NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kertas yang Terbakar

Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak kedatangannya di Utara, Elara tidak terbangun karena menggigil.

Sistem hypocaust kuno yang telah dihidupkan kembali bekerja dengan efisiensi yang menakjubkan.

Lantai batu di Kamar Biru memancarkan kehangatan yang lembut dan konsisten, merambat naik melalui kaki-kaki perabot kayu mahoni, menyusup ke dalam serat permadani, dan akhirnya memeluk udara di dalam ruangan.

Tidak ada uap napas putih saat ia menghela napas. Tidak ada lapisan es di dalam baskom air cuci muka.

Elara menggeliat di balik selimut bulu angsa, merasakan sensasi asing itu: kenyamanan.

Namun, kenyamanan fisik sering kali membawa serta kejernihan pikiran yang menyakitkan. Tanpa gangguan rasa dingin yang terus-menerus menyita perhatian tubuhnya, pikiran Elara kini bebas mengembara ke wilayah yang lebih berbahaya. Ia memikirkan makan malam semalam.

Ia memikirkan garpu perak yang diletakkan Kaelen di piring kosong. Ia memikirkan keheningan di perpustakaan yang terasa seperti gencatan senjata.

Apakah itu kemajuan? Atau hanya jeda sesaat sebelum badai berikutnya?

Elara bangkit, mencuci wajahnya dengan air yang tetap hangat di dalam teko keramik tebal, lalu memanggil pelayan untuk membantunya berpakaian. Hari ini ia memilih gaun wol berwarna abu-abu perak dengan kerah tinggi—pakaian yang praktis untuk bekerja, namun cukup anggun untuk seorang Duchess.

Ia memiliki rencana untuk memeriksa persediaan obat-obatan di klinik kastil hari ini. Jika ia bisa memperbaiki pipa, ia pasti bisa memperbaiki manajemen logistik kesehatan.

Ketika Elara turun ke ruang makan pribadi di Sayap Timur, ia berhenti di ambang pintu.

Biasanya, jam segini ruangan itu kosong. Kaelen selalu pergi ke barak sebelum matahari terbit, meninggalkan Elara sarapan sendirian ditemani kebisuan dinding batu. Namun pagi ini, sosok itu ada di sana.

Kaelen duduk di ujung meja. Ia tidak mengenakan baju zirah lengkap, hanya kemeja hitam dan celana berburu. Di tangan kanannya ada secangkir kopi hitam yang mengepul, dan di tangan kirinya ia memegang laporan militer. Ia tampak santai—atau setidaknya, sesantai yang bisa dilakukan oleh seorang predator yang sedang beristirahat.

Kehangatan kastil tampaknya mempengaruhinya juga. Bahunya tidak setegang biasanya. Garis rahangnya tidak terkunci rapat.

Mendengar langkah kaki Elara, Kaelen menurunkan kertasnya. Mata abu-abunya menatap Elara. Tatapan itu singkat, datar, namun mengakui keberadaannya.

"Kau terlambat," kata Kaelen. Suaranya rendah, bergema di atas meja kayu ek yang panjang.

"Atau mungkin kau yang terlalu pagi?" balas Elara, melangkah masuk dengan tenang. Ia menarik kursi di sisi kanan Kaelen, bukan di ujung meja yang jauh. Ia mendekatkan dirinya secara fisik, sebuah tantangan kecil terhadap batas wilayah suaminya. "Biasanya kau sudah meneriaki prajurit di lapangan jam segini."

Kaelen mendengus pelan, kembali menatap kertasnya. "Barak sudah hangat. Prajurit tidur terlalu nyenyak. Mereka butuh disiplin ekstra nanti siang, tapi pagi ini... biarkan mereka menikmati kemewahan pipa barumu itu."

Ada nada sindiran di sana, tapi tidak ada racun. Kaelen mengakui secara tidak langsung bahwa perbaikan Elara berdampak pada pasukannya.

