Tapi nasib orang itu... sudah ditandatangani sejak dia menelan obat haram itu. Dia mungkin akan hidup beberapa hari atau bulan lagi, tapi perlahan-lahan tubuhnya akan hancur, kekuatannya akan hilang total, dan akhirnya dia akan mati dengan menyedihkan. Obat apa pun di dunia ini tidak bisa menolongnya lagi."
Floyen menelan ludah, merinding mendengar penjelasan kakaknya.
"Jadi... Pangeran Kael tadi sia-sia dong negosiasinya? Dia pikir dia nyelamatin nyawa orang, padahal cuma nunda waktu kematian doang?"
"Benar," jawab Lisa datar. "Biarkan saja. Itu pelajaran buat dia. Bahwa di dunia ini, ada aturan yang tidak bisa dilanggar. Dan menghinaku... adalah kesalahan terbesar yang tidak bisa ditebus dengan sekotak obat."
Lisa berdiri dan membuka jendela, membiarkan angin malam masuk.
"Dan biarkan Pangeran itu berpikir apa saja tentangku. Aku tidak peduli. Yang penting... tugasku hari ini selesai. Dan hukuman untuk sampah itu... sudah berjalan sesuai jalurnya."
PERTEMUAN DI KORIDOR
Beberapa hari setelah kejadian itu, Lisa berjalan santai di koridor akademi menuju perpustakaan. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat sosok tinggi menghadang jalannya.
Itu Kael.
Wajah Pangeran itu terlihat lelah dan tidak seceria biasanya. Matanya menatap Lisa dengan tatapan bersalah dan sedih.
"Lisa..." panggil Kael pelan. Ia menunduk sedikit. "Aku... aku ingin minta maaf soal kejadian tempo hari. Aku tahu mungkin tindakanku membuatmu tidak nyaman atau kecewa. Maafkan aku."
Lisa berdiri tenang, wajahnya datar dan dingin seperti biasanya, tapi ada jarak yang terasa jauh.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Kael," jawab Lisa lembut namun tegas. "Kau hanya melakukan tugasmu sebagai seorang pemimpin dan ketua OSIS. Kau ingin menjaga nyawa siapa pun itu. Itu hal yang benar menurut pandanganmu."
"Tapi..."
"Dan karena itu," potong Lisa cepat, "Aku rasa mulai hari ini... lebih baik kita tidak perlu terlalu akrab seperti sebelumnya. Jaga jaraklah sedikit."
Kael tertegun, jantungnya seakan diremas keras. 'Jaga jarak?'
"Aku hanya tidak ingin... terlalu terlibat dalam urusanmu atau urusan orang lain," lanjut Lisa seolah tidak merasakan apa-apa, padahal hatinya tahu persis efek kata-katanya. "Aku lebih suka tenang. Jadi, anggaplah kita hanya teman biasa atau sekadar kenalan saja.
Lisa melewati bahu Kael begitu saja, meninggalkan pria itu yang berdiri kaku di tengah koridor sepi.
Setiap langkah Lisa menjauh, terasa seperti pisau yang menusuk dada Kael. Rasanya sakit sekali.
'Dia... menjauhiku. Karena kemarin aku membelanya? Karena aku meminta obat itu?' batin Kael hancur.
Ia merasa sangat bersalah. Ia merasa telah menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan gadis itu. Kata-kata Kyle tempo hari terngiang kembali: 'Lo bikin Lisa benci sama lo.'
Dan itu benar terjadi sekarang. Lisa memberinya dinding es yang tinggi. Kael menekan dadanya yang sesak, mencoba menahan perasaan kecewa pada dirinya sendiri.
Sore harinya, Kael yang masih merasa bersalah memutuskan untuk menjenguk si cowok berotot itu di ruang medis.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Kael pada tabib.
"Alhamdulillah, Pangeran. Berkat obat yang Anda berikan, dia selamat dari kematian. Napasnya sudah stabil, racunnya sudah netral," jawab tabib lega.
Kael pun masuk. Si cowok itu sudah bisa duduk, wajahnya pucat tapi terlihat hidup.
"Makasih... Pangeran..." ucap cowok itu lemah. "Aku bisa hidup lagi karena lo."
Kael tersenyum tipis, merasa sedikit lega. Setidaknya usahanya tidak sia-sia. "Istirahatlah yang banyak."
Namun... keanehan mulai terjadi.
Seminggu berlalu, kondisi cowok itu justru makin aneh.
- Awalnya dia merasa kuat, tapi tiba-tiba kekuatannya hilang total. Dia mencoba mengangkat pedang besi biasa saja, tapi dia tidak sanggup! Seolah otot-ototnya lenyap begitu saja.
- Tubuhnya makin kurus kering, padahal makannya banyak.
