Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Gubuk itu sempit. Bau tanah basah bercampur dengan aroma darah kering dari hidung Raka yang masih menetes pelan. Di luar, suara kerumunan tidak pernah berhenti. Teriakan, caci maki, dan tuduhan liar menerobos celah-celah dinding bambu yang rapuh, masuk ke telinga Raka seperti jarum-jarum halus.
"Pembunuh!"
"Usir dia!"
"Anak setan pakai ilmu hitam!"
Raka terbaring di atas tikar anyaman yang sudah usang. Setiap kali dia mencoba menarik napas dalam-dalam, tulang rusuk kirinya berteriak protes. Retak. Mungkin patah. Dia tidak yakin. Yang pasti, bergerak adalah siksaan.
Di ambang pintu, Laras berdiri. Tangannya memegang sebilah parang dapur berkarat yang dia ambil dari sudut gubuk. Bukan untuk menyerang. Tapi untuk memberi pesan visual: Jangan coba-coba masuk.
Wajah Laras datar. Matanya menyapu kerumunan di halaman depan dengan tatapan bosan, seolah-olah dia sedang menunggu antrean bakso, bukan menghadapi massa yang ingin membakar rumah.
"Dia sekarat," teriak Laras. Suaranya tajam, memotong kebisingan. "Kalau kalian masuk paksa dan dia mati di sini, siapa yang mau tanggung jawab? Kalian? Atau Pak Bima yang masih koma dan ngompol di tempat tidur?"
Kerumunan terdiam sesaat. Kata "ngompol" itu efektif. Itu mengubah narasi horor menjadi sesuatu yang memalukan dan konyol. Beberapa warga saling pandang, ragu-ragu. Ketakutan akan kutukan atau tuntutan hukum desa mulai bekerja.
Laras memanfaatkan keraguan itu. Dia menutup pintu kayu yang berbunyi decit keras, lalu mengganjalnya dengan kursi tua yang kakinya sudah goyah.
Selesai. Untuk sementara, mereka aman.
Laras berbalik. Wajahnya yang tadi dingin langsung berubah jadi ekspresi kesal yang jujur. Dia menendang pelan kaki Raka yang terluka—cukup keras untuk membuat Raka meringis, tapi tidak cukup untuk memperparah luka.
"Gubukmu bau darah," gerutu Laras sambil melipat tangan di dada. "Besok kalau kau hidup, kau harus bersihkan lantai ini sendiri. Aku gak mau tidur di tempat yang baunya seperti jagal ayam gagal."
Raka tertawa kecil. Sakit. Napasnya tersengal. "Aku... gak janji besok hidup."
"Mati gampang. Hidup susah. Pilihannya jelas," balas Laras singkat. Dia duduk di samping Raka, mengambil kain lap kotor, dan mulai membersihkan darah di wajah Raka dengan gerakan kasar tapi hati-hati. "Kau terlihat menyedihkan. Guru kabur. Artefak diam. Dan kau hampir mati karena dihajar udara."
"Bukan udara," koreksi Raka pelan. "Tekanan spiritual."
"Apapun itu. Intinya kau lemah." Laras melemparkan kain lap ke ember air. "Dan kelemahan di desa ini adalah dosa terbesar."
Sementara itu, di rumah besar Keluarga Bima yang terletak di ujung timur desa, suasana jauh lebih dingin.
Hendra dan Joko berlutut di hadapan Pak Hardo, tetua keluarga Bima. Kepala mereka tertunduk rendah. Keringat dingin mengalir di pelipis mereka meski ruangan ber-AC.
"Dia pakai ilmu hitam, Pak!" lapor Hendra dengan suara gemetar, berusaha meyakinkan. "Tiba-tiba aura hitam keluar dari tubuh Raka! Pak Bima langsung jatuh! Kami... kami cuma berusaha mencegah!"
Pak Hardo duduk di kursi rotan besarnya. Matanya setengah terpejam. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan ritme lambat. Tak. Tak. Tak.
Dia tahu Hendra berbohong. Atau setidaknya, melebih-lebihkan.