Silas muncul dari pintu samping, membawa piring berisi roti hangat, telur rebus, dan irisan daging asap. Wajah tua pelayan itu berseri-seri. Jelas sekali, bekerja di kastil yang hangat membuat sendi-sendi tuanya lebih nyaman.

"Surat pagi, Tuan Duke," kata Silas, meletakkan tumpukan amplop di samping siku Kaelen. Lalu ia beralih ke Elara, senyumnya sedikit memudar. "Dan satu untuk Anda, Nyonya."

Elara menerima amplop itu. Kertasnya tebal, mahal, dan berbau parfum mawar yang menyengat—aroma yang sangat ibu kota. Jantung Elara berdegup kencang saat melihat segel lilin merah di punggung amplop.

Lambang elang yang mencengkeram ular. Lambang Baron Vane. Ayahnya.

Suasana di meja makan berubah seketika. Udara yang hangat mendadak terasa menyesakkan bagi Elara. Tangan kanannya, yang masih sedikit nyeri bekas cengkeraman Kaelen, secara refleks meremas kain roknya di bawah meja.

Ia tidak ingin membukanya. Tidak di sini. Tidak di depan Kaelen.

Elara meletakkan surat itu di samping piringnya, segelnya menghadap ke bawah, dan mencoba meraih cangkir tehnya. Namun tangannya gemetar. Denting cangkir beradu dengan piring tatakan terdengar nyaring di keheningan ruangan. Tring.

Gerakan kertas di tangan Kaelen berhenti.

Kaelen tidak menoleh, tapi matanya melirik ke samping. Insting pemburunya mendeteksi ketakutan. Dan di Blackiron, ketakutan adalah bau yang paling tajam.

"Berita buruk dari rumah?" tanya Kaelen. Nada suaranya santai, namun matanya tajam mengamati profil wajah Elara yang memucat.

"Bukan apa-apa," jawab Elara cepat. Terlalu cepat. "Hanya... salam rindu dari keluarga."

"Salam rindu," ulang Kaelen datar. Ia meletakkan laporan militernya, memutar tubuhnya sedikit menghadap Elara. "Ayahmu bukan tipe pria yang mengirim salam rindu tanpa label harga, Elara. Baron Vane tidak menulis puisi."

Elara menelan ludah. Roti di piringnya tampak seperti batu. Ia tidak bisa menelan apa pun. "Itu urusan pribadiku, Kaelen."

"Kau adalah istriku," kata Kaelen. "Urusan pribadimu berhenti menjadi pribadi saat kau menandatangani kontrak pernikahan dan memakai nama Draxos. Apapun masalahmu, itu mencoreng namaku."

Kaelen mengulurkan tangannya yang besar, telapaknya terbuka di atas meja. "Berikan padaku."

"Tidak," Elara menahan surat itu dengan tangannya. "Kaelen, tolong. Ini hanya urusan kecil..."

"Jika itu kecil, kenapa tanganmu gemetar?" desak Kaelen. Matanya menyipit. "Apakah dia memintamu pulang? Apakah dia mengatur perjodohan lain di belakangku? Atau..." tatapannya menjadi gelap, "...apakah dia memintamu memata-mataiku untuk pihak istana?"

Tuduhan itu menyakitkan. "Tidak!" seru Elara. "Ayahku tidak secerdas itu untuk menjadi mata-mata! Dia hanya..."

Elara berhenti. Rasa malu membakar lehernya. Ia tidak bisa mengatakannya.

Kaelen tidak menunggu. Dengan gerakan cepat  , tangannya menyambar surat itu dari bawah jari-jari Elara. Elara mencoba menahannya, tapi tenaga Kaelen jauh di atasnya. Surat itu berpindah tangan dalam sekejap.

"Kaelen, jangan!" Elara setengah berdiri, wajahnya merah padam.

Kaelen mengabaikannya. Dengan satu gerakan ibu jari yang kasar, ia mematahkan segel lilin itu. Ia membuka lipatan kertasnya dan mulai membaca.

Elara jatuh kembali ke kursinya. Ia menunduk, menatap pangkuannya, ingin lantai batu di bawahnya terbuka dan menelannya bulat-bulat. Ia tahu persis apa isi surat itu. Ia hafal pola kalimat ayahnya.

