"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
"Jadi... jatah ciuman Ismut pagi ini hangus begitu saja?"
Suara cicitan kecewa dari Calla memecah keheningan pagi yang masih berkabut di teras rumah dinas. Calla yang sudah rapi dengan setelan blus kasualnya berdiri di depan Alaric dengan bibir yang melengkung ke bawah, mengerucutkan bibirnya yang masih sedikit kemerahan akibat kejadian panas semalam.
Alaric yang sedang memasang sabuk kopel besar di pinggang seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan) lorengnya seketika menghentikan gerakan tangannya. Pria bertubuh kekar itu menarik napas pendek, mencoba menetralkan debaran aneh di dadanya yang kembali bergejolak hanya karena melihat bibir ranum sang istri.
"Saya harus memimpin upacara bendera mingguan di lapangan utama pangkalan sepuluh menit lagi, Calla," ujar Alaric dengan suara baritonnya yang tenang dan lambat, berusaha memberikan pengertian. "Tidak lucu kalau Komandan Pasukan Khusus datang ke lapangan dengan bekas lipstik di pipi atau bibir."
"Kan bisa dihapus pakai tisu, Paksu kaku!" seru Calla, mengentakkan kaki kanannya yang kini sudah dibalut sepatu flat yang nyaman. "Lagian siapa juga yang mau cium di depan umum? Ismut kan mintanya di dalam rumah tadi sebelum Paksu pakai baret."
"Di dalam rumah pun waktunya sudah mepet, Ismut," Alaric melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk merapikan sedikit kerah blus Calla yang agak terlipat. "Setelah upacara selesai, saya harus langsung mendampingi tim inspektorat dari Kodam sampai sore. Kamu di rumah saja, ya?"
"Tuh kan, ditinggal lagi!" Calla melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya ke arah deretan pohon cemara pangkalan dengan gaya cegil merajuknya yang khas. "Kemarin katanya mau belain Ismut di depan ibu-ibu Persit, sekarang malah Ismut dianggurin sendirian bareng mesin cuci baru."
Alaric menatap lekat-lekat wajah cemberut istrinya, ada rasa gemas yang amat sangat tersembunyi di balik tatapan mata elangnya. Ia melirik jam tangan taktis hitam di pergelangan tangannya. "Dua menit. Saya punya waktu dua menit sebelum ajudan datang menjemput."
"Dua menit buat apa?" Calla menoleh cepat dengan mata kucingnya yang kembali berbinar curiga.
"Sini," bisik Alaric rendah.
Tanpa menunggu aba-aba, Alaric menarik pinggang mungil Calla dengan satu tangan kekarnya, membawa tubuh satin istrinya merapat pada dada bidangnya yang keras terbalut seragam loreng. Sebelum Calla sempat mengeluarkan celetukan frontal, Alaric sudah menundukkan kepalanya dan mengecup kening Calla dengan sangat lama dan dalam, menyalurkan seluruh rasa sayang dan proteksinya sebagai seorang suami.
Cup.
"Itu uang mukanya. Sisanya kita selesaikan nanti malam setelah dinas saya selesai," bisik Alaric tepat di dekat telinga Calla, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serak dan dalam.
Wajah Calla yang biasanya paling berani menggoda, dalam sekejap langsung memerah sempurna sampai ke ujung telinganya. Ia tertegun, mencengkeram kain seragam loreng Alaric dengan lemas. "P-Paksu curang... mainnya kecup kening, bikin Ismut jantungan tau."
Alaric melepaskan pelukannya perlahan, lalu memberikan senyuman tipis yang sangat menawan sebelum memakai baret merahnya dengan tegap. "Saya berangkat dulu. Kunci pintu dari dalam."
Siang harinya, pangkalan militer terasa sangat terik di bawah sengatan matahari. Di dalam rumah dinas, Calla sedang duduk bersila di atas karpet bulu ruang tamu sembari memeluk bantal sofa, menatap bosan ke arah televisi yang menyiarkan acara gosip siang.
TOK! TOK! TOK!
"Siap, permisi! Ibu Komandan!"
Suara lantang dari arah pintu depan membuat Calla langsung menegakkan punggungnya. Ia bangkit berdiri, merapikan kaus santainya lalu membuka pintu kayu tersebut. Di teras, berdiri Kopral Bagas dengan sikap sempurna, membawa sebuah kotak bekal susun berwarna merah muda terang.
"Eh, Mas Kopral Bagas! Ada apa, Mas?" tanya Calla dengan senyum cerianya yang langsung kembali aktif.
