Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Ruang interogasi itu tetap sama seperti yang dibayangkan banyak orang. Gelap, dingin, dan menyesakkan. Lampu temaram menggantung tepat di atas meja besi, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan, dan satu meja sederhana di antara keduanya. Dari sudut ruangan, sebuah kamera CCTV berkelip kecil, merekam setiap detik peristiwa yang berlangsung dan menyalurkannya langsung ke ruang kendali.
Alma duduk di salah satu kursi itu. Tubuhnya tegak, kedua tangannya terlipat rapi di atas meja. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di bawah pengawasan polisi. Tak ada kegelisahan, tak ada ketakutan, seolah ruang interogasi hanyalah sebuah ruang tamu yang asing baginya. Hampir setengah jam ia menunggu, namun orang yang akan menginterogasinya tak kunjung datang.
Suasana hening, hanya denting jam dinding yang terdengar samar, seperti menambah tekanan psikologis bagi siapa pun yang menunggu. Tetapi Alma? Ia hanya sesekali mengedip, bibirnya membentuk lengkungan tipis seolah menikmati kesunyian yang menekan itu.
Hingga akhirnya, suara pintu berderit memecah keheningan. Pintu baja itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok tegap dengan wajah keras dan ekspresi datar. Langkah kakinya mantap, setiap hentakan sepatu terdengar menggema di lantai dingin.
"Selamat malam, Nona. Kita bertemu kembali," sapa Oscar, suaranya berat dan menekan, membawa wibawa yang sulit diabaikan.
Awalnya, interogasi ini dijadwalkan akan dilakukan oleh Angel. Namun, begitu Oscar mendengar bahwa Alma telah dibawa ke kepolisian, ia segera menawarkan diri untuk menggantikannya. Semua orang tahu, bila Oscar turun tangan, tidak ada ruang untuk basa-basi.
"Kau terlihat baik," ujarnya lagi sambil menarik kursi di hadapan Alma.
Alma memiringkan kepalanya sedikit, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. Dengan nada polos, ia menjawab, "Mengapa aku harus terlihat tidak baik?"
Oscar menyilangkan tangan di meja, mencondongkan tubuh ke arahnya. "Tentu saja kau dalam keadaan baik. Violet menghilang."
Alma tersenyum samar. "Dan apa hubungannya denganku?" tanyanya, ringan seolah hal itu sama sekali bukan urusannya.
Oscar tidak menjawab segera. Matanya yang tajam menelisik wajah Alma, berusaha mencari celah, sesuatu yang bisa mengkhianati ketenangan gadis itu. "Sedikit banyak, ada hubungannya. Kau pernah berselisih dengannya. Bahkan dengan keduanya," katanya dengan nada sinis. "Kau pasti mengerti maksudku."
Permainan kata Oscar seperti anak panah yang dilepaskan tepat ke arah jantung. Namun Alma hanya menghela napas pendek, senyumannya tetap di tempat. "Itu hanya kesalahpahaman. Mereka hanya menjalankan perintah. Aku tidak mempermasalahkannya. Lagipula, akulah korban di sini."
Oscar mengetuk meja dengan jari-jarinya, lalu menatap Alma lebih tajam. "Tentu saja. Kau korban," ucapnya datar. "Alibi yang sempurna untuk menyimpan dendam."
Kali ini, wajah Alma sedikit berubah. Bibirnya tergigit, seolah ada tekanan tak kasatmata yang menekan dadanya. "Tetapi tidak pernah terlintas di pikiranku untuk membalas perbuatan mereka," ujarnya lirih, hampir seperti bisikan.
Oscar tidak tergerak. "Lalu bagaimana dengan malam itu?" tanyanya tiba-tiba. "Kau ada di sana, tepat saat Violet menghilang. Dengan keranjang mawar merah di tanganmu. Bukankah itu kebetulan yang terlalu manis?"
Sorot mata Alma meredup. Ada ketidakadilan yang jelas terpancar di sana. "Semua orang tahu akan ada pertunjukan kembang api malam itu. Apa aku tidak boleh berada di sana? Menikmati malam yang indah seperti orang lain?"