Keheningan yang menyusul sangat mengerikan.

Kaelen membaca dalam diam. Mata abu-abunya bergerak dari kiri ke kanan, semakin lama semakin cepat. Ekspresi wajahnya berubah dari rasa ingin tahu yang dingin menjadi rasa jijik yang murni.

Di dalam surat itu, Baron Vane tidak menanyakan kabar putrinya. Dia tidak bertanya apakah Elara sehat atau bahagia. Paragraf pertama langsung membahas hutang judinya yang baru.

'Elara, anakku sayang, tentu kau sudah memikat hati si Iblis Utara itu sekarang, bukan? Gunakan tubuhmu jika perlu. Pastikan dia tidak sadar saat kau meminta akses ke kas perbendaharaan. Aku butuh 5000 emas minggu ini. Orang-orang ini tidak sabar. Ingat, kau ada di sana karena aku yang mengirimmu. Jangan jadi anak durhaka yang lupa kulit.'

Kaelen menurunkan surat itu. Ia menatap kertas mahal di tangannya seolah itu adalah benda paling kotor yang pernah ia sentuh.

"Lima ribu emas," gumam Kaelen. Suaranya tenang, tapi itu adalah ketenangan sebelum badai. "Untuk hutang meja dadu di Rumah Judi Gilded Lotus."

Elara memejamkan mata. Air mata kemarahan dan kehinaan mendesak keluar, tapi ia menahannya mati-matian. "Aku akan membalasnya. Aku akan bilang aku tidak punya uang. Aku punya tabungan sedikit dari..."

"Diam," potong Kaelen.

Pria itu berdiri. Kursinya berdecit keras. Ia berjalan menuju perapian yang menyala terang di belakang meja makan.

"Kaelen?" Elara mengangkat wajahnya.

Kaelen melemparkan surat itu ke dalam api.

Kertas tebal itu melengkung, menghitam, lalu terbakar dengan nyala biru kejinggaan. Tulisan tangan Baron Vane yang rapi dan tamak itu hangus menjadi abu dalam hitungan detik, terbang ke atas cerobong asap, lenyap menjadi asap di langit utara.

Kaelen berdiri membelakangi api, menatap Elara. Bayangan tubuhnya yang besar menutupi cahaya perapian, membuatnya tampak seperti siluet raksasa.

"Kau tidak akan membalas surat itu," kata Kaelen. "Kau tidak akan mengirim satu keping tembaga pun. Dan kau tidak akan pernah membaca sampah seperti itu lagi di rumahku."

"Dia akan terus mengirim surat," bisik Elara, suaranya parau. "Dia akan datang ke sini. Dia akan membuat keributan. Kau tidak tahu ayahku, Kaelen. Dia tidak punya rasa malu."

"Biarkan dia datang," Kaelen melangkah mendekat, mengitari meja hingga ia berdiri tepat di samping kursi Elara. Ia menumpukan satu tangannya di sandaran kursi Elara, mencondongkan tubuhnya ke bawah. Wajah mereka dekat. Elara bisa melihat bintik-bintik emas samar di dalam iris mata abu-abu Kaelen yang biasanya dingin.

"Biarkan dia datang ke gerbang Blackiron," bisik Kaelen, suaranya berbahaya namun anehnya protektif. "Dan dia akan melihat apa yang kulakukan pada parasit yang mencoba menghisap darah dari apa yang menjadi milikku."

Milikku.

Kata itu bergema di telinga Elara. Kaelen tidak mengatakan "istriku". Dia mengatakan "milikku". Itu adalah klaim kepemilikan. Primal. Teritorial. Bagi Kaelen, Elara bukan lagi sekadar tamu politik. Elara adalah asetnya, bagian dari wilayahnya, sama seperti menara batu dan serigala di hutan. Dan Kaelen Draxos membunuh apa pun yang mengancam miliknya.

"Silas!" teriak Kaelen tanpa mengalihkan pandangan dari Elara.

