Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Karina tidak jadi pergi ke panti asuhan Pelita, karena harus menunggu keadaannya membaik. Tiba-tiba saja gadis itu demam dan demamnya cukup tinggi, sehingga membuat kedua orang tua angkatnya sangat khawatir.
“Jo, bagaimana keadaan Karina?” Tanya Xander setelah putra keduanya selesai memeriksa keadaan Karina yang kembali memejamkan mata.
“Demamnya sangat tinggi, tapi aku sudah menyuntikkan obat penurun panas. Kita tunggu sampai dua jam ke depan, kalau demamnya masih belum mau turun… terpaksa kita harus membawa Karina ke rumah sakit,” jelas Joshua dengan helaan napas panjang.
“Kenapa bisa demam tinggi?” Tanya Lesa yang sudah duduk di sebelah putrinya yang masih belum mau membuka mata.
“Aku tidak bisa memberikan jawaban, karena ada banyak penyebab demam. Tapi kemungkinan besar, karena kejadian tadi di sekolah yang membuat Karina demam,” jawaban itu membuat Lesa semakin khawatir.
“Mama tenang saja, Joshua akan tetap di sini untuk mengawasi Karina,” Joshua mencoba menenangkan mamanya.
Di dalam kamar Karina hanya ada mereka bertiga, Joshua sendiri pulang lebih cepat… karena panggilan darurat dari sang mama. Begitupun dengan Xander yang langsung meninggalkan meeting penting dan digantikan oleh Jemian.
“Mama makan dulu, dari tadi siang belum makan kata Bi Beti!” Xander menatap istrinya yang masih terus menatap wajah pucat Karina.
“Mama tidak lapar, Papa sama Joshua saja yang makan!” Kata Lesa yang tidak ingin meninggalkan putrinya.
Ketakutan terbesar Lesa adalah kehilangan putri yang baru bersamanya, ia sangat takut kalau Karina akan meninggalkannya.
“Kamu jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi, kita harus percaya kalau Karina adalah anak yang kuat dan tidak akan pernah meninggalkan kita!” Bisik Xander yang sangat paham dengan sifat istrinya.
“Mama percayakan Karina kepada Joshua! Joshua akan melakukan yang terbaik untuk adik perempuan Joshua,” Joshua juga mencoba menenangkan mamanya.
“Benar kata Jo! Kalau Mama nanti sakit, Karina pasti sedih. Apa Mama mau Karina sedih?” Xander menahan senyumannya, saat sang istri langsung menggelengkan kepalanya.
“Kalau gitu Mama titip Karina dulu, kalau ada apa-apa panggil Mama!” Pesan Lesa kepada putra keduanya.
Joshua menganggukkan kepalanya, ia tidak akan membiarkan adik angkatnya kenapa-napa. Joshua juga menyayangi Karina sebagai seorang adik, dan ia juga sangat khawatir… tetapi bisa mengontrol ekspresinya dengan sangat baik.
“Karina, Mama sangat menyayangimu… begitupun dengan Kakak. Jadi kamu harus kuat dan lekas sembuh!” Joshua mengecup kening hangat sang adik.
“Kenapa?” Suara Jevan mengejutkannya.
Joshua menatap tajam sang adik yang membuatnya terkejut. Namun ia tetap menjawab pertanyaan Jevan.
“Demam tinggi.”
Jevan mendekat dan tangannya menyentuh kening sang adik yang ternyata begitu panas.
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?” Tanya Jevan yang masih belum menjauhkan tangannya.
“Sudah diberi obat penurun panas, kalau nanti panasnya tidak turun… maka Karina harus dibawa ke rumah sakit,” jawaban itu membuat Jevan mengerti.
“Tumben pulang sore?” Tanya Joshua yang merasa aneh, karena baru pertama kalinya sang adik kembar pulang sore.
Jevan memang selalu pulang malam, bahkan nyaris tengah malam. Lalu pagi sudah berangkat. Kecuali kalau ada keadaan darurat, baru Jevan bisa pulang kapan saja.
“Syutingnya ditunda, lawan mainnya kecelakaan,” jawab Jevan yang duduk di tepian kasur.
