Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi di Sektor Tiga
Malam semakin larut di Sektor Tiga Cikarang Barat. Suasana kawasan industri tua itu terasa mati; pabrik-pabrik di sekelilingnya sudah lama tutup, menyisakan deretan bangunan raksasa yang gelap dan berkarat. Di ujung jalan berlubang yang minim pencahayaan, SUV hitam milik Adrian melaju tanpa lampu utama, memotong kegelapan dengan senyap sebelum akhirnya berhenti di balik reruntuhan tembok beton, sekitar seratus meter dari gudang mati milik keluarga Baskoro.
Pintu mobil terbuka. Adrian melangkah keluar dengan gerakan taktis. Di belakangnya, Rendra dan enam mantan anggota komando yang kini menjadi tim keamanan elite Dirgantara Group segera menyebar, membentuk barikade pelindung. Tidak jauh di belakang mereka, tiga mobil taktis Brimob bersiaga dalam posisi menyergap, lampu rotator mereka sengaja dimatikan total atas instruksi ketat Adrian.
"Adrian, tim Brimob sudah mengunci semua jalur pelarian di bagian belakang dan samping gudang," bisik Rendra sambil menyerahkan sebuah rompi antipeluru hitam. "Tapi struktur bangunan ini menggunakan seng ganda dan rangka baja tua. Jika terjadi baku tembak di dalam, risiko pantulan peluru sangat tinggi. Kamu harus pakai ini."
Adrian menolak rompi itu dengan lambaian tangan kanannya yang tegas. Matanya yang memerah menatap lurus ke arah pintu besi dorong gudang yang sedikit terbuka di kejauhan. Lengan kirinya terasa kaku dan panas, darahnya kembali merembes ringan di balik perban, namun ia mengabaikannya. Keberadaan Kirana di dalam sana adalah satu-satunya hal yang membakar kesadarannya saat ini.
"Jika aku masuk menggunakan pelindung penuh, Rendy akan tahu aku datang untuk berperang, Rendra. Dia akan langsung mengeksekusi Kirana sebelum aku sempat mendekat," ucap Adrian, suaranya terdengar setajam pisau bedah. Ia memeriksa pistol *Glock 19* di tangan kanannya, memastikan satu peluru sudah berada di kamar pelatuk. "Aku akan masuk sendiri lewat pintu depan sebagai umpan. Begitu aku berhasil mengalihkan perhatian Rendy, timmu dan Brimob langsung merangsek dari dua titik belakang."
"Tapi Adrian, itu terlalu berbahaya! Rendy sudah tidak waras!" tahan Rendra, mencengkeram lengan kanan sahabatnya.
Adrian menatap Rendra dengan pandangan mata elang yang tidak terbantahkan. "Dia mengambil Kirana karena dia ingin menghancurkanku, Rendra. Ini urusan pribadiku dengannya. Jaga garis luar, jangan biarkan ada satu pun tikus yang lolos."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Adrian melangkah maju, membelah kegelapan malam dengan langkah tegap dan berwibawa, langsung menuju ke arah pintu masuk gudang tua yang menganga seperti mulut monster.
---
Di dalam gudang, hawa dingin malam terasa semakin mencekik. Kirana masih terduduk lemas di lantai semen, pipi kirinya yang lebam terasa baal dan sudut bibirnya yang pecah mulai mengering. Matanya yang sembap menatap sayu ke arah pintu masuk yang gelap. Di dalam hatinya, sebuah pergulatan batin yang hebat sedang terjadi; ia sangat merindukan kehadiran Adrian untuk menyelamatkannya, namun di sisi lain, ia lebih baik mati di tangan Rendy daripada harus melihat Adrian meregang nyawa di tempat terkutuk ini.
Rendy Baskoro berdiri di samping tripod kamera, pandangannya terkunci pada pintu masuk. Ia bisa merasakan getaran udara yang berubah. Sifat psikopatnya yang sangat peka terhadap kedatangan musuh membuat senyumannya kembali merekah.
*KREEEKKK...*
Suara gesekan pintu besi tua yang didorong perlahan terdengar menggema keras di dalam kesunyian gudang. Siluet tubuh tegap seorang pria dengan langkah kaki yang konstan dan berwibawa melangkah masuk, memotong cahaya remang-remang dari lampu pijar kuning di atas.
