NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Keunikan Aruna.

Sore harinya...

Axel sudah berada di dalam mobilnya ditemani oleh Pak Tama supir pribadinya. Di saat mengecek handphone Axel kaget dengan notifikasi penggunaan kartu kreditnya yang berderet panjang.

Dia hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri, benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran tunangannya itu. Tapi dia tak marah sedikitpun, malah rasanya ingin cepat bertemu dan langsung minta ganti pada kekasih hatinya itu.

"Aruna... Aruna... sebegitu sukanya ya kamu dengan benda berkilau..." gumamnya pelan. "Tapi... Jangan pikir bahwa semua ini gratis karena sehabis ini kamu harus menggantinya beserta bunganya sayang..."

Kemudian pikirannya mulai berputar, memikirkan kemana sebenarnya barang mewah yang selama ini ia belikan, atau yang diminta langsung padanya.

"Tapi... Kalau dipikir, aku heran juga... Dimana sebenarnya benda-benda itu ia simpan, rasanya aku tidak pernah melihat dia pamer di sosial media ataupun dia pakai. Mana mungkinkan kalau dia berikan semua itu ke pengamen secara cuma-cuma atau malah ia buang. Ah mana mungkin... bisa saja dia simpan di brankas." Pikir Axel kala itu.

Mobil pun melaju menuju kediaman keluarganya. Sesampainya di sana, ia segera mandi dan ganti baju. Baru saja hendak menelpon Aruna, belum sempat ia tekan tombol panggil...

Aruna justru sudah menelponnya duluan.

"Axel !!! kamu dimana sekarang? sudah pulang kan?" Tanya Aruna langsung ke intinya, suaranya agak melengking tinggi sampai Axel menjauhkan handphonenya sedikit dari telinganya.

"Iya, ini baru selesai mandi." jawab Axel singkat. HPnya ia taruh di atas meja dan dia segera memakai kemejanya.

"Jemput aku dong..." ucap Aruna manja.

Axel langsung tersenyum mendengar suara manja itu. Bagaikan sihir penyembuh, tiba-tiba semua rasa lelahnya karna seharian bekerja langsung menguap hilang entah kemana.

"Dimana kamu sayang?" Tanya Axel lembut.

"Di rumah teman lamaku Ajeng, rumahnya ada di kawasan Elit dekat Mall Go Go Ping... kamu tahu kan?"

"Ya."

"Yasudah aku tunggu di sini. Tenang lokasinya aku bakal kirim ke kamu biar gak nyasar. Tapi cepet nanti kalau lama aku keburu di ambil orang." Ucap Aruna segera mematikan telpon.

Sampai membuat Axel menarik napas berat. Belanja banyak barang mewah, menelpon dengan berteriak, minta dijemput, bilang cepat, semua itu diminta tanpa beban, benar-benar membuat Axel geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Axel membawa mobil ke lokasi yang dikirim Aruna. Saat sudah berada di depan rumah Ajeng Aruna langsung mendekat dan memeluk tunangannya itu dengan sangat erat dan manja.

Melihat pemandangan itu Ajeng hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Baru kali ini dia melihat Aruna bersikap manja pada seorang pria. Dulu saat SMA, Aruna memang paling suka menggoda cowok-cowok keren, hanya untuk satu tujuan yaitu berburu uang mereka, tapi begitu diajak pacaran serius Aruna langsung kabur tanpa pamit.

"Kamu telat 15 menit tahu..." ucap Aruna kesal tapi tangannya tak kunjung melepas pelukan erat itu.

"Ya 15 menitnya aku pake buat memulihkan pendengaran setelah angkat telpon dari kamu tadi." balas Axel tak mau kalah sambil mencium kening Aruna lembut.

"Halah bisa aja kamu balesnya." Aruna sedikit mendorong wajah Axel untuk sedikit menjauh, lantaran wajahnya mulai memerah karena malu.

Ehem...

Ajeng langsung berdehem keras memberi kode. Aruna langsung menatap sahabat lamanya itu dengan wajah yang seperti udang gorang.

"Hehe... maaf deh. aku kebawa suasana..." bisik Aruna pada sahabat lamanya itu, dan Ajeng pun mengangguk paham.

Aruna kemudian memeluk sebentar bestienya itu, untuk pamit.

