Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Anggota Dewan Bangsawan terbelalak lebar, mata mereka bergantian menatap Valerius yang bersujud lemah dan Aldrich yang sedang mengamuk. Tuduhan pembunuhan sesama anggota keluarga darah murni adalah skandal terbesar yang bisa menghancurkan fondasi sebuah klan bangsawan.
"Tutup mulut busukmu itu! Kau tidak memiliki bukti atas fitnah kejammu!" raung Aldrich dengan urat leher yang menonjol keluar. Keringat dingin terus mengucur dari dahi Aldrich, menyadari bahwa rencananya yang sempurna kini telah hancur berantakan.
Valerius perlahan mengangkat kepalanya, air mata buaya menggenang di kelopak matanya yang memancarkan penderitaan palsu. Ia merogoh saku jubah hitamnya dan melemparkan sesuatu ke tengah ruangan, tepat di depan meja para sesepuh dewan.
Sebuah cincin perak bermata rubi merah berdenting nyaring saat menghantam lantai pualam dan berputar pelan sebelum akhirnya berhenti. Sebuah gulungan perkamen yang bernoda darah kering juga ikut terlempar, terbuka sedikit memperlihatkan tulisan ancaman di dalamnya.
Seorang sesepuh Dewan Bangsawan yang memakai jubah putih kebesaran melangkah maju dan memungut cincin perak tersebut. Mata keriputnya memicing tajam meneliti ukiran rahasia di balik batu rubi itu, sebelum akhirnya ia tersentak kaget.
"Ini... ini adalah cincin stempel milik pemimpin kelompok Gagak Besi, serikat pembunuh bayaran yang dilarang keras di daratan ini," ucap sesepuh itu. Suaranya bergema memenuhi ruangan, memicu helaan napas keterkejutan dari ratusan tamu undangan yang hadir.
Sesepuh itu kemudian membaca sekilas gulungan perkamen berdarah yang menjadi bukti kedua kejahatan sang pewaris takhta. "Surat ini berisi perintah pembunuhan Pangeran Valerius yang ditandatangani menggunakan stempel pribadi Tuan Muda Aldrich."
Wajah Aldrich benar-benar kehilangan warnanya, kakinya mendadak terasa seperti terbuat dari agar-agar yang sangat lembek. Ia mundur terhuyung-huyung hingga menabrak meja perjamuan di belakangnya, menjatuhkan nampan perak berisi hidangan angsa panggang.
"I-Itu palsu! Semuanya palsu! Dia pasti memalsukan stempel dan cincin itu untuk menjebakku!" sangkal Aldrich dengan suara melengking panik.
Namun sangkalan itu terdengar sangat menyedihkan dan murahan di telinga para bangsawan veteran yang telah lama hidup dalam politik licik. Bukti fisik itu terlalu nyata, dan darah di atas perkamen itu memancarkan sisa Mana yang sama sekali tak bisa dipalsukan.
Valerius masih berlutut di lantai, namun matanya yang menunduk kini memancarkan kilatan iblis yang sangat puas. Melalui skill 'Mata Penilai Iblis', ia bisa melihat aura arogansi Aldrich kini benar-benar hancur menjadi debu keputusasaan abu-abu.
"Aku bertahan hidup di perbatasan beracun hanya dengan memakan bangkai monster, semua demi menuntut keadilan pada para dewa," bisik Valerius lirih. Kata-katanya diperkuat oleh sihir hipnotis, merayap masuk ke hati para anggota dewan dan memutarbalikkan logika mereka sepenuhnya.
Mereka melihat Valerius bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai seorang martir suci yang selamat dari konspirasi paling kejam. Sebaliknya, mereka memandang Aldrich dengan tatapan jijik luar biasa, menganggapnya sebagai monster rakus yang tak bermoral.
"Tuan Muda Aldrich, tindakan Anda ini telah menodai kehormatan mutlak dari seluruh keluarga agung di Aethelgard," ucap sesepuh dewan dengan tegas. "Dewan Bangsawan akan melakukan investigasi menyeluruh atas percobaan pembunuhan sadis ini mulai malam ini juga."
Hukuman sosial telah dijatuhkan, reputasi bersih yang dibangun Aldrich selama bertahun-tahun kini musnah terbakar dalam hitungan detik. Semua sekutu politik yang tadi tertawa bersamanya kini melangkah mundur, menjaga jarak seolah Aldrich terkena wabah kusta.
Kepanikan absolut menelan kewarasan Aldrich, membuatnya menarik pedang berlapis emas dari pinggangnya dengan tangan yang bergetar liar. "Jika kalian semua berpihak pada monster penipu ini, maka aku akan memenggal kepalanya dengan tanganku sendiri!"
Aldrich melompat melewati meja perjamuan, berlari menerjang ke arah Valerius dengan ayunan pedang yang membabi buta. Teriakan histeris dari para wanita bangsawan memecah keheningan, melihat seorang pewaris keluarga kehilangan akal sehatnya di depan publik.
Layar merah sistem holografik berkedip terang di sudut pandangan Valerius, mengingatkan tentang aturan misi yang tak boleh dilanggar. Ia dilarang membunuh secara fisik, namun sistem sama sekali tidak melarangnya untuk meruntuhkan mental target hingga gila.