"Siap! Perintah dari Komandan Alaric untuk mengantarkan makan siang khusus untuk Ibu Komandan!" seru Bagas dengan pandangan lurus ke depan, tidak berani melirik ke arah pakaian santai Calla. "Komandan menyampaikan pesan agar Ibu tidak terlambat makan karena jadwal inspeksi diperpanjang sampai sore."
"Wah, Paksu perhatian banget sih, jadi makin sayang," celetuk Calla frontal tanpa beban, membuat Kopral Bagas di depannya langsung menelan ludah kaku menahan diri untuk tidak tersenyum. Calla menerima kotak bekal itu dengan riang. "Lauknya apa hari ini, Mas?"
"Siap! Menu siang ini adalah ayam bakar madu dan tumis kangkung dari kantin perwira, Ibu!" jawab Bagas tegas.
"Asyik! Makasih banyak ya, Mas Bagas ganteng. Oh iya, titip salam buat Paksu ya, bilangin denda ciuman semalam bunganya makin bertambah kalau dia pulangnya kemalaman!" seru Calla santai sambil cengengesan.
Bagas seketika membelalakkan matanya panik, wajahnya mendadak pucat membayangkan harus menyampaikan pesan ajaib itu pada sang harimau pangkalan yang terkenal sangat garang. "S-Siap! Mohon izin, Ibu, saya kembali ke pos!"
"Hahaha! Iya, Mas, hati-hati di jalan ya!" Tawa renyah Calla berderai melihat ketakutan sang prajurit bawahan suaminya itu.
Malam pun tiba dengan tempo yang terasa sangat lambat di lingkungan pangkalan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit saat derit pintu depan rumah dinas akhirnya terbuka, menampilkan sosok Alaric yang tampak sangat lelah. Seragam PDL lorengnya sudah sedikit kusut, dan beberapa kancing teratasnya sudah dibuka, memperlihatkan kaus dalam hitamnya yang kokoh.
Calla yang sejak tadi menunggu di sofa langsung bangkit berdiri. Malam ini ia sengaja mengenakan daster satin bertali tipis warna putih bersih, membuat aura "Istri Solehot"-nya kembali terpancar sempurna di bawah temaram lampu ruang tengah.
"Paksu baru pulang? Kok malam banget sih, Ismut kan kesepian dari siang," keluh Calla, langsung berjalan mendekat dan tanpa permisi menyusupkan tubuh mungilnya ke dalam dekapan Alaric, memeluk pinggang suaminya erat-erat.
Alaric yang awalnya merasa sangat lelah akibat mendampingi tim inspektorat seharian, seketika itu juga merasakan seluruh penatnya menguap begitu saja saat kehangatan tubuh Calla menyentuhnya. Ia melingkarkan lengannya di bahu Calla, mengusapnya perlahan.
"Maaf, Calla. Ada beberapa berkas evaluasi yang harus diselesaikan di ruang rapat tadi," ujar Alaric lembut, menyandarkan dagunya di pucuk kepala Calla yang harum wangi stroberi. "Kamu sudah makan malam?"
"Udah kok, tadi makan ayam bakar kiriman Paksu yang manis kayak mukanya Paksu kalau lagi senyum, lagian kiriman ayam bakarnya banyak banget, cukup sampe buat makan malam ismut." goda Calla, mendongak menatap rahang tegas suaminya dengan tatapan nakal. "Sekarang... janji uang muka yang tadi pagi gimana, Paksu? Ismut udah tagih nih, bunganya udah menumpuk banyak banget dari subuh."
Alaric menatap bibir ranum Calla yang berjarak sangat dekat di bawah dagunya. Semburat merah samar kembali merayap di pipi sang Komandan, namun malam ini ia tidak berniat menarik diri lagi. Hasrat pria dewasa di dalam dirinya kembali menuntut hak atas keimanan yang telah diujinya seharian penuh.
"Kamu benar-benar penagih utang yang sangat gigih, Callanta," bisik Alaric rendah, suaranya sangat serak.
"Harus dong! Kan Ismut mau cap paten status Ibu Alaric-nya malam ini," sahut Calla frontal dengan kerlingan mata yang teramat genit.
Alaric tidak membalas dengan kata-kata lagi. Tangan besarnya bergerak mengunci tengkuk Calla, memajukan wajahnya, dan langsung melumat bibir ranum istrinya dengan penuh kelembutan yang mendalam di keheningan malam rumah dinas mereka.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