"Aku pulang dulu ya Jen... nanti kapan-kapan aku ajak kamu jalan-jalan deh, jalan di atas genteng biar lebih asyik."

Ajeng langsung tertawa terbahak-bahak. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, mengingat karakter unik dan berani Aruna yang memang sering membuatnya speechless.

Dulu saja waktu Aruna dikejar oleh cowok sekolah sebelah yang menyukainya dan mau mengajak kenalan, alih-alih bersembunyi di tempat biasa gadis itu malah nekat naik dan bersembunyi di atas genteng sekolah. Sampai semua orang panik mengira dia hilang. Bahkan salah satu teman si cowok langsung mengira jika Aruna adalah hantu, dan lari terbirit-birit ketakutan di sore menjelang malam kala itu.

"Kurang-kurangin ya hobi aneh-aneh kamu itu... sebentar lagi kan bakalan jadi istri Panglima..." bisik Ajeng penuh pesan, yang langsung dibalas dengan wajah malas oleh Aruna.

"Iya deh... iya... gak janji tapi."

"Dasar kamu ya."

"Yasudah aku pamit ya Jen... kangenin aku terus ya dan jangan telpon aku kalau gak ditelpon duluan, soalnya tahu sendiri aku suka lupa simpan hpnya dimana..."

Ajeng mengangguk paham betul dengan kebiasaan unik Aruna.

"Baiklah sampai jumpa lagi Aruna... hati-hati di jalan jangan lupa buka kado dariku ya..."

"Oke.." ucap Aruna singkat lalu segera masuk ke dalam mobil bersama Axel.

Axel sendiri tak menyapa atau bersalaman dengan Ajeng. Dia bersikap dingin seolah Ajeng tak ada di sana. Tapi Ajeng paham, karena Aruna sudah cerita sedikit tentang siapa Axel dan bagaimana sifat aslinya yang memang cuek pada orang lain.

'Beruntung sekali kamu Aruna...' batin Ajeng seraya menatap kepergian mobil itu. 'Panglima yang galak dan dingin dengan orang lain, bisa sayang banget sama kamu dan rela melakukan apapun yang kamu mau. Hm... andai suamiku Arman juga bisa begitu...'

Dengan hati campur aduk, Ajeng pun melambaikan tangan kecilnya mengiringi kepergian sahabatnya.

__________

Di dalam mobil suasana langsung berubah manja. Aruna tidak bisa diam ia langsung menempel ke sisi tubuh tunangannya itu.

"Axel... " panggilnya pelan.

"Kenapa?" tanya Axel singkat, matanya tetap fokus menatap jalanan.

"Kamu lupa sesuatu ya?"

"Lupa apa?"

"Hm... coba deh inget baik-baik..." goda Aruna sambil menggelitik pelan lengan kemeja Axel.

"Aku terlalu buru-buru jadi mungkin iya kalau aku lupa." jawab Axel jujur.

Aruna langsung mendelik malas mendengar jawaban itu.

"Aku kan sudah bilang sama kamu, kalau setiap ketemu denganku kamu dikenakan pajak 95% masa gak inget sih." cetusnya panjang lebar.

"Oh soal itu..." balas Axel dengan nada mengejek, ia tersenyum miring. "Bukannya kamu sudah beli satu Ferrari ya hari ini, apa itu gak cukup?"

Axel memang tahu betul, tunangannya itu baru saja membeli aksesoris rambut yang harganya setara dengan mobil mewah itu.

Mendengar itu, Aruna langsung tersenyum malu-malu, wajahnya memerah padam.

"Gimana? kamu terkesan gak sama caraku ngabisin duit kamu? hebat kan?" tanyanya bangga.

Axel tersenyum miring, lalu mengangguk pelan.

"Ya." balasnya kemudian.

"Tapi pajak dan hak itu adalah hal yang berbeda..." seru Aruna tidak mau kalah mulai kembali beraksi manja.

Axel langsung tertawa terbahak-bahak mendengar logika dan pola pikir tunangannya yang unik dan tak masuk akal itu. Benar-benar wanita yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.

"Aku nggak lupa soal itu..." ucap Axel lembut. "Kamu memang benar, pajak dengan hak adalah dua hal yang berbeda."

Seketika itu juga, Axel menginjak rem dan menghentikan mobilnya di tempat yang aman dan sepi.