Valerius tidak menghindar sedikit pun saat ujung pedang emas itu melesat cepat menuju lehernya yang sengaja tak dilindungi. Ia hanya menatap tepat ke dalam pupil mata Aldrich, melepaskan aura niat membunuh absolut dari dasar neraka ke dalam pikiran kakaknya.
Hawa dingin maut yang sangat pekat menghantam otak Aldrich layaknya palu godam tak kasatmata yang menghancurkan kewarasan. Di mata Aldrich, pemuda berlutut itu tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok iblis raksasa dengan ribuan tangan yang terbuat dari lautan darah.
Jeritan arwah-arwah yang pernah dibunuh Valerius terdengar menggelegar di dalam telinga Aldrich, menyiksa saraf otaknya tanpa ampun. Tangan Aldrich yang memegang pedang mendadak kehilangan seluruh tenaganya, senjatanya jatuh bergemerincing ke lantai sebelum sempat menyentuh kulit Valerius.
Aldrich menjerit histeris layaknya babi yang disembelih hidup-hidup, ia mundur merangkak mundur sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. "Menjauh dariku, monster! Jangan tarik jiwaku ke dalam neraka itu!" racau Aldrich dengan mata melotot dan mulut berbusa.
Ratusan bangsawan di aula itu mundur ngeri melihat Tuan Muda Draken tiba-tiba kehilangan akal sehatnya secara mengerikan. Mereka mengira Aldrich terserang kutukan kegilaan akibat dosa-dosanya sendiri, sama sekali tak menyadari serangan mental dari Valerius.
Valerius berdiri secara perlahan, membersihkan debu dari lututnya dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh wibawa. Ia menatap kakaknya yang kini menangis mengompol di atas karpet merah dengan pandangan belas kasihan palsu yang luar biasa menjijikkan.
"Tabib, tolong bawa kakakku yang malang ini ke ruang perawatannya, beban dosanya telah membuat pikirannya hancur," perintah Valerius lembut. Otoritas di dalam nada suaranya membuat para pelayan dan ksatria aula langsung mematuhi perintahnya tanpa ragu sedikit pun.
Mereka menyeret tubuh Aldrich yang masih meronta-ronta gila keluar dari aula perjamuan, meninggalkan ceceran air kencing di karpet. Sang pewaris takhta yang dulu sangat berkuasa kini tak lebih dari seonggok daging gila yang telah kehilangan seluruh martabat manusianya.
Notifikasi sistem holografik seketika meledak dengan warna merah yang sangat menyilaukan di dalam ruang pikiran Valerius.
[Misi Berantai 1: 'Racun di Dalam Gelas Emas' Selesai dengan Predikat Sempurna (Penghancuran Mental Total).][Hadiah: +2000 Poin Dosa. Pembukaan Segel Akses Gudang Senjata Iblis Tingkat Menengah.]
Valerius menahan senyuman iblisnya sekuat tenaga, berpura-pura menghela napas panjang seolah ia sedang menanggung beban kesedihan yang amat berat. Para anggota Dewan Bangsawan langsung mendekatinya, memberikan tatapan simpati dan dukungan politik yang tak ternilai harganya.
"Anda telah melalui neraka yang tak terbayangkan, Pangeran Valerius, namun cahaya kebenaran pada akhirnya menang," hibur sang sesepuh dewan. "Keluarga Draken membutuhkan pemimpin baru yang kuat dan memiliki hati nurani, bukan orang gila yang rakus akan kekuasaan."
Valerius menunduk hormat, menyembunyikan wajahnya yang kini menyeringai lebar penuh kemenangan gelap dari pandangan orang-orang bodoh di depannya. Ia telah memenangkan pertarungan politik ibu kota ini tanpa perlu meneteskan setitik pun darah di atas lantai pualam yang suci.
Panggung sandiwara ini telah ia sutradarai dengan sangat sempurna, menjadikan dirinya sebagai satu-satunya kandidat pewaris keluarga yang sah. Singgasana berdarah miliknya di istana ini telah berdiri kokoh, dibangun di atas fondasi kebohongan dan kehancuran kewarasan kakaknya sendiri.
"Aku akan memikul tanggung jawab besar keluarga ini demi menebus dosa-dosa kakakku yang tak termaafkan," ucap Valerius memecah keheningan. "Aethelgard akan melihat fajar baru di bawah bimbinganku, sebuah fajar yang akan membersihkan seluruh kebusukan dari daratan ini."
Janji manis itu terdengar sangat heroik di telinga para bangsawan, namun di dalam hati Valerius, itu adalah sebuah sumpah kutukan. Fajar baru yang ia maksud adalah terbitnya matahari darah yang akan memangsa seluruh jiwa mereka tanpa sisa.
Malam itu, di dalam aula perjamuan yang dipenuhi oleh sisa-sisa kemewahan yang hancur, Valerius resmi mengambil alih kekuasaan Keluarga Draken. Permainan Arc 'Penyesalan Abadi' baru saja menyelesaikan babak pembukanya dengan sangat elegan dan mematikan.
Ia akan menggunakan sumber daya tak terbatas dari istana ini untuk memicu kekacauan yang jauh lebih besar di seluruh benua Aethelgard. Para dewa di langit sana mungkin sedang menatapnya sekarang, namun mereka sudah terlambat untuk menghentikan langkah sang penyulut kiamat.