Adrian Dirgantara telah tiba.
"Langkah yang sangat berani, Pak Adrian Dirgantara," suara Rendy memecah keheningan, menggema sinis di antara tiang-tiang beton karat. Pria itu langsung melangkah mendekati Kirana, menjambak rambut wanita itu dengan tangan kirinya hingga Kirana memekik kesakitan dan terpaksa mendongak, sementara tangan kanan Rendy mengacungkan moncong pistol hitamnya tepat ke arah pelipis Kirana. "Satu langkah lagi mendekat, dan aku pastikan otak wanita jalang ini berhamburan di depan matamu."
Adrian menghentikan langkahnya tepat di batas area terbuka, sekitar sepuluh meter dari posisi Rendy. Wajahnya tetap tenang, sedingin es, tidak memperlihatkan sedikit pun kepanikan yang bisa menjadi konsumsi ego Rendy. Namun, saat matanya menangkap lebam di pipi Kirana dan darah yang mengering di bibirnya, rahang Adrian mengatup begitu keras hingga urat-urat di lehernya menonjol tajam.
"Rendy Baskoro," sahut Adrian, suaranya bariton, berat, dan sarat akan otoritas yang mematikan. "Kamu sudah kehilangan segalanya. Perusahaanmu hancur, rekeningmu dibekukan, dan seluruh wilayah Indonesia sudah dikepung oleh polisi. Menahan Kirana di sini tidak akan merubah nasibmu menjadi seorang buronan."
Rendy tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat nyaring dan sumbang, memantul di atap seng gudang. "Buronan? Kamu pikir aku peduli dengan status itu, Adrian?! Aku tidak butuh uang atau perusahaan itu lagi! Semua itu bisa aku bangun kembali di luar negeri! Tapi wanita ini..." Rendy menggoyang kasar kepala Kirana yang berada di dalam cengkeramannya. "...dia adalah milikku! Dia adalah simbol kekalahanku jika dia berada di tanganmu! Aku tidak akan pernah membiarkan seorang Dirgantara mengambil apa yang sudah aku beli dengan harga mahal!"
"Mas Adrian... pergi... tolong pergi..." rintih Kirana dengan suara yang sangat serak, air matanya kembali meluncur deras melihat Adrian yang berdiri tegak mengabaikan luka di lengannya sendiri demi dirinya.
Adrian tidak mengalihkan pandangannya dari Rendy. Tangan kanannya yang memegang *Glock 19* sengaja diturunkan di samping paha, memberikan kesan defensif untuk memancing kelengahan Rendy.
"Kamu tidak pernah memilikinya, Rendy. Kamu hanya mengurungnya dalam ketakutan," ucap Adrian, suaranya beralih menjadi sangat dingin, mengintimidasi mental Rendy yang mulai tidak stabil. "Seorang pria sejati tidak perlu menggunakan rantai besi atau tamparan untuk membuat seorang wanita bertahan di sisinya. Kamu melakukannya karena jauh di dalam lubuk hatimu yang sakit... kamu tahu kamu adalah seorang pecundang yang tidak akan pernah bisa dicintai oleh siapa pun."
Kata-kata Adrian mendarat tepat di titik terlemah psikologis Rendy. Sifat narsistik dan egonya yang terluka hebat membuat wajah Rendy seketika berubah menjadi merah padam. Matanya melotot penuh dengan kabut amarah yang tak terkendali.
"DIAMM!!! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG KAMI, ADRIAN!!!" raung Rendy dengan suara melengking yang mengerikan.
Fokus Rendy pecah. Akal sehatnya runtuh sepenuhnya oleh hinaan Adrian. Dalam puncak kegilaannya, Rendy menggeser moncong pistolnya menjauh dari pelipis Kirana, mengarahkannya langsung ke arah dada Adrian, bersiap untuk menarik pelatuknya.
Melihat pergeseran moncong senjata itu, naluri bertarung Adrian yang telah terlatih langsung mengambil alih. Bersamaan dengan kilatan emosi Rendy, Adrian mengangkat tangan kanannya dengan kecepatan luar biasa.
*TAARRR!*
---
Bersambung ke Episode 19