Tanpa basa-basi, tangan kekar itu langsung menarik tubuh mungil Aruna, memindahkannya dan mendudukkan gadis itu tepat di atas pangkuannya. Gerakannya begitu mudah dan ringan, benar-benar seperti sedang mengangkat sebuah boneka saja.

KYAAA!!!

Aruna sampai berteriak kaget, matanya membelalak lebar. Tangannya refleks memukul pelan dada bidang Axel karena kaget bukan main.

"Axel... what are you doing?" serunya panik tapi nada suaranya terdengar manja.

"I'm just doing my job..." jawab Axel pelan dan sexy tepat di wajah gadis itu.

"Jangan lupa dengan pajak dan hakku juga, sayang..." bisik Axel kemudian sambil mengelus lembut pipi dan rahang wajah cantik kekasihnya itu.

Ucapan dan sentuhan lembut itu langsung membuat jantung Aruna senam aerobik dadakan. Deg-degan tak karuan. Wajahnya pun seketika memerah padam karena malu.

Tanpa pikir panjang, memberanikan sisa nyalinya, Aruna langsung mendekatkan wajahnya dan mencium pipi ganteng Axel dengan cepat.

"Gimana ini cukup kan?" serunya bangga setelah melepaskan kecupan singkat itu, mencoba terlihat menang.

Namun, reaksi Axel di luar dugaan. Pria itu tidak langsung membalas, melainkan hanya menatapnya dengan senyuman miring tipis—senyuman jail yang sangat Aruna kenal. Senyuman yang selalu menjadi pertanda bahwa 'bencana manis' akan segera terjadi.

"I want more..." balas Axel jelas tak puas.

Melihat tatapan itu, detak jantung Aruna seketika berhenti sejenak.

'Duh... salah langkah nih kayaknya,' batinnya mulai was-was. Rasa berani yang tadi memuncak kini mendadak menguap entah kemana, digantikan oleh rasa takut sekaligus deg-degan yang luar biasa.

"Em... aku pindah tempat duduk dulu ya..." Aruna gugup, tangannya berusaha mendorong tubuh kokoh itu untuk mundur dan segera berpindah dari pangkuannya.

Tapi belum sempat tubuhnya bergerak sejengkal pun...

Tangan besar Axel bergerak cepat, mencengkeram lembut namun kuat di belakang tengkuk leher jenjang Aruna. Dengan satu tarikan mudah, wajah mereka kembali bertemu dalam jarak nol sentimeter.

"Mau lari kemana sayang... pajaknya gak cukup," bisik Axel pelan, suaranya terdengar rendah dan serak.

Tanpa memberi waktu Aruna untuk bernapas atau protes, Axel langsung menyambar bibir itu kembali. Kali ini bukan ciuman singkat, melainkan ciuman yang dalam, hangat, dan tanpa jeda. Gaya ciumannya yang dominan dan posesif seolah ingin menuntut seluruh perhatian gadis itu untuk dirinya saja.

Aruna langsung terpaku. Matanya terbelalak, tubuhnya kaku sejenak sebelum akhirnya meleleh sepenuhnya. Tangannya yang tadinya ingin mendorong, kini justru tak berdaya mencengkeram bahu kemeja pria itu. Napasnya tersengal, kepalanya terasa pening, dan kakinya rasanya lemas tak bertulang.

Dia yang awalnya berniat menggoda dan hanya ingin mengecup pipi saja, kini justru kewalahan total dikalahkan oleh serangan manja dari sang kekasih. Axel benar-benar tahu cara membuatnya diam dan pasrah hanya dengan satu gerakan.

1
Auliya Wilma
terkadang yang sepi belum tentu ceritanya jelek. 🤭
Suram banget dah
🤭🤭🤭segitunya ya .
Ripduit seratus
wkkwkkw
Ripduit seratus
ini cocok untuk p3mbaca yg suka d3ngan novel yang konfliknya tetap ringan tapi ngena.
wnrti
inikah rasanya cinta ahay🤣
Suram banget dah
🤣Aruna gak ada duanya👍
Aruna bling bling
Terimakasih untuk semua orang yang mau membaca dan memberi dukungan... 👍👍
Aruna bling bling
🤣🤣
Suram banget dah
gila boskuuu🤭
Suram banget dah
lanjut💪
Suram banget dah
Lanjutkan 😍😍 semangat!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!