Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Yang Semu
Di dalam kamar tidur mewah di paviliun samping, suasana dipenuhi oleh gelak tawa yang sarat akan keserakahannya. Kertas-kertas pembungkus bermerek butik ternama berserakan di atas lantai marmer, berbaur dengan belasan tas belanjaan berlogo perancang busana Internasional. Talitha Munic berdiri di depan cermin besar berbingkai ukiran emas, mematut dirinya sendiri dengan keangkuhan yang kian memuncak.
Dia baru saja kembali dari pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota. Bermodalkan kartu kredit sekunder keluarga Moretti yang berhasil dia peras dari Batara sebelum pria itu berangkat ke Baston, Talitha benar-benar menggila. Dia hampir membeli seluruh isi mal tanpa memedulikan angka-angka nol yang tertera pada struk tagihan. Bagi wanita berhati ular itu, uang Batara adalah haknya yang mutlak setelah malam yang dia habiskan.
"Lihatlah, Nyonya... Anda sangat cocok memakai gaun itu. Aura kecantikan Anda begitu memancar, membuat siapa saja yang melihat pasti akan bertekuk lutut," puji Jenna, pelayan oportunis yang kini sepenuhnya bersekutu dengan Talitha. Tangan Jenna dengan cekatan merapikan bagian belakang gaun malam berbahan beludru hitam yang melekat ketat di tubuh Talitha.
Talitha memiringkan tubuhnya, menatap lekuk tubuhnya yang terekspos dengan senyuman puas. Gaun hitam itu membingkai siluet tubuhnya dengan sangat pas, mengekspos pundak putih mulusnya dan belahan dadanya yang rendah.
"Tentu saja, Jenna," sahut Talitha, suaranya terdengar renyah namun dingin. Dia mengusap permukaan kain beludru itu dengan jemarinya yang dihiasi cincin berlian baru. "Sebagai calon Nyonya Moretti yang sah, penampilan adalah hal utama. Setiap jengkal pakaian yang melekat di tubuhku harus mencerminkan martabat sebagai keluarga mafia paling berkuasa di dunia hitam ini. Aku tidak boleh terlihat cacat sedikit pun."
Talitha berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan anggun sembari menuangkan secangkir teh kamomil hangat. Wajahnya mendadak berubah masam ketika pikirannya beralih pada sosok yang paling dia benci di mansion ini.
"Jalang itu... Sonya... dia sama sekali tidak pantas menyandang gelar Nyonya Moretti. Apalagi aku mendengar dari pelayan lain bahwa beberapa hari ini dia hanya berdiam diri di dalam kamarnya seperti tikus lumpuh," cibir Talitha, bibirnya melengkung membentuk senyuman sinis. "Kakak tiriku yang berpenyakitan itu... kenapa nyawanya belum habis juga, ya? Padahal aku tahu betul kondisi tubuhnya sudah sangat lemah dan di ambang batas. Sepertinya malaikat maut pun enggan mencabut nyawanya karena muak."
Jenna melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya sedikit lalu berbisik dengan nada suara yang sangat rendah di dekat telinga Talitha, menyiratkan sebuah rencana yang sangat kejam. "Nyonya... jika malaikat maut enggan menjemputnya, bukankah kita bisa membantunya sedikit? Sebuah kecelakaan kecil di dalam kamar mandi, atau... sedikit bumbu tambahan di dalam makan malamnya? Itu akan mempercepat proses kepergiannya tanpa menimbulkan kecurigaan Tuan Besar."
Talitha terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa renyah yang menggema di seluruh penjuru kamar. "Hahaha! Jenna, Jenna... jangan mengotori tanganmu dengan perbuatan kotor dan murahan seperti itu di dalam mansion ini. Risikonya terlalu besar jika harimau seperti Tuan Batara sampai mencium baunya."
Talitha meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja dengan bunyi dentingan halus. "Aku sangat yakin, tanpa perlu kita sentuh pun, kakakku yang berpenyakitan itu akan segera mati dengan sendirinya. Jantungnya yang cacat itu tidak akan bertahan lama menghadapi tekanan di lingkungan mafia yang kejam ini. Kelak, cepat atau lambat, hanya aku... hanya Talitha Munic yang akan berdiri tegak menjadi Nyonya Moretti yang sah di samping takhta Tuan Batara."
Jenna segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura menyesal. "Maaf, Nona Talitha... saya hanya ingin menyingkirkan jalang itu dengan cepat demi kebaikan dan kelancaran masa depan Anda di klan ini."
"Hahaha, tidak perlu meminta maaf. Aku justru sangat suka dengan jalan pemikiranmu yang tajam itu," ucap Talitha, matanya berkilat senang. Dia mengibaskan tangannya dengan santai. "Tenang saja, Jenna. Saat aku sudah menjadi Nyonya Moretti yang sah dan memegang seluruh kunci kekuasaan di keluarga ini, kamu akan aku angkat menjadi asisten pribadiku yang paling berkuasa di antara seluruh pelayan. Statusmu akan naik drastis."
Mata Jenna berbinar penuh kelicikan, dia kembali membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Nyonya Talitha. Saya tahu Anda bukan orang yang suka melupakan orang kecil yang setia seperti saya. Saya akan mengabdi sepenuhnya pada Anda."