Semalam, saat dia lewat dekat pasar, dia merasakan getaran itu. Bukan ilmu hitam murahan. Itu adalah tekanan spiritual tingkat tinggi. Level yang bahkan dia, sebagai kultivator menengah di desa ini, sulit hadapi tanpa persiapan. Ada orang kuat di sana. Orang yang mungkin mencari Raka.
Tapi Pak Hardo memilih untuk diam.
Mengapa repot-repot menjelaskan? batinnya dingin. Jika Raka dilindungi kekuatan tinggi, dia tidak akan mati dikeroyok warga bodoh ini. Jika dia lemah, maka kematiannya adalah pelajaran buat desa: jangan macam-macam kalau tidak punya backing.
Bagi Pak Hardo, Raka hanyalah bidak catur. Alat uji coba. Jika Raka selamat dari sidang besok, berarti dia punya nilai. Jika mati, ya sampah dibuang. Tidak perlu emosi. Tidak perlu keadilan. Hanya efisiensi.
"Lakukan sidang besok pagi," ucap Pak Hardo akhirnya. Suaranya datar, tanpa nada marah maupun kasihan. "Jangan bunuh dia sebelum sidang selesai. Kita butuh 'terdakwa' yang masih bernapas untuk pertunjukan adat. Itu saja."
Hendra dan Joko menghela napas lega. Mereka selamat. Tuduhan mereka diterima. Sekarang, tinggal menghancurkan Raka secara sosial.
Kembali ke gubuk.
Raka memejamkan mata. Rasa sakit di tubuhnya membuatnya sulit berpikir jernih. Dia fokus mengatur napasnya. Menggunakan teknik dasar pernapasan yang pernah diajarkan Guru—walau Guru sudah pergi tanpa pamit—untuk menstabilkan detak jantung yang kacau.
Lambat-lambat. Tarik. Tahan. Buang.
Setiap tarikan napas adalah perjuangan. Tapi setiap hembusan adalah kemenangan kecil.
Laras memperhatikan perubahan pola napas Raka. Dia tidak bertanya apa yang dilakukan Raka. Dia hanya mengangguk puas.
"Kau mulai stabil," komentarnya. "Bagus. Besok sidang. Semua warga akan hadir. Keluarga Bima akan mendesak. Kamu gak punya bukti. Kamu gak punya tenaga."
Raka membuka matanya. Pandangannya lelah, tapi ada kilatan tajam di sana. "Aku punya satu hal yang mereka gak tau."
"Apa? Ilmu hitam fiktif yang dituduhkan Hendra?" tanya Laras sinis.
"Tidak," jawab Raka. "Aku punya waktu."
Laras mengangkat alis. "Waktu?"
"Tetua Bima belum turun tangan," jelas Raka pelan. "Dia membiarkan anak buahnya yang berteriak. Artinya... dia sedang mengamati. Dia tidak peduli pada Raka si pembunuh. Dia peduli pada Raka si anomali. Selama aku masih bernapas dan menarik perhatian, aku aman dari pembunuhan diam-diam."
Itu strategi gila. Mengandalkan ketidakpedulian musuh sebagai perisai.
Laras menatapnya lama. Lalu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Senyum sinis yang jarang terlihat.
"Kau gila," katanya. "Mengandalkan keterlambatan musuh sebagai strategi survival. Tapi... oke. Masuk akal bagi otak yang rusak sepertimu."
Dia berdiri, meregangkan punggungnya yang pegal.
"Aku akan pastikan mereka tidak membunuhmu sebelum waktunya," janji Laras. "Tapi kau harus bangun besok. Kalau kau pingsan di tengah sidang, aku akan tendang kau sampai sadar. Mengerti?"
Raka mengangguk lemah. "Mengerti."
Di luar, suara kerumunan mulai mereda seiring larutnya malam. Tapi ketegangan tidak hilang. Itu hanya menumpuk. Menunggu matahari terbit. Menunggu sidang dimulai.
Dan Raka tahu, pertarungan besok bukan soal siapa yang paling kuat memukul. Tapi siapa yang paling tahan dihakimi.
Tidak ada kotak biru. Tidak ada angka. Hanya rasa sakit yang nyata, dan tekad yang lebih nyata lagi.
Bersambung.