“Kalau ada waktu luang, mending istirahat! Kamu terlalu sibuk dan jarang tidur dengan benar, sayangi tubuhmu!” Joshua memberi nasihat kepada sang adik, karena mau bagaimanapun Jevan adalah adiknya dan ia sangat mengkhawatirkan kesehatan Jevan.
“Tadi habis minum kopi, jadi aku tidak mengantuk,” jawab Jevan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Joshua hendak membuka suaranya, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering dan ia langsung menjauhkan diri untuk mengangkat panggilan dari tunangannya.
“Iya Sayang, nanti malam kita makan malam,” suara Joshua terdengar begitu menggelikan.
“Dasar budak cinta!” Dengus Jevan yang benar-benar merinding melihat kakak-kakaknya yang sedang jatuh cinta.
...***...
Keadaan Karina sudah membaik, walau demamnya masih belum sembuh. Setidaknya panas ditubuhnya sudah tidak separah tadi sore, tetapi gadis itu tampak masih lemas dan tidak bisa turun dari tempat tidurnya.
Jemian berada di dalam kamar sang adik, ia tidak menyangka kalau Karina akan terlihat selemah ini. Padahal tadi pagi, gadis itu terlihat begitu sehat dan masih bisa tersenyum sangat cerah.
“Sekali lagi ya?” Lesa meminta putrinya untuk makan satu sendok lagi.
“Aku sudah kenyang,” Karina menggelengkan kepalanya.
Gadis itu tidak bisa makan banyak, mulutnya terasa pahit. Ini saja, Karina makan dengan sangat terpaksa… karena tidak ingin membuat keluarga angkatnya khawatir.
“Nyonya, di bawah ada tamu!” Bi Beti mengetuk pintu untuk melapor kalau di bawah ada seorang tamu.
“Jemian, jaga adikmu!” Pesan Lesa kepada putra pertamanya.
Joshua sedang keluar untuk makan malam bersama tunangannya, sedangkan Xander sedang pergi ke acara bisnis rekan kerjanya. Kalau Jevan sedang berada di dalam kamarnya, sepertinya pria itu masih tertidur.
Jemian menganggukkan kepalanya, tetapi sebelum ia beranjak dari sofa… ponselnya tiba-tiba berbunyi dan sebuah nama membuatnya memilih untuk keluar dari kamar Karina.
“Sepertinya itu dari calon istri Kak Jemian,” gumam Karina yang sangat paham kalau Jemian sangat mencintai tokoh utama wanita.
Namun, cintanya Jemian akan membuat pria itu dalam bahaya.
Tubuh Karina masih terlalu lemah untuk menggagalkan Jemian bertemu dengan Serana, calon istrinya.
“Karina, kamu bisa sendirian ‘kan? Kakak ada urusan penting!” Kata Jemian yang tidak mau menunggu jawaban sang adik.
“Semoga Kak Jemian baik-baik saja,” gumam Karina yang merasa kalau alur novelnya masih belum memasuki konflik, jadi ketiga kakak angkatnya akan baik-baik saja.
Ponsel Karina berada di dalam tas, jadi ia mencoba turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya. Namun rasa pusing di kepalanya, membuat gadis itu hampir terjatuh… kalau saja tidak ada sepasang tangan kekar yang menahan pinggangnya.
“Kenapa turun dari tempat tidur?” Marah Jevan yang kini menggendong sang adik untuk kembali ke tempat tidur.
“A-aku mau ambil ponsel,” jawab Karina yang tidak berani menatap tatapan tajam sang kakak.
“Kamu masih belum sehat dan tidak boleh main ponsel!” Tegas Jevan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, ia sebenarnya hanya ingin memastikan sesuatu. Namun melihat tatapan tajam dan nada suara kakak ketiganya, Karina terpaksa mengurungkan niatnya untuk melihat cacatan penting di ponselnya… catatan tentang alur penting di dalam novel yang ia masuki.
Terjadi keheningan cukup lama, Karina mencoba untuk tidur saja… sedangkan Jevan sedang sibuk dengan ponselnya, tetapi matanya sesekali melirik wajah cemberut adik angkatnya.
“Ck, Jemian!” Jevan berdecak kesal, saat melihat nama kakak pertamanya muncul di layar ponselnya.
Pria itu menggeser tombol berwarna hijau, dan belum sempat ia membuka suara… di seberang sana terdengar suara asing.
“Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan!”
Bersambung!
semangat thor 💪💪