NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: GENDING PERNIKAHAN DI ATAS AIR MATA

Sementara aku terduduk di atas lincak bambu rumah Bapak yang bersahaja, beberapa puluh kilometer dari desaku, sebuah sandiwara besar sedang dipentaskan dengan begitu megah di salah satu hotel berbahan marmer mewah di sudut kota Semarang.

Pagi itu, langit Semarang masih menyisakan sisa-sisa gerimis Maret, namun di dalam gedung pertemuan, suasananya begitu hangat oleh pendar lampu kristal dan aroma melati yang pekat menyengat rungu. Ibu Retno berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan kain jarik sutra terbaiknya dan kebaya beludru hitam berhias payet emas yang berkilau setiap kali diterpa cahaya kamera. Senyumnya terkembang lebar, begitu ramah menyapa para tamu undangan terhormat dari kalangan pengusaha Pasar Besar. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang tahu, bahwa di balik sanggul tinggi dan senyum anggunnya, wanita itu sedang merayakan keberhasilan sebuah tipu muslihat hukum yang sangat licik.

Di dalam kamar rias pengantin pria, Mas Rendra sedang duduk kaku di depan cermin besar. Dia mengenakan beskap pengantin gaya Surakarta berwarna senada dengan ibunya, lengkap dengan keris bergagang ukiran yang tersampir di pinggang dan ronce melati yang menjuntai di dadanya. Wajahnya yang biasa tampan kini tampak begitu pucat, kantung matanya menghitam karena tidak tidur semalaman.

"Rendra, tegakkan pundakmu. Jangan pasang wajah seperti orang mau dihukum mati begitu. Para saksi dan keluarga Sari sudah menunggu di depan," bisik Pak Didi yang tiba-tiba masuk, menepuk pundak anaknya dengan suara berat yang kaku. Pak Didi merapikan blangkon di kepala Rendra, matanya dingin, tidak menunjukkan emosi apa pun selain tuntutan agar sandiwara ini berjalan tanpa cacat.

Mas Rendra hanya menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. Pria pengecut itu tahu betul, beberapa jam lalu dia telah membiarkan istri sahnya pergi menembus gerimis malam tanpa sepeser pun uang pesangon, dan sekarang dia harus melangkah ke meja akad untuk menikahi wanita yang usianya lima tahun lebih tua dan tidak pernah dicintainya. Ego prianya meronta, namun ketakutannya akan kemiskinan dan ancaman kebangkrutan toko grosir keluarganya jauh lebih besar.

Suara tabuhan gending Jawa Kebo Giro bertalu-talu memecah keheningan gedung saat Mas Rendra berjalan perlahan menuju meja akad nikah. Di sana, Mbak Sari sudah menunggu dengan gaun pengantin tradisional yang sangat mewah. Wajah Mbak Sari tertutup riasan tebal yang tegas, mencoba menyembunyikan gurat usianya yang lebih matang dari sang pengantin pria. Di sebelah Sari, duduk sang ayah, seorang pemilik toko emas terkemuka di Pasar Besar yang menatap keluarga Wijaya dengan pandangan penuh kemenangan.

Ibu Retno dan Pak Didi mengambil tempat di barisan kursi keluarga tepat di belakang Mas Rendra. Aku bisa membayangkan bagaimana tangan Ibu Retno meremas dompet kulit buayanya dengan tegang, menghitung detik demi detik menuju pembebasan dari jerat denda 70 gram emas murni yang selama empat bulan ini menghantui tidur mereka.

"Bagaimana para saksi? Sah?" suara penghulu menggema lewat pengeras suara setelah Mas Rendra menjabat tangan ayah Sari dan mengucapkan kalimat ijab kabul dengan suara yang bergetar menahan beban.

"Sah! Sah!"

Suara koor dari para saksi seketika memecah ketegangan di udara. Senyum Ibu Retno merekah sempurna. Plong. Klausul penalti hitam di atas putih yang bertandatangan meterai itu kini resmi gugur. Keluarga Wijaya tidak perlu membayar sepeser pun ganti rugi kehormatan kepada keluarga Sari, karena secara hukum negara dan agama, Mas Rendra telah memenuhi janjinya untuk berdiri di pelaminan bersama Sari sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan sejak awal.

Namun, tepat setelah doa selesai dibacakan dan cincin emas disematkan di jari masing-masing, Mas Rendra langsung berdiri dari kursinya. Sesuai dengan rencana busuk yang sudah disepakati di ruang kerja kemarin sore, Mas Rendra tidak sudi berlama-lama bersanding. Dia mengabaikan tatapan bingung dan bisik-bisik dari para tamu undangan yang mulai menyadari keanehan sikap sang pengantin pria.

Sari menatap Rendra dengan kilat amarah di matanya saat Mas Rendra dengan dingin melepaskan gandengan tangannya. "Rendra, kamu mau ke mana? Acara resepsi belum selesai!" desis Sari dengan suara rendah yang bergetar menahan malu.

Mas Rendra tidak menjawab. Dia hanya menatap Sari sekilas dengan tatapan muak, ingatan pria itu mungkin berputar pada adik Sari yang cantik jelita yang dulu diperlihatkan kepadanya sebagai umpan tipuan. Tanpa memedulikan harga diri Sari yang kini hancur di depan ratusan pasang mata tamu Pasar Besar, Mas Rendra berbalik, melangkah lebar meninggalkan pelaminan megah itu menuju pintu keluar.

Di sudut ruangan, Ibu Retno tersenyum puas menyaksikan anaknya pergi. Baginya, badai telah berlalu. Urusan Sari dan gunjing orang-orang Pasar Besar bisa dipikirkan nanti, yang terpenting modal toko grosirnya aman. Sekarang, yang ada di kepala Ibu Retno adalah pulang ke rumah dua lantai mereka dan melihatku, Yuni, si gadis desa penurut, yang dikiranya sedang sibuk menyapu lantai marmer sambil menunggu kepulangan suaminya dengan patuh.

Mereka semua larut dalam kemenangan fana pernikahan simbolis itu. Mereka tidak pernah tahu bahwa saat Mas Rendra melangkah masuk ke dalam mobil pengantinnya untuk pulang, rumah megah di Semarang itu sudah kosong. Aku telah pergi membawa satu-satunya aset paling berharga yang pernah dimiliki Rendra di dalam rahimku, meninggalkan mereka bersama tumpukan kertas perjanjian palsu dan karma yang perlahan-lahan mulai berjalan mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!