Silas muncul seketika di ambang pintu, wajahnya tegang. "Ya, Tuan?"

"Kirim pesan ke Bankir Kerajaan di Ibu Kota," perintah Kaelen tajam. "Lunasi semua hutang Baron Vane yang tercatat per hari ini. Semuanya."

Mata Elara membelalak. "Apa? Kaelen, tidak! Itu ribuan emas! Kau bilang kau tidak punya uang untuk..."

"Aku bilang lunasi," lanjut Kaelen, mengabaikan protes Elara. "Dan sertakan satu pesan resmi dengan stempel House Draxos: Ini adalah pembayaran terakhir. Anak perempuan itu telah dibeli lunas. Setiap kontak lebih lanjut, setiap permintaan uang, atau setiap ancaman yang ditujukan kepada Duchess Draxos, akan dianggap sebagai pernyataan perang terhadap Utara."

Silas tersenyum tipis, bungkukannya kali ini penuh semangat. "Dengan senang hati, Tuan. Saya akan menulisnya dengan tinta merah agar pesannya lebih... jelas."

Silas pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang bergetar.

Elara menatap Kaelen, mulutnya sedikit terbuka. Dia bingung. "Kenapa?" tanyanya. "Kenapa kau membayarnya? Kau membenciku. Kau membenci ayahku."

Kaelen menegakkan tubuhnya, menarik diri dari kedekatan mereka. Wajahnya kembali mengenakan topeng ketidakpedulian itu, meski retakannya semakin jelas.

"Aku tidak melakukannya untukmu," kata Kaelen, berbohong. Atau mungkin dia meyakini kebohongannya sendiri. "Aku melakukannya karena aku muak dengan gangguan. Aku butuh kau fokus mengurus kastil ini, bukan menangisi surat sampah di meja makanku."

Dia berbalik, mengambil sarung tangannya dari meja. "Dan perbaiki postur dudukmu, Elara. Kau seorang Duchess sekarang, bukan lagi putri seorang penjudi. Berhenti menunduk seolah kau bersalah atas dosa orang lain."

Tanpa menunggu jawaban, Kaelen berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar, jubahnya berkibar di belakangnya.

Elara duduk terpaku di kursinya. Dadanya naik turun dengan cepat.

Dia baru saja dibela. Dengan cara yang kasar, transaksional, dan arogan—khas Kaelen—tapi dia dibela. Kaelen baru saja memutus rantai yang mengikat Elara pada ayahnya yang toksik. Dia telah "membeli" kebebasan Elara, meskipun dengan dalih kepemilikan.

Elara menoleh ke arah perapian. Abu surat itu sudah tidak terlihat. Beban yang selama ini menghimpit pundaknya—rasa takut akan tagihan ayah, rasa takut akan masa depan—tiba-tiba terasa lebih ringan.

Air mata menetes di pipinya. Kali ini, ia membiarkannya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata pelepasan (emotional beat focus).

Setelah beberapa menit, Elara menghapus air matanya. Ia berdiri, menarik napas panjang, menghirup udara hangat kastil.

"Baiklah, Suamiku," bisiknya pada ruangan kosong itu. "Jika aku milikmu, maka kau juga harus bersiap. Karena aku akan merawat apa yang menjadi milikku juga."

Elara melangkah keluar dari ruang makan. Tujuannya berubah. Dia tidak akan ke klinik. Dia ingat ada satu tempat lagi di kastil ini yang membutuhkan perhatian, tempat yang mungkin menyimpan kunci untuk memahami sisi lembut Kaelen yang terkubur dalam-dalam.

Dia berjalan menuju pintu kaca yang tertutup lumut di ujung Sayap Selatan. Rumah Kaca yang hancur.

Jika Kaelen bisa menghancurkan masa lalu Elara yang buruk dengan api, maka Elara akan mencoba menumbuhkan masa depan Kaelen dengan... bunga. Di tengah musim dingin abadi ini, dia akan mencari tahu apakah masih ada tanah yang subur di Blackiron.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!