Oscar menyandarkan tubuhnya ke kursi, kedua tangannya kini terlipat di dada. "Tentu saja boleh. Hanya saja… mawar merah itu terlalu mencolok."
Sementara itu, di ruang kendali, suasana semakin menegangkan. Dean, yang mengawasi dari balik layar, mulai berkeringat. Tangannya mengepal di atas meja, ekspresi wajahnya campuran antara cemas dan marah. Ia tahu Oscar tidak pernah kenal ampun, ia selalu menusuk langsung ke inti persoalan tanpa memberi ruang bernapas.
Arthur berdiri di sampingnya, wajahnya mengeras, rahangnya menegang. Dean meliriknya sebentar, lalu kembali menatap layar dengan sorot tak tenang.
Kembali ke ruang interogasi, Oscar melanjutkan tekanannya.
Alma menghela napas, lalu menatapnya dengan tenang. "Apakah salah jika aku ingin membagikan kebahagiaan di malam yang indah? Bukankah sukacita bisa hadir dalam bentuk sederhana?"
"Pembunuh itu menggunakan mawar merah sebagai tanda. Dan kau memilikinya, di waktu yang sangat tepat," Oscar menekankan kata-katanya.
"Jika itu masalahnya, maka memang terdengar mencurigakan," jawab Alma pelan. "Namun bukan hanya aku yang menyukai mawar merah. Ada banyak orang lain."
Oscar menyipitkan mata. "Jadi kau mengakuinya?"
Alma menggeleng cepat. "Tidak…"
Ucapan itu baru saja terucap ketika pintu ruang kendali tiba-tiba terbuka dengan kasar. Jacob masuk tergesa-gesa, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat.
"Komandan!" serunya lantang. "Seseorang menemukan mayat… tepat di depan kantor kepolisian. Ada tanda itu juga, mawar merah."
Semua orang di ruang kendali terperangah. Dean mematung, lalu memaki pelan. Arthur, yang sejak tadi menahan diri, mendengus marah.
"Cepat! Katakan pada Oscar untuk menghentikan interogasi ini!" perintah Dean tegas.
Petugas-petugas di ruangan itu segera berhamburan, meninggalkan Arthur yang masih menatap layar dengan wajah kelam.
Di dalam ruang interogasi, Oscar belum mengetahui kabar itu. Ia masih memandang Alma, berusaha membaca setiap gerak-geriknya. Namun, kali ini justru Alma yang membuka suara.
"Tuan," katanya tenang, hampir seperti ia yang memimpin percakapan. "Kau sangat mencurigai ku. Namun, tahukah kau filosofi mawar merah yang lain? Sampai seseorang menggunakannya sebagai tanda pembunuhan?"
Oscar menaikkan alisnya. Pertanyaan itu tak ia sangka.
Alma menundukkan wajahnya sedikit, suaranya lirih namun jelas. "Mawar merah bukan hanya tentang cinta yang manis. Dia juga menyimpan luka yang tersembunyi di balik keindahannya. Ia adalah simbol darah yang mengalir demi pengorbanan, janji yang bisa berubah menjadi kutukan. Indah dipandang, tetapi bisa melukai siapa pun yang berani menyentuh terlalu dekat."
Ia mendongak, menatap Oscar tepat di mata dengan senyum samar. "Jadi menurutku, orang yang sedang kalian cari… bukan sekedar pembunuh. Dia adalah seseorang yang menyimpan dendam membara terhadap korban. Itu hanya sedikit teori dariku. Semoga membantu."
Oscar terdiam. Sorot matanya berubah, ada keraguan yang sempat melintas. Namun sebelum ia bisa menanggapi, pintu ruangan terbuka. Seorang petugas masuk tergesa-gesa, membisikkan sesuatu di telinganya.
Ekspresi Oscar seketika mengeras. Ia menatap Alma sekali lagi, kali ini dengan tatapan sulit dibaca.
"Baiklah. Terima kasih untuk hari ini," ujarnya singkat, lalu berdiri dan keluar bersama petugas itu.
Alma menyandarkan tubuhnya ke kursi, bibirnya melengkung. "Senang membantumu, Tuan," gumamnya pelan, seolah menyimpan sesuatu yang tak bisa ditebak.
Ruang interogasi kembali hening, hanya tersisa suara dengung lampu dan kamera yang terus merekam, seakan menjadi saksi bisu dari permainan pikiran yang baru saja terjadi.
🥀🥀🥀
Kantor kepolisian benar-benar berada dalam keadaan kacau balau. Untuk kedua kalinya, mayat ditemukan tepat di depan pintu mereka, dan yang lebih mengejutkan, semua tanda mengarah pada pelaku yang sama. Para petugas berlarian ke sana kemari, sibuk dengan olah tempat kejadian perkara, sementara tim forensik segera dikerahkan untuk mengumpulkan bukti. Suasana dipenuhi ketegangan, seolah-olah institusi penegak hukum itu tengah dipermalukan di hadapan masyarakat.
Arthur keluar dari gedung bersama Alma, wajahnya dipenuhi amarah yang berusaha ia kendalikan. Tidak ada seorang pun yang sempat mengantar mereka keluar; semua aparat sibuk menanggapi situasi darurat tersebut. Dengan langkah panjang dan penuh tekanan, Arthur menuju mobil yang telah menunggu di pelataran. Di sana, sang sopir serta dua bodyguard dan satu asistennya, termasuk Jean, sudah bersiaga.
"Benar-benar keterlaluan," ujar Arthur dengan nada sinis, suaranya menembus hiruk-pikuk di sekitar. "Mereka bahkan bisa dipermainkan oleh seorang pembunuh. Bagaimana mungkin lembaga sebesar ini kecolongan untuk kedua kalinya?" Ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam pada kerumunan polisi yang masih sibuk. "Aku harap, setelah ini, mereka tidak akan lagi melibatkan putriku dalam perkara semacam ini." Geramnya terdengar jelas.
Alma, yang berjalan di sisinya, berusaha menenangkan amarah sang ayah. "Ayah, jangan terlalu marah. Tidak baik untuk kesehatan. Lagipula, kita sudah memenuhi panggilan mereka. Sekarang semuanya biarkan menjadi urusan polisi." Suaranya tenang, berbeda dengan ketegangan yang bergema di sekitar mereka.
Arthur menarik napas dalam, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah, Ayah tidak akan marah lagi." Ia kemudian mengusap lembut rambut Alma, gerakan kecil yang menyiratkan kasih sayang di balik amarahnya. "Setelah ini, Alma mau kemana? Apakah kau ingin ikut Ayah ke perusahaan?"
Alma menggeleng cepat. "Tidak, Ayah. Di sana pasti membosankan, hanya ada tumpukan dokumen. Aku lebih ingin pergi ke toko buku, lalu berjalan-jalan sebentar."
Arthur menatap putrinya dengan penuh perhatian, lalu menghela napas. "Baiklah. Tetapi hati-hati, jangan sampai pulang terlalu malam," pesannya sebelum masuk ke mobil bersama asistennya dan bodyguard. Dalam sekejap, kendaraan hitam itu melaju meninggalkan halaman kantor kepolisian.
Jean segera membuka pintu mobil untuk Alma. Gadis itu masuk dengan anggun, dan Jean menutup pintu dengan penuh kehati-hatian. Tak lama kemudian ia mengambil tempat di kursi pengemudi, menyalakan mesin, lalu membawa mobil Alma menjauh dari lokasi yang masih dipenuhi hiruk-pikuk penyelidikan.
🥀🥀🥀
T
rotoar jalan komersial pagi itu dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Derap langkah kaki berpadu dengan suara riang para gadis yang keluar-masuk butik, menenteng kantung belanja berisi pakaian dan aksesoris baru. Aroma kopi yang diseduh segar menyeruak dari kafe-kafe kecil yang berjajar rapi di sepanjang trotoar, tempat para pengunjung duduk bercengkerama sambil tertawa. Seolah-olah kehidupan begitu ringan, damai, dan penuh warna.
Di tengah keramaian itu, Alma berjalan dengan tenang. Jemarinya yang lentik menggenggam sebuah paperbag berisi dua buku yang baru saja ia beli. Di belakangnya, Jean melangkah setia, menjaga jarak dengan penuh hormat. Kontras dengan suasana riuh di sekitarnya, langkah keduanya terasa stabil, ritmis, seakan dunia tak bisa mengguncang keseimbangan mereka.