"Sudah, sudah... jangan membicarakan hal buruk dan menjijikkan seperti jalang itu lagi di siang hari seperti ini. Bisa sial tujuh turunan hidupku yang indah ini," seru Talitha sembari mengibaskan tangannya, berdiri dari sofa untuk berganti pakaian. "Sekarang, cepat bereskan semua barang-barang belanjaan itu ke dalam lemari. Hati-hati saat menyusunnya, jangan sampai ada kain yang koyak atau tas yang tergores sedikit pun. Itu semua harganya sangat mahal dan diproduksi terbatas!"
"Baik, Nyonya. Segera saya laksanakan," sahut Jenna dengan patuh, mulai memunguti tas-tas mewah itu dengan penuh kehati-hatian.
...****************...
Sonya Moretti duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra di atas ranjangnya. Di atas meja nakas di sampingnya, sebuah gelas kosong bekas air putih dan botol suplemen penambah darah dosis tinggi tampak berdiri tegak. Beberapa hari telah berlalu dan berkat perawatan intensif dari Ibu Yooka, kondisi tubuh Sonya secara bertahap sudah jauh lebih baik. Rona merah samar mulai kembali ke permukaan kulit pipinya, meskipun bibirnya belum sepenuhnya kembali ke warna merah alami.
Meskipun demikian, Sonya menyadari bahwa dirinya belum bisa beraktivitas secara normal. Setiap kali dia mencoba menurunkan kakinya untuk berjalan lebih dari sepuluh langkah, kepalanya kerap kali merasakan pusing yang luar biasa, seolah-olah sekelilingnya berputar hebat akibat pasokan oksigen di dalam darahnya belum sepenuhnya seimbang dengan kinerja jantungnya yang lemah.
Ibu Yooka berdiri di samping ranjang, menatap wajah sang Nyonya Muda dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa sayang sekaligus kelegaan. "Nyonya Muda Sonya... tiga hari lagi Tuan Besar Batara akan pulang dari kota Baston. Apakah kondisi tubuh Anda hari ini sudah terasa mendingan?"
Sonya menoleh, melemparkan seulas senyuman tipis yang tulus kepada wanita tua itu. "Sudah jauh lebih baik, Ibu Yooka. Terima kasih atas semua suplemen dan bubur hangat yang Ibu siapkan secara sembunyi-sembunyi setiap pagi. Tapi... rasa lemas di persendian dan pusing di kepala kadang-kadang masih terasa jika aku bergerak terlalu cepat." Sonya menghela napas pendek, meraba dadanya yang berdegup lambat. "Mudah-mudahan saja... ketika Suamiku pulang tiga hari lagi, kondisiku sudah jauh lebih baik sehingga dia tidak akan menyadari perubahan apa pun dari tubuhku."
Ibu Yooka mengangguk paham, dia mengusap tangan dingin Sonya lembut. "Pasti, Nyonya. Anda hanya perlu beristirahat total tanpa memikirkan hal-hal berat. Oh ya, untuk malam ini... Nyonya Muda mau makan apa? Biar saya sendiri yang menyiapkannya di dapur dalam."
"Apa saja, Bu. Aku tidak pilih-pilih makanan," jawab Sonya lembut. "Apa pun yang Ibu Yooka masak, aku pasti akan memakannya."
"Baiklah kalau begitu, Nyonya Muda. Saya akan ke bawah dulu untuk mulai memotong sayuran. Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan secara mendadak, Anda bisa langsung memanggil saya melalui interkom di samping ranjang ini," ucap Ibu Yooka sembari bersiap untuk melangkah berdiri dari posisinya.
Namun, sebelum tubuh paruh baya Ibu Yooka sempat berdiri tegak, sebuah ketukan yang terdengar berat, tegas, namun penuh keraguan terdengar dari balik pintu gerbang kayu ganda kamar utama tersebut.
Tok... Tok... Tok...
Sonya dan Ibu Yooka saling berpandangan sejenak dengan raut wajah yang mendadak menegang. Di dalam mansion ini, ketika Batara tidak ada, hampir tidak ada seorang pun anak buah atau pelayan yang berani mendekati, apalagi mengetuk pintu kamar tidur utama tanpa izin mendesak dari Ibu Yooka.
"Biar saya buka pintunya dulu, Nyonya," bisik Ibu Yooka, melangkah dengan hati-hati menuju ke arah pintu.
Begitu tangan tua Ibu Yooka memutar gagang pintu dan membukanya sedikit, wanita tua itu langsung terkesiap mundur satu langkah. Matanya membelalak lebar menatap sosok pria tinggi tegap yang berdiri tegak di ambang pintu dengan wajah yang pucat namun memancarkan aura ketegasan yang tak terbantahkan.
Dia mengenakan kemeja hitam longgar yang tidak dikancingkan sepenuhnya di bagian atas, memperlihatkan balutan kain kasa perban putih yang masih sedikit bernoda darah di bahu kanannya. Wajahnya yang biasa kaku tanpa ekspresi, kini dipenuhi oleh guncangan emosi yang sangat pekat. Sepasang matanya yang tajam tampak memerah, menatap lurus ke dalam kamar, melewati bahu Ibu Yooka, langsung mengunci pandangannya pada sosok Sonya yang tengah duduk di atas kasur.
"Siapa yang mengetuk pintu, Ibu Yooka?" Tanya Sonya dari atas ranjang, suaranya sedikit meninggi.
gx tega iikh kak liat sonyaa di sakitin trus ,,
ayoo laa kak sx aj jadiin si Sonya wonder woman ,,
atau kasih kekuatan dikit ,, buat nampol si thalita ,, 😒😒😒😒
terlanjur sakit dan kecewa
Hilang saja kau dr muka bumi ini
karena itu tanda dia berarti bt muu
dan kau jadi terbiasa kan Sonya