- Kulitnya berubah menjadi pucat kelabu dan kadang mengeluarkan keringat dingin yang berbau aneh.
- Dia sering berhalusinasi, berteriak ketakutan melihat bayangan hitam, dan tidurnya tidak pernah nyenyak.
"APA YANG TERJADI SAMA GUE?!" teriaknya panik suatu hari saat mencoba latihan tapi malah jatuh lemas. "KENAPA GUE JADI LEMAH GINI?! PADAHAL OBAT UDAH DIMINUM!"
Para tabib pun bingung setengah mati. Mereka cek darah, cek tenaga dalam, semuanya terlihat normal di luar, tapi di dalam... energi hidupnya terus terkuras habis tak tahu kemana.
Kael yang melihat itu dari jauh merasa ada yang tidak beres. Perasaan tidak enak mulai menghantuinya.
'Kenapa begini? Bukannya dia sudah sembuh? Kenapa dia makin lama makin seperti mayat hidup?'
Dan jauh di sudut koridor, Lisa berdiri memandang pemandangan itu dengan tatapan dingin.
'Rasakanlah... itu baru permulaan. Energi gelap itu tidak akan pernah hilang. Dia akan terus memakan hidupmu pelan-pelan sampai kau benar-benar hancur.'
Kael berlari kencang menyusul langkah Lisa yang santai. Wajahnya panik dan penuh tanda tanya besar.
"LISA!! TUNGGU!!" teriak Kael sambil mengatur napas. "Gue bener-bener bingung sekarang! Dokter bilang racunnya udah hilang, tapi kenapa kondisinya makin parah?! Dia kayak mayat berjalan gitu lho! Apa sebenarnya yang terjadi sama dia?!"
Lisa berhenti berjalan dan menoleh perlahan. Tatapannya tenang, seolah semua ini sudah dia prediksi sejak awal.
"Dia tidak akan bisa sembuh hanya dengan obat-obatan biasa, Kael," jawab Lisa pelan namun tegas. "Obat dari Gunung Es tadi hanya berfungsi menetralkan racun di darah dan mencegah dia mati seketika. Itu saja."
"Terus kenapa jadi gitu?!"
"Karena energi gelap yang masuk ke tubuhnya itu sudah menyatu dengan saraf dan jiwanya. Seperti menanam benih kebusukan di dalam tulang." Lisa menjelaskan dengan santai. "Untuk membersihkan kotoran tingkat itu... obat biasa tidak mempan."
"Terus apa yang bisa nyembuhin?!" tanya Kael cepat.
Lisa tersenyum tipis, "Hanya ada satu cara. Dia butuh Energi Suci yang sangat besar dan murni. Energi yang bisa memutar balikkan waktu sel tubuh, atau energi yang bisa membakar habis kejahatan di dalam tanpa menyakiti orangnya."
"Energi Suci? Itu apa? Sihir penyembuh tingkat tinggi?"
"Bukan. Itu berbeda jauh," jawab Lisa tegas. "Sihir itu kekuatan yang ditarik dari alam atau dipelajari. Tapi Energi Suci itu adalah kekuatan yang dikaruniai langsung oleh Dewa kepada manusia terpilih."
"Orang yang bisa melakukan itu haruslah orang-orang suci level tinggi. Seperti Pendeta Agung, Uskup Agung, atau bahkan Paus sendiri. Atau mungkin para Saintes (Orang Suci) yang legendaris."
"Hanya mereka yang tubuhnya bisa memancarkan cahaya suci yang cukup panas untuk membakar habis energi kotor itu tanpa menyakiti nyawanya."
"Kalau dokter atau penyihir biasa? Mereka cuma bisa menutup luka luar atau menetralkan racun dasar. Tapi untuk membersihkan jiwa dan saraf yang sudah terkontaminasi... mereka tidak mampu. Itu ranahnya para pemuka agama dari Kekaisaran Suci."
KEADAAN NEGARA-NEGARA LAIN
Lisa kembali berjalan, kali ini Kael berjalan di sampingnya mendengarkan dengan seksama.
"Kau tahu Kael... masalah ini bukan cuma soal satu orang di akademi ini. Ini adalah tanda bahaya yang lebih besar."
"Maksud lo?"
"Akhir-akhir ini aku merasakan getaran aneh dari berbagai penjuru," ucap Lisa serius. "Energi gelap seperti itu mulai bermunculan di mana-mana. Negara-negara tetangga juga mulai dilanda masalah yang sama."
"Jadi... selama kita gak nemuin Pendeta Agung atau Paus, orang itu bakal menderita terus?"
"Benar," sahut Lisa. "Dan sayangnya... Kekaisaran Suci itu letaknya sangat jauh di benua seberang. Mereka sangat tertutup dan jarang sekali turun tangan untuk masalah sepele seperti ini."
Bersambung......