"Jean," ucap Alma sambil melirik sekilas ke arah keramaian, "menurutmu, apakah mereka akan menyukai kejutan itu? Terutama mantan kaptenmu. Aku menyukai ekspresinya tadi, sangat menghibur."
"Tentu, Nona," jawab Jean mantap. "Kejutan yang Anda berikan sungguh istimewa di hari yang seindah ini."
"Benarkah?" Alma terkekeh kecil, tawanya ringan namun mengandung nada sinis yang samar.
Jean ragu sejenak, sebelum kemudian membuka suara. "Bolehkah saya mengajukan pertanyaan, Nona?"
"Tentu saja."
"Apakah Anda memiliki masalah pribadi dengan siswa itu?"
Langkah Alma sedikit melambat. Tatapannya lurus ke depan, kosong, seakan menyibak lapisan kenangan yang kelam. "Dia dan temannya pernah menyeretku dalam sebuah penghakiman yang tidak adil. Jadi... menyeretnya ke kantor polisi dalam keadaan tak bernyawa, bukankah itu pilihan paling bijaksana? Bukankah itu cara terbaik untuk mengembalikan apa yang pernah mereka lakukan padaku?"
Jean terdiam. Kata-kata Alma menusuk logikanya, namun maknanya begitu kabur. Ia berusaha mencerna, namun gagal. Ia tahu alasan Alma untuk korban-korban sebelumnya, tapi yang satu ini? Ia tak pernah melihat interaksi langsung antara Alma dengan siswa itu.
"Kau tidak akan mengerti, Jean," Alma menambahkan lirih, namun penuh penekanan. Karena peristiwa itu bukan terjadi di waktu ini. Itu bagian dari kehidupan pertamanya di mana tidak ada ampun, tidak ada belas kasihan.
Jean menunduk, menerima keterbatasannya. Alma kembali melangkah dengan anggun, hingga pandangannya menangkap sosok yang familiar.
Di sebuah kursi besi trotoar, seorang pemuda duduk termenung. Bahunya merosot, wajahnya kusut penuh luka. Sosok itu adalah Calvin.
Alma menoleh pada Jean. "Jean, beristirahatlah. Aku akan melakukan sesuatu. Nanti aku akan memanggilmu kembali."
Tanpa bertanya lebih jauh, Jean mengangguk dan berbalik pergi. Alma melanjutkan langkahnya dengan tenang, mendekati kursi besi itu.
"Calvin?" panggil Alma lembut.
Pemuda itu, yang tadinya menatap kosong ke tanah, tersentak. Ia mendongak, dan seketika matanya bertabrakan dengan tatapan Alma. Namun refleksnya adalah berpaling, buru-buru menyembunyikan wajahnya yang kacau.
Ketidaksengajaan ini membuat jantung Calvin berdegup lebih cepat. Ia memang sempat membayangkan bertemu Alma tadi, tetapi tidak dengan kondisi seburuk ini. Wajahnya babak belur, tubuhnya lusuh tanpa arah tujuan. Semua karena ulah pak tua sialan itu. Ia meninggalkan rumah dengan tangan kosong, dan kini, ia tampak tak ubahnya seorang tunawisma. Malu, apalagi di depan gadis yang diam-diam tengah ia dekati.
"Calvin, kau baik-baik saja?" Alma mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada yang lebih dalam. Ia lalu duduk di samping Calvin, jaraknya begitu dekat hingga aroma samar parfum Alma menusuk indra penciumannya. Pandangan Alma tertuju pada luka di sudut bibir pemuda itu. "Wajahmu terluka. Kau benar-benar baik-baik saja?"
Calvin berdehem, mencoba menutupi rasa malu dan kegugupannya. "Tidak masalah. Hanya luka kecil." Lalu ia menatap sekilas ke arah paperbag di tangan Alma. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini, gadis kutu buku?"
Alma mengangkat paperbag itu. "Aku baru saja membeli buku."
Calvin menyeringai tipis, meski ekspresi itu segera berubah menjadi meringis karena lukanya tertarik.
Alma refleks ikut meringis, seolah turut merasakan sakitnya. "Apakah tidak terlalu sakit? Seingatku, ada sebuah klinik di dekat sini. Kita bisa ke sana, agar lukamu segera diobati."
Calvin menggeleng cepat. "Tidak perlu. Ini benar-benar bukan masalah besar."
Alma mengangguk pelan, lalu menyelipkan tangannya ke dalam saku gaun. Ia mengeluarkan sebuah plester kecil bergambar kelinci, lalu menempelkannya dengan lembut di sudut bibir Calvin. "Setidaknya ini bisa menutupinya," ujarnya, tersenyum hangat.
Senyuman itu membuat dada Calvin bergetar hebat, detak jantungnya kacau tak beraturan.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Calvin?" suara Alma merendah, penuh empati, seakan menyihir.
Entah mengapa, Calvin merasa lidahnya longgar. Seolah tatapan Alma menarik keluar semua isi hatinya. Ia pun menceritakan semuanya, tentang bagaimana ayahnya memukulnya hanya karena ia menolak untuk bertemu dengan wanita muda yang dibawa pulang. Tentang bagaimana ayahnya berencana menikahi wanita itu.
"Bayangkan saja," desah Calvin dengan nada getir. "Wanita itu hanya terpaut tiga tahun dariku. Semua orang tahu dia hanya mengincar status dan kekayaan. Tapi ayahku buta, dia tidak melihat apa pun selain pesona murahan perempuan itu. Bahkan, aku yang darah dagingnya sendiri dipukul demi membela dia."
Alma mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak menyela satu kata pun. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, bibirnya tersenyum samar, seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk menyisipkan racun halus dalam nasihatnya.
"Bolehkah aku memberi pendapat?" akhirnya Alma bersuara.
"Tentu," jawab Calvin, penuh rasa ingin tahu.
"Menurutku, terimalah wanita itu dengan baik."
Calvin sontak menoleh dengan ekspresi terkejut. "Apa kau gila? Aku harus menerima wanita itu sebagai ibu baruku?"
Alma menggeleng perlahan, senyumnya tetap tenang. "Bukan begitu maksudku. Aku tidak menyuruhmu benar-benar menerimanya. Hanya... berpura-pura. Kau sendiri bilang dia licik. Maka gunakanlah kelicikan untuk melawannya. Mengapa kau harus melawan terang-terangan, jika kau bisa mengendalikannya dari dalam?"
Calvin terdiam, keningnya berkerut.
"Saat ini, ayahmu sedang di mabuk cinta padanya. Apa pun yang kau lakukan untuk melawan, hanya akan berakhir sia-sia. Kau hanya akan dicap durhaka, dan semakin jauh dari pengaruh ayahmu." Alma mencondongkan tubuh sedikit, suaranya nyaris berupa bisikan yang hanya bisa didengar Calvin. "Tetapi jika kau menahan diri, jika kau pura-pura jinak... bahkan musuh yang paling berbahaya pun akan terkecoh. Dan ketika waktunya tiba..."
Alma menatap lurus ke mata Calvin, tatapannya tajam bagai belati tersembunyi. Bibirnya bergerak lambat, menekankan setiap kata.
"... kau bisa menggigit lehernya. Sekali saja. Hingga dia tidak akan pernah bisa melawan lagi."
Calvin ternganga. Kata-kata Alma menusuk ke dalam pikirannya seperti racun manis yang membius. Logikanya berusaha menolak, tapi hatinya seakan tergoda. Ada sesuatu yang menggetarkan dalam strategi licik itu, sesuatu yang sesuai dengan kemarahan terpendamnya.
Alma kemudian menepuk ringan bahu Calvin, ekspresinya kembali lembut. "Tenanglah. Dunia tidak selalu dimenangkan oleh orang kuat. Terkadang, kemenangan justru milik mereka yang tahu kapan harus tersenyum... dan kapan harus menikam."
Detik itu, Calvin tahu ia sudah jatuh ke dalam jaring halus yang Alma anyam dengan